
"Minta bantuan, untuk nomornya dijadikan nomor kedua kalau nomor utama tak bisa dihubungi." Novi malah memainkan ujung dress-nya.
"Daftar apa memangnya? Pinjol kah?"
Ia menggeleng sambil terkekeh geli.
"Bukan, Bang. Untuk daftar jadi seller gitu, pakai dua nomor." Novi kini menyugar rambutnya hingga terpampang ketiak mulusnya.
"Diisi satu aja tak apa kok." Aku mengucek mataku yang sudah amat kering.
Aku mengantuk sekali.
"Tapi gagal terus, Bang." Novi mendekatkan dirinya dan menunjukkan ponselnya padaku.
Ya ampun, segala benda kenyal yang masih bekas tangan pertama itu menempel pada lenganku.
Hufttt…. Yang kuat-kuat imanku.
"Besok aja ya? Ngantuk banget. Belum nanti nunggu dapat konfirmasinya, kodenya. Udah aja nanti ya?" Aku mundur satu langkah dan mengayun daun pintu kamarku.
"Bang, Bang, Bang. Tunggu!" Novi malah maju beberapa langkah dan menahan daun pintu ini.
"Ada apa, Nov?" Aku memilih untuk menyembunyikan tubuhku di belakang pintu, hanya kepalaku saja yang muncul dari pintu.
"Besok anterin juga daftar seller di kantor cabangnya yang ada di kota." Wajahnya begitu penuh harap.
"Oke, Nov. Besok kan?" Ia langsung mengangguk. "Sekarang udah malam, aku dari perjalanan jauh, aku mau istirahat dulu."
Kleb….
Bukan aku tidak sopan, naluriku mengatakan bahwa dirinya tengah mencoba menggoda insting kelelakianku. Alasan sederhana meminta izin nomor teleponku dipakai, atau besok mengantar ke kota, itu kan bisa dibicarakan esok dan di tempat ramai. Bukan di depan pintu kamar, malam-malam sepeti ini.
Bukan aku sombong, atau tidak bisa mengerti perasaan Novi. Masalahnya aku sudah beristri, dobel nanti dosaku.
Aku langsung terlelap, setelah yakin bahwa pintu kamarku sudah dikunci. Besok aku mulai pulang ke rumah, agar rumahku memiliki nyawa dan tidak terlihat menyeramkan. Sekaligus, agar aku memiliki kelonggaran untuk sering berkunjung ke rumah Aca. Perjuanganku untuk bisa bersatu dengannya dengan ikatan resmi dan restu yang meridhoi kami masih amat panjang.
Pagi harinya, Novi serius mengajakku untuk pergi ke luar. Di depan mata istriku, ia bahkan merengek untuk kami segera berangkat.
"Iya, tunggu di luar ya?" Aku meminta Novi untuk meninggalkanku lebih dulu, aku mengusirnya halus.
"Mau apa dulu sih?" Dulu Novi tidak secerewet ini ketika mengajak pergi. Suruh menunggu ya, ia langsung mengangguk dan menungguku ke tempat yang aku maksud.
"Mau BAB dulu." Aku mengusap-usap perutku.
Wajahnya terlihat kaget. "Ya ampun, Bang. Ya udah deh." Ia meninggalkanku di area dapur ini.
__ADS_1
Mamah dan papah sudah meninggalkan dapur. Aku mendekati istriku, yang tengah mencuci beberapa piring kotor ini.
"Ma…." Aku memeluknya dari belakang.
"Hmm, apa? Tak berniat ajak Nahda? Atau Ra aja yang sedikit recok?" ucapannya datar tanpa terdengar tengah marah.
Ra yang sedikit recok? Apa itu fungsinya untuk merecoki kami?
"Berarti boleh aku antar Novi pergi?" Kepalaku muncul dari bahu kanannya.
Ia mengangguk. "Boleh, bawa anak ya? Kalau Kal dan Kaf jelas bisa diajak kerjasama, dia bisa disuap nanti. Coba ajak Ra aja, yang berisik aja itu."
Aku pun yakin, aku pasti keteteran nantinya.
"Ya udah, aku ke bang Givan dulu." Ra masih di sana, ia belum tahu mama datang.
"He'em. Jaga diri ya?" Ia mematikan keran dan memutar lehernya.
Tangannya yang setengah basah itu, malah memberikan efek sejuk di tengkukku.
"Aku tak ada kurang-kurangnya, jadi tolong ulas balik kalau Papa mau khilaf." Ia menyapukan candunya dengan hangat.
"Usil betul ini perempuan." Aku terkekeh dan terpancing usapan itu.
Aku memainkan part belakangnya dan mengincar bibirnya yang semakin menjauh tersebut. Aku mendapatkannya, meski akhirnya kami tertawa bersama.
Minggu pagi yang penuh candu. Aku malah benar-benar berminat untuk standing saat ini juga.
