
"Sate nih, Far." bang Givan malah menawariku sate.
Aku duduk di hadapannya, di teras rumahnya.
"Ni, Yayah…." anak kecil raksasa itu berlari lincah dari dalam rumah, dengan membawa dua piring plastik kosong berwarna pink dan kuning.
"Aduh, Cantiknya Yayah. Makasih ya, Nak?" bang Givan tersenyum lebar dengan menerima barang dari anaknya itu.
"Ayah, punya aku mana?"
Aku melongo saja, dengan hanya mampu menggeser posisi dudukku. Karena lima orang anak berlari ke arah teras rumah. Bang Givan seperti indukan kucing, yang akan menyusui anaknya.
"Nih, ambil satuan." bang Givan mengeluarkan isi kantong plastik berwarna putih transparan itu.
Itu adalah sate, yang sepertinya berjumlah sepuluh tusuk.
"La nana, Yah?" Ra sudah bersila di depan makanan ayahnya.
Aku ingin anak sebanyak ini. Tapi bagaimana caranya?
"Ayah, punya Zio mana?" tangis anak laki-laki beda ibu itu langsung lepas.
Rindunya berebut makanan seperti ini, saat aku masih kecil. Mamahku sering membiarkan aku ribut dengan saudara sendiri, sampai akhirnya aku berbaikan sendiri dengan mereka.
"Kok nangis sih, Bang?" Ceysa yang beda ayah ini, mengusapi air mata Zio.
"Jangan nangis, Bang." lanjut Ceysa kemudian.
Eh, anak-anak aku mana?
"Ini kan masih ada loh. Kasih satu bungkusan buat kak Ifa, kak Devi, kak Lia, kak Hala, kak Shauwi sama bu Muna." bang Givan mengambil dua lalu diberikan pada Key, "Kasihkan buat biyung, Kal sama Kaf." pintanya kemudian.
Oh, ternyata anakku ada di dalam.
Syukurlah. Aku sedikit tenang mendengarnya.
Tapi jika banyak anak seperti ini, pasti biaya hidup bertambah berkali-kali lipat. Biaya pendidikan pun, pasti tidak sedikit.
Pantas saja bang Givan mengizink istri lemotnya buka usaha, meski dirinya memiliki banyak usaha juga. Pasti bukan main-main, jatah susu satu anak saja. Belum lagi yang masih berada di kandungan itu, yang pastinya akan dilahirkan lewat operasi caesar lagi. Obat-obatan untuk istrinya agar segera pulih, pasti ia merogoh kocek puluhan juta juga untuk itu seperti saat istrinya melahirkan Ra.
Aku teringat jumlah hutangnya padaku dia tahun silam, tapi mampu tertutup rapat beberapa bulan setelahnya.
__ADS_1
Tapi, ngomong-ngomong. Apa aku bisa menghamili Novi berkali-kali?
"Ya Allah, Mas. Aku masak daging, Mas malah beli sate."
Aku langsung menoleh pada suara yang menggerutu itu. Canda ada di ambang pintu, dengan wajah kecewanya.
"Udah tinggal dimakan aja, Canda." bang Givan asyik menyantap makanannya bersama anak-anaknya.
"Mas tuh bikin tersinggung aja!"
"Sakit gigi aku, Canda. Udah nanti besok diangetin lagi pakai air satu liter biar tak alot. Simpan aja masakan kau, biar besok dimakan lagi. Lagian heran betul, biasanya masak sayur juga, segala masak daging." untungnya Canda sudah terbiasa dengan mulut abangku ini.
Kalau tidak, bisa-bisa aku mengambil balik Canda darinya.
"Kan biar Mas tak bosan." Canda sedikit ngotot.
Pasti ia amat kecewa sekarang.
"Tak ada aku bosan makan, Canda. Aku malah butuh makanan. Udah sana makan di dalam, Ra biar sama aku."
Apa Novi pun seperti Canda? Ia kecewa, karena suaminya belum mencicipi makanannya.
"Kak Key, Ayah lupa belum ambil nasi." bang Givan menepuk jidatnya sendiri.
"Biar aku aja, Yah." Jasmine langsung mengajukan diri.
Anak dari mantan suaminya Canda itu, hidup di lingkungan mereka. Dengan didikan Canda, juga aturan yang bang Givan tetapkan. Jasmine ikut dengan kakeknya dari pihak ayahnya Jasmine, yang tinggal di daerah kami. Sedangkan ibu kandung Jasmine, dipenjarakan oleh bang Givan.
