
"Lah, apa Ghifar tak berpikir nanti anak Ayah dan cucu Ayah ini nyusahi dia? Kan ibarat katanya seperti itu, kalau Ayah bilangnya aku takut dipakai jadi baby sitternya." Aca benar-benar berpihak padaku di sini.
"Kamu kan istri, mana ada istri nyusahin suaminya? Di mana juga, ada anak disebut menyulitkan ayahnya? Itu kan resiko." Pakdhe Arif pandai berdebat juga.
Aduh, bingungnya juga gen-gen mamah sudah saling berdebat. Rasanya, aku ingin menyewa pengacara yang pandai berbicara juga.
"Terus kenapa ibu sambung disebutnya baby sitter anak tirinya? Kan aktivitas normal seorang ibu juga, untuk mengurus anak-anaknya? Misal aku dapat bujang pun, pasti lah aku ngurusin dia, karena aku istrinya. Belum lagi karena belum punya hunian sendiri, jadi aku harus serumah sama mertua dan ngurus mereka yang sudah renta juga. Nampaknya begitu tidak adil, misal anak perempuan kita ngurusin mertua, tapi jauh dari orang tua sendiri. Nah, itu resiko juga ambil bujang yang belum bisa mandiri. Semua pilihan kan ada resikonya, Yah. Bukan begitu kan? Contoh sederhana yang aku kutip pun, banyak kok contohnya di sini."
Novi, mamah, Aca, dan gen-gen dari keluarga mamah digabung. Sudah pasti, gen Adi's Bird sepertiku hanya bisa mengkerut.
Pakdhe Arif manggut-manggut. Ia memperhatikan anaknya dengan lekat, kemudian ia melirikku. Pandanganku langsung melarikan diri, untuk memperhatikan Nahda yang tengah bermain masak-masakan di halaman rumah bersama salah seorang sepupunya dan bibinya.
Adik kak Aca masih seumuran dengan Kal jika tidak salah. Nama adiknya Mayranty, dipanggil Ranty. Anaknya Nur Giyatsa yang istrinya orang Sampit itu, cucunya pakdhe Afan yang diasuh oleh ibunya Aca, namanya Agis berusia tiga tahun juga seperti Nahda.
Jarak antara bibi dan keponakan itu, hanya enam tahun. Ibunya Aca hamil kembali saat dirinya sudah dewasa. Kebobolan KB lah bahasanya.
"Jadi kamu mau sama Ghifar itu, karena dia mapan begitu? Yang penting kamu punya rencana usaha, kamu tinggal bilang, Ca. Ayah bisa bantu untuk mewujudkan usaha yang kamu mau, biar kamu bisa mandiri dan mapan."
Waduh, waduh. Sudah semakin merajalela pembahasan ini. Aku tidak merasa kaya dan mapan, tapi memang berkecukupan.
"Aku udah terbiasa dengan laki-laki yang mau menafkahi. Aku dibiasakan papanya Nahda dulu, untuk menuntut nafkah darinya. Jadi mau mandiri pun, aku yakin bisa. Tapi, aku pun perlu seorang suami yang bisa menafkahi aku dan anak aku juga. Aku punya uang, aku punya usaha, aku kaya, aku tak akan butuh laki-laki, Yah." Konsep janda memang menyeramkan.
"Kamu kan belum tau sifat asli Ghifar. Istrinya aja sampai minta cerai kan? Dipikir lah, Ca."
__ADS_1
Ya, ampun. Sampai berani berbicara seperti ini di depanku langsung. Mamah jangan sampai tahu, karena mamah akan merasakan beribu sakit hati pada kakaknya sendiri nantinya.
"Belum menjalani, ya mana tau, Yah. Ayah aja tak kasih restu, gimana aku mau menjalani dan tau segalanya tentang Ghifar."
Apa istriku didikan ibuku juga? Mulutnya seperti mamah yang pandai membolak-balikan pembicaraan.
"Masa harus cerai dulu, Ca? Terus baru tau, kalau laki-laki ini memang gak baik buat kamu." Pakdhe Arif pun mulutnya pedas seperti mamah.
Pah, pantas saja kau tak mau ikut mertua dan berdekatan dengan ipar kau. Ternyata seperti ini toh gen mulut tajam hidup dalam satu kesatuan kekeluargaan dan kekerabatan yang dekat.
