
Aku lebih dekat ke posisi Aca. Aku ingin terlihat mesra dengan istriku, meski hampir tidak pernah kami mengumbar kemesraan di depan umum. Aku tidak bisa seperti Canda, atau bang Givan.
"Siapa itu?" tanya Aca lirih.
"Relasi bisnis, aku telat ada skedul sama dia. Aku baru datang barusan soalnya, tadi dia sama Dewi." Aku jujur bukan?
"Di mana ya aku simpan tadi?" Farida mencari-cari sesuatu di meja Dewi.
"Apa, Bu?" Dewi pun ikut mencari sesuatu di meja kerjanya yang berada di ruanganku. Biasanya, jika pekerjaan tidak terlalu banyak. Ia menempati ruangan kecil, yang berada di dekat pintu ruanganku. Namun, beberapa pekerjaan begitu banyak. Kami jadi bekerja sama, lalu ia mengerjakan langsung dokumen ini di meja kosong yang berada di sudut ruangan.
Sorot Aca begitu mengintimidasi Farida. Ia seperti kurang percaya dengan pengakuan dariku.
"Ayo sih, Ca." Canda tidak betah lama-lama di sini rupanya.
"Mau ke mana lagi sih?" Aku menoleh pada Canda sekilas, lalu memperhatikan istriku yang masih duduk di kursiku. Aku berdiri, dengan merangkul sandaran kursi.
"Pengen ke minimarket baru, lagi banyak promo."
Ya ampun, rupanya mereka belum puas berbelanja. Canda yang letoy, terlihat langsung kuat jika tengah bersemangat berbelanja. Aca yang lesu ketika hamil, lebih bertenaga ketika akan belanja.
"Ada cash nih." Aku mengeluarkan isi dompetku. Aku menghitung jumlah uangku, kemudian memberikannya ke Aca.
"Kurang tak empat jutaan?" Uang zaman sekarang, aku rasa tingkat ketebalannya lebih ringkas. Saat aku kecil dulu, perasaan satu juta saja sudah banyak sekali.
"Udah, cukup." Aca menerima uang dariku, lalu ia langsung bangkit dari kursiku.
"Aku keknya udah enakan deh. Nanti coba nengokin ya?" Aca malah mendesakku sampai terduduk di kursi. Wajahku sampai begitu dekat dengan dadanya, ditambah lagi rahangku dibingkai dan dipaksa untuk mendongak menatap wajahnya.
Kocak sekali posisiku. Aca mulai gila, padahal ada beberapa kepala dewasa di sini.
"Nanti coba, belum cek up ulang." Aku menahan pinggangnya, agar perutnya tidak menekan dadaku.
"Kapan sih, Pa?" Ia mundur dan melepaskan tangannya dari rahangku.
"Dua harian lagi, Cantikku, Sayangku." Aku mengusap-usap perutnya dan mencium perutnya.
Si cembung yang n****an.
"Sebenarnya kalian lagi ngapain sih?" tanya Canda kemudian.
Aca berbalik badan dan berjalan ke arah Canda. "Begini aja, aku ditanya ngapain. Tadi kau pamit ke suami kau, kau ciumi wajah suami kau habis-habisan, aku tak nanya-nanya."
__ADS_1
Aku membayangkan sendiri menjadi Aca, lalu memperhatikan kemesraan Canda dan bang Givan. Aku tahu, bang Givan tidak bermaksud mengumbar kemesraan. Hanya saja, Candanya memang yang tidak tahu situasi dan kondisi.
"Jadi udah dapat uang tuh mau pergi lagi kah? Anak-anak sama siapa, Ma?" Aku berjalan menghampiri Cani, kemudian membantunya menyusun buku pajangan ini. Dari jauh memang seperti buku, tapi jika dilihat dari dekat ya hanya kotak berbentuk buku saja.
Aku melirik ke arah Farida dan Dewi, Farida malah duduk di depan Dewi dan mengobrol dengan mencuri pandang ke arahku. Ia tidak mencari barangnya yang tertinggal, atau barangnya sudah ditemukan.
"Iya lah. Anak-anak sama ibu mertua, Ra diajak ayahnya ke toko material," jawab Aca kemudian.
Aca dan Canda tengah mengobrol tentang sesuatu, sampai terkekeh geli dan begitu klop sepertinya.
"Dek, ikut Mama sama Biyung tuh," ajakku pada Cani, agar tidak mengacak-acak pajangan lagi, tapi berlari mendekati ibunya itu.
"Ma Papa." Cani malah meminta gendong padaku.
Aku menggendongnya, kemudian membawa Cani pada Canda.
