
"Canda…. Suami kau mana?" Aku berseru di depan pintu rumahnya.
"Ke Bank, ajak Ra juga. Jari aku tadi kesetrum sedikit, pas nyolokin penanak nasi. Tak sampai buat aku kejang apalagi hangus, tapi aku takut aja bayi aku kenapa-kenapa. Lutut aku rasanya kek ditendang ke dalam gitu loh, ketar-ketir aku nih." Ia muncul dengan membawa tas dan buku pink.
"Ya udah ayo cepat! Ada-ada aja sih?! Segala kesetrum." Aku langsung panik mendengar ceritanya.
Tapi bagaimana dengan Novi? Aku sudah berkata tadi untuk jadi mengantarnya, tapi aku ingin berkata pada Canda dulu bahwa aku tak bisa mengantar Canda. Namun, malah kebalikannya di sini.
Aku langsung membantu Canda untuk masuk ke mobilku, aku pun membantunya mengenakan sabuk pengaman. Dengan hati was-was, aku menjalankan mobilku yang mesinnya belum dipanasi ini.
Aku kalap sendiri mendengar cerita Canda. Bagaimana dengan keadaan bayinya? Bagaimana nanti dengan Canda? Aku tahu, itu pasti beresiko.
"Tak ada gerakannya tuh dari tadi. Coba, Far!" Canda menarik tanganku yang tadi berada di perseneling.
Aku mengusap perutnya yang keras itu. Aku melirik sekilas, kemudian fokus pada jalanan di depanku lagi.
"Jangan ke bawah-bawah, Dodol!" Canda menepuk tanganku.
Aku menarik tanganku, kemudian menoleh ke arahnya. Ya bagaimana, itu gerakan refleks. Lag pula, siapa tadi yang memintaku untuk menyentuhnya?
"Karena biasanya ada gerakan di bawah." Aku sedikit belajar dari Kin.
"Dua jari kau yang gerak!" Canda menatapku sinis.
Aku jadi terkekeh di sini. Aku teringat akan kejadian khilaf itu lagi.
"Mau lagi tak?" Aku mengedipkan mataku genit.
"Sungkan! Masa iya aku harus ninggalin Subri, demi Black Mamba yang tertidur pulas?!" Canda terlihat cuek dengan bibir sedikit mengerucut.
Canda tahu apa itu Black Mamba. Karena aku dulu pernah menekan Black Mamba ke part belakangnya, sampai Black Mamba menyembur di dalam celanaku. Kejadian itu, saat liburan di Bali dulu. Saat aku baru pertama mengenalnya.
"Sekali bangun, kau tak akan mampu jinakkan." Aku yakin Canda pasti kewalahan, jika saja aku normal.
"Aftatuas aja aku mampu jinakkan. Masa iya modelan kek kau, aku tak mampu?!" Sombongnya mulut Canda sekarang, mentang-mentang aku tak pernah bisa membuatnya hamil.
Eh, tapi siapa lagi Aftatuas? Tapi kurasa, Canda tidak memiliki mantan yang memiliki nama seperti itu.
"Siapa Aftatuas?" Aku berhenti sejenak, karena akan masuk ke jalan raya.
__ADS_1
"Punya bang Daeng, agresif tapi tau batas." Ia begitu santai, saat mengatakan hal itu.
Bayangkan ekspresi melongoku sekarang.
Mungkin Canda merasa kehilangan responku. Ia menoleh, dengan alis yang terangkat sebelah.
"Kenapa kau?" tanyanya dengan mata menyipit.
"Tetap sih, si Subri yang menang." Aku mulai berkendara di jalan raya.
Aku mendapat pukulan di lenganku, dengan kekehan yang terdengar renyah. Subri adalah milik suaminya, si bang Givan. Saat baligh dulu, kami mulai menamakan pusaka kami.
Subri adalah, suka berdiri sendiri. Black Mamba, besar hitam dan mematikan. Sekarang ada lagi si Aftatuas, agresif tapi tahu batas. Itu adalah milik bang Lendra sepertinya. Karena aku pernah beberapa kali mendengar Canda memanggil bang Lendra dengan sebutan Daeng. Mantan suaminya itu sudah almarhum dan meninggalkan dua orang anak. Satu dengan orang lain, satu lagi dengan Canda. Si Ceysa itu, anak sambung bang Givan yang sering mengitari rumah.
"Iyalah, kau tak berdaya sih soalnya." Ia malah meledekku.
Aku meliriknya sekilas. Canda sudah terlihat santai, tidak panik seperti tadi. Itu sudah cukup baik untuk keadaan bayinya. Karena ibu hamil tidak boleh panik, karena resikonya kematian. Ini pun, aku tahu dari Kin.
"Kan gara-gara kau juga, Canda. Kau tak nangis-nangis di pojok kamar, mungkin aku tak begini." Aku mengutarakan dengan suara menurun.
Aku selalu terbayang, jika sudah teringat akan hal itu.
