
"Saya terima nikah dan kawinnya Novia Ulfa Riyanti binti Benazir Aleema, dengan mas kawin seperangkat perhiasan seberat tiga puluh gram, tunai." ucapku dengan sekali tarikan nafas.
"Sah…."
Alhamdulillah. Kini aku mengemban tanggung jawab baru, dengan perempuan baru.
Satu hal yang membuatku bersedih hati bersama Novi. Lantaran, keluarga dari pihak almarhumah ibunya tidak mau datang. Mereka tidak setuju, karena Novi menikah dengan duda beranak dua.
Status inilah, yang menjadi pro dan kontra di masyarakat. Menurut masyarakat kita, pantasnya duda menikah dengan janda. Bujang dengan gadis. Bila ada bujang mendapat janda, pasti dibilang sayang perjakanya. Bila ada gadis mendapat duda, pasti mereka berpendapat sayang perawannya.
Padahal yang bujang sekalipun, belum tentu perjaka. Yang gadis sekalipun, belum tentu benar-benar gadis atau masih suci.
"Doain kesehatan dan kesuksesan aku di setiap doamu, Nov." ucapku, saat Novi mencium tanganku.
"Pasti, Bang."
Apa aku tidak salah dengar?
Telingaku seperti tidak familiar, saat sepupu yang berusia di atasku, malah memanggilku dengan sebutan abang.
"Mohon dibaca, terus ditanda tangani dulu!" pak penghulu menyodorkan beberapa berkas pada kami.
Kami menjalani hari ini, dengan foto studio setelah akad dan syukuran kecil-kecilan di rumah. Hanya keluarga besar dari papahku yang hadir, mereka dibebaskan menikmati makanan yang sudah aku borong.
Seperti bakso, seblak, empal gentong khas Cirebon, soto Betawi, soto bening, ada juga prasmanan lengkap seperti umum pada pernikahan. Disiapkan juga es krim untuk anak-anak, juga kue Bhoi khas Aceh yang berbentuk seperti ikan. Ada juga bolu berukuran besar, yang bebas dimakan oleh siapa saja.
Tetangga dan kerabat dekat pun berdatangan, sekedar untuk meramaikan acara ini.
Aku sudah memakai celana jeans dengan setelan kemeja berwarna putih. Novi pun, memakai dress berwarna putih, dengan make up natural.
Menggunakan pakaian pengantin adat, hanya saat akad dan foto studio saja. Karena Novi tidak betah, dengan aku yang merasa gerah. Lantaran, anaknya bang Givan nemplok bersamaku sejak tadi.
Malah anak-anakku yang bebas berlarian, dengan saudara yang lama tidak berjumpa. Anak-anak cepat akrab, dengan bermain bersama.
"Kakak Ipar, ya ampun." aku geleng-geleng kepala, dengan berjalan ke arah ibunya Ra ini.
"Apa?" Canda asyik menyantap makanannya.
"Aku lagi jadi pengantin. Susah lah, kalau mau ada yang ngasih amplop ke aku." aku duduk di sampingnya, karena kursi itu kosong.
"Kasih lah ke abang kau sana! Aku capek, pengen makan ini dan itu."
Boleh tidak menoyor kepala kakak ipar yang seperti ini?
Mentang-mentang kami dulu berpacaran, ia jadi sering seenaknya. Bodohnya lagi, aku tidak tega menolak perintahnya.
__ADS_1
"Chandra kau klaim anak kau, masa Ra tak jadi anak kau?" ucapnya, di sela kunyahannya menyantap bakso berkuah merah itu.
Canda kuat pedas, saat hamil yang sekarang. Berarti, bayi itu adalah anak keempatnya. Murni anak kandungnya. Jika total, anaknya ada lima. Enam dengan yang dikandungnya sekarang.
"Iya, kau juga istriku." aku mengusap-usap punggung anak yang sudah lemas di bahuku ini.
Namun, tanpa diduga. Sebuah pisang menyumpal mulutku. Aku segera menggigitnya, kemudian menarik ujung yang masih memiliki kulit ini.
Aku segera menoleh pada Canda, bukan dia pelakunya. Aku mengikuti arah pandangnya, yang melihat ke arah sisi lain dari tempatku.
Aku tersenyum kuda, "Eh, Bang." suami Canda tengah memelototiku.
Pasti ia pelaku yang menyumpal mulutku dengan buah pisang ini.
"Masih aja kau! Abang pindahkan juga tanah rumah kau di tengah sungai sana." sewot bang Givan, dengan memperhatikanku begitu tajam.
"Gurau aja, Bang. Aku persunting dia dari dulu, kalau aku bisa berdiri sih."
Ehh.
"Ngomong ayam! Sana pergi tuh. Salamin tamu-tamu kau."
Aku malah diusir.
"Iya, iya." aku bangkit dengan masih menggendong anaknya.
