Istri Sambung

Istri Sambung
IS284. Relasi bisnis cuan


__ADS_3

"Nah, itu dia. Rianya juga tak mau jalani hubungan." Keith seperti butuh teman bercerita tentang perjuangannya ini.


Tapi kenapa mau dipeluk-peluk ya? Padahal, ia tidak mau memiliki hubungan dengan Keith. Ria pun tadi mengatakan bahwa dirinya yang rindu pada Keith, bukan ibunya yang rindu. Makanya, Keith datang langsung pada Ria.


"Mungkin dia belum bisa berkomitmen." Aku menoleh pada Ria, ia tengah sibuk berkutat dengan dokumen miliknya.


"Jalani aja dulu, pikir aku. Cari kecocokan, tak cocok ya bisa kita benahi lagi gitu. Pikir aku begitu, kalau Ria belum bisa berkomitmen." Laki-laki modern, jika dilihat dari ucapannya.


Mungkin karena kelasnya sudah luar negeri. Tinggal satu atap tanpa pernikahan pun, mungkin lumrah di sana. Aku tidak tahu pasti juga, karena aku tidak banyak pengalaman tinggal di luar negeri.


"Tak pacaran aja, Abang nyosor aja. Gimana kalau nanti pacaran, pasti aku lebih habis." Oh, ini alasan Ria.


Benar juga gadis ini, ternyata ia pintar. Karena jika ada status pacaran itu, laki-laki malah mengklaim bahwa yang ada pada diri perempuannya adalah miliknya. Sedikit banyaknya, aku pun pernah berpacaran. Meski aku dan Canda tidak terlampau jauh, tapi tanganku sering menjamah tubuh Canda dengan perasaanku yang merasa bahwa Canda seutuhnya dan tubuhnya adalah milikku.


Keith hanya tersenyum samar, ia terlihat tidak berniat mengelak dari ucapan Ria.


"Ada tiga puluh tahun?" Aku menanyakan usia Keith.


"Aku dua sembilan, Bang."

__ADS_1


Oh, benar. Usia-usia matang, ia siap berumah tangga.


"Ria…." Aku memutar kursi untuk menghadap pada Ria dengan lurus.


"Eummm?" Ria enggan membagi fokus pandangannya.


"Farida itu siapa sebenarnya? Dia cuma staf, tapi kenapa bisa maju dan ngobrol sama Abang untuk bahas bisnis? Lagi pun, pembahasan itu bukan bagian Abang. Kenapa bisa terjadwal di skedul Abang sampai beberapa kali?" Aku merasa ini ada yang tidak beres.


"Kata siapa dia staf?" Ria memindahkan lembar demi lembar dokumen yang ia pelajari.


"Terus? Dia cuma pengelola setau Abang. Tanda tangan dia pun, jabatan di bawah namanya itu pengelola." Aku merasa bingung di sini.


"Memang, mereka ambil produk banyak kah dari Abang?" Aku bingung dengan nama-nama relasi bisnisku, karena lebih dari sepuluh yang sudah langganan mengambil produkku dalam jumlah sangat besar.


"Iyalah! Sekalipun sementara ini produksi Abang ganti ke robusta, bukan arabika lagi, tapi ayahnya Farida tetap ambil. Bahkan dia cerita, mereka sampai ganti menu untuk perubahan produksi dari kami itu. Ayahnya Farida ini, udah langganan dari zamannya masih tahun sembilan puluhan. Sedangkan, Abang kan generasi sekarang."


Ternyata langgan lawas ayahnya Farida ini.


"Farida nawarin untuk ngobrol sama pengusaha coffee shop terbesar di Aceh katanya, cabangnya udah banyak katanya. Abang tolak di awal, karena Abang lagi repot sama dokumen ini," terangku jujur.

