Istri Sambung

Istri Sambung
IS164. Video call


__ADS_3

"Hallo, siapa?" Aku menerima panggilan dari nomor telepon tanpa nama.


"Ini Aca. Nahda ada sama kau kah, Far?" tanyanya dengan suara bergetar.


Apa kak Aca menangis di sana?


"Iya ada, baru tidur." Aku melirik anak perempuan yang tergeletak di atas ranjangku ini.


Anak perempuan ini ternyata takut dengan lampu redup, sedangkan Kal dan Kaf nyaman tertidur dengan pencahayaan yang sedikit redup seperti lampu tidur. Membuatku membawa Nahda tidur di ranjangku, daripada nanti mengganggu jam tidur anak-anakku. Tadinya aku akan tidur bersama Kal dan Kaf pun tidak jadi, akhirnya aku menempati ranjang penuh kenangan ini.


"Ish! Van!!! Keterlaluan ya kau!" pekikan itu cukup keras. Setelahnya, terdengar gelak tawa bang Givan yang tertangkap suara di panggilan yang sedang berlangsung ini.


"Kau lagi ya, Canda. Iya hilang, iya hilangnya aja." Kak Aca lanjut memarahi orang yang mungkin ada di hadapannya saat ini.


Sepertinya kak Aca dikerjai oleh bang Givan dan Canda. Tapi kenapa ia tiba-tiba berpikir bahwa Nahda ada padaku? Jika nomor teleponku, mungkin ia mendapatkannya dari kontak yang berada di grup Famili Adi's Bird. Ia masuk ke dalam grup tersebut, tapi aku tidak menyimpan nomornya.


"Aku ke sana ya? Bawa balik Nahda." Suaranya terdengar jelas kembali.


"Tak usah, udah aja tidur. Nahda udah pulas juga, nanti malah kebangun." Ia mau tidur cepat, lantaran ingin menikmati taman bermain besok. Sekarang aku yang pusing, akan mengajaknya ke mana. Di daerahku tidak ada taman bermain anak-anak, kecuali di area dalam taman kanak-kanak.


Sepertinya, besok aku harus mengajaknya ke swalayan besar. Di mana ada mandi bola dan beberapa wahana anak-anak di dalam area bermain anak-anak itu. Aku tak terbiasa mengingkari janji, meski aku tak menjanjikannya. Aku akan berusaha memenuhinya, sekaligus mengajak anak-anakku jalan-jalan juga.


"Kau serius? Setengah dua belas Nahda udah tidur? Yang betul?" tanyanya beruntun.


"Iya, Kak." Aku mengalihkan panggilan menjadi panggilan video.


Ia langsung menerima panggilan video dariku. Hidung tinggi dan rampingnya langsung terlihat. Gelinya lagi, aku malah reflek terbahak.


Biasanya perempuan saat video call itu mencari angle kamera yang pas, tidak penuh satu muka seperti ini.


"Kenapa kau?" Dengan entengnya ia bertanya seperti itu.


Aku tak mungkin mengatakan bahwa aku geli melihat wajahnya yang full di layar ponselku. Memang cantik, mirip mamah. Tapi lucu saja, ketika ada perempuan tidak menjaga imagenya.


"Tak. Ini nih Nahda, udah pulas kan dia?" Aku mengarahkan layar ponselku ke arah gadis kecil yang bernapas lewat mulut ini. Apalagi alasannya, kalau bukan karena hidungnya tersumbat.


"Aduh, tidur sama Papa jadinya. Hati-hati ya, Nahda?" Ngawur sekali ucapan kak Aca ini, segala hati-hatilah.


"Hei, maksudnya apa bilang hati-hati?" Aku bertanya cepat.


"Ya kan Nahda gadis, Papa sukanya yang gadis terus." Dari sana, terdengar beberapa tawa lepas.


"Ish, tak melulu gadis lah. Janda beranak, istri orang pun jadi lah kalau mau." Aku menanggapi dengan gurauan.


Kini kak Aca dan tawa renyah yang aku kenal sejak dulu terbawa audio video call ini, itu adalah suara Canda.

__ADS_1


"Kau tengok muka suami aku, Far." Tiba-tiba layar ponsel terarah tidak jelas, saat suara Canda mengambil alih tadi.


Kemudian, penampakan wajah sangar mengganggu pemandangan hidung ramping tadi. Bang Givan memasang wajah marahnya.


"Kan tak sekarang, kapan-kapan ya Kakak Ipar?" Aku menahan tawa geli, dengan bualanku sendiri.


"Iya dong. Nanti jam satu Mas Givan berangkat, ke sini aja ya Far?" Sejak kapan juga ini Canda menjadi kentir.


Tawa lepas terdengar kembali, dengan arah kamera yang tidak jelas.


"Canda dikantongi Givan ke lantai tiga." Suara kak Aca kembali, dengan penampilan Canda yang nemplok di bahu bang Givan seperti karung beras.


Ternyata cemburuan juga bang Givan ini.


"Ya udah, Kak. Istirahat aja, Nahda udah pulas kok, udah aku kasih balsem pereda flu di dada dan leher Nahda." Aku berbantal lenganku sendiri, dengan memperhatikan hidung yang mirip ibuku itu.


