
"Ada Rozanya, Tan?" Ghifar tersenyum ramah pada tante Shasha tersebut.
Tante Shasha yang membukakan pintu untuk Ghifar, merasa aneh dengan kunjungan Ghifar petang ini.
"Ada. Silahkan duduk dulu, Far." tante Shasha mempersilahkan Ghifar untuk duduk.
Ghifar mengangguk, kemudian ia memilih kursi yang paling dekat dengan pintu. Ia membawa mobil untuk mengajak Rauzha keluar, berharap agar para tetangga tidak melihat mereka.
"Gimana, Far?" Rauzha keluar dengan wajah kagetnya.
Ghifar tertawa kecil melihat kekagetan Rauzha, "Tak ada apa-apa. Sini dulu duduk." Ghifar menepuk tempat di sebelahnya.
Rauzha menautkan alisnya bingung. Namun, ia tetap duduk di tempat yang Ghifar tunjuk.
"Kau siap-siap butuh waktu berapa lama?" tanya Ghifar tiba-tiba.
Rauzha semakin bingung di sini. Karena ia tak tahu apa-apa.
"Aku cuma tinggal ganti baju aja, paling sepuluh menit." ia tetap menjawab meski bingung.
"Ya udah, gih cepat." Ghifar selalu terlihat menarik dengan dengan tuturnya yang lembut dan halus, "Ikut aku makan di luar yuk?" lanjut Ghifar dengan menyunggingkan senyum manisnya.
Rauzha merasa Ghifar sedikit aneh. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba Ghifar mengajaknya makan di luar.
"Ada acara apa?" tanya Rauzha dengan sebelah alisnya yang terangkat.
"Aku mau ngomong sama kau. Tapi, aku tak bisa ngomong di sini. Aku mohon, kau sudi ya?"
Tanpa berpikir panjang, Rauzha langsung mengangguk setuju.
"Tunggu bentar ya?" Rauzha kembali masuk ke dalam.
Tidak berselang lama, Ghifar tengah meminta izin pada ibu sambung Rauzha.
"Izin sama abinya aja, Far." tante Shasha bukan bermaksud mempersulit izin untuk Ghifar.
Hanya saja, ia berpikir agar ayahnya Rauzha tahu. Bahwa anak gadisnya dibawa jalan-jalan oleh seorang laki-laki.
Ghifar mengangguk menyanggupi, "Mana abinya, Tan?"
"Bi…. Abi…." seru tante Shasha, memanggil suami barunya.
"Ya…." sahutan itu semakin mendekat, "Ada apa?" laki-laki berperut sedikit buncit itu muncul.
"Ini, Bi. Aku mau ajak Rauzha keluar sebentar." Ghifar langsung berucap dengan senyum ramahnya.
Abi Dawud itu memperhatikan wajah Ghifar, "Kek yang pernah ke sini ya?" ia membenahi kacamatanya.
"Iya, ini anaknya teungku haji Adi itu." jelas tante Shasha cepat.
__ADS_1
"Ayahnya Kal, yang sering main sama Aniq." tambah Ghifar kemudian.
Abi Dawud manggut-manggut, "Iya, Iya. Tau, tau. Anaknya teungku haji Adi yang duda ditinggal mati itu ya?" abi Dawud sampai menjelaskan begitu gamblang.
Ghifar mencoba tidak tersinggung. Karena seperti itulah kebenarannya.
Ghifar menjentikkan jarinya, "Nah, iya. Betul." Ghifar tertawa kecil.
Abi Dawud tertawa lepas, kemudian ia menepuk pundak Ghifar.
"Iya, iya. Silahkan, tapi nanti antar Roza sampai rumah lagi ya?"
Ghifar mengangguk kecil, "Pasti, Bi. Nanti aku antar Roza sampai rumah lagi." Ghifar menundukkan punggungnya, kemudian mencium tangan kedua orang tua Rauzha.
Rauzha pun mengikuti tindakan Ghifar, dengan salah tingkah. Ia berpikir, apa ini jawaban atas doa-doanya.
"Ati-ati, Far." tante Shasha mengantar Ghifar dan Rauzha sampai ke teras rumahnya.
Ghifar mengangguk, ia menoleh kembali ke belakang.
"Mari, Te. Assalamualaikum." Ghifar tersenyum ramah, sebelum beranjak pergi menuju mobilnya.
"Wa'alaikum salam." sahutnya kemudian.
Dengan segera, Rauzha mengikuti Ghifar. Tidak ada hal romantis, apalagi sampai membukakan pintu mobil untuknya. Ghifar masih terlalu kaku, untuk bersikap manis pada wanita lain.
Tanpa meminta persetujuan, Ghifar membawa Rauzha ke salah satu coffee shop yang memiliki tempat yang sedikit tertutup. Pikirnya, akan privasinya sedikit terjaga. Lagi pun, ia tidak ingin berbuat mesum. Namun, tetap saja ia tidak enak hati jika ada orang yang mengenal mereka, melihat mereka jalan dan makan berdua.
"Tak masalah kan, dengan makanan yang aku pesen tadi?" Ghifar membuka obrolan, setelah pelayan mencatat menu makanan yang Ghifar pilih.
Rauzha menjawab dengan gelengan samar. Ia tiba-tiba merasa segan, juga malu dihadapkan dengan seorang Ghifar. Katakanlah, ia berada di fase gugup.
"Ngobrolnya nanti ya? Setelah kita makan." ungkap Ghifar kembali.
Rauzha menyunggingkan senyumnya, "Ya, Far. Santai aja." sahutnya kemudian.
