
"Ghavi pun mau rujuk Tika, tapi Tika yang tak mau," tambahku kemudian.
Bang Ken menepuk pundakku. "Eh, iya ya? Katanya Ghavi pun mau pisah. Aku mau rujuk juga susah, Riska hilang kabar. Susah tuh hubungi dia, sejak pisah aku tak pernah ketemu sama anak. Ngasih uang juga gimana? Dikirim atau dikasih ke mana?" Pasti bang Ken merasakan bingung sekali.
"Ya email atau ke sosial media?" Aku teringat akan Ghavi yang menghubungi Fatma lewat email.
"Udah lah, sendiri aja dulu ya keknya? Duda juga, aku tak buluk-buluk betul lah. Daripada maksa nikah tanpa restu, bumerang lagi buat kita sendiri." Bang Ken membenahi kerah kemejanya.
Apa orang-orang tampan, harus rutin mengenakan kemeja? Pasalnya, bang Givan pun setiap saat mengenakan kemeja. Jarang sekali aku melihatnya memakai kaos. Sedangkan aku, setiap saat mengenakan kaos atau singlet. Aku bahkan hanya ketika bekerja saja mengenakan kemeja.
"Ya, Bang. Jangan buru-buru. Move on sih, bisa sambil berjalannya waktu." Gayanya sok menasehati move on, padahal aku sendiri nol besar.
Tapi benar juga sih. Sudah melupakan karena kasihan itu lebih berat. Bang Ken susah melupakan karena kasihan dan merasa bersalah, tidak beda jauh sepertiku. Namun, aku malah melunjak sering berharap lebih karena rasa yang aku punya.
Setidaknya, aku lebih ikhlas sekarang. Karena aku paham, bang Givan lebih baik dibandingkan diriku. Aku terlalu egois, untuk perempuan selemah Canda. Aku belum bisa menurunkan egoku, apalagi bekerja dengan membawa anak, atau membiarkan anak-anakku diurus oleh orang asing. Ya, yang aku maksud adalah baby sitter.
"Kadang-kadang aja itu sih, aku tak terlalu fokus tentang perasaan. Kerjaanku butuh ketenangan, rileks dan konsentrasi penuh. Kalau mikirin hal yang lain-lain, aku mana bisa kerja nantinya." Bang Ken kini menggulung ulang kemeja lengan panjangnya.
Aku hanya mengangguk, aku bingung untuk menyahuti apalagi.
"Bang…. Sholat. Aku mau antar anak-anak ngaji."
Suara khas yang aku kenali itu, muncul dari arah pagar dengan langkah cepat.
"Belum adzan." Aku turun dari bangku panjang ini.
"Kan siap-siap dulu." Novia melewati kami begitu saja.
"Kenali dong, Far. Kasih tau, kalau Abang dokter bedah." Bang Ken menyikut perutku.
Maksudnya bagaimana?
"Terus kenapa kalau kau dokter bedah, Bang?" Aku menatapnya bingung.
Bang Ken terkekeh geli. "Kan nilai plus. Cewek kan langsung mau, kalah liat title cowok," sahutnya ringan.
Aku lupa, jika bang Ken tidak pernah datang ke pernikahan kami semua. Karena saat kami menikah itu, ia tengah mengambil pendidikan spesialisnya. Saat aku menikah kemarin dengan Novi pun, aku tak memberi kabar padanya atau abi Haris.
"Itu istri baru aku, Bang."
Sungguh menggelikan ekspresi saat ini. Rahangnya terjatuh, bagai pintu kehilangan engsel.
"Kok bisa dia mau sama kau?" Bang Ken mengedipkan matanya rapat.
__ADS_1
Aku pun tidak mengerti, kenapa asupanku perempuan cantik semua. Kin nyaris sempurna, meski lebih cantik Novi. Intinya, Kin dan Novi adalah menantu yang rupanya paling cantik. Canda pun cantik, hanya saja cantik umum. Tidak begitu mencolok seperti Novi.
"Sepupu sendiri, Bang. Dia itu anaknya om Edi, adiknya papah dari opah Dodi." Sepertinya hanya keluarga kami yang banyak menikah dengan keluarga sendiri.
"Ck, jorok betul. Kenapa herannya mau sih?" Bang Ken geleng-geleng kepala.
"Ayo masuk dulu, Bang. Maghrib nih." Aku meninggalkannya lebih dulu.
Saat di dalam rumah, aku melihat Chandra yang masih mengomel panjang pada adiknya. Intinya satu, diminta untuk pulang ke rumah ibu. Karena dirinya akan sholat dan mengaji di masjid.
"Udah nanti Kakek anter, Bang. Gih, duluan aja." Papah menengahi perdebatan sengit antara kakak dan adik itu.
