
"Menurut aku, kalau memang tak mau shock. Ya udah aja gitu, jangan dibahas-bahas. Kan kita udah di masa depan, masa lalu udah terlewat." Kak Aca membantuku untuk minum.
Sudah shock mendengarnya ditiduri oleh bang Givan, ditambah lagi ia pernah berganti laki-laki sampai empat kali. Memang sudah masa lalu, nyatanya pun aku tidak jijik juga. Namun, aku tidak bisa membayangkan rasanya menjadi dirinya yang harus dibodohi laki-laki berulang kali hanya untuk mendapatkan apa yang mereka butuhkan saja dari tubuh Aca a
"Maaf ya?" Kak Aca tersenyum dengan menepuk-nepuk pipiku pelan.
"Jangan bodoh lagi ya?" Aku pun menepuk-nepuk pipinya.
Ia terkekeh tertahan. "Tak lah, udah bukan pemain atau pelatih lagi sekarang. Aku yang punya klub bolanya."
Aku bisa tertawa, hanya dengan gurauan ringan itu. Benar katanya, ia sekarang sudah lebih handal karena perjuangannya yang pernah bodoh itu. Maksudnya seperti ini, tentang pemain dan klub bola itu.
"Maaf ya kalau jadi jijik. Tapi aku dari muda itu sering cek kesehatan, aku bersih kok. Aku pun udah sholat tobat juga, tapi malah zina lagi setelah jadi janda kemarin." Ia terkekeh dengan menutupi wajahnya.
"Ya kenapa mau aja aku zinahi?" Aku tertawa-tawa geli terus
"Aku terpesona, aku terpesona." Ia malah mengelus-elus tengah-tengah tubuhku.
Rese memang perempuan ini.
"Ketagihan ya?" Aku mencolek dagunya.
Eh, ia malah mengangguk.
"Pantesan Canda sering nemplok tuh, segede ini punya mantannya. Sedangkan punya suaminya, kek palu di kumpulan perkakas laki-laki."
Aku ingin terbahak-bahak, tapi segera kubungkam mulutku sendiri. Rasanya percuma mengendap-endap, jika akhirnya ketahuan.
"Aku tak pernah ngapa-ngapain dia lah." Aku mereda tawa ngik-ngik ini.
Eh, kak Aca mengatakan bahwa punya suami Canda seperti palu. Berarti secara tidak langsung, aku lebih unggul begitu? Tapi nyatanya pun, Canda tetap terDaeng-Daeng. Meski nyatanya, aku lebih unggul dari suaminya.
Aku bahkan masih teringat saja, ketika Canda sakit dan dirinya terus bermanja-manja dengan almarhum mantan suaminya itu. Saat aku mengirimkan makanan untuknya, selalu saja ada bang Lendra di kamarnya.
Laki-laki asal Sulawesi tersebut, nyatanya lebih unggul dibandingkan aku ataupun bang Givan.
"Masa iya? Tapi Canda pernah kutanya, katanya dia tau kalau punya Papa itu besar." Ternyata kak Aca seperti Novi juga, yang suka mengorek masa lalu pasangannya. Hanya saja, kak Aca tidak bersikap seperti Novi. Intinya, mungkin semua perempuan itu sama. Mereka ingin tahu bagaimana laki-lakinya dulu.
"Pernah ada khilaf aja, tapi aku setengah tiang. DE aku itu tak jinak kalau sama perempuan lain selain Kin waktu dulu tuh, tapi ada reaksinya tetap kalau ke Canda." Seperti ketika Canda meminta diantarkan ke rumah sakit, saat dirinya tengah mengandung Cani lalu tersetrum penanak nasi.
__ADS_1
"Sama aku langsung bereaksi sih?" Wajahnya mendekat ke arahku.
Aduh, jujur aku tengah lemas.
"Tak tau juga. Memang kalau lebih dari standar itu bagus kah? Ada kekurangan tak?" Aku pernah mendengar jika ukuran itu tidak penting, yang penting adalah skill.
"Bagus kok segitu. Besar panjang itu disebutnya, Pa. Makanya kalau terlalu itu, kadang buat sakit. Aku sih ngerasanya enak, kek titik koordinat yang tidak terjangkau itu kena juga. Misal gagak tuh kegaruk semua, jadi bisa dibayangkan kan?"
