
"Heh, Cendol!" Aku melempar kakak iparku itu dengan biji salak yang berukuran kecil.
"Apa?!" Ia melirikku sinis.
"Kau nih, ngapain aja di rumah?"
Ia tengah menyuapi Cani makan, dengan anak itu yang berada di sepeda roda tiga dengan sabuk pengaman. Canda sesekali berjongkok, untuk menyuapkan makanan pada anaknya.
"Tau lah, pusing!" Wajahnya terlihat cukup lelah.
"Mas Givan tuh ngamuk-ngamuk aja, kemeja tuh banyak, yang mau dipakainya dicari sampai aku pusing sendiri. Jangan sebut-sebut nama dia katanya, kalau aku belum nemuin kemeja itu. Mana kemejanya udah ketemu tuh, ternyata belum dicuci. Udah repot ngurus satu kemeja, dia tak mau gantian megangin Cani. Anak nangis, anak jatuh, disalahkan lagi aku. Anak sakit juga, pasti yang salah aku lagi. Kalau udah begini tuh, rasanya mau mulangin dia ke orang tuanya aja."
Aku tertawa renyah. Bagaimana caranya seorang istri memulangkan suaminya? Yang ada juga, istri dipulangkan oleh suaminya ke orang tua.
"Tadi Ceysa jagain, kau marahin dia." Aku langsung menyindir langsung.
"Gimana tak kalap aku, dua-duanya jatuh dari teras. Udah kakaknya badannya ringkih, apa angkat-angkat adiknya kah? Takut-takut di patah tulang, karena ketindihan Cani. Apa tak babak belur juga? Dua-duanya nyungsep dari teras. Tuh, jidat Cani sampai benjol." Benjolan merah terdapat di jidat bagian kanan.
"Ceysa lecet di siku. Nanti dua-duanya mau aku bawa ke tukang urut, khawatir urat-urat mereka ada yang keseleo," tambahnya kemudian.
"Sih, kenapa kau tuduh Ceysa angkat Cani?" tanyaku kemudian.
"Tak nuduh, aku tanya aja. Tapi dasarnya anak Daeng itu cepat makan atian, langsung pergi dari rumah dia sama kakaknya. Aku jadi mikirin, bagaimana besar nanti itu anak. Dipaksa suruh makan aja nih, dia tak terima, pulang dia ke rumah datonya. Drama betul masih kecil aja. Udah tuh ya, sifat condong ke bang Daeng aja gitu. Entah sifat siapa itu, yang apa-apa pergi dari rumah. Apa-apa nangis, ngadu, seolah kapok kek aku apakan." Canda seperti menggerutu.
"Memang kau pikir itu sifat siapa? Dia anak kau, tak mungkin tiba-tiba punya sifat suami kau. Setengah sifat bang Lendra, drama queen ya sifat kau. Kau tak sadar kah, apa-apa kau mutusin keluar dari rumah? Kau tak ingat kah, di Oyo kita bersama."
Canda melotot seketika, lalu melepas sandalnya dan hampir dilempar ke arahku. Aku pun, segera menutupi wajahku, memperisaikan diri dari pendaratan benda tersebut. Sayangnya, itu urung terjadi. Canda hanya memberi gertakan saja.
"Lagian tuh, baju cuci tiap hari. Biar suami nyari baju, baju udah ada di lemari. Misalkan belum disetrika, ya tinggal setrika aja. Lebih ringan begitu kan?"
__ADS_1
Canda hanya mengangguk saja. Aku paham, ia paling tidak suka jika caranya bekerja di rumah itu dikomentari atau diberi saran. Sudah saja apa yang ia mampu lakukan, dilakukannya sendiri. Mungkin-mungkin, bang Givan pun beribu kali menasehati Canda. Hanya saja, kesabarannya luas karena istrinya tak kunjung berubah.
"Terus Cani jatuh lagi tak?" Aku mengalihkan topik awal lagi.
Canda menggeleng. "Cuma tinggal nyentuh setrikaan panas." Ia menunjukkan telunjuk Cani yang melepuh.
"Ya ampun, Cendol." Aku hanya bisa geleng-geleng kepala saja.
Kadang-kadang, astaghfirullah juga ini perempuan keluaran pesantren.
Berarti, Canda sudah tahu dengan sifat Ceysa? Hanya memang, Ceysa sendiri yang orangnya baperan dan minggatan seperti Canda.
