
"Bungkus, kuahnya pisah aja. Saos sambal juga pisah, Kak. Hitung kepala orang rumah aja, anak-anak juga pesankan. Kalau Canda, bakso besarnya dua." Aku menyerahkan dompetku padanya.
Kak Aca mengangguk. "Pegang Nahda dulu."
Aku mengambil alih Nahda, lalu mengajaknya keluar lebih dulu dari tempat bakso ini. Aku tidak mau makan enak sendirian, sedangkan orang-orang di rumahku tengah mendapat musibah.
"Hujan, Papa. Nanti aku basah." Nahda menutupi kepalanya yang tertutup kerudung.
"Tak, kan di teras aja." Aku mundur satu langkah.
Bagaimana kita tetap menjadi suami istri, meski tidak satu atap? Aku harus mewawancarai Ahya, yang lebih dulu merasakan menikah tapi tidak satu rumah.
Beberapa saat kemudian, aku sudah menuju ke kampung tempat kami tinggal. Bunyi gergaji mesin di setiap sudut jalan. Aku malah memikirkan ladang papah yang berhektar-hektar itu, bagaimana nasib pepohonan di sana dan kerugian yang papah tanggung? Empat hektar ladang bagianku dulu pun, pasti kena imbas dari musibah ini. Semoga kerugian ini, tidak membuat perekonomian papah hancur. Bisa-bisa, mamah keluyuran lagi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
"Nov, kau tak apa?"
Aku memutar leherku untuk melihat kak Aca yang berjalan ke sisi lain, ia mendekati Novi yang duduk meringkuk di salah satu sofa ruang keluarga.
"Tak apa." Senyum indah Novi terukir di wajah cantiknya.
"Nih ada bakso. Tolong ambilkan mangkuk, Pa."
Hei! Belum apa-apa, ia sudah latah saja.
"Biar aku bantu Papa." Nahda berlari ke arahku.
Semoga Novi tidak curiga. Semoga ia berpikir, bahwa kak Aca sedang mengajari anaknya saja.
Aku mengambil selusin mangkok, dengan memanggil anak-anak yang berkumpul di kamar luas yang berada di lantai atas. Dari lantai atas, terlihat begitu jelas bahwa ladang banyak yang rusak.
"Mah, gimana ladang?" tanyaku lirih, dengan duduk di sebelah beliau yang membukakan bungkusan bakso untuk cucu-cucunya.
"Givan cover gratis katanya, tapi semampu dia. Ghavi usulin buat dijadikan perumahan aja, papah langsung nolak. Pengen tetap jadi ladang aja. Jadi ya, peremajaan ulang. Padahal udah jalan satu tahun peremajaan kemarin, bisa sampai lima tahun ke depan baru bisa panen. Agak bingung juga tentang ladang ini, karena SDA dasarnya di sini. Jadi, pasar Mamah yang di Brasil pun ikut goyah. Untungnya kan, perusahaan kau ngambil biji kopi dari luar daerah juga, makanya bisa stabil. Coba tuh kalau Givan tak tarik kopi robusta dari Lampung itu, bisa-bisa kau bangkrut." Mamah memberikan satu persatu cucu-cucunya semangkok bakso.
"Ya aku pun bingung juga cari langganan baru, karena sebelumnya aku kan arabika terus. Eh malah ganti produksi produk robusta." Makanya aku sering keliling wilayah dengan Ria, bekerja di luar kantor dengan Ria. Ya karena tengah mencari kerjasama baru, sebab produksi pabrikku berbeda.
__ADS_1
"Candanya keberatan tak, kalau dana suaminya cover semua modal untuk ladang papah? Biar aku bantu juga, Mah." Aku teringat Novi yang serba komplain, jika aku mengulurkan tanganku untuk orang terdekatku.
"Dek, duduk sini." Mamah melambaikan tangannya pada menantunya yang tengah ribut bakso besar dengan kak Aca. Karena terlalu banyak bungkusnya, bakso besar yang berjumlah dua buah dalam satu porsi itu menyelip di antara bungkus lainnya.
"Huuuu…." Canda menyoraki kak Aca, lalu dirinya melipir mendekati mamah. Ia seperti anak-anak, segala berebut bakso.
"Adik iparku kan paling tau aku, tak mungkin dia lupa porsi favorit aku." Canda menggerutu dengan keras.
Kak Aca tertawa lepas. "Aku tak tau lah, kalau yang jumbonya dua ada di mangkok aku."
