Istri Sambung

Istri Sambung
IS167. Enam waktu sholat


__ADS_3

"Masuk aja yuk, Canda?" Kak Aca mengajak Canda.


"Aku aja, Kakak pegang Cani. Duduk di situ tuh, pesan makanan aja. Aku mau ikut main trampolin yang di situ." Canda terlihat tidak sabar ingin segera menikmati wahana anak-anak.


"Cani juga boleh masuk, Canda." Kak Aca menerima Cani yang diberikan padanya.


"Jangan, tak dibolehkan sama mas Givan. Nanti perutnya tak enak katanya. Nitip Cani, aku mau lari-larian sama Ra. " Canda melepas sepatunya, tidak dengan kaos kakinya. Karena wajib mengenakan kaos kaki.


Ya ampun, Canda ini. Ia langsung lepas saja bersama anak-anak. Aku yang ketar-ketir, karena Nahda tersentak-sentak di trampolin yang dimainkan Canda.


Untungnya, Ceysa cukup anteng. Membuat Shauwi ikut membantu mengurus anak-anak di dalam. Aku tidak ikut masuk, lantaran malu. Kak Aca pun tidak ikut masuk, lantaran ditugaskan menjaga Cani.


"Nunununu…." Cani monyong-monyong, dengan menunjuk gambar animasi yang menarik.


"Pesan aja, Kak." Kebetulan sekali, tempat bermain anak-anak ini berdampingan dengan resto dalam ruangan. Bukan berdampingan lagi, malah masih satu tempat hanya disekat jaring pembatas untuk arena mandi bola.


"Aku masih kenyang." Kak Aca duduk di hadapanku, dengan mendudukkan Cani di atas meja.


Anak kecil ini pun seperti Nahda, Cani selalu memakai hijab dan pakaian panjang. Cani memperhatikan wajahku, sepertinya ia tengah mengingat siapa aku.


"Ini Papa, lupa kah?" Aku mencolek-colek pipinya.


"Papapapapa…." Cani menunjukkan giginya yang baru berjumlah tiga buah tersebut. Gigi bawah dua, dengan satu gigi atas.


"Iya, Sayang. Masya Allah, Cani cantik betul. Anak sholehahnya biyung ya?" Aku mengajak anak ini berbicara.


Ia tergelak dengan menepuk-nepuk meja. Kemudian pelayan resto menghampiri dengan buku menu. Jika dilihat dari menunya yang lebih dominan fast food untuk anak-anak, resto ini masih satu naungan dengan tempat bermain di mall ini.


Aku langsung memesan banyak makanan dan minuman, kemudian aku langsung membayar di awal untuk makanan ini. Karena seperti itu pembayaran di resto ini.

__ADS_1


"Kak, masih aktif merokok?" tanyaku mendadak.


Aku teringat sebelas tahun silam, saat aku masih bujang dan dia masih belum menikah. Saat itu ia aktif merokok, tapi bersembunyi dari orang tuanya.


"Masih, tak bisa berhenti. Orang tua di rumah pun tau, suami pun dulu capek gembar-gembor buat berhenti, mak cek pak cek pun tau, cuma Nahda yang memang tak tau. Udah coba macam-macam cara, tapi susah berhentinya." Kedua tangan kak Aca memegangi pinggang Cani, agar ia tidak terhuyung ke samping karena duduknya belum bisa tegak.


"Kin pun sama, tapi bisa berhenti kok." Aku pun bahkan ikut berhenti.


"Aku tak bisa, tak punya uang pun sampai ngusahain betul." Kak Aca terlihat frustrasi.


"Masa iya tak punya uang?" Aku tahu ia dari keluarga yang cukup berada.


"Ya perkirakan aja penghasilan SPG departement store itu UMR sana, cuma sekitar dua jutaan. Cicilan motor delapan ratus, cicilan rumah sembilan ratus lima puluh, bantu biaya adiknya sekolah SMA. Belum kebutuhan dapur, rumah, listrik. Yang kerja satu orang, aku dilarangnya kerja, mana nolak support dari orang tua. Dia sampai jadi ojek online lepas pulang kerja itu. Bukannya tak bersyukur, alhamdulilah betul dapat suami pekerja keras. Tapi bayangkan aja gimana pusingnya aku ngurus uang. Rokok aja sampai ketengan, ibu kalau ke rumah sampai bingung mau apa-apa juga. Beras aja ngecer, minyak tak stok."


Hah?


