Istri Sambung

Istri Sambung
IS149. Traumatis


__ADS_3

Kemudian, ia menunjuk leher bagian bawahnya.


Sial! Tanda itu!


"Abang tak mau banyak cerita. Itu nyakitin kau, harusnya pun kau tak tau ini juga." Bang Ken merapikan kemejanya lagi.


Beginikah rasanya dikhianati?


Aku akan mengatakan, bahwa jauh lebih baik dalam kurungan cinta dari Kin. Daripada mendapat perempuan seperti ini. Padaku, ia seolah jijik. Dengan laki-laki yang bukan muhrimnya, ia berani membeli tanda merah tersebut.


Novi tak bisa diajak hidup di darat.


Aku sudah merasa tubuhku dua kali begitu dingin dari hembusan angin di sini. Selemah ini aku pada wanita, hingga ia bisa menginjak-injak harga diriku.


Aku tak membenarkan perselingkuhan yang dilakukan oleh laki-laki, meski ceritanya hanya lapar mata saja. Tapi, perselingkuhan yang dilakukan seorang istri itu sudah begitu fatal menurutku. Mereka akan melibatkan hatinya dan perasaannya.


Marwahnya menjadi seorang istri saja, tak bisa dijaganya. Apalagi, kepercayaan untuk suaminya.


Besar harapanku padanya, semoga kita menjadi keluarga yang tidak saling menyakiti. Aku mencoba mengerti inginnya, memenuhi kebutuhan dan memahami rasa lelahnya. Tapi, seperti inikah responnya pada seseorang yang pernah singgah di masa lalunya? Novi mengecewakanku lagi.


Sudah padam tentang Nando, karena ia menikah dan Novi tidak memiliki ponsel. Kini, abangku sendiri yang menjadi tempat ternyamannya.


Aku yakin, saat dahulu mereka tidak hanya jalan berdua saja. Pasti, ada singgah atau hubungan yang akhirnya digantungkan bang Ken. Aku berpikir demikian, karena Novi berani seagresif itu.


"Kalau kelak dia hamil, kau besarkan anak kalian ya Bang?" Begitu getir dan miris, tapi aku mencoba tersenyum menyamarkan rasa cengengku.


Istri sambung sepertinya bukanlah jalan keluar, untuk menjalani kehidupan baru dan mengemban, mendidik, menjaga anak-anak. Aku sudah memilih perempuan yang salah.


"Belum sampai ke aktivitas itu. Kau tenang aja, dia tetap bisa hamil anak kau."


Aku menoleh cepat pada bang Ken. Apa ia berpikir, setelah kejadian ini aku tetap berminat pada istriku sendiri? Apa ia menyangka, kejadian ini begitu mudah untuk aku maafkan?


"Kau tau, Abang anti minta maaf. Tapi dari di teras rumah mamah, Abang udah bilang Abang minta maaf, kalau kau tetap berpikir Abang salah." Bang Ken menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada. "Hanya respon reflek sebagai laki-laki normal, bukan Abang yang mengawali. Abang pun, udah bilang di awal kan? Kalau Abang udah ada ingetin dia. Terserah kau percaya atau tak, Abang pun enggan cerita semuanya. Karena Abang tau, di mata kau entah Novi atau Abang, pasti kau salahkan. Toh begini aja, kau tak baik-baik aja kan?" ungkapnya perlahan.


Aku terdiam kembali, menunduk memperhatikan lantai balkon ini.

__ADS_1


Harus semiris ini ya menjadi seorang Ghifar?


Apa karena dalam namaku memiliki arti berhati lembut dan pemaaf? Menjadi semua orang begitu mudah untuk menyakitiku.


"Far…. Kau baik-baik aja?" Bang Ken menyentuh bahuku.


Aku menoleh ke arahnya. "Agak sakit narik napasnya, Bang." Aku menyentuh ulu hatiku.


"Bawa duduk, Far. Sini! Sini!" Bang Ken menarik lenganku, agar aku menduduki kursi yang berada di balkon ini.


Melihat dari tanda-tandanya, aku merasa otakku dan fisikku melemah kembali. Masa begini saja, aku harus pingsan lagi? Aku tidak boleh lemah.


"Kau perlu minum? Atau minyak angin?" Bang Ken menarik bahuku ke belakang, sehingga posisi dadaku sedikit membusung.


Rasa haus yang begitu menjalar, berbarengan dengan pelupuk mata yang mulai berat. Aku mengkhawatirkan diriku sendiri. Aku malu, menjadi seseorang yang selemah ini.


