
"Ada anak-anak. Ngomongin itu nanti aja." bang Givan menekan nada suaranya.
Aku hanya mengangguk, dengan mengambil beberapa tusuk sate ayam ini. Ini sate ayam, bukan sate kambing. Dari tekstur dagingnya, jelas terasa berbeda.
"Yah, aku pulang ya?" Zio membawa sepiring satenya.
Bang Givan mengangguk, "Gih pada pulang. Abis makan, tusuknya dibuang di tempat sampah. Kalian cuci tangan, sikat gigi, cuci muka, cuci kaki, terus pada tidur ya? Eh, baca doa dulu." pinta bang Givan pada anak-anaknya.
"Iya, Yah." jawab mereka serentak, dengan satu persatu anak undur diri masuk ke rumah mereka masing-masing.
Tinggal tersisa si Tuyul yang doyan makan ini. Bayi berbobot super, hingga sampai balita pun ia masih saja gembul. Tapi sekarang lebih ke ideal lincah, tidak obesitas menurutku.
"Ra, sana masuk!" bang Givan menyenggol lengan anaknya.
"Yum da umah." mata Canda dalam diri Ra membuatku gemas.
"Belum ada rumah? Memang mau tinggal di rumah sendirian, kek kakak-kakak Ra? Ra mau, ya Ayah buatkan."
Oh, jadi itu artinya. Aku jadi tergelak mendengar dialog ayah dan anak ini.
"Ya au, sana uwat!" anak dua tahun itu malah memerintahkan ayahnya.
Aku makin lepas tertawa, "Sana sama biyung, bilang ke biyung. Boleh tak Ra bobo di rumah Ra sendiri gitu ya? Ra ngobrol ya sama biyung?" bang Givan merapikan bumbu sate yang berada di area mulut anak itu.
"Ra au diuwang iyung, Yah."
Bang Givan sampai memerah, mentertawakan anaknya sendiri.
"Oh, Ra mau dibuang biyung?" tanyaku memastikan.
Anak itu mengangguk, "Akaya, ma Yayah Ipan ja."
Sufornya apa ya? Aku jadi ingin memiliki anak yang pandai komunikasi seperti Ra.
Hadi, anaknya Giska. Ra, lalu siapa lagi ya? Dia anak ini, dari kecil memang sudah asyik diajak ngobrol.
"Oh makanya sama Yayah Ipan aja tuh, karena Ra mau dibuang biyung ya?" bang Givan memberi pertanyaan ulang.
__ADS_1
Anak itu mengangguk, "Atut, Yah. Uwang di adang." Ra menunjuk ladang luas, yang berada di sisi kiri rumah ini.
Cukup jauh, sekitar berjarak dua ratus meter. Tapi terlihat di mata.
"Buang di ladang? Memangnya luwak ya, biar makan biji kopi?" tanya bang Givan pada anaknya.
"La dino uyus." anak itu sampai monyong-monyong.
"Dino gemuk kali." timpalku kemudian.
Masa iya Ra dino kurus? Jika kurusnya seperti Ra, gemuknya seperti apa?
Namun, ayahnya malah menepuk lenganku cukup pedas.
"Dinosaurus, Bodoh! Anak Abang kau belum jelas ngomongnya!" ketus ayahnya Ra, dengan menahan tawa.
Eh, aku jadi tertawa lepas di sini.
Di rumah aku pusing, di luar rumah aku bisa tertawa lepas. Tapi, bagaimana dengan Novi? Apa ia bisa sepertiku? Mencari hiburan, dengan hanya bergurau dengan saudara atau kerabat dekat. Apa hiburannya ada di ponselnya? Atau, ia masih bersedih sekarang?
"Gih masuk, Ra. Banyak nyamuk, Ra tak pakai baju." bang Givan mengangkat piring plastik berisi sate milik Ra.
"Yayah tak jauh, Yayah ngobrol sama Papa." bang Givan melirikku.
Ia butuh bantuanku, untuk meyakinkan Ra.
"Iya, Ra. Yayah sama Papa di sini. Ra bisa intip dari pintu nanti ya?" aku tersenyum menenangkan.
Semoga anak yang sulit dikibuli itu percaya.
"Jaji?" anak itu menunjukkan kelingkingnya yang seukuran ibu jari.
Aku selalu menahan tawa, jika dihadapkan hal yang lucu tapi menyinggung perasaan.
"Iya, janji deh. Yayah di sini aja." bang Givan menautkan kelingkingnya, dengan kelingking anaknya.