Sejak dulu, aku dan Canda tidak bisa ditakdirkan bersama. Mungkin karena Yang Kuasa tidak yakin, jika aku mampu mengimaminya.
"Kau dari mana sih, Bang?" aku masih berdiri di depan kakakku ini.
"Urus parkir sama Zuhdi." bang Givan menyeka keringatnya, dengan bagian lengan kemejanya.
"Kotor sih, Mas! Warna kemejanya terang." Canda menepuk paha suaminya, yang menggunakan kemeja berwarna telur asin itu.
Aku memilih untuk melangkah pergi dari hadapan mereka, dengan masih menggendong Ra yang tidak berdaya ini. Seperti inilah tidur Ra jika tidak enak badan. Ia tidur dalam posisi digendong seperti ini. Ini adalah kebiasaannya sejak bayi.
"Papa, boleh minta foto." Jasmine menghampiriku, dengan membawa ponsel.
"Boleh dong." aku tersenyum lebar padanya.
"Ayo kita foto dulu." Jasmine mengoperasikan kamera depan.
Aku berjongkok di sampingnya. Kemudian, Jasmine langsung mengambil beberapa jepretan.
"Makasih Papa." ia berlari ke arah pengasuhnya, sebelum aku menjawab ucapan terima kasihnya.
__ADS_1
Ramai sekali di sini, aku jadi pusing. Lebih lagi, aku malah teringat hari pernikahan Giska.
Saat Giska melangsungkan resepsi pernikahan di halaman rumah mamah dan papah seperti ini. Aku malah naik ke kamarku, dengan membawa Key yang minta tidur. Otak mesumku, malah memilih untuk mengurung diri di kamar bersama Kin. Sampai akhirnya aku ketahuan oleh papahku, bahwa aku memiliki kedekatan dengan kakak angkatku itu, si Kinasya Salsabilah.
Ini seperti dejavu. Dengan seorang anak perempuan, yang lelap di bahuku ini. Aku merasa seperti berada di keramaian masa itu.
"Ngelamunin apa, Bang?" lenganku diusap lembut oleh seseorang.
Dia istriku, istri sambungku.
"Tak. Gih makan." aku menggosok wajahku.
Aku tidak mengerti, kenapa setelah aku memilih orang baru seperti ini. Kenanganku bersama Kinasya, selalu berputar di setiap gerak langkahku.
Apa yang akan Novi pikirkan. Jika aku, masih terus-terusan terhanyut dalam duka. Meskipun, aku sendiri telah mencoba bangkit. Tapi, kenangan itu menarikku untuk tetap berada di dalamnya.
"Aku mau makan bareng. Kek Abang dulu sama Kin, rebutan nasi di piring."
Kenapa ia malah mengingatkan?
Jakunku bergerak naik turun. Rasa cengengku kembali mengerubungi.
Aku masih mengingat jelas masa itu. Kinasya yang lahap makan, juga makan dalam porsi penuh. Ia begitu kelaparan, saat menungguku pulang dari sholat Jum'at, untuk segera menunaikan prosesi adat keluarga. Di mana, pengantin baru diminta untuk makan sepiring berdua.
Namun, saat itu aku pun tengah kelaparan. Bukannya makan dengan romantis. Tapi, aku dan Kinasya malah seperti lomba makan. Tidak ada pembagian lauk, yang ada rebutan lauk.
Aku jadi terkekeh sendiri.
"Kenapa senyum-senyum gitu, Bang?" tanya Novi, dengan mengusap punggungku.
Aku meliriknya, "Tak apa." aku menggeleng berulang, "Mungkin malam makan sepiring berduanya, di rumah aku. Karena, biasanya prosesi itu untuk pengantin pertama kali menikah aja." aku teringat akan bang Givan yang rujuk dengan Canda, yang meniadakan prosesi itu.
"Kan ini pernikahan pertama aku."
Masalahnya, ini dilakukan untuk pasangan yang dua-duanya belum pernah menikah. Saat Ghavi dulu, ia tidak melakukan prosesi ini, karena Tika yang sudah pernah menikah dan memiliki keturunan dari laki-laki lain.
"Iya, makanya di rumah aja ya? Lagi pada sibuk mamah papahnya." aku seperti ini, agar Novi tidak kecewa saat orang tuaku tidak mengatur acara untuk kami makan sepiring berdua.
Novi mengangguk, dengan tersenyum manis. Setelah ini, aku akan terus dihadiahkan senyum manis itu.
Setiap hari, aku akan dihadiahkan kemolekan tubuhnya. Setiap hari juga, aku akan dihadiahkan rambut pirangnya yang mengintip itu.
Apa aku akan mampu, menahan keminatanku? Jika aku berterus terang, rasanya aku tidak memiliki wajah kembali.
...****************...
__ADS_1
Langsung tancap gas, Far 🙈🤗