Segala bawa-bawa garuk lagi. Deskripsi yang mengocok perut.
"Iyakah?" Aku tertawa sendiri.
"Iya buat aku, kan pasti beda kalau perempuan lain. Punya papanya Nahda itu, kek Givan gitu lah besar kepala aja. Orang-orang tinggi dan keras kepala biasanya, itu kepalanya lebih besar."
Aku mendengar dan memperhatikan peragaan tangannya. "Gimana menurut Mama tentang punya papa Nahda?" Malah mulutku bertanya seperti ini lagi.
"Dia baru lepas perjaka itu sama aku, jadi ya awam betul. Aku malah ajarkan dia caranya biar tak salah step."
Aku teringat akan aku dulu yang diajarkan oleh Kin. Perjakaku hilang bersama Kin.
"Terus sukses?"
"Tapi ini adalah hal yang kita pilih. Jangan bilang ini ujian, ini pilihan kita." Aku membingkai wajahnya.
Kasihan sekali rumah tanggaku kali ini. Harus disembunyikan, karena menentang keputusan orang tua.
"Rasanya pengen keluar kota aja, kita hidup bersama di sana." Kak Aca memelukku dan menyembunyikan wajahnya di dadaku.
"Itu tak mungkin, usaha aku di sini." Lagi pun, aku tak ingin jauh dari ibuku. Papahku pun sudah tua, aku ingin selalu menemani mereka.
Mungkin aku terkesan anak mami, tapi mereka adalah orang-orang terhebat untukku. Panutanku, kebahagiaanku, surgaku.
"Ya udah, nanti kita susun rencana untuk ambil perumahan di depan jalan raya ya? Biar Papa bisa singgah setiap hari ke tempat aku. Aku tak apa, malamnya tak tidur bareng juga." Hal itu pasti lebih terkesan bahwa dia simpananku.
Jika saja restu sudah kami kantongi. Mungkin kami tidak senekat ini dan sesulit ini.
"Siap. Besok ngobrol sama mamah, tentang penjualan rumah itu. Nanti aku bantu jualkan, atau aku yang beli. Biar cepat prosesnya tuh, karena aku tak bisa ngendap-ngendap gini terus. Aku gampang takut, apalagi kalau ketahuan orang tua." Katakanlah aku bukan si pemberani, aku hanya si royal saja.
Cewek cantik bukan milik si tampan, tapi dia si pemberani. Nah, itu bukanlah aku. Yang penting royal saja sudah, itu modal terbesarku. Karena aku tidak tampan, aku pun bukan pemberani.
__ADS_1
"Oke, Papa." Manisnya ketika ia menyebutku papa.
"Aku balik ke kamar ya? Aku udah plong, makasih waktu untuk ngobrolnya ya?" Aku mencium pipi kanannya.
Lihatlah, mah. Aku mabuk perempuan yang begitu mirip kau. Semoga saat semua sudah lebih baik dan terungkap pada keluarga, papah tidak berpikir bahwa aku naksir ibuku sendiri. Karena bisa berabe nanti, aku akan menjadi saingan terberat untuk papah.
"Yakin tak mau kasih aku?" Kak Aca cemberut dan menunduk lesu.
Kenapa dia?
"Uang kah?" Aku merogoh kantongku. Untungnya, aku membawa dompetku.
"Maaf ya? Adanya segini dulu, nanti aku tarik uang lagi besok." Aku mengeluarkan uang tunai berjumlah enam ratus ribu.
Kak Aca menerima uang pemberian dariku. "Ini kan nafkah lahir, batinnya gimana?" Ia memandangku penuh harap.
Aduh, aduh, aduh. Lemes, BESTie.
"Ditransfer aja kah?" Ini adalah opsi gila.
"VCS."
Apa itu?
Aku mengerutkan keningku. "Apa tuh?" Aku menaruh dompetku di saku belakang kembali.
"Video call s***."
Apalagi ini, Ya Allah?
"Jangan aneh-aneh lah." Aku berakting menangis.
Kak Aca memelukku kembali. Ia terkekeh geli, dengan mengusap-usap dada lebarku.
Sepertinya, ia suka sekali mengisengiku.
"Ya udah tunaikan dong." Kak Aca mamainkan bulu daguku yang hanya beberapa helai ini.
Hufttt….
__ADS_1
...****************...