Sip, tepat. Ra langsung masuk ke dalam rumah, dengan membawa makanannya.
__ADS_1
"Kau berantem terus kah sama Novi, Far?" tanya bang Givan, setelah pintu rumah setengah tertutup.
"Tak berantem bagaimana sih, Bang. Tapi, ada aja cekcok gitu. Tak sukanya aku begini loh, Bang. Novi ngurus diri terus, tapi anak-anak kek dilepasliarkan." aku berpangku dagu.
Pusing kembali, jika sudah diingatkan dengan Novi.
"Anak-anak aku juga tak terkontrol. Namanya juga anak-anak, Far. Coba cek CCTV, gimana Novi perlakukan anak kau. Kalau kau tak percaya, kalau Novi udah berusaha. Dia urus diri sendiri, mungkin karena ingin terlihat menarik di hadapan kau. Namanya juga pengantin baru. Pengantin lama kek Abang gini, ya malah gosok-gosokkan daki. Pengantin baru, daki pun jangan sampai nampak di mata pasangan. Pengennya, pasangan tau bersih dan wangi."
Tapi aku tidak seperti itu dengan Kin.
"Bang, rasanya tuh beda loh Kin sama Novi." bisa dibilang, aku jarang cekcok dengan Kin. Tapi sekali berantem, Kin berani menggunakan fisik.
"Ya jelas beda, Far. Novi tak semahir Kin, ajarin lah kalau dia tak bisa."
Eh, ini sepertinya mengarah ke hal yang lain.
"Bukan masalah ranjang, Bang." aku menghela nafasku.
Bang Givan malah terkekeh kecil. Kemudian, ia meneguk air mineral kemasan botol yang tinggal setengah itu.
"Masalah urus mengurus anak? Nadya sama Canda pun beda. Nadya biarpun begitu dia, tapi sufor dan vitamin anak itu diutamakan. Berani yang mahal, sampai hutang misal dia tak mampu beli. Ke Ziyan yang kurus itu, dia urus betul sebelum dia disesar ini. Karena dari kecil, Ziyan ini prematur kah apa gitu lah."
Aku manggut-manggut, aku teringat istri lain yang pernah dinikahinya itu. Istri bang Givan yang itu, selalu membuat emosi Kin tidak terkontrol.
"Kalau Canda nih ya. Dia anak makan tak makan, yang penting ada waktu istirahatnya. Maksudnya, yang penting jam istirahat anak ini cukup. Biar tak makan pun, tubuhnya tak drop. Tak makan nasi, Canda jajanin anaknya yang anak itu mau. Yang penting perut anak itu tak kosong melompong gitu." lanjutnya kemudian.
"Entahlah masalah makan sih, Bang. Aku yakin, anak-anak lapar pun pasti minta makan sendiri." aku seperti di ambang lamunanku.
"Ya, makan di sini."
Aku langsung menoleh cepat, pada laki-laki yang tengah mengunyah itu.
"Kau serius, Bang?" aku kaget di sini.
"Ya, anak kau rewel makannya. Ini yang minta sate kan anak kau. Makanya mereka pada sholat, aku keluar beli sate. Katanya, di rumah masak sayur asem. Lauk pagi dan siang katanya. Terus, tante Cantik bilang dimakan lagi aja karena masih banyak. Mungkin anak-anak kau memang rewel, entah Novi yang kurang variatif. Masalahnya, masalah masakan begini tuh ya? Anak-anak aku tak rewel, timun cocol mayonaise pun mereka doyan. Bukan sering ya, tapi kalau Canda masaknya kebanyakan itu ya anak-anak tetap mau makan. Misal bikin rendang sekilo kek sekarang, tak habis, diangetin sampai besok tuh, ya dimakan lagi. Tapi ada juga sih, anak yang minta ganti menu. Ya mungkin, karena anak kau terbiasa makan makanan enak terus. Kalau anak-anak Abang di sini kan, banyak prihatinnya. Bukan prihatin karena makanan tak ada, tapi yang ngolahnya payah. Ditambah mereka pada udah besar dan ngerti, kalau biyungnya memang lagi tak bisa aktivitas full." bang Givan menurunkan nada suaranya di akhir kalimat.
Aku terdiam sejenak. Teringat olahan masakan yang Kinasya selalu buatkan untukku dan anak-anak. Mereka setiap hari makan ala resto, lalu tiba-tiba seharian full makan sayur asem. Apa anak-anak sengaja kabur, saat Novi tertidur?
__ADS_1
Kenapa aku malah mencurigai anak-anak, bukannya fokus pada tujuan awalku?
...****************...