"Ya tak bisa. Ra tadi ke sini sama Abang, pulangnya pun harus sama Abang. Abang tak tanggung jawab betul kalau begitu."
Wow, apakah besar nanti ia akan menjadi laki-laki gantle?
"Ra, nurut dulu sama Abang!" tegas mamah kemudian.
"Ya, ya, ya. Bicik tuh!" Ra berjalan dengan langkah berat, ke arah kakaknya yang berusia delapan tahun itu.
"Yuk Kakek anter, udah mau adzan nih." Papah menggiring dua anak satu ayah dan ibu tersebut.
"Novi mana, Mah?" Aku mengedarkan pandanganku.
"Kau masak apa sih, Dek?" Abi Haris muncul dari arah dapur.
"Sambal goreng, opor, ada ikan goreng juga. Sana kau pun makan, Ken! Ambil sendiri sana." Mamah sudah nyaman di atas sofa.
Bang Ken malah duduk di sebelah mamah. "Mah, aku pindah ke rumah sakit daerah sini aja kali ya? Aku suka suasana di sini," ucapnya kemudian.
Aku memilih duduk di sisi lain, tepatnya di samping abi Haris yang tengah bermain ponsel.
"Terserah kau, ada umi kau juga di sini." Mamah fokus pada tontonan televisi saja.
Ibu kandungnya bang Ken menikah dengan adik sepupu papah, membuatnya kini menjadi orang sini. Ibunya Ahya, adalah ibunya bang Ken. Mereka satu ibu, tapi lain ayah.
"Yang anteng di satu tempat, Ken. Buka rumah sakit spesialis kapan? Kalau modelnya kau pindah-pindah terus begini," timpal abi Haris, yang menyangga kepalanya dengan siku yang bertumpu pada sandaran sofa.
"Ya kan bisa di sini juga, Bi. Bunga pun susah dijenguk, buat apa aku stay di Cirebon?" Bang Ken membuka dua kancing teratas dari kemejanya.
"Ya buat rujuk juga bisa. Katanya mau nikah juga?" Pasti abi pun belum mendengar keputusan baru dari bang Ken.
"Tak lah, Bi. Umi tak kasih restu, abi pun terpaksa. Udah aja aku sendiri dulu, untuk sementara waktu. Nanti aku kasih kabar Auranya."
__ADS_1
Tapi aku heran di sini. Katanya Aura adalah mantan yang belum bisa dilupakan olehnya, tapi kenapa ia dengan mudah menggagalkan rencana pernikahan yang mungkin ia impikan sejak dulu dengan orang tersebut?
"Katanya mantan terindah," sindir mamah.
Bang Ken tertawa geli. "Jangan terlalu dibawa pikiran, Mah. Aku punya kehidupan, meski tak sama dia juga. Kemarin juga, aku bahagia kok meski tak bersatu sama Aura. Masalah isi hati seseorang sih, Yang Kuasa maha membolak-balikkan hati."
Seperti nasehat yang sangat tepat untukku. Tapi setidaknya, dari kemarin hari aku sudah menyadari bahwa memang bang Givan lebih tepat dibandingkan diriku.
"Ya udah kalau kau di sini, besok abi pulang ke Cirebon. Abi urus surat-surat kau, nanti Abi kirimkan." Sepertinya para orang tua ini, begitu mudah memutuskan sesuatu.
Kenapa aku perlu berpikir rumit dulu ya? Apa karena kita masih muda?
"Ya, Bi. Pakaian nanti bisa beli di sini." Bang Ken menopang kepalanya ke belakang.
"Abi ke masjid dulu."
Kumandang suara adzan telah berkumandang. Kamipun sibuk bergantian menunaikan sholat, lalu kembali menjaga lima orang anak Tika.
Tika butuh banyak waktu sendiri. Mamah pun, sepertinya mengerti akan hal ini. Yang penting, pikiran Tika tenang dulu, mungkin seperti itu yang ada di benak mamah.
Beberapa waktu kemudian, kami diganggu dengan pekikan Tika. Yang ada di pikiranku adalah, Tika melakukan percobaan bunuh diri.
Ya, itu adalah hal yang mungkin. Di tengah-tengah mentalnya yang teguncang seperti ini.
"Di kamar atas itu." Papah berkata dengan wajah panik.
Kami empat orang dewasa yang tengah menikmati santapan di meja makan, berbondong-bondong menaiki tangga untuk melihat keadaan yang sebenarnya. Karena aku merasa tidak tenang, jika tidak melihat secara langsung.
Tok, tok, tok…..
"Tik…. Tika"
"Tika…"
Mamah hendak membuka pintu.
Ceklek….
Pintu akan segera didorong oleh mamah, karena kebetulan sekali tidak dikunci.
"Jangan……
...****************...
__ADS_1