Oh, jadi seperti ini kejadiannya.
"Ditukar aja, Ca." Papah menunjuk mangkok yang berada di depan kak Aca.
Papah tahu menantunya paling tertuanya itu seperti anak-anak. Canda akan menggerutu tiada hentinya nantinya
Kak Aca mengangguk. "Udah, Pak Cek."
Lihatlah, Novi begitu sinis memperhatikan Canda yang heboh itu. Kak Aca yang istriku saja, malah meladeni kehebohan Canda itu dengan tertawa riang.
Bang Givan tidak suka jika istrinya selamitan, atau ia seenaknya pada mamah dan papah. Seenaknya itu, seperti menitipkan anaknya, mengambil makanan di dapur mamah, atau bahkan membawa pulang masakan mamah.
"Ke mana suami kau, Kakak Ipar?" Aku bisa menyebutkan nama saja, jika tidak sedang dalam posisi kumpul keluarga seperti ini.
"Sama mangge, ganti kaca balkon ruko galon. Pecah semua katanya." Canda sudah duduk di depanku dan mamah, kami seperti sudut segitiga.
"Ibu tak apa kah?" Aku baru terpikirkan dengan perempuan yang di rumah sendirian itu.
"Ibu dijemput ke sini sama papah, pas lagi hujan besar tuh. Jadi alhamdulilah aman aja, cuma bangunan atas aja yang lumayan rusak parah." Canda tanpa malu, sudah menyantap bakso itu tanpa menawari ibu mertuanya.
Begini saja, Canda bisa senang.
"Sekarang mana ibu?" Aku beralih menoleh ke arah istri rahasiaku. "Masih ada tak, Ma? Tolong kasihkan satu ke ibu."
Ehh….
__ADS_1
Terlanjur, semua mata sudah menatapku lain.
"Kek Ra aja. Mama-mama terus, latah betul." Canda membuat santai pandangan ke arahku. Mungkin mereka yang memandangku berpikir, karena aku mengajari anak-anak untuk memanggil kak Aca dengan sebutan itu.
"Biar aku aja, Ma. Mama makan aja." Chandra mengajukan diri.
"Pakai kantong plastik tuh, Ca. Chandra aja katanya. Kau biar lanjut makan."
Chandra pergi dengan menenteng bakso yang kuahnya terpisah itu. Ternyata, kak Aca benar makan kembali. Hebat sekali perutnya. Aku jadi teringat Kin yang kuat makan.
"Uhh, anak aku itu tuh." Canda menepuk-nepuk kedua pipinya, ia memandang punggung anaknya yang berjalan menjauh dengan mata berbinar-binar.
"Coba kau ingat, masa dia dipegang kau, Chandra tetap mewek kalau kenal orang baru. Itu didikan orang banyak. Ingat masa kau jual seblak, cucu mahal itu Mamah ambil alih. Ingat masa kau sakit itu, Givan ambil alih." Mamah sampai memencet hidung Canda.
"Sebelumnya pun, diurus Ghifar itu, Mah. Dia punya anak, cuma hamil, melahirkan dan menyusui aja." Ghavi benar-benar berani menyindir Canda sejak tadi.
Canda malah tertawa malu, dengan terus mengunyah makanannya. Ia tidak membela dirinya sendiri, ia sepertinya merasa dengan sindiran itu.
"Kau betul, Vi. Cani aja coba nih, ke mana dia? Ibunya anteng makan bakso, anaknya ke mana coba?" tambah papah kemudian.
"Sama bang Ken. Tadi diajak bang Ken, Pah." Canda menunjuk arah luar rumah.
"Carikan lah baby sitter lagi, kalau kau keteteran ngurusnya." Papah menerima semangkok bakso dari istrinya.
"Mah, cariin." Canda seperti menyuruh temannya.
Kentir memang.
"Aku pun satu aja, Mah. Kalau ada yang bisa siangnya aja, ya tak apa. Sore aku udah ada di rumah." Permintaan itu datang dari Ghavi.
Mamah manggut-manggut. "Ya nanti dicarikan. Kau tak mau dicarikan ART atau baby sitter kah, Far? Jangan minta istri dulu, kalau buat urus rumah kau sama bantu Mamah urus anak kau aja." Mamah membantu Ceysa untuk memotong-motong bakso.
Hati kak Aca pasti berubah menjadi sendu.
...****************...
__ADS_1