Istri Sambung

Istri Sambung
IS134. Empat mata dengan istri Ghifar


__ADS_3

"Aku pernah punya baby sitter dan asisten rumah tangga, tapi ternyata salah satu dari mereka itu pencuri. Terus, ada tragedi di mana Kaf kecelakaan di rumah. Tak ada siapapun yang tau, sampai akhirnya ipar yang rumahnya dekat nolongin karena Kaf nangis tak udah-udah. Kakinya dapat luka jahit, karena pecahan beling itu nancep di punggung kakinya." Aku menceritakan masalah, yang mungkin untuk orang lain bukan masalah besar.


"Terus?" Abi Haris menyimak ceritaku dengan memperhatikanku.


"Aku pengen anak-anak ada yang ngawasin. Tapi, nyatanya malah jadi begini. Aku dituntut mamah untuk bisa jadi suami yang baik dulu, sampai akhirnya mamah percayakan lagi anak-anak bisa sama aku." Aku tak menceritakan, tentang Kal yang diminta untuk tinggal di sana.


"Kau punya masalah sama istri baru kau?"


Apa ucapanku tadi menjurus ke arah permasalahan rumah tangga kami? Perasaan, tidak juga.


"Butuh penyesuaian aja, Bi. Bukan masalah besar kok." Aku menyamarkan dengan tawa kecil.


"Kalau kau berat urus anak-anak, biar Abi bawa."


Aku langsung menggeleng cepat. "Mampu kok, Bi. Cuma itu keputusan dari mamah aja. Abi tau gimana mamah kan? Aku mana bisa nolak perintahnya." Abi BESTie mamah, jadi pasti tau bagaimana seorang sahabatnya itu.


"Istri kau gimana? Mampukah urus dua anak kau?"


"Jelas mampu, Bi. Cuma memang murni keputusan dari mamah aja." Novi bahkan cukup tegas mendidik anak-anakku.


"Abi minta kontak istri kau," ujarnya dengan mengeluarkan ponselnya.


Bagaimana ini?


"Novi tak punya HP, Bi." Mungkin ini terdengar tidak masuk akal.


Abi mengernyitkan dahinya. "Kok bisa?" tanyanya cepat.


Aku pun tak mungkin mengumbar aib istriku, akan dirinya yang menghubungi mantan pacarnya. Sehingga membuatku murka, lalu menghancurkan ponselnya.


"Rusak, Bi. Belum sempat beli lagi," kilahku kemudian.


"Hmmm…. Boleh Abi ngobrol empat mata sama istri baru kau?"


Bisa-bisa aku yang diungkit-ungkit Novi, setelah dirinya mengobrol banyak dengan abi Haris. Aku tidak mau, jika abi Haris malah membuat Novi memiliki banyak beban pikiran. Novi suka negatif thinking, bahkan pikirannya sering mengungkit permasalahan yang sudah-sudah.

__ADS_1


"Gimana ya, Bi? Ngobrol sama aku aja deh. Abi mau tanya apa?" Apakah aku terlihat melarang?


"Tak ungkit-ungkit yang udah-udah kok, cuma mau nasehati aja. Terus mau denger sedikit pengakuannya. Karena jujur, Abi belum puas dengan alasan tiadanya Kin. Itu terlalu konyol." Abi memijat pelipisnya sendiri.


Bagaimana jika abi Haris tahu, bahwa aku menikahi perempuan yang menjadi salah paham dengan Kin dulu?


"Abi masih marah sama aku?" ujarku lirih.


"Tak marah juga, paham itu takdir. Cuma, ada rasa tak percaya aja. Kok bisa? Kok bisa? Kok bisa? Gitu loh."


Jangankan abi Haris, aku pun tak percaya. Padahal, aku tidak aneh-aneh dengan perempuan lain.


"Yang udah ya udah gitu loh, Bi. Ini pun tak mudah buat aku. Aku gila sendiri dengan kenangan bareng Kin dulu, enam bulan aku tak keluar rumah untuk membiasakan diri tanpa Kin." Aku pun cukup terpukul karena ditinggal oleh anak angkatnya abi Haris itu.


"Tapi masa itu, kau benar-benar tak ada perempuan idaman lain kan, Far?" Pertanyaan beberapa tahun silam itu dilayangkan kembali.


