
"Tuh, kan?! Gara-gara Mama sih! Adik aku jadi tersedak duri." Kal begitu marah, saat aku berusaha mengepalkan nasi agar duri yang terperangkap di tenggorokan Kaf segera terbawa turun.
"Lagi, Nak." Aku kembali menyuapi Kaf dengan nasi putih yang terkepal.
"Minum, Papa!" ujar Kaf dengan air mata yang penuh.
Aduh, anak-anak. Ada saja ceritanya, segala tersedak duri.
"Kaf makannya pelan-pelan, dikunyah dulu. Jadi kan misal ada duri, terasa di mulut." Novi menyandingkan segelas air putih di dekat piring Kaf.
"Mama masaknya tak enak, kan aku jadi tersedak." Kaf meneriaki Novi dengan kalimat yang tidak mengenakkan.
"Tak apa, Kaf. Ini minum dulu." Aku membantu Kaf menggenggam gelas plastiknya.
"Papa tuh belain aja Tante!" seru Kal, dengan menggebrak meja makan kami.
Baru sedikit aku berkata, aku sudah dikira membela salah satu pihak.
Aku harus bagaimana?
"Udah! Makan yang bener!" Aku memandang Kal dengan sorot sedikit tegas.
Sudah dua kali, ia berkata dengan ucapan yang kurang sopan. Aku jadi kesal sendiri dengan anak-anakku.
"Sini Papa bantu pisahkan durinya." Aku duduk kembali di kursiku, dengan mengambil satu buah ikan goreng ini.
Yang membuatku sesak kali ini, adalah anak-anak yang makan dengan menangis tanpa suara.
Aku tidak mengerti, apa isi pikiran mereka. Hanya diminta untuk makan saja, mereka menangis dan penuh drama seperti ini. Mereka pasti berpikir, bahwa aku membela Novi dan segala macam tuduhan mereka.
Aku pun diam saja, aku pura-pura tidak tahu bahwa mereka menangis tanpa suara. Lagipula, Novi tidak bermaksud jahat juga. Ini hanya masalah kecil menurutku, tapi terlihat begitu fatal untuk anak-anak.
Jika dipikir kembali, mereka pasti tertekan. Maksudku, kedua anakku. Mereka pasti tidak betah, karena Novi memperlakukan mereka dengan cara yang tidak sama seperti ibu kandungnya.
Tapi Novi sedang berusaha. Novi tidak diam pasif seperti dulu.
Kembali lagi, Novi dan ibu kandung mereka orang yang berbeda. Seperti yang Novi pernah katakan, cara Novi mengatur kehidupan pun pasti berbeda. Tapi sepertinya anak tidak mau paham akan hal ini.
Apa, aku sebaiknya meminta Novi agar memperlakukan mereka seperti Kin saja? Agar anak-anak mudah menerimanya, tidak kaku dan penuh drama seperti ini.
Tapi itu pasti sulit lagi. Karena Novi pasti tersinggung dan merasa bahwa aku tidak menerima apa adanya. Bahkan mengubah karakternya.
__ADS_1
Tapi jika dibiarkan seperti ini, anak-anak pasti makin sulit untuk menerima Novi. Aku dilema lagi di sini, aku dibuat bimbang lagi di sini.
Aku harus membicarakan pada Novi, tapi sebelumnya aku harus menimbangnya dulu. Karena khawatir, Novi malah tersinggung di sini.
"Makanlah dulu, Nov!" pintaku, saat Novi tengah mencuci peralatan bekas memasaknya.
Lihatlah, bekas cumbuanku meninggal cap merah di bawah telinganya.
"Ya, Bang." Novi meninggalkan pekerjaannya, kemudian mengelap tangannya.
Sikap Kal semakin menjadi. Ia malah menggeser kursinya, saat Novi duduk di sampingnya.
Aku ingin marah dan menceramahi anak itu, tapi aku pikir ini bukan waktu yang tepat. Kal pun akan merasa malu juga, jika aku memarahinya di depan Novi. Ia pun akan berpikir, bahwa Novi merasa puas saat dirinya dimarahi olehku.
Aku hanya mengangguk samar, saat berkontak pandang dengan Novi. Semoga, ia memahami maksudku.
Maksudku, agar Novi memakluminya dan melanjutkan aktivitasnya untuk makan. Aku tak mau ia menganggap ini masalah besar.
Beberapa saat kemudian, aku membiarkan Novi mengantar Kal bersekolah. Biar saja, agar Kal paham bahwa apa-apa ia selalu dengan ibu sambungnya itu.
"Kaf manyun aja sih?" aku merapikan rambut anakku yang tidak tertata rapi ini.
"Aku kesal terus." Kaf malah bangkit, lalu berpindah duduk di ujung lantai teras.
Apa ia marah padaku?
"Apa sih? Ditemani Papa kok malah pindah?" Aku menghampirinya dan duduk kembali di sampingnya.