Mereka asyik dengan pemikiran masing-masing. Ghifar dengan susunan kalimat, yang akan ia lontarkan pada Rauzha. Dengan Rauzha yang menerka-nerka, tentang apa yang ingin Ghifar bahas kali ini.
Hingga beberapa saat kemudian. Mereka saling memandang, dengan keadaan perut yang kenyang.
Bismillah, Ghifar ucapkan dalam hatinya.
"Za…." Ghifar memandang netra pujaannya yang telah ia lupakan itu.
"Eummm?" Rauzha semakin penasaran dengan kalimat selanjutnya yang akan Ghifar lontarkan.
"Aku langsung ngomong aja kali ya? Aku tak bisa basa-basi." Ghifar mengusap tengkuknya dengan tertawa sumbang.
Rauzha bertambah grogi di sini, "Memangnya, ini tentang apa Far?" Rauzha memberanikan diri untuk bertanya.
__ADS_1
Yang awalnya Ghifar tertunduk, kini ia memandang lurus Rauzha kembali
"Ini tentang ibu sambung untuk anak-anak aku."
Hanya dengan ucapan itu, bunga-bunga langsung bermekaran di hati Rauzha. Namun, ia memiliki kekhawatiran sendiri.
"Aku mutusin, buat nikah lagi. Ini untuk kebaikan anak-anak dan juga kelangsungan hidup aku." Ghifar sengaja tidak menceritakan tentang Kaf. Karena ia khawatir, Rauzha berpikir bahwa ia ingin meminangnya karena kepentingan anaknya.
"Aku udah ngobrol juga sama anak-anak, mereka pun udah setuju." Ghifar kembali menjeda kalimatnya, membuat Rauzha semakin dirundung penasaran.
"Terus?" Rauzha menantikan lanjutan ucapan Ghifar.
Ghifar menarik nafas dalam-dalam, "Kal milih kau, buat jadi ibu sambungnya." Ghifar berkata cepat, lalu menyunggingkan senyum manisnya.
"Aku butuh jawaban cepat. Aku butuh kepastian dari kau sekarang juga, Za."
Rauzha masih begitu syok. Ia tidak bisa mencernanya dan memberi keputusan langsung. Karena di balik ketertarikannya terhadap Ghifar, ia memiliki impian dan ambisi yang besar.
"Cuma Kal? Kau tidak demikian?" tanya Rauzha hati-hati.
Ghifar menyusun kalimat kembali, sekiranya yang tidak membuat tersinggung lawan bicaranya sekarang.
"Kalau aku pribadi, aku bisa mulai setelah lebih dekat dengan kau. Itu mudah untuk aku, tapi kadang sulit mengerti akan anak-anak. Makanya aku langsung gerak, begitu Kal bilang dia cocok sama kau." Ghifar kembali memberikan senyum manis menenangkan.
Rauzha dilanda kebimbangan. Ia menolak berpuluh laki-laki, hanya karena impiannya. Ia ingin fokus, untuk meraih cita-citanya. Namun, ia tidak kuasa menolak ajakan terbaik dari Ghifar ini. Rauzha berpikir, untuk memberitahu Ghifar mengenai impiannya. Karena siapa tahu, Ghifar mendukung semuanya.
"Kita langsung menikah? Atau bagaimana? Terus kalau kita udah nikah, apa aku masih boleh bertugas? Apa aku bisa lanjutkan pendidikan aku? Karena….." Rauzha menggaruk pelipisnya dengan satu jarinya.
"Karena apa, Za?" tanya Ghifar dengan memperhatikan wanita tersebut dengan seksama.
"Karena aku udah menantikan hal ini, Far."
Ghifar mengerutkan keningnya. Banyak hal yang tidak Ghifar mengerti, apa salah satu contohnya dengan Rauzha yang menunggunya untuk mengajaknya menikah?
"Lima tahun aku jadi dokter jaga, berharap terkumpul biaya buat daftar spesialis. Aku pun, udah memenuhi syarat untuk lanjut pendidikan ambil spesialis. Udah selangkah lagi, di mana aku bisa gapai semua impian aku sejak kecil. Aku memiliki gelar dokter, aku berprofesi sebagai dokter, menolong orang banyak, bisa jadi dokter spesialis, bisa punya rumah sakit spesialis sendiri. Abi menikah pun, karena beliau tau kalau aku mau ambil spesialis. Abi sadar, Aniq tak selalu bisa sama aku. Apalagi, aku ambil pendidikan spesialis ini di luar provinsi kita."
Ghifar tersenyum kecut. Ia tadi sempat kegeeran, bahwa Rauzha menunggunya. Ternyata, bukan karena itu.
Namun, jika diingat kembali. Impian Rauzha, sama dengan impian mendiang istrinya. Ghifar tahu jawabannya, ia sekarang tengah berpikir untuk menyusun kalimat yang tepat.
"Ini juga, alasan aku enggan berumah tangga lebih dulu. Bukan apa-apa, banyak teman dokterku bercerita, impian mereka lebih selalu ditunda, karena pernikahan dan kewajiban sebagai seorang istri. Apalagi, kalau udah ada anak." Rauzha sedari tadi memperhatikan Ghifar yang terdiam saja itu, "Kalau pernikahan kita bisa ditunda sekitar lima tahun lagi. Aku mohon, pertahankan aku dan doakan aku biar bisa cepat punya gelar spesialis."
Ghifar melongo saja.
Ghifar menelan ludahnya, "Za……
...****************...
Ghifar mau ngomong apa hayo 😣 mau gak ya sabar nunggu Rauzha?
__ADS_1