"Tak ada dan tak pernah ada. Iseng aku, cuma ngelirik perempuan cantik pakai baju ketat. Tak ada aku jalan atau chatting sama perempuan lain. Kasus Canda itu, adalah yang pertama dan yang terakhir. Kin pun tau, dia pun bisa ngunci aku untuk tetap sama dia. Murni benar-benar, karena tindakan Kin sendiri." Harus bagaimana lagi aku menjelaskannya.


"Kau serius, Far?" Abi Haris menyatukan alisnya.


Aku mengangguk. "Aku serius dan jujur, Bi," sahutku cepat.


Aku akan terlihat kurang sopan, jika melarang abi Haris berbicara dengan Novi.


Aku menangkupkan kedua telapak tanganku. "Tapi aku mohon, Bi. Jangan salah paham atau nuduh aku lagi. Demi Allah, aku nikah lagi bukan karena sebelumnya aku ada hubungan sama istri baru aku. Atau, aku janjikan perempuan ini menikah. Tak ada, Bi. Aku tak pernah ada niat dan ingin untuk ini," mohonku agar abi Haris dapat mengerti.


Abi Haris menepis tanganku. "Iya, kau tenang aja." Terlihat enteng, hanya saja aku tidak yakin di akhirnya nanti.


Abi Haris pun temperamen seperti Kin. Aku khawatir, ia membabakbelur diriku.


Sampai yang ditunggu, akhirnya pulang juga. Aku diminta abi Haris untuk masuk ke dalam rumah, sementara beliau berbicara empat mata dengan Novi di teras rumah ini.


Aku ketar-ketir.


Aku gelisah tidak karuan di dalam ruang kamarku ini. Aku berulang kali bolak-balik ke lantai bawah, hanya untuk mengecek apakah mereka sudah selesai berbicara. Ingin menimbrungi, tapi rasanya tidak pantas sekali. Karena di awal, abi Haris sudah mengatakannya ingin berbicara empat mata dengan Novi.

__ADS_1


"Ya, Bi. Di atas juga ada kamar kok."


Aku menurunkan pandanganku, pada Novi yang tengah mengunci pintu utama. Abi melirikku yang tengah hendak naik ke atas tangga, kemudian beliau masuk ke kamar tamu.


Sedangkan Novi, bergerak ke sudut lain. Sepertinya ia akan mengecek keadaan jendela dan pintu penghubung lainnya.


Novi tidak cepat naik, aku sudah ingin membombardirnya dengan banyak pertanyaan. Khawatirnya lagi, aku takut malah Novi menangis meraung ketika sudah sampai di kamar.


"Rebusannya belum diminum sih, Bang." Novi muncul, dengan membawa segelas air berwarna keruh.


"Ah iya, lupa." Aku cengengesan menyambut gelas tersebut.


"Ke dokter laginya kapan, Bang?"


Aku tidak langsung menjawabnya, karena aku tengah meneguk air rebusan dari dedaunan yang diberi oleh tabib.


"Belum dapat info lagi, Nov. Tapi nanti ke tabib lagi kok." Aku memberikan gelas tadi padanya.


Namun, Novi malah melirik gelas tersebut. Kemudian, memandangku secara bergantian. Aku lupa, jika Novi tidak suka diberi perintah sepele, seperti menaruh gelas atau apapun itu.


Aku mengambil kembali gelas tersebut, lalu menaruhnya di meja sudut.


Kin malah berburu pekerjaan sepele. Seperti membantuku melepas sepatu, atau menyimpan kembali sepatuku. Memang beda-beda.


"Abi ngomong apa, Nov?" Aku berjalan ke ranjang. Kemudian menepuk tempat tidur ini, mengisyaratkan Novi agar mendekat.


"Biasa, tentang cucu-cucunya aja." Novi berjalan mendekat.


Ia berjalan dengan menanggalkan hijabnya, kemudian dress midi berwarna hijau tua itu. Di dalam dress midi itu, ternyata ia menggunakan hotpants dan tanktop.


Pakaian mini seperti itu, baru nampak di mataku kali ini. Biasanya, Novi menggunakan dress pendek dan pakaian seksi yang menunjukkan sisi dewasa dan feminimnya.


Novi terlihat menarik sekali di mataku.


"Tapi aku dituduh, Bang." Wajahnya sendu.

__ADS_1


...****************...


Dituduh apa sih?


__ADS_2