
Namanya juga Ghifar, si berhati lembut, penurut dan pemaaf. Aku terbawa nama, aku kini tengah berdialog dengan Farida lewat panggilan telepon yang dispeaker. Ria pun, lebih banyak berbicara di sini. Hingga akhirnya, sore nanti aku harus datang menemuinya di tempat biasa.
Ria menolak menemaniku, karena ia ingin bermesraan bersama Keith. Yang terpenting, jangan zina di kantorku saja, bisa sial tempat usahaku nanti. Jika melihat gerakan fisik Ria terhadap Keith, aku tak yakin gadis itu masih perawan.
"Dikenalkan ke ibu, Dek." Aku masih berada di ruangan Ria, sebentar lagi aku bersiap untuk menemui Farida.
"Tak usahlah, dia duda. Abang kan tau, kejawen ibu itu kuat. Duda ya sama janda, gadis sama perawan. Tak mau aku debat yang begini-begininya."
Heh?
Aku memandang Keith cepat. Yang aku katakan laki-laki matang tadi, ternyata ia sudah berpengalaman.
"Betul duda, Keith?" tanyaku kemudian.
Ia mengangguk, ia masih meroko di depan jendela. "Pernah menikah, Bang."
"Ada anak?" Aku seperti tukang wawancara di sini.
"Belum, Bang. Nikah waktu masih SMA, Bang. Kecelakaan duluan, tapi anakku tak dikasih ijin hidup." Ia memberi senyuman getir.
Pantaslah dia cerongo, dia duda berpengalaman ternyata. Apalagi jejak petualangnya menghamili perempuan lebih dulu, sudah pasti sekarang dia lebih pro.
"Jadi sekarang udah tau caranya biar tak hamil duluan lagi?" Aku membaluri pertanyaan dengan gelak tawa.
"Yaaa, udah tau, Bang." Keith pun penyambungi tawaku.
"Berarti, kecil di Palu kah?" Palu nama kota maksudku.
"Iya, pendidikan sampai SMA di Palu. Terus jenjang perguruan tinggi di Singapore, ikut mama, karena udah tak sama-sama sama papa lagi." Ia broken home juga ternyata.
Lengkap sudah.
Aku tak yakin Ria benar-benar perawan polos. C*mbuan atau kegagahan Keith, mungkin pernah ia rasakan sensasinya. Namun, ia tetap terlihat polos karena pembawaannya yang memang manja dan apa adanya seperti Canda. Ya mungkin, Ria bisa menyembunyikan sifat liarnya.
"Abang ke Farida dulu ya, Dek?" Aku bangkit dari kursiku.
"Oh, iya. Nanti aku pun pulang kok, Bang. Aku mau urus penginapan Keith dulu."
Aku berpamitan sekedarnya pada Keith, lalu meninggalkan ruangan Ria. Kini, nyaliku sedikit menciut karena ingin bertemu dengan wanita yang begitu mempesona lagi.
Ingat Aca, Far. Jangankan ranjang, pakaian dan makananmu pun terurus. Ingat perjuangan Aca, Far. Dia sampai merendah, untuk mendapatkanmu.
__ADS_1
Aku mencoba menguatkan hatiku sendiri.
Hingga, rupa yang menawan hati itu ada di hadapanku. Ia sudah mengatakan, bahwa temannya dalam perjalanan menuju ke tempat kami.
"Istri Pak Ghifar itu, lebih dewasa dari Pak Ghifar ya keknya?" Farida sudah tidak menggunakan bahasa yang begitu baku lagi. Sudah cenderung santai, tak paham dengan kesopanan.
"Iya, kakak sepupu." Aku tidak memungkiri hal itu.
"Wow, hasil perjodohan kah?"
Pertentangan malahan. Aku memaksa berjodoh dengannya, sampai menidurinya lebih awal dan membuatnya kecanduan enaknya pusakaku.
"Bukan sih, memang karena kedekatan alami." Aku memamerkan gigiku.
"Siapa namanya, Pak?"
Aku merasa, Farida mulai berani menanyakan hal pribadiku lebih jauh.
"Anasya, dipanggil Aca." Hanya nama depannya.
Farida manggut-manggut. "Keluarga yang manis terlihatnya, jadi pengen cepet-cepet berumah tangga."
Lalu karena rumah tanggaku manis, apa ia ingin menjajalku menjadi kepala keluarganya begitu? Aku sudah curiga jelek saja.
Ia tertawa kecil. "Aku masih lajang, Pak. Aku belum memiliki siapa-siapa."
Ah, sudahlah.
Aku hanya manggut-manggut, mencoba tidak menjadi asyik untuk dirinya. Karena aku pun, akan semakin terjebak nantinya.
Drrtttttttttttttttttttt….
Nyonya besar ini pasti. Aku lupa mengabari, bahwa aku ada pekerjaan di luar.