Namun, aku pun tidak bisa menguasai diriku kembali. Aku mulai memejamkan mata, dengan bang Ken yang menyebutkan Tuhannya beberapa kali.


~


"Far…. Apa yang dirasa?"


Samar-samar, aku bisa melihat perempuan berperut besar itu ada di sisi kananku. Ahya duduk dan tengah memegangi lenganku.


"Mah…. Ghifar udah bangun nih."


Mamah? Ada di sini?


Ahya memanggil ibunya, dengan sebutan umi. Sedangkan yang disebutnya mamah, adalah mamahku.


"Hei, Far. Kau kenapa, Nak?"


Ada gerakan di sisi kiri, dengan usapan lembut di area pelipisku. Dari aroma khas tubuhnya, aku tahu itulah adalah mamahku.


Nama Ghifar, menjadi kemirisanku kali ini. Aku seolah tidak percaya sekarang, bahwa orang tuaku memberikan nama itu.

__ADS_1


Mungkin karena nama itu, aku tidak mendapatkan keberuntungan soal hati. Rasanya, aku ingin mengganti namaku saja. Agar, setelah ini tidak ada yang berani menyakitiku.


"Bang Ken! Woy!" seru Ahya, dengan dibarengi dengan suara geseran pintu.


Sepertinya, itu adalah bunyi pintu balkon yang dibuka.


"Kau kalau berantem itu, kepalan tangannya gini coba. Biar lawan kau itu K.O, jangan kau yang K.O!" Mamah membantu tangan kananku untuk mengepal.


Hufttt…. Ada pula mamah yang seperti ini.


"Berantem pun, tak akan aku balas dia, Mah. Tak dibalas pun, udah K.O duluan," ujar dokter spesialis bedah tersebut.


Ternyata, di punggung tanganku terpasang infus.


Gelak tawa cukup mencairkan suasana. Aku tidak merasa tersinggung, karena nyatanya pun aku memang selemah itu.


"Rujuk ke rumah sakit aja, Ken. Biar dicek kesehatannya." Itu adalah panutanku, papahku yang tetap terbaik untukku.


Lihatlah, bahkan istriku tidak hadir di sini.


Entah masih pantas tidak, aku menyebutnya sebagai seorang istri. Wanita yang berani berkhianat terhadap suaminya sendiri, wanita yang sepertinya tidak menginginkan surga di akhirat nanti.


"Keknya sih masih ada sangkut pautnya sama penyakit lama, Pah." Kemeja lain yang dipakai bang Ken pun, tetap dikancing sampai ke bagian kerahnya.


Padahal, ia biasanya membuka dua kancing teratas. Seingatku begini gayanya.


"Apa memang penyakit lamanya? Perasaan, infeksi paru-paru pun dia kena masa SMP aja. Terus juga udah sembuh total, udah berobat sampai tuntas." Papah duduk di ujung ranjang, beliau memijat telapak kakiku.


Ini adalah kamar bang Ken.


"Traumatis, Ghifar divonisnya trauma kompleks. Jenis penyakit yang berhubungan dengan trauma kan ada tiga macam, trauma akut yang merupakan hasil dari satu peristiwa stres atau berbahaya. Trauma kronis yakni paparan berulang dan berkepanjangan terhadap peristiwa yang sangat menegangkan. Terakhir ini, trauma kompleks yaitu hasil dari paparan beberapa peristiwa traumatis. Mengganggunya ke mental, Pah. Pengidapnya ini harus berjuang keras mengontrol emosi dan ingatan yang buruk, serta kecemasan yang sulit untuk dihilangkan. Mereka tak bisa disembuhkan, tapi dilatih mengontrol pikirannya. Dibantu beberapa obat-obatan yang harus dengan resep dokter juga, karena pola tidur mereka pasti kacau dan sulit untuk ditenangkan. Kalau memang mau lanjut pemeriksaan, aku nanti minta rekan yang di Bali untuk kirim rekam medis Ghifar di sana."


Aku menyembunyikan kebenaran ini, karena aku tidak mau orang tuaku menjauhkan Canda dariku. Ya, pasti mereka berpikir seperti itu. Pemikiranku, mereka pasti menjauhkan kakak iparku itu. Agar aku bisa tenang dalam memanage pikiranku.


"Kau dapat kekerasan apa sih, Far? Dibully kah? Atau kecelakaan hebat kah?" Pertanyaan papah begitu polos menurutku.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2