Istri Sambung

Istri Sambung
IS257. Bertamu kembali


__ADS_3

Benar yang dikatakan bang Givan. Dada istriku begitu besar, mungkin sebesar kepala orang dewasa. Aku sampai melongo saja, meski awalnya aku mengatakan tidak peduli dengan perubahan fisik pada istriku. Bukan aku mempermasalahkan juga, tapi yang hamil kan rahim. Aku jadi bingung di sini.


"Istirahat aja dulu, Din. Barangkali kamu capek." Budhe menunjuk salah satu kamar di rumahnya.


"Bisa setelah ini lah, Kak. Mana a Arif?" Mamah mengedarkan pandangannya.


"Lagi di peternakan, nanti ditelepon."


Aku, papah, mamah dan Aca, duduk di kursi tamu. Dengan kedua anakku, yang sudah bergerak mengacak-acak rumah dengan mainan bersama Nahda. Mereka terlihat tetap akrab, meski lama tidak bertemu.


"Ca…." Mamah memanggil menantunya itu.


Aca memalingkan pandangannya sejenak dari aktivitas anak-anak. "Ya, Mak Cek." Tidak ada raut kesedihan atau ketakutan.


"Kau tak malu?"


Ya ampun, mamah. Bertanya kok seperti itu?


"Malu kenapa? Banyak kok yang lebih dari aku."


Aku paham mengenai jawabannya, karena ia sudah aku nikahi.


"Trend hamil duluan kan jelek, Ca. Kok mau jawabnya begitu?" Papah bertutur lembut dan lirih.


"Aku tak ikut trend."


Mendengar jawaban Aca, papah dan mamah menoleh serentak ke arahku. Kan aku sudah berkata tadi, bahwa kami telah menikah. Tapi tidak mau mengerti dan percaya. Ya sudahlah, biar sekalian diberitahu langsung ketika sedang berkumpul.


"Minum dulu, Din." Budhe menghidangkan kami teh manis hangat.


Kami menyerbunya, sebagai tanda kesopanan kami saat bertamu.


"Udahlah, istirahat aja dulu. Biar nanti aja dibahas, kalian masih pada capek dari perjalanan. Udah malam juga sekarang." Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam.


Tapi aku tidak mengerti, kenapa pakdhe masih stay di peternakan. Jika Adi Riyana orangnya, maka mamah sudah menyuruh untuk membawa bantal dan selimut. Tidak lupa, dengan pakaian ganti untuk hari esoknya juga.

__ADS_1


"Ada masalah kah di peternakan?" tanya mamah kemudian.


"Gak ada, tapi yang jaga tuh lagi sakit. Jadi dia pulang dulu ke rumahnya. Kan jadi peternakan gak ada yang jaga."


Oh, peternakan harus selalu dijaga ya? Untungnya, kebun kopi tidak seperti itu.


"Jadi gimana?" Papah bertanya singkat.


"Istirahat aja dulu, udah nginep di sini aja."


Ahh, aku bisa mengusap-usap perut istriku. Menggigit pipi bakpaonya, lalu memerah….


Eh, tidak jadi.


"Kita di rumah a Afan aja. Ada buaya air payau di sini."


Aku langsung tersinggung dengan ucapan papah. Lagi dan lagi, buaya air payau menjadi sebutan untukku.


"Ya tak apa lah, Pak Cek. Udah…." Aca langsung diraupi oleh ibunya.


"Gatal loh ini anaknya, Kak." Mamah menunjuk Aca sinis.


Lihatlah, istriku tertawa lepas bagaikan tidak ada beban dan permasalahan.


"Memang, aku tau, Din. Suami yang dulunya juga, habis sama dia. Bukan dia yang habis karena suaminya."


Ohh, jadi aslinya memang budhe tahu bahwa anaknya seperti itu. Eh, iya jelas tahu. Karena sebelumnya kan budhe pernah bercerita. Tentanh Aca dan suami yang ketika menginap, suaminya yang malah heboh ampun-ampunan.


"Ayahnya tuh tau tak anaknya begitu?" tanya papah kemudian.