"Ya udah deh, nanti malam kita kondisikan ya? Dadakan ngebet ini." Aku malah mengusap-usap tengah-tengah tubuhku sendiri.
Ia tertawa geli. "Belum selesai tamunya, Pa. Nanti aku bantuin keluarin aja deh."
Wow, service plus-plus.
"Oke siap, oke siap. Aku tak bakal nolak. Aku pergi dulu ya?" Aku mencuri ciuman pada bibirnya lagi. Kemudian aku tergesa-gesa berbalik badan dan…. Kesialan terjadi.
Papah bersedekap tangan di dekat meja bar. Kepalanya menggeleng berulang, dengan sorot tajam mengarah pada kami.
Hufttt……
Kenapa aku selalu pernah ketangkap basah oleh papah? Dulu, saat bersama Kin di kamarku sebelum aku menikah dengan Kin. Kini, aku tertangkap basah sedang bermesraan dengan istri rahasiaku di dapur rumahnya.
"Udah pro ya sekarang?" Senyumnya begitu mengejekku.
Sudah bukan pro lagi, skillku bisa diusahakan dengan situasi dan kondisi. Sayangnya, aku tidak bisa menjawab seperti itu.
__ADS_1
"Ada dong di Oyo tiga atau empat hari sih?"
Menuduh kah?
"Oh tenang aja, Pak Cek. Aku lagi haid kemarin, jadi tak ada cerita di Oyo."
Berani sekali Aca menjawab seperti ini?
Aku jadi mengingat obrolan singkat kami tadi. Apa sampai ke telinga papah juga?
Papah manggut-manggut, beliau berjalan maju mengarah ke lemari pendingin. "Aku merasa, hal-hal seperti itu keknya sering terjadi. Pasti bisa lebih dari itu, kalau tempatnya memungkinkan."
Tuduhan lagi kah?
"Oh, memang kesempatan kami banyak untuk bisa berbuat hal lebih. Tapi Pak Cek tenang aja, anak Pak Cek bisa menjaga marwah wanitanya kok. Dia tak pernah ingin berzina, apalagi jenis zina besar. Hal tadi pun, aku yang menciptakan keadaan seperti itu. Kalau aku tak ngadep dia, mungkin tak ada hal-hal kek tadi. Maaf ya, Pak Cek? Aku udah ngotorin dapurnya."
Aku jadi membayangkan bagaimana jika aku dan dia tengah berantem? Apakah ia selalu menjawab dan menentangku? Jika dilihat dari tutur katanya yang pandai seperti Novi begini, aku khawatir aku dikalahkan olehnya lewat kata-katanya.
"Begitukah?" Papah terlihat santai semabari duduk di kursi makan dan mengupas buah, yang ia dapat dari lemari pendingin.
"Pak Cek kan lebih tau anak Pak Cek sendiri ketimbang aku." Kak Aca merapikan piring bekas cuciannya tadi.
"Aku ke bang Givan dulu." Aku lebih memilih kabur seribu bayangan.
Pasti semua perempuan tak berminat, jika tahu sifat takutku ini. Aku malah meninggalkan istriku, untuk berdebat dengan papahku sendiri. Aku merasa yakin saja, jika Aca bisa mengimbangi ucapan papah.
Entah apa lagi perdebatan di dapur. Karena kini, aku tengah mengecek anak-anak Canda yang bisa kuajak di Minggu pagi ini. Entah kantor apa yang buka di hari Minggu ini, Novi hanya mengatakan kantor cabang untuk pendaftaran seller.
"Mau pada ke mana sih?" tanyaku pada dua anak perempuan yang duduk manis di teras rumah Canda, Key dan Ceysa.
Si brutal Key, yang selalu menggunakan otot untuk permainannya dan si misterius Ceysa, yang selalu menggunakan otaknya untuk segala macam kesehariannya.
"Biyung capek ke CFD katanya, Pa. Kita mau ke swalayan aja nanti, tapi kata Biyung ini terlalu pagi. Aku bingung mau ngapain?" jawab Key dengan wajah murung.
Ra memang tukang recok. Tapi Key tukang ngobrol, titisan mamah Dinda yang begitu cerewet.
"Key sama Ceysa ikut Papa aja yuk? Jalan-jalan ke kota." Aku duduk di samping kiri dua anak perempuan yang duduk manis berdampingan tersebut.
"Aku tak mau jalan-jalan, Pa. Tak ada tujuannya."
Eh, kok benar sekali?
"Ya namanya juga jalan-jalan, ya tak ada tujuannya, Dek," jelas Key halus.
"Iya, aku tak mau. Yang jelas aja kalah ngajak tuh. Ke Hadi, ke Adib, ke Ghofur begitu."
__ADS_1
Begitu ya selera anak TK ini? Jalan-jalan tidak suka, karena tidak jelas. Oke juga pemikiran Ceysa ini. Aku jadi membayangkan bagaimana pola pikirnya ketika sudah beranjak dewasa nanti?
...****************...