
Beberapa saat Brian dan ibu Wulan menunggu hasil pemeriksaan Sandra dan akhirnya dokter pun keluar ruangan, Brian dan ibu Wulan pun bergegas menghampiri dokter.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Brian pada dokter dengan penuh kecemasan.
"Pasien apa pernah mengalami hal serupa? karena menurut hasil pemeriksaan ada sedikit masalah dengan salah satu janinnya."
"Maksud dokter salah satu janin, apa istri saya hamil anak kembar dok?"
"Iya pak, istri bapak hamil anak kembar, namun salah satu janinnya detak jantungnya lemah dan yang satu sepertinya cukup kuat, tolong di jaga benar-benar istri bapak dan jangan dibiarkan stres dan jangan dibiarkan beraktivitas terlalu berat, istri bapak harus istirahat total selama dua Minggu agar stabil dan untuk menjaga janinnya."
" Terimakasih dok atas sarannya saya akan menjaga istri saya dengan baik, apa saya bisa menjenguk istri saya." tanya Brian yang sudah tidak sabar untuk melihat keadaan istrinya.
"Iya silahkan, kalau begitu saya permisi dulu." dokter pun pergi meninggalkan mereka dan Brian beserta ibu Wulan Langsung menghampiri Sandra.
Sandra kembali istirahat di ranjang pasien setelah beberapa waktu lalu baru keluar dari rumah sakit.
Sandra terlelap dalam tidurnya, dengan wajah pucat. Brian datang dan mengecup kening Sandra.
"Maafkan aku, seharusnya dari awal aku memberitahu kebenarannya. Kamu boleh menyalahkan aku, boleh menghukum ku tapi tolong jaga anak kita dan bertahanlah untuknya." Brian terus menggenggam tangan Sandra.
"Nak, yang sabar ya, wajar sebuah keluarga mengalami perselisihan, tapi kamu harus bisa mengendalikan emosi, maafkan anak ibu Jika dia buat salah, dan membuatmu marah." Wulan mengusap punggung Brian. Ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka berdua.
"Iya Bu, tapi kali ini saya yang salah, izinkan saya membawa kembali ke rumah, karena saya tidak bisa disini terlalu lama." ucap Brian meminta izin.
"Iya nak, memang seharusnya istri mengikuti kemanapun suaminya pergi, tapi biarkan dia istirahat satu sampai dua hari baru silahkan nak Brian bawa."
Tak lama, Sandra pun sadar dan menarik tangannya dari genggaman Brian dan memalingkan wajahnya. Sepertinya Sandra masih marah dengan suaminya.
"Mas jahat, sebaiknya mas pergi dari sini aku gak mau lihat mas." ucap Sandra tanpa menoleh ke Brian namun Brian tak mau pergi meninggalkan istrinya begitu saja.
Sandra pun menatap wajah ibunya, ibu kandung yang melahirkannya namun tak membesarkannya.
__ADS_1
"Ibu..." panggil Sandra.
"Iya nak, jangan banyak pikiran, ibu disini menemanimu." Saut Wulan lalu menghampiri dan menggegam tangan putrinya.
"Ibu, aku merindukan ibu," ucap Sandra dan mencium tangannya.
"Nak, kenapa kamu marah pada suamimu, itu tidak boleh sayang, ibu sekarang tidak ada hak atas kamu, suamimu sekarang yang berhak atas dirimu dan yang bertanggung jawab, jadi maafkan kesalahan suamimu ya nak, ibu akan sangat bahagia jika anak ibu juga bahagia bersama suaminya." Ibu Wulan menasehati putrinya. Sandra pun menatap wajah Brian yang sedari tadi disampingnya.
"Mas..." panggil Sandra.
"Maafin aku, gak seharusnya aku bersikap seperti itu sama kamu. Mas sudah mau jujur padaku seharusnya aku sudah sangat berterima kasih."
"Iya sayang, mas juga minta maaf selama ini mas menutupi semuanya, kita mulai semuanya dari awal ya, bersama calon bayi kembar kita"
"Kembar?!" Sandra memegang perutnya yang sudah menginjak kehamilan tiga bulan.
Sandra pun tersenyum kembali, dia bersyukur bisa mempunyai keluarga yang menyayanginya termasuk suaminya.
"Tapi nak!"
"Benar kata Sabrina Bu, lebih baik ibu pulang biar saya yang jagain, jangan kuatir kami sudah baikan."
"Baiklah jika itu permintaan kalian, ibu akan pulang tapi kamu harus cepat sembuh dan jangan bertengkar lagi." Sandra dan Brian pun bersamaan mengangguk.
"Tadi dokter bilang, kamu harus banyak istirahat dan tidak boleh stres dan bekerja. jadi Aku putuskan kita akan kembali ke villa untuk istirahat total kalau disini mas kuatir akan ada masalah muncul lagi, kita bisa cari tahu tentang pertanyaan mu setelah kamu melahirkan mengerti." ucap Brian sambil menyelimuti tubuh Sandra.
"Baiklah jika itu jalan terbaik, aku gak mau membahayakan anakku Karena keegoisan ku." Sandra pun memilih menuruti suaminya.
Brian cukup lega, memiliki istri yang penurut sangat berbeda jauh dengan istri pertamanya walaupun mereka kembar tapi sifat sangat berbeda, Sabrina sangat keras kepala sedangkan Sandra ia lebih lemah lembut dan selalu menurut.
Brian berjalan keluar rumah sakit meninggalkan Sandra yang sudah tidur.
__ADS_1
Brian hanya sekedar jalan-jalan disekitaran rumah sakit, mencari udara segar memulihkan otaknya yang hampir buntu.
Sambil duduk di bangku yang ada di taman rumah sakit, Brian menatap bintang yang bertaburan di langit.
"Terimakasih sayang, sudah mencarikan penggantimu, wanita yang sangat baik dan pengertian, yang tulus mencintaiku, aku akan menjaganya untukmu karena sebagian dirimu ada di dirinya. Kuatkan aku jika aku lemah dan khilaf."
*
*
*
*
Waktu berlalu begitu cepat, dan akhirnya Sandra dinyatakan sehat dan kandungannya baik-baik saja dan juga sudah bisa pulang.
Ibu Wulan sudah menunggu kedatangan Sandra dan Brian dari rumah sakit. Dan tak lama mereka pun tiba, Brian memapah Sandra agar berjalan hati-hati. Sedangkan ibu Wulan sudah menyiapkan makanan untuk menyambut kedatangan Sandra.
Saat Sandra masuk ke dalam rumah dan menciumi aroma rempah membuatnya langsung mual dan ingin muntah, dengan segera Brian membawa Sandra ke kamar mandi dan membiarkan Sandra mengeluarkan apa yang bergejolak dalam perutnya.
"Kenapa Kamu kok tiba-tiba jadi begini lagi?"
"Gak tahu mas, mencium bau masakan ibu perutku langsung mual."
Setelah selesai Sandra memilih untuk istirahat dan tidak mau makan.
"Mas, aja yang turun makan, aku disini saja gak kuat mencium bau masakan ibu."
"Baiklah, biar mas buatkan teh hangat buatmu dan kamu disini saja istirahat biar mas turun dulu." Sandra pun mengangguk.
To Be Continued ☺️☺️☺️
__ADS_1