"Ambil hikmahnya. Setidaknya, kau jadi laki-laki baik karena hal itu. Cuma kau, keturunan mamah yang hidupnya lurus. Saudara yang lain, punya cerita suram tentang perempuan lain." Usapan di bahuku masih terasa.
"Aku pun ada juga. Mesum sekali sama kau, kalau lagi ribut sering diungkit-ungkit juga. Tak Kin, tak Novi. Sama aja!" Aku terdengar seperti menggerutu.
"Kau serius?" Suaranya terdengar kaget.
Aku menoleh ke samping kiri dan mendapati Canda yang melebarkan matanya. Lebay sekali Canda ini, sampai berekspresi seperti itu.
Aku mengangguk, "Padahal kejadian aku sama kau itu kan, sebelum aku ada hubungan sama Novi ini." Aku fokus memandang ke jalanan.
"Pantas aja Novi kemarin sering main, banyak nanya tentang kau ke aku dan tentang kejadian itu." Aku yang melongo bodoh sekarang, karena mendengar ucapan Canda.
Jadi, Novi mengorek tentangku pada Canda?
Yang benar saja. Ia mencari penyakit sendiri, dengan tahu bagaimana aku dengan perempuan lain dulu. Pasti Novi memiliki kadar cemburu yang besar pada Canda sekarang.
"Dia nanya apa aja?" Aku menoleh sekilas padanya.
__ADS_1
"Ya Ghifar orangnya gimana? Dulu pacaran, siapa dulu yang nembak. Terus nanya tentang kejadian itulah. Banyak lagi sih, aku juga kasih nasehat dan sedikit tips sama dia. Ya kau sama mas Givan itu orang yang jelas beda, tapi kalian sesama laki-laki. Pasti satu dua juga dengan mas Givan." Canda membenahi posisi duduknya.
Pasti Canda tidak nyaman dengan perutnya. Perut Canda selalu besar, ketika hamil seperti ini. Maksudnya, tidak seperti usia kandungannya. Semisal hamil empat bulan, perutnya seperti hamil enam bulan. Entah karena orangnya pendek, membuat perutnya terlihat penuh dan bulat.
"Terus kau jawab apa aja, Canda? Kau jawab jujur kah? Pas Novi nanya kejadian di kamar Oyo itu?" Aku memberinya pertanyaan yang beruntun.
Aku ingat bagaimana embernya mulut Canda. Bukan ember juga, tapi terlampau jujur. Ia pasti akan cerita begitu rinci, sampai semua sel kulit mati terkelupas semua.
"Eummm…." Canda mengetuk-ngetuk dagunya sendiri.
Gemasnya pada kakak ipar yang satu ini. Usianya muda, di bawah Giska. Tapi, aku harus memanggilnya kakak ipar. Bang Givan menang banyak, meski mendapatkan perempuan oon dan polos ini.
"Gimana, Canda? Jangan eummm aja! Aku penasaran. Novi suka mojokin aku, aku jadi tak enak hati sama dia." Seperti saat malam, sebelum kami berc*mbu.
Aduh, aku lupa mengabari Novi lagi. Aku lupa menelponnya, untuk mengatakan bahwa aku mengantar Canda dahulu. Karena kondisi Canda yang perlu pertolongan.
"Canda…. Minta tolong kabarin Novi. Bilang aja kita lagi ke dokter dulu, karena kau kesetrum." Aku menunjuk ponsel Canda yang tengah digenggamnya.
"Aku lagi mikir jadinya." Canda malah melamun.
"Ya memang kau bilang apa aja ke dia? Lain kali tuh ya, mending senyumin aja deh. Daripada kau cerita-cerita, kan itu aib juga." Karena bukan hanya aku saja yang malu, Canda pun pasti akan malu.
Aku melihat jarinya tengah fokus pada ponselnya, "Aku udah chat Novi." Canda menyimpan ponselnya di tasnya.
"Aku tuh tak ngabarin mas Givan, takut dia panik. Soalnya kalau mas Givan panik itu, suka lupa bawa sesuatu. Khawatirnya, nanti Ra tertinggal di Bank. Bukannya jadi deposit jangka panjang, malah jadi merepotkan orang." Canda menaruh bantal leher di tengkuknya.
"Ya kau kan nanti punya anak lagi, tak apa Ra tertinggal." Aku hanya bergurau, aku bahkan menghiasi dengan tawa ringan.
"Begini-begini, aku sayang ke anak-anak lagi. Apalagi ke Ceysa, yang sekalinya ingat jajan sama mangge langsung nangis aja." Canda mengatur nafasnya.
"Perasaan lama betul perjalanannya, Far. Salah jalan kah?" ucapannya masih berlanjut ternyata.
"Jam segini macet, Canda. Ini jam berangkat kerja." Lalu lintas sedikit macet, meski masih bisa bergerak.
"Jadi kau jawab apa aja ke Novi?" Aku masih penasaran, karena pertanyaanku ini tak segera dijawab.
"Aku bilang……
...****************...
__ADS_1