Istri Sambung

Istri Sambung
IS174. Reaksi yang menyiksa diri


__ADS_3

"Belum bisa jawab kan? Ya, nikmati aja dulu masa duda kau. Jangan sampai kepergok warga lagi mesum ya?" Mamah menepuk-nepuk pundakku.


Aku hanya mengangguk, karena mamah pun tak mengatakan tujuan utama untuk menikah. Sepertinya, beliau sengaja bungkam. Agar, aku tidak mengcopy jawabannya.


"Tutup terus kunci aja pintunya kalau lagi mesum, Far. Kek kita dulu." Canda menaik turunkan alisnya.


Semudah itu ia membocorkan rahasia kami?


Papah sampai melempar bantal ke arah menantunya. Namun, malah Cani yang menangis karena ibunya mendapat lemparan ringan itu. Mungkin pikirnya, ibunya akan kesakitan karena hal itu.


"Aduh, anak Papa." Aku memutari ranjang, lalu merangkak di atas ranjang untuk mengangkat tubuh Cani.


Air matanya langsung penuh saja.


"Uhh, ini nih anaknya Papa? Angkut, Pa. Biyung mau puber lagi." Canda mencium Cani yang berada di dekapanku.


Bagaimana aku bisa biasa saja, jika Canda selalu bisa sedekat ini denganku? Rasanya, aku ingin menghamili istri orang yang satu ini.


"Masa sama ipar begitu sih, Dek?!" tegur papah, dengan menarik lengan Canda.


Posisi kami terlalu dekat, aku pun sampai salah tingkah sendiri. Sepertinya papah menyadari, jika ekspresiku agak lain saat ini.


"Memang kenapa, Pa?" Canda malah memperhatikan wajahku dari jarak dekat.


Ya ampun, kakak ipar yang satu ini.


"Suami kau mendadak datang, anak aku bisa-bisa jadi yatim piatu." Aku memelototi Canda.


Tetapi, Canda malah tertawa lepas.


"Biyung mandi makan dulu ya? Main sama Papa, sama Kakek Nenek ya?" Canda mencolek-colek pipi anaknya, lalu ia turun dari ranjang.


"Semudah itu nitipin anak?" tanya mamah dengan suara lirih, saat Canda sudah keluar dari kamar.


"Anak-anaknya dibiasakan untuk punya biyung kek gitu," timpal papah dengan tertawa kecil.


"Ya namanya juga Cendol." Aku turun dari ranjang orang tuaku dengan menggendong Cani.

__ADS_1


Aku tidak mengerti, kenapa kaki ini membawaku pergi ke rumah kak Aca. Cani begitu excited, saat melihat kakaknya dari jauh.


"Seneng ya? Ada kak Ra di sana ya?" Aku mengangkat tubuh anak ini, kemudian mencium pipinya.


"Ani….." panggil Ra begitu lepas, dengan melambaikan tangannya ke arahku.


Mulutnya sudah heboh saja. Benar saja, saat aku sampai dua kakak beradik ini langsung tertawa-tawa lepas.


"Far…. Aku mau mandi sholat. Jagain anak-anak dulu." Rambut indah itu, leher jenjang nan mulus itu.


Sungguh indahnya keponakan ibuku ini. Andai saja aku bisa mencicipi sedikit saja, seperti saat Kin dulu. Aku terlalu lama tidak dikeluarkan, rasa minat itu semakin bertambah jika dihadiahkan pemandangan sederhana seperti ini.


Aku ingin menggaulinya. Aku yang awalnya hanya iseng saja, kini malah terjebak dengan ketertarikanku padanya.


"Far…. Mimisan itu ada waktunya. Masa banyak anak-anak begini kau mimisan? Kasian mereka pada takut, Far." Kak Aca langsung menutup hidungku dengan handuknya.


"Sana bersihkan! Sampai hampir netes ke kerudung Cani." Kak Aca mengambil alih Cani yang berada di pangkuanku.


Awh….


"Astaghfirullah!" Kak Aca langsung menatap ke arah pangkuanku.


"Jangan rese, Far! Sampai keras begitu. Sana dijinakkan dulu, aku takut tiga anak ini jadi pelampiasan kau." Kak Aca menatap tengah-tengah tubuhku.


Benarkah keras?


Aku mengusapnya, ketika pandangan anak-anak terarah ke arah lain. Aduh, benar saja sampai jendol di dalam celana kolorku ini. Bukan lain karena ukurannya yang agak berbeda, membuatnya tidak bisa disembunyikan ketika tengah bereaksi seperti ini.