__ADS_1


"Dokumen sih dibawa santai aja, Bang. Udah langganan setiap pergantian tahun kan begini, nanti pun bakal selesai sendiri juga. Abang kerja kek biasa aja, ambil lembur ya sesekali aja. Ikuti skedul aja, ikuti jadwal Abang aja. Kerjakan dokumen di waktu Abang free jadwal gitu, yang penting jangan lebih dari satu minggu. Maksudnya, dokumen yang paling bawah ini cepat diselesaikan gitu. Karena dokumen yang bawah, dia ditaruh lebih awal dan pastinya lebih duluan tuh waktu datangnya. Kalau mau ada janji temu sama temannya Farida itu, yang tinggal bilang ke kak Dewi. Biar jadwal yang lain digeser. Yang penting bener ngobrolin bisnis, bukan untuk ketemu tak ada tujuan. Kalau cuma untuk nongkrong sih, ya di luar jadwal kerja aja. Pas malam kan gitu, pas bebas. Saran aku sih, ya ambil sambil nongkrong aja, karena jadwal Abang lagi padat betul. Karena kalau dilewatkan, takutnya merugi. Dengan Farida ngajakin, berarti memang cuan tuh untuk usaha Abang. Iyain aja, atur waktu di luar pekerjaan. Soalnya, retensi usaha Abang tahun ini turun betul nih. Di tahun ini juga, dalam sejarah perusahaan Abang, baru ganti haluan ke kopi robusta ini. Mana pakainya robusta Lampung lagi. Memang stabil, cukup stabil karena bang Givan gandeng juga langganan ladang temannya yang di Lampung itu untuk ambil produk jadi dari perusahaan Abang. Biar retensinya tahun depan bisa di atas delapan puluh empat persen kek tahun-tahun sebelumnya, ya caranya Abang harus tambahkan produksi dan besarkan permintaan pasar. Maksudnya, Abang cari relasi baru gitu, meski pengambilan pruduk cenderung kecil, ya dilayani aja." Ria berbicara panjang lebar dengan menggerakkan tangannya.


"Retensi apa sih kau, Ya? Abang baca laporan kemarin, kan stabil aja perusahaan Abang ini. Tak turun dari tahun sebelumnya, tak lebih buruk juga." Aku kan jadi bingung di sini.


"Retensi dengan perusahaan serupa. Jadi, kek ranking tuh. Memang stabil, karena relasi yang tarik kerjasama, digantikan dengan relasi baru dari Lampung itu. Jadi misalnya sepuluh relasi lama, ambil sepuluh karung masing-masing. Nah, relasi baru yang bang Givan dapatkan ini ngambilnya dalam jumlah besar. Jadi satu relasi itu, ambil seratus karung. Contohnya kek gitu, Bang. Relasi kita tak banyak, tapi pengambilan dari mereka banyak. Cukup menutupi untuk relasi yang cabut kerjasamanya, karena relasi baru ambil barangnya sama kek produksi sebelumnya. Ya Abang gali-gali aja lah, lebih banyak relasi lebih baik, lebih berkembang. Rencana aku sama bang Givan, mau kita belikan beberapa alat produksi baru, untuk nanti kalau ladang papah kembali panen dan di masa jayanya, Abang bisa produksi biji kopi dari ladang papah dan juga robusta dari Lampung ini. Jadi, nanti kita main dua produk yang berbeda."


Rencana besar. Tapi, aku sebagai ownernya tidak tahu sama sekali. Jadi aku memikirkan, siapa yang bos di sini? Aku merasa seperti pekerja di perusahaanku sendiri.


"Kenapa Abang dilangkahi terus?" Aku sudah memajang wajah masam di sini.


"Karena ladang papah masih lama lagi panennya, jadi baru wacana aja. Sesuatu yang masih wacana, haram dibahas dan naik ke bisnis. Belum matang, masih hanya klise dan omong kosong semata. Lebih baik, kita bahas yang lagi kita genggam sekarang. Biar kedepannya stabil dan lebih maju. Soalnya kita tak tau kan, masih betah tak perusahaan dari Lampung yang ambil barang jadi ini. Khawatirnya, mereka terbebani dengan pengiriman yang lama di jalan ini. Terus, mereka milih untuk ambil produksi dari daerah mereka sendiri karena pengiriman tidak terlalu lama di jalan. Nah, untuk hal-hal kek gini perlu kita pikirkan. Salah satunya, dengan Abang mengembangkan sirip-sirip lainya. Kek ngobrol sama teman Farida itu, orang bisnis anti ngomong bohong. Biasanya, seperti itu. Keknya tawaran Farida itu betul dan nguntungin. Mungkin, mereka merasa puas dengan produk dari Abang. Sampai produk Abang yang mereka pakai untuk usaha, mereka mau tawarkan ke teman mereka juga."


Sejak kapan, mengembangkan sayap berubah menjadi mengembangkan sirip? Aku jadi teringat ikan cu*a*g aduan, sirip ekornya begitu indah ketika mekar.


"Sok dihubungi Faridanya, Bang. Aku bantu ngomong deh, bahwa tadi Abang lagi pusing, jadi langsung nolak tanpa pikir panjang. Sekarang, Abang udah pikirkan matang-matang gitu," tambah Ria kemudian.


Jadi, aku diminta untuk mendekatkan diri dengan Farida untuk kepentingan bisnis? Apa aku bisa profesional, jika terlalu sering bertemu dengan Farida?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2