"Papa jahat." Kaf memanyunkan bibirnya lebih tinggi.
Aku jahat?
Aku ingin bercerita saja, bahwa mereka ini jauh lebih beruntung daripada masa kecilku dulu. Aku selalu ribut dengan bang Givan, selalu bentrok dan selalu saja tidak akur. Padahal hidup dalam kurungan ibu kandung, tapi lebih terlihat buruk daripada hidup dengan ibu sambung.
Bukan karena mamahku galak, tapi kenyamanan hidupku seperti tidak tentram. Aku bahkan lebih memilih sering bersama tante Zuhra, lantaran menghindari pertengkaran dengan bang Givan.
Mamah tidak pernah menanyakan siapa yang salah, tapi kami semua seperti dibuat untuk memahami sendiri kesalahan kami. Kadang, aku malah dikurung dengan bang Givan setelah berkelahi.
Bayangkan saja, bagaimana perasaanku saat dikurung bersama kakak sendiri yang sering menarik kerah bajuku. Memang tidak pernah adu jotos, tapi sejak dulu kan bang Givan memang bertubuh tinggi dan berisi.
Belum lagi uang jajan yang kadang diminta untuk berbagi. Apalagi adik kami yang selalu jajan melebihi batas jatah mereka, terpaksa kami sebagai kakaknya yang berkorban kembali.
__ADS_1
Memang, dengan cara dilepasliarkan seperti itu. Tapi persaudaraan kami semakin kuat, kami pun saling melindungi. Tapi ya, ada minusnya juga. Karena sering kali berdebat dan menyelesaikan masalah kami sendiri. Belum tadi masalah uang, yang aku ceritakan di atas.
"Iya, maaf ya? Kaf maafin Papa tak?" Aku merangkul pundak ringkihnya.
Kaf mengangguk, "Lain kali, cari mama buat aku itu yang kek mama Kin. Aku ada temannya, tapi malah sering disuruh. Aku tak bisa main." Kaf memeluk lututnya sendiri.
Yang aku tahu, hanya cerita tentang Kal. Tapi Novi sedikit menceritakan, bahwa memang Kaf bergantung pada kakaknya.
Ya mau bagaimana lagi. Sejak Kin tak ada, Kal selalu membantu mengurus adiknya. Sampai Kal pernah menceboki adiknya itu, karena Kaf masih belum bisa cebok sendiri saat baru-baru ditinggal pergi oleh Kin.
Saat kejadian itu, kalau tidak salah saat aku jatuh sakit. Kin tiada dan dimakamkan, setelah pulang dari pemakaman aku langsung sakit dan sempat dirawat di rumah sakit juga.
Aku tak kuasa menahan kesedihanku. Hingga tubuhku langsung drop, seperti saat terpaksa harus terpisah dengan Canda dulu.
Tak lama Novi kembali, ia turun dan langsung menjinjing plastik putih berisikan sayuran hijau yang aku tahu. Ia tersenyum dan melangkah ke arah kami.
"Mama giling baju dulu ya? Kaf boleh main, tapi jangan jauh-jauh. Tak boleh main kotor-kotor juga, Kaf udah pakai seragamnya. Diingat ya?" ungkap Novi, kemudian mengusap kepala Kaf.
Kaf hanya mengangguk samar, dengan masih memeluk lututnya.
"Jangan ngelamun aja. Gih main!" Aku mengusap kepala anakku juga.
"Sama siapa?" Kaf menoleh ke arahku.
Sekalipun ia di rumah saja selama tiga minggu ini, Kaf tetap saja hitam sepertiku. Nampak sekali bahwa mereka adalah keturunan pribumi lokal, kulitnya Indonesian sekali. Tidak seperti anak-anak bang Givan yang beraneka ragam, bahkan hanya Ceysa yang berkulit sawo matang. Selebihnya, kebule-bulean. Mungkin, karena bang Givan yang cenderung berkulit kuning cerah dan Canda putih sehat. Putih yang tidak seperti mayat, putih kekuning-kuningan.
"Ra. Tuh suara ketawanya kedengaran." Aku menengadah telapak tanganku di belakang telinga.
Senyumnya terukir, "Ya, Papa. Aku suka gemes sama Ra, boleh cubit pipinya juga tapi resiko kena tabok."
Aku tertawa lepas, mendengar ucapan Kaf tentang putri cantik dari hasil rujuk itu. Menyeramkan memang, karena tangan Ra begitu ringan.
"Gih, nanti kalau udah mau berangkat sekolah mama jemput." Aku membantu Kaf untuk bangun.
Ia hanya mengangguk, kemudian memakai sandalnya dan mengeluarkan jurus seribu langkah.
Aku menoleh ke arah pintu yang terbuka. Sedang apa ya Novi sekarang? Aku suka mengganggu Kin saat ia tengah aktivitas pagi seperti ini. Berakhir, aku kembali mandi sebelum berangkat kerja.
Aku jadi…..
...****************...
__ADS_1