"Makasih, Cantik." bang Givan menerima nasi dari piring plastik berwarna kuning itu.
"Sama-sama, Ayah." Jasmine kembali duduk di hadapan satenya.
"Bang Chandra, sana kasihkan dulu itu satenya." perintah bang Givan, diluncurkan untuk anak pertamanya dengan Canda.
Jika dalam susunan kartu keluarga mereka, Key adalah anak pertama. Mereka terlihat satu ibu semua, hanya satu yang beda ayah. Karena bang Givan tidak menikah resmi dengan salah satu perempuan yang melahirkan anaknya, lalu satunya lagi murni tidak dinikahi sama sekali. Sehingga di akte kelahiran, kedua anak itu ikut dengan Canda semua. Bisa kalian cek di kisah Canda Pagi Dinanti.
"Udahlah aku pindah aja, aku punya proyek." Chandra malah membungkus kembali satenya.
Kemudian ia memasukan juga sate untuk para pengasuh itu, beserta miliknya juga. Kemudian, ia berlalu pergi, singgah satu persatu ke rumah mirip subsidi itu. Lalu, ia mengurung dirinya di rumahnya sendiri.
"Proyek apa dia, Bang?" tanyaku kemudian.
__ADS_1
"Bangunan. Lagi bikin kamar temen katanya." bang Givan terkekeh.
"Apa itu kamar temen?" aku mengerutkan keningku.
"Apartemen. Diplesetin Chandra jadi kamar temen."
Ya ampun, anak-anak ini.
"Yayah, nini wat apa?" Ra menunjukkan tusuk sate yang telah habis.
"Buang nanti, biar Yayah yang buang. Kumpulkan aja dulu. Sok di makan, anteng ya?" mas Givan merapikan rambut yang sedikit ikal itu.
Itu adalah rambut Canda, rambut Canda tidak lurus. Aku pernah melihatnya dulu tanpa hijab.
"Bang…. Kau sering lupa makan masakan istri kau?" tanyaku kemudian.
Bang Givan meluruskan pandangannya ke arahku, "Pernah, tapi pasti jadi sisa. Terus besoknya aku makan. Sekalipun makanan Canda rasanya pahit, hancur, kacau. Selagi tak ada racun dan ada niat tulusnya di sana, pasti aku makan meski tak habis." kemudian ia memakan kembali nasinya dan juga satenya.
Aku teringat saat kami masih berkumpul bersama, sebelum memiliki rumah. Bang Givan memang anti memakan makanan milik ipar, bahkan ibunya sendiri. Ia pasti hanya memakan makanan milik istrinya yang hanya olahan sayur, meski di hadapannya terhidang makanan yang nikmat.
"Terus Canda gimana?" soalnya aku baru kali ini lupa makan makanan istri.
Jika aku lupa untuk pulang makan siang, Kin biasanya menghampiriku ke perusahaan dengan membawa makanan. Kin sering datang ke perusahaan untuk mengantar makan siangku.
"Ya kek tadi, ngedumel aja. Mesti aja ada drama mas tuh tak hargai aku." ujar bang Givan, dengan melirik ke arah pintu, mungkin ia khawatir Canda ada di sana.
"Bujuknya gimana, Bang?" tanyaku kembali.
"Tak ada bujuk sih. Tengah malam aku belum tidur, atau baru pulang dari mebel gitu. Aku lapar, ya minta tolong Canda hangatkan masakan dia yang sisa. Ngambek kan di awal aja, waktunya kelon sih ya nemplok juga." .
Apa aku ada waktu untuk 'kelon' itu? Apa aku bisa memiliki waktu untuk 'kelon' itu? Masalahnya satu, apa aku mampu untuk mengeloni Novi?
"Kalau kau lagi capek nih, Bang. Tapi udah waktunya jatah nafkah batin. Terus, kau maksain atau Canda nuntut. Pasti kan, ada tuh drama setengah tiang. Kau nanggapinnya gimana? Solusi kau gimana?"
Tetapi, ia malah menaruh telunjuknya di depan mulutnya.
Kenapa aku harus diam?
Aku menoleh ke arah pintu. Tidak ada Canda di sana, kenapa bang Givan malah memintaku untuk diam? Aku kira ada istrinya, kemudian ia tidak mau terpergok istrinya bahwa dirinya membocorkan sedikit kisah rumah tangganya padaku.
"Kenapa, Bang? Ada apa, Bang?" tanyaku kemudian.
__ADS_1
...****************...