"Memang sih dari ngojek aja, kadang tuh dapat lah lima puluh bahkan lebih. Tapi tak jarang juga, dapatnya cuma cukup beli rokok tiga batang."


Aku pun cukup tau. Karena dulu driverku, banyak yang menjadi ojek online dan mereka banyak bercerita.


"Model-model kek bang Givan ya suaminya? Nolak support orang tua, tapi keadaannya penuh kerja keras." Aku menarik contoh itu, karena aku tidak demikian.


"Ya gitu, keras kepala. Susah dibikin sendiri tuh, tak mau diberi nasehat atau arahan." Kak Aca bertopang dagu dengan memperhatikan Cani yang asyik menoleh ke kiri dan kanan.


"Tapi tetap figur terbaik ya?" Meski kak Aca menceritakan tentang alis yang berkerut, tandanya ia kesal. Tapi terlihat juga bahwa ia begitu bersyukur telah memiliki suami yang pekerja keras seperti itu.


Ia mengangguk. "Agamanya bagus, enam waktu sholat tak pernah bolong. Lembut bertutur, tau sopan santun dan memperlakukan istri dengan baik."


Enak waktu sholat? Apa ia dari agama lain?

__ADS_1


"Enam waktu?" tanyaku bingung.


"Ya, sholat Jum'at."


Ekhem, aku jadi tersinggung. Aku di Bali, jarang sekali ikut sholat Jum'at. Untung sekarang aku tinggal di Aceh, yang memiliki sanksi jika laki-laki diketahui tidak melakukan shalat Jum'at. Bahkan beberapa masjid di sini, setelah sholat Jum'at pun tetap melakukan sholat Dzuhur.


Dalam kondisi tertentu, mengulang shalat Dzuhur hukumnya dianjurkan bahkan bisa wajib. Mengulang shalat Dzuhur disebut dengan shalat mu‘adah atau shalat yang diulang. Di beberapa masjid di kampung, ditemukan ritual shalat i‘adah Dzuhur setelah Jumatan.


Hukum ini berlaku, dalam kondisi tidak terpenuhinya syarat keabsahan Jum'at. Contohnya adalah, ditemukan dua jumatan dalam satu desa tanpa ada hajat. Sementara, diragukan mana yang terlebih dahulu melaksanakan takbiratul ihram dari dua jumatan tersebut. Maka, masing-masing jamaah di kedua tempat tersebut wajib untuk mengulangi shalat Dzuhur. Kewajiban mengulangi Dzuhur ini dikarenakan shalat Jum'at yang dilakukan di kedua tempat sama-sama tidak sah.


Sedangkan apabila yang dahulu melakukan takbiratul ihram adalah salah satunya, maka yang wajib mengulang shalat Dzuhur adalah Jum'at yang lebih akhir takbirnya. Sebab, dalam kondisi tersebut, Jum'at yang dinyatakan sah adalah hanya jumatan yang pertama kali melakukan takbiratul ihram.


Aceh seolah begitu fanatik. Tapi, aslinya adalah agama Islam yang memiliki aturan yang diterapkan di provinsi Aceh ini. Bukan Aceh yang toleraninya buruk, hanya saja wawasan kita mengenai Islam lah yang kurang.


Aku tidak bermaksud untuk mengunggulkan suatu daerah, atau mencela daerah lain. Aku hanya membagi hal-hal yang aku tahu saja, karena menurutku ini adalah wawasan yang perlu untuk dibagi.


"Kalau orang baik itu, jatah umurnya sedikit." Kak Aca tersenyum getir. Pasti ia teringat rasanya rindu yang tak pernah tersampaikan, karena terhalang kematian.


"Aku jadi berpikir, bahwa orang tua aku orang jahat dong kalau persepsinya begitu?" Bahkan banyak sesepuh di daerahku yang sudah renta, tapi masih sehat wal'afiat alhamdulilah.


Kak Aca tertawa lepas. Sampai Cani ketakutan, lalu ia langsung bergerak untuk meraih leherku. Cani takut suara yang keras, tidak dengan suara nyaring ayahnya.


"Iya ya? Ayah ibu aku pun alhamdulilah sehat wal'afiat dan panjang umur sampai sekarang." Kak Aca meredam tawanya.


"Jadi gimana mengenai berhenti merokok? Mau ikut pelatihan berhenti merokok sama aku kah?" Aku menarik pembahasan ini, karena sudah habis pembahasan tentang umur ini.


"Memang mau diganti rokok apa? Gayanya pelatihan berhenti merokok." Dengan pertanyaannya yang seperti itu, aku malah terarah pada pusakaku.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2