"Ya kan bisa minta Ghifar sirikan aku dulu, biar aku bisa nilai gimana dia. Terus cerai pun, tak semua orang bakal tau juga kalau aku janda dua kali." Aca benar-benar berjuang keras di sini.
Aku bisa membantu apa ya? Doa saja deh.
"Aku tau, makanya aku pilih dia. Di sini kan Ayah yang tak mau restuin kita, bukan aku yang salah pilih. Buktinya, papanya Nahda pun dapat seleksi ketat dari Ayah. Tetap sih, sifat keras kepalanya bisa dideteksi setelah nikah dan menghadapi masalah." Terlihat dari wajahnya, jika Aca termakan emosi.
"Udah, Kak. Sampai ngotot-ngotot gitu tuh, tak baik tau." Aku memencet hidungnya.
Mulutku sering ditabok mendadak oleh mamah, jika aku berbicara ngotot saat kecil. Alhasil, tumbuhlah aku yang selalu bernada lembut saat berbicara. Karena terbiasa berbicara lembut pada mamah.
"Udahlah, hamili aku dulu aja."
"Hei!!!" Ibu kak Aca sampai terkejut.
__ADS_1
Aku jadi menahan tawa geli sini. Suasana berangsur mencair, karena dihidangkan dengan tawa yang berbaur.
"Sabar coba, Ca. Kamu sih, kalau mau itu mesti dapat. Main lotre gak pernah beruntung juga, kamu sih pengennya borong semua nomor di lotre warungan itu." Pakdhe Arif merangkul anak sulungnya ini.
Beliau terkekeh, dengan menggoyangkan tubuh Aca seperti tengah dzikir.
Anak tahun 80 atau 90an, pasti tahu tentang lotre warung yang ketika mendapat zonk kita hanya dapat permen saja. Tapi jika mendapat angka sesuai hadiah, sennahn bukan main meski hanya mendapat mie Gurimi saja.
"Kesal aku sama Ayah, tak pernah percaya sama aku. Aku udah capek, Yah. Pengen ada yang gantiin urusin anak kalau kebangun malam, pengen ada yang nemenin kalau hujan angin. Aku takut sendirian sama anak aja, kalau hujan malam, Yah. Ayah sih, tak paham-paham aku. Segitu dari kecil, aku selalu ketakutan kalau malam hujan angin terus mati lampu." Berakhir malah istriku menangis.
"Jangan nangis lah, Ca." Ibunya memberikan sehelai tisu dan ayahnya merangkulnya dan mengusap-usap lengannya.
"Iya, sabar. Jangan buru-buru, Ca. Ayah pengen kamu menikmati waktu sendirimu dulu gitu, bukan main minta dinikahkan sama anaknya bibi kamu sendiri. Kamu kan tau, di sini pernah ada yang menikah antar sepupu puh, anaknya lahir kurang normal. Ada pantangannya, Ca. Gak maksa begitu, karena ada akibatnya."
Benarkah? Anak Ahya sehat-sehat saja, tumbuh normal dan doyan jajan juga. Banyak juga orang sana yang menikah antar anak kakak dan anak adik, anak-anak mereka tidak ada yang cacat fisik, apalagi disebut kurang normal.
Sepertinya, itu hanya persepsi yang salah saja. Namun, malah berkembang di masyarakat dan menjadikan mereka itu sebuah larangan yang jika dilanggar agar berakibat nyata. Seperti sugesti contohnya. Sugesti merupakan kata serapan dari bahasa Inggris suggestion. Sugesti adalah pemberian pengaruh atau pandangan dari satu pihak kepada pihak lain. Akibatnya pihak yang dipengaruhi akan tergerak mengikuti pengaruh atau pandangan tersebut dan menerimanya secara sadar atau tidak sadar tanpa berpikir panjang.
Seperti contohnya, ketika kita sakit dan berobat pada dokter A, maka kita akan sembuh. Karena diri kita yakin, kita benar-benar sembuh setelah berobat di dokter tersebut. Padahal, obat-obat yang dokter berikan hanya meringankan gejala yang kita rasakan. Dengan tubuh kita sendiri yang menyembuhkan, karena keyakinan dan sugesti kita yang kuat.
"Tak, Yah. Ayah salah, Ayah coba ke kampungnya Ghifar. Di sana para tetangga dan keluarga pak cek nikah antar sepupu tak apa kok anak-anaknya." Istriku menangis sambil berbicara.
Ternyata, ia memiliki kemiripan dengan Canda. Tapi, lebih cenderung seperti mamah.
__ADS_1
...****************...