Aku mengambil ponselku dan benar mendapatinya menghubungiku, istriku. "Hallo." Aku langsung menerima panggilan telepon tersebut tanpa meminta izin pada teman ngobrolku ini.
"Papa di mana? Lembur kah?" Kini aku ada yang menanyakan hal ini.
"Ya, Ma. Lembur, lagi ada kerjaan di luar. Nanti langsung balik kok abis ini, tunggu ya?" Aku bernada manis dan lembut seperti biasanya.
"Hmm, ya udah deh. Ati-ati ya, Pa?"
__ADS_1
"Oke, siap. Sabar sebentar ya?" Aca menungguku, pasti ada yang ingin ia bagi denganku.
"Oke, jangan kelamaan. Tadi tak ada cerita lembur, sekarang udah di luar aja?" Nada suaranya terdengar sedikit tidak bersahabat.
"Iya lupa bilang, tadi Ria ngasih tau pas Mama pulang itu."
"Oh ya udah, udah dulu ya?" Setelah itu panggilan telepon terputus.
"Dicariin ya, Pak?" Farida bertanya dengan memajang senyum cantik alaminya.
Dagunya tidak lancip seperti Kin, karena menggunakan filler. Tapi, dagunya belah dua. Seperti penyanyi Ghea Youbi, wajahnya pun mirip dia. Cantik sedang, manis sedang, tapi begitu menarik wajahnya.
"Iya, maklum lagi manja-manjanya." Setiap hari pun Aca memiliki waktu untuk bermanja-manja denganku. Ia tidak benar-benar mandiri, ia tidak benarkah kuat seperti kelihatannya.
"Untuk kedepannya nih, Pak. Aku punya permintaan pasar lebih tinggi, karena beberapa cabang di luar pulau ingin aku selipkan menu dengan varian kopi dari produk Pak Ghifar lagi. Gimana kalau…."
Obrolannya masih panjang, aku khawatir pembaca jenuh jika membacanya. Ini hanya sekitar bisnis, bisnis dan bisnis. Begini loh kami para suami ini, Mamak-mamak. Kami mencari uang dengan dihadang godaan. Supir, dihadang SPG rokok Kiss Dulu Dong Ayang. Pebisnis, dihadang wanita cantik dan judi. Pelaut, dihadang minuman keras dan wanita bayaran yang naik ke kapal dengan menawarkan pijatan. Macam-macam profesi, godaan kami mayoritas ya perempuan molek yang menarik. Rasanya jika sudah begini, aku ingin menjadi istri saja yang minim godaan.
Tapi aku tidak mengerti. Kenapa istri yang minim godaan, tetap saja ada yang berselingkuh? Jika para suami, berselingkuh kan karena ada jalannya dan kesempatannya. Jika para istri, bagaimana caranya mereka mendapat selingkuhannya?
Pure bekerja dan mengobrol dengan teman Farida, yang ternyata seorang perempuan lagi. Tapi tetap, Farida lebih menarik dari temannya itu.
Kini aku tengah bertopang dagu, dengan memperhatikan wajah istriku yang tengah bersolek. Skincarenya berapa lapis? Sudah tiga lapis, ia masih mengoles saja.
"Gara-gara temenan sama Cendol nih." Komenku yang membuat Aca tertawa lepas.
Sekarang pukul sepuluh malam, tapi Aca masih ingin memoles wajahnya menggunakan step by step di setiap lapisan wajahnya. Alis, mata dan bibir pun ternyata memiliki skincare khusus. Entahlah apa itu, tapi aku memperhatikannya jadi aku tahu.
"Dari dulu kali! Papa aja yang tak merhatiin aku." Ia memanyunkan bibirnya, kemudian memberi baluran lagi di dahinya.
"Iya kah?" Mungkin karena kami baru satu rumah, jadi aku baru tahu.
"Kok belum tidur sih? Betulan kah mau ngajak aku terbang?" Ia membelai pelipisku.
Sebenarnya, aku hanya mencoba mengagumi apa yang sudah aku miliki. Agar aku tidak begitu ngeces, ketika melihat paras Farida. Aku pun mencoba memberi waktu untuk hubunganku dan Aca, agar tidak tergeser dengan hubungan bisnisku dengan Farida. Aku khawatir dari bisnis, berujung ke hal manis.
"Terbang ke mana? Mau ngobrol aja, mau sayang-sayangan aja." Aku merapikan rambutnya yang menutupi telinganya.
Lihatlah, telinga istriku ternyata begitu bersih dan cerah. Ya meski lehernya masih memiliki bias hitam, yang katanya itu bawaan janin.
"Lagi deket sama perempuan ya? Apa udah punya selingkuhan?" Pertanyaannya terasa seperti tuduhan untukku.
__ADS_1
Apa aku mencirikan?
...****************...