"Chandani anaknya Canda." Aku menaruh Cani di atas pangkuan Canda.
Canda hanya menyambut anaknya, ia tetap fokus mengobrol dengan Aca. Dasar perempuan, jika sudah mengobrol sampai tidak bisa diganggu.
"Itu anaknya pak Givan ya, Pak?" tanya Farida sok akrab.
"Iya, ini bungsunya," jawabku dengan menoleh ke arah Farida.
"Anteng, Pa! Jangan napas di tengkuk aku, jangan mancing-mancing," bisiknya lirih.
Oh, salah ya? Sepertinya itu membuatnya terbangkitkan.
Aku malah sengaja melakukannya, hingga Aca mendorongku sampai aku merebahkan tubuhku di atas sofa ini. Aku tertawa geli, karena mendapat pelototan dari Aca.
"Suami kampret memang!" Aca mencubiti dadaku.
Aku dibilang kampret.
Tawaku semakin menggema, hingga Cani muncul dan membantu Aca menganiayaku.
"Awas aja kalau udah di rumah! Kubuat babak belur sekalian!" ancam Aca, dengan bangkit dan membenahi pakaiannya.
"Ayo pergi, Dek. Papa tuh nakal, iseng betul!" Aca mencoba menggandeng tangan mungil Cani.
"Huuuu…." Mulut Cani sampai menyerupai cincin beton untuk sumur tanah.
__ADS_1
Ya ampun, mataku sampai basah mentertawakan Aca yang marah dan Cani yang selalu terlihat menggemaskan itu.
"Dadah suami orang…." Canda mengirimkan ciuman jarak jauh dari jemarinya.
"Heh!" Tangan Canda dicekal oleh Aca.
Para absurd berkumpul.
"Dapat uang langsung pergi ya, Pak?" Pertanyaan itu dikeluarkan, setelah pintu ruanganku tertutup rapat.
Canda, Aca dan si kecil Cani sudah kabur.
Aku bangkit dan membenahi pakaianku. "Iya." Aku meliriknya sekilas pada Farida dan berjalan ke arah mejaku lagi.
"Berarti pas kak Aca pulang ke Cirebon itu lagi hamil ya, Far?" Sepertinya Dewi keceplosan menggunakan bahasa akrab.
"Iya, lagi ngidam. Sekarang mau trimester tiga, pulang untuk lahiran di sini." Karena seperti ini kabar yang berkembang.
Para tetangga tidak tahu, jika kami terhalang restu. Yang mereka pahami Aca pulang karena ngidam dan tidak ada yang mengurus. Padahal, mamah siap-siap saja mengurus menantunya. Padahal, aku pun mampu mengurus Aca yang ngidam.
"Tak begitu kelihatan ya perutnya?" Menanggapi pertanyaan Farida, aku hanya mengangguk membenarkan.
Aku kembali membaca dokumen yang masih terbuka lebar. Aku akan membawa beberapa dokumen ini pulang, jika dengan tambahan jam lembur pun pekerjaanku ini masih belum terselesaikan.
"Eh, itu. PB aku ada di meja Pak Ghifar."
Farida langsung berada di depan mejaku. Ada sebuah kotak kecil dan pipih, yang berada di atas mejaku. Barang tersebut ada di dekat tumpukan dokumen yang tinggi.
"Udah dapat PBnya." Ia tersenyum padaku.
Aca berhias tadi. Tapi kenapa lebih menarik hiasan sederhana pada perempuan yang ada di depanku ini?
Sepertinya benar peribahasa, jika aku menikahi semua perempuan yang berada di dunia ini. Pasti a****g terlihat lebih menarik, dari istri-istri yang aku miliki.
Peribahasa rumput tetangga lebih hijau pun, sepertinya benar juga. Karena kita hanya tahu memandang, tidak dengan merawatnya.
Aku tidak jatuh hati padanya, tapi memang rupa perempuan yang berada di hadapanku lebih menarik dari Aca. Farida tidak secantik Novi, tidak seanggun Kin, tapi memiliki pesona sendiri dari matanya yang teduh dengan bulu matanya yang lentik.
Sedangkan, rupa istriku ada wanita bermata sipit dan bersorot tajam. Wajahnya terlihat menarik, tapi begitu judes ketika diperhatikan lebih seksama. Aca menang di bentuk badannya, yang seperti biar pir.
"Aku punya teman owner coffee shop yang udah punya banyak cabang. Gimana kalau aku atur janji temu, barangkali dia tertarik untuk ambil produk dari Pak Ghifar?" Farida mulai berani mengajak lagi.
__ADS_1
...****************...