"Gak mau tau, lebih percaya pendapatnya sendiri. Dari beberapa bulan lalu pun, aku udah bilang bahwa anaknya ini mengandung. Dia lebih percaya, kalau anaknya ini gemuk. Karena Aca kalau hamil ini perutnya tetap segitu, tapi dadanya udah ngalahin ibu menyusui. Baru nanti terlihat perutnya itu setelah hamil tujuh bulan, trimester akhir gitu. Dia hamil sembilan bulan itu, kek perut hamil enam bulan. Kecil aja gitu tuh, karena ukuran dadanya lebih mencolok dari ukuran perutnya. Bayinya sih pas lahir ya berat normal, sekitar tiga kiloan. Udah feeling dari kamu nelpon itu, Far." Budhe beralih menatapku. "Udah feeling nih bawa anak itu hamil, karena abis drop itu dia langsung berubah jadi pemakan segala. Sarapan anaknya habis, makanan di meja habis. Tapi ya memang mulutnya Aca ini kaya sengaja, gak mau bilang. Mungkin nunggu perutnya besar dulu mungkin, baru mau ngomong sendiri." Budhe melirik sinis anaknya.


Aca hanya memamerkan senyum tak berdosa.


Obrolan cenderung santai, tapi ada nada kekesalan di dalam cerita budhe. Ya siapa yang tidak marah, mengetahui anaknya hamil sudah trimester kedua saja.

__ADS_1


"Kenapa kau tak bilang lebih awal, Ca?" Nada suara papah yang cenderung stabil di sini.


"Perut aku tak besar-besar, Pak Cek. Ada ketakutan tersendiri juga, takut diminta diurut gitu pas kandungan masih kecil. Kalau kandungan udah besar begini kan, tak ada jalan lain selain melahirkan. Memang rasanya tak mungkin aja, masa orang tua gugurin cucunya sendiri. Tapi karena paham sifat ayah yang kadang di luar nalar, belum lagi hukum di Aceh yang ikut syariat. Pikiran aku udah nethink duluan, aku takut, aku takut, aku takut. Ya udah ajalah, jalanin sendiri dan biarkan keadaan berkuasa dulu."


Oh, jadi ini alasannya membuat ledakan besar.


"Jadi pikir kau, kalau keadaan udah berkuasa, kami semua yang harus ikut keadaan kau? Kan bisa aja, kau diminta tes karena kan kau lama pulang. Kau tak pikirkan hal terburuknya kalau Ghifar tak mengaku kah?" Dalam nada bicara mamah pun terdengar menyimpan kekesalan seperti budhe.


"Memang Ghifar tak mengaku?" Aca malah memandangku.


Berarti, Aca sudah mengerti jika aku pasti mengaku dan tidak mungkin mengelak.


"Ya mengaku. Tapi kan, ibarat kemungkinan terburuknya tuh. Kau tak mikir ke sana kah, karena telat ngasih tau?" Papah memperjelas pertanyaan yang dimaksud.


"Masa Ghifar tak ngaku hamili istrinya sendiri? Aku tak pernah mikir sampai situ, karena kami suami istri. Masa iya, aku hamil sama setan. Padahal berkembangbiaknya sama dia." Aca menunjukku dengan dagunya.


Jika perempuannya Aca, aku yakin ia akan berpikir beribu kali melakukan hal gila ini. Karena kebanyakan perempuan, akan memikirkan resiko terburuknya dulu. Alias, negatif thinking.


"Udah coba jangan halu terus!" Budhe meraup wajah anaknya sendiri.


"Kamu ini tukang dagang baju, bukan penulis novel kek bibi kamu," lanjut budhe dengan raut kesalnya yang tidak berkesudahan.


Aca hanya terkekeh geli, ia begitu santainya menghadapi ini semua.


"Bawa kan buktinya?" Aca memandangku kembali. Aku hanya memberi anggukan halus, sebagai tanda bahwa aku mengiyakannya.


"Bukti apa?" Mamah bertanya, dengan diikuti semua mata yang mengarah padaku.


Kenapa ucapan sulit dipercaya, ketimbang dengan bukti? Padahal, aku dan Aca bukan golongan orang yang suka berdusta. Aku tidak pernah berbohong pada orang tua, tapi mereka sulit mempercayai ucapanku. Apa begitu konsep kepercayaan? Dengan seperti itu, aku malah tidak respek dengan sikap mereka padaku.


Ucapan orang benar, tidak pernah dipercaya. Tapi aku yakin, jika adu domba langsung ditelan bulat-bulat.


"Bukti kalau kami udah….


...****************...

__ADS_1


__ADS_2