"Kerudung Nahda dilepas aja, takut penitinya kebuka terus nusuk." Nahda memang menggunakan hijab style zaman sekarang.


"Iya, Kak. Besok siapin anak-anak yang mau ikut, aku mau bawa Nahda ke kota sama anak-anak aku." Entah kenapa mulutku malah mengatakan hal ini.


"Far…." Sorot matanya terlihat serius.


"Ya?" Aku masih memperhatikan wajahnya.


Aduh, leher itu terlihat di mataku. Ya Allah, aku beristri. Tapi malah ser-seran melihat leher janda.


Apa ya maksudnya?


"Rumah tangga aku tak diacak-acak juga memang udah rusak." Aku menyahuti sekenanya.


"Terus kenapa, segala kau ajarkan Nahda manggil kau papa? Entah-entah kalau saudara dekat, Nahda kan sifatnya keponakan jauh kau. Rasanya tak pantas aja, dengan kau pasang alasan karena anak-anak di sini manggil kau papa. Anak-anak di sini kan, keponakan kau semua, anaknya kakak atau adik kau."


Aku makin bingung saja.


"Ya tak apa sih, Kak. Anaknya mantan pacar aku pun, aku cebokin, aku suapin makannya. Santai aja lagi." Aku merasa ia tidak enak hati padaku.


"Hah? Siapa?" Mata sipitnya melebar sempurna.


"Canda. Chandra kan kecil aku yang urus sama Kin."


Kak Aca manggut-manggut saja.


"Ya udah ya? Besok siap-siap aja, kita jalan-jalan. Bawa anak-anak yang lain pun tak apa, nanti aku bawa Pajero biar muat banyak. Tapi pengasuhnya juga dibawa, aku takut keteteran." Tentunya dari anak-anak bang Givan biasanya.


"Hmm, keknya nanti kita perlu ngomong empat mata. Kalau teguran kek gini, tak mempan untuk kau."

__ADS_1


Tut….


Panggilan video dimatikan sepihak. Kak Aca ini benar-benar membingungkan.


Aku memilih beristirahat cepat, agar esok badanku segar untuk berjalan-jalan. Biar nanti akan aku bawa pulang saja pekerjaanku yang di kantor, agar nanti aku menyelesaikannya sehabis kembali dari jalan-jalan.


Nyatanya, pagi ini aku sudah diberi senyum kecut saja. Novi datang ke rumah mamah, dengan menghidangkan makanan dengan urat masam. Khawatirnya, sarapan untukku diberi racun.


Bismillah sajalah, aku mencoba menghargai pemberian Novi dalam bentuk capcay brokoli yang dicampur potongan bakso. Aku melahapnya, bersamaan lauk pauk buatan mamah.


"Mah, aku balik ke rumah dulu." Novi pamit pada mamah.


"Iya." Herannya lagi, mamah pun menjawab sekedarnya. Tidak seperti biasa, yang heboh dan banyak bercakap-cakap dengan Novi.


"PAPA…." teriak anak bungsuku dari lantai dua.


"Ya, lagi sarapan." Aku menyahuti dengan bangkit dari kursiku.


"Adek Nahda ini, dia nyariin Papa." Kaf ada di ujung tangga teratas, ia belum membuka teralis pembatas tangga. "Aku lagi salin, ini belum pakai baju." Terlihat baju Kaf pun tersampir di bahunya. "Aku tak bisa bawa Adek Nahda turun, takut jatuh."


"Oh, iya." Aku bergegas menaiki tangga.


Kasihan sekali, anak dua tahun lebih ini sudah penuh dengan air mata. Pasti ia mencari-cariku sejak tadi.


"Minum dulu ya? Terus ke mama, Nahda mandi dulu." Aku menggendong Nahda dan membawanya ke dapur.


"Ihh, ada Nahda di sini?" Papah terlihat kaget.


"Iya, Kakek." Gadis kecil ini tetap menjawab, meski wajahnya basah dengan air mata.


"Sini duduk, kita makan sarapan." Kal menepuk kursi di sebelahnya.


Nahda menggeleng. "Mau mama." Tiba-tiba tangisnya langsung lepas saja.


"Yuk sini sama Nenek." Mamah mendekatiku dengan merentangkan kedua tangannya.


Nahda menolak dengan gelengan kepala. Dengan manjanya, ia bersandar pada bahuku. "Sama Papa, ke mama."


"Iya sama Nenek, Papa lagi sarapan." Mamah membujuk Nahda.


Nahda tetap menolak, ia bahkan mengalungi leherku dengan kedua tangan mungilnya.


"Oke, oke." Aku menyanggupinya. "Nanti sarapannya aku lanjut, Mah." Aku melirik isi piringku yang tinggal setengah.


Aku membawa Nahda keluar dari rumah. Namun, aku malah memperhatikan rumahku dari jauh. Kedua pintunya terbuka lebar, membuatku teringat akan kejadian kemarin.

__ADS_1


Apa Novi sedang mengulanginya lagi?


...****************...


__ADS_2