"Sana cuci muka, sekalian disiram. Barangkali ciut kalau kena air dingin." Kak Aca mengalungkan handuknya ke bahuku.


Aku hanya mengangguk, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar mandinya. Bukannya ciut, tapi aku malah bertambah gila karena melihat ********** yang tergantung di kamar mandi.


Ujian sekali sih. Bagaimana caranya agar tidak menikah terburu-buru dan juga tidak berzina, jika keadaan pusakaku sudah berani berdiri seperti ini?


Readers semuanya, tolong tunjukkan semua pendapat kalian yang sekiranya memberikan jalan keluar untukku. Aku sudah kebingungan jika begini. C**i, jelas tidak mungkin. Aku tidak memiliki ilmu untuk melakukan hal tersebut. Bahkan sejak bujang dulu, hal itu anti untuk aku lakukan.


Berjalan pulang, rasanya pasti aku akan tersiksa sekali. Mana bisa aku berjalan dengan isi di dalam celana kolor yang mengembang. Meminta bantuan pada kak Aca, jelas tidak mungkin karena anak-anak aktif bermain.

__ADS_1


Aku malah memilih untuk mandi saja. Semoga saja, hawa panas dalam tubuhku ini bisa redam karena dinginnya air di sore ini.


Aku terus mengguyur tubuhku dan terutama tengah-tengahnya, agar segera ciut karena kedinginan. Bukannya ciut, malah aku yang menggigil karena mandi terlalu lama.


Kocak sekali menjadi aku, Ya Allah. Aku ingin menangis saja, ketika Black Mamba susah dijinakkan begini. Bangun susah, sudah bangun, malah tidurnya susah.


"Far, cepat!" Kak Aca berseru di depan pintu kamar mandi.


Eh, aku sudah tidak mendengar suara anak-anak.


"Kak, pinjam kamar. Aku menggigil." Aku langsung keluar dari kamar mandi, kemudian lari ke dalam kamar yang kak Aca tempati bersama anak-anak.


"Hei!" serunya ketika aku nyelonong dengan handuk miliknya.


Rumah sepi, ke mana anak-anak ya?


Aku langsung bersembunyi di bawah selimut, kemudian mencoba menutupi tubuhku dengan tumpukan bantal. Sialnya lagi, Black Mamba masih tegak merepotkanku.


Terdengar pintu kamar yang terbuka. "Anak-anak pergi ngaji, Cani aku kasih ke Givan. Aku mau mandi dulu, terus jemput anak-anak balik ngaji." Suara kak Aca terdengar jelas berada di kamar ini.


Aku menyibakkan selimut yang menutupi kepalaku. "Bantu aku dulu, Kak." Semoga ia mau membantuku.


Kak Aca berdiri di ambang pintu, dengan bersedekap tangan. "Tidak semudah itu, Furgoso." Nada suaranya begitu sombong. Kemudian pintu tertutup kembali, sampai terdengar suara guyuran air yang terjeda beberapa kali.


Haruskah aku masuk ke dalam kamar mandinya? Tapi aku tidak ingin memaksa. Aku pun tidak ingin berzina, tapi aku tersiksa seperti ini.


Aku hanya diam mengeratkan selimut ini, hingga pintu kamar terbuka.


"Ya ampun, Far! Sana tuh pulang! Aku mau salin, terus jemput anak-anak."


Aku mengintip posisinya. Ia berselimut kain jarik, yang ia gunakan sebagai handuk. Dengan wadah dada yang talinya terlihat jelas berwarna merah.


"Kak, aku masih berdiri aja. Aku tak mungkin pulang, jendolnya besar sekali. Aku malu lah jalannya, jalan pun rasanya tak nyaman lah." Ukurannya tidak begitu menakutkan, tapi jelas di atas standar.


Bagaimana caranya ini? Bagaimana jalan keluarnya? Mana aku tak membawa ponsel lagi. Lagian ponsel pun untuk apa.


"Ya ampun, Ghifar." Kak Aca berjalan ke arah lemari. "Aku mau ambil baju, terus salin di tempat lain. Aku kira kau udah pulang tadi, makanya aku tak sekalian bawa salin ke kamar mandi."

__ADS_1


Masya Allah, mulusnya ketiak itu.


...****************...


__ADS_2