Aku berpikir, bahwa Ceysa memerlukan guru pendamping. Psikolog, atau seseorang yang paham mengarahkannya dengan baik. Sudah licik mendasar, bagaimana jika anaknya semaunya sendiri. Khawatirnya, kelicikannya digunakan dalam hal-hal yang salah.
"Ra mana, Far?" tanya Canda, dengan mendorong sepeda roda tiga tersebut berpitt di depanku saja.
"Ra masih tidur. Udah makan pakai kulit ayam, udah mandi, terus ngamuk sampai ketiduran." Entah anak itu bangun jam berapa. Sekarang menjelang Maghrib saja, Ra belum bangun.
Ia membebaskan Cani untuk melangkah di sekitar halaman rumah mamah, dengan dirinya yang duduk di sampingku di bangku panjang di bawah pohon mangga ini. Cani sering berjongkok, memegangi sandal karakter kodok tersebut. Lalu, ia melangkah lagi dan mengulangi kegiatannya lagi.
"Iya, aku pun nyari Aca-Aca yang lain." Aku tidak berkata benar.
"Pasti gatal betul ya, Far? Udah nungguin semingguan, eh ternyata tak ikut pulang juga." Canda cenderung seperti mengejekku.
Aku meliriknya sinis. "Ngomong begitu tuh, mau gantikan kah?" Aku hanya berbicara iseng saja.
Tawanya langsung menggema. Ia lalu turun, untuk menyuapi Cani makan lagi. Kemudian, ia kembali dan duduk di sampingku lagi.
"Aku ingat gatalnya aku, kalau bang Daeng diem aja abis aku haid. Dia itu, betul-betul sengaja buat aku untuk berani naik sendiri karena tak tahan." Pandangannya mengarah jauh, senyum samarnya terukir karena kenangan manis tersebut.
__ADS_1
Ada bang Lendra yang menjadi sejarah hidup Canda. Ada Kin juga yang menjadi sejarah hidupku.
"Memang bang Givan tak pernah buat kau begitu?" Karena aku sendiri pernah merasakan menunda berhubungan badan, sengaja agar pasanganku merengek lebih dulu.
"Mas Givan cukup peka, kalau untuk masalah hubungan badan. Aku ngode, dia langsung gas. Tapi setelah rujuk ini, tak sistematis kek dulu lagi tuh. Dulu kan, rutin betul dua hari sekali. Malam main, esoknya tak. Sekarang tak nentu, kadang siang-siang setelah Cani tidur. Apalagi pas Ra masih sama aku, baru masuk, Ra nangis. Aku yang diapa-apakan, Ra yang nangis dari tidurnya. Tak paham lagi tuh."
Semua orang tua, pasti pernah merasakan tahap itu.
"Tapi pas aku lagi main sama Aca, anak-anak pulas aja. Ra tak bangun, tak ganggu juga. Lelap aja dia."
Eh, dasar ini mulut. Aku ketika mengobrol dengan Canda, sudah pasti terbongkar semua karena pembawaannya yang bercerita tentang terus terang juga.
"Ya mungkin, karena dulu Ra masih kecil. Sampai pindah-pindah tempat aku, biar tak berisik, biar Ra tak terguncang juga."
Aku tertawa geli, membayangkan mereka satu celup pindah. Pasti rasanya kesal sekali, menanggung terus.
"Kau kek tak merasakan sendiri." Canda melirikku sinis.
"Ngerasain juga. Tapi kalau udah ada tanda-tanda anak susah ditinggal, ya tak jadi berhubungan. Nanti tak bebas soalnya." Aku sering menunda, ketika bersama Kin. Hasilnya, minat kami beribu kali lipat seperti disangrai.
"Aca di sana, jadi kau cari pendamping lain kan?"
Aku tertarik dengan pembahasan ini. Aku berpikir, Canda mau membantu.
"Suami kau kapan buka pabrik pupuk di Cirebon?" Aku berbalik bertanya.
"Udah lagi dibuat sih bangunannya. Kotoran hewan pun, udah mulai dikumpulkan. Katanya sih, mungkin bulan depan. Tak tau juga sih, masih belum bisa dipastikan." Canda mengedikan bahunya.
"Kalau kau ke sana, tolonglah bujuk pakdhe dengan drama kau. Minta dia untuk nikahkan kami begitu. Aca juga dikasih alasan apa gitu tentang Ra, biar dia mau ke sini lagi juga." Aku penuh harap saat mengatakan hal ini.
__ADS_1
Semoga, Canda mau diajak bekerja sama.
...****************...