
"Kenapa kamu membawaku kemari? sudah aku katakan berulang kali kalau aku tidak mengenalmu. Aku bukan Sabrina yang kamu maksud." Ucap Sandra, meninggikan suaranya saat Raka terus saja tidak mau mendengarkan penjelasannya, Sandra ingin keluar dari apartemen namun sayangnya apartemen itu di kunci Raka.
"Kamu tidak akan bisa pergi kemana-mana sayang." Kata Raka, sambil memperhatikan Sandra berusaha membuka pintunya.
"Aku mohon, tolong lepaskan aku, Jika mas Brian tau dia akan murka, please jangan tempatkan aku dalam masalah besar." Sandra terus memohon dia benar-benar tertekan.
"Jangan takut sayang, aku tidak akan menyakitimu dan Brian tidak akan mengetahuinya. Aku membawamu kemari hanya ingin mengingatkan kamu dengan tempat ini. Apa kamu sama sekali tidak ingat?" jawab Raka dan berjalan mendekati Sandra yang ketakutan.
Sekilas Sandra mengedarkan pandangannya, dalam benaknya langsung terlintas mungkinkah ini tempat Sabrina melepaskan kesuciannya untuk Raka dan memberikan sisanya pada mas Brian. Namun Sandra kembali fokus untuk bisa keluar dari apartemen yang membuatnya ketakutan.
Raka tiba-tiba mendekap tubuh Sandra dari belakang menciumi leher Sandra.
"Walaupun kamu berusaha melupakannya atau memang kamu benar-benar lupa aku tidak peduli, yang aku tau, kau akan menepati janji yang sudah kamu buat padaku. Dan sekarang aku akan menagihnya." bisik Raka.
"Janji?! aku tidak pernah membuat janji apapun. Sekarang lepaskan aku tau akan membuatmu menyesal." ancam Sandra lalu mengayunkan sikunya ke arah perut Raka dengan kuat, seketika Raka pun mengaduh kesakitan dan melepaskan pelukannya. Tak hanya itu, Sandra menendang sela-sela paha Raka yang membuatnya tersungkur di lantai dan meraung kesakitan.
"Aaarrgggghhhh, apa yang kamu lakukan, dengan aset berhargaku Sabrina." pekik Raka menahan sakit.
"Maaf, aku terpaksa melakukannya." Sandra mengambil Smartlock dari saku Raka untuk membuka pintu Apartemen.
__ADS_1
Setelah pintu terbuka, Sandra ingin segera lari, tanpa melihat ia malah menabrak Brian yang baru datang.
"Aaauuuhhhh." Sandra jatuh dipeluk Brian saat tubuhnya tak seimbang.
"Mas Brian." menyadari ia jatuh dalam pelukan suaminya, Sandra pun langsung menumpahkan tangisnya.
"Mas, dia jahat." Ucap Sandra, Sesaat Raka keluar dari apartemen yang berencana ingin mengejar Sandra.
Raka benar-benar terkejut, melihat Brian ada di depan matanya dan terlihat ekspresi kemarahan yang tengah mencapai titik didih.
"Dasar brengsek, apa yang kamu lakukan pada istriku." Brian menghampiri Raka dan langsung melayangkan tinjuan ke wajah Raka yang membuatnya langsung tersungkur masuk kedalam apartemen.
Raka berhasil mendaratkan tinjunya ke wajah Brian hingga membuatnya terpental ke dinding. Raka segera mencengkeram kerah baju Brian dengan erat.
"Brengsek, Berani sekarang kamu menggoda istriku, sahabat macam apa kamu yang berani menusuk sahabatnya sendiri dari belakang." ucap Brian dengan murka, namun membuat Raka terkekeh.
"Apa kamu bilang, aku menggodanya? Asal kamu aku dan Sabrina sudah memiliki hubungan sebelum kamu menikah dengannya dan asal kamu tau, Yolanda anak yang kamu sayang itu dia adalah darah dagingku. Kamu Lelaki bodoh, Yana sangat mudah di kelabui hingga bertahun-tahun hubungan kami tidak kamu ketahui, dasar laki-laki bodoh."
Seketika telinga Brian memanas mendengar ucapan Raka, ia pun mengumpulkan kekuatannya dalam kepalan tangannya lalu meninju Raka namun dapat ditepisnya, akhirnya mereka berdua pun berkelahi di dalam apartemen membuat Sandra hanya berteriak agar mereka menghentikan perkelahiannya namun sayangnya tidak di gubris sampai akhirnya Sandra pun jatuh pingsan karena tegang menyaksikan perkelahian dua pria di depan matanya.
__ADS_1
Dengan wajah memar di beberapa bagian, Brian tetap membawa Sandra yang pingsan ke rumah sakit, takut anak dan istrinya kenapa -kenapa.
Akhirnya Sandra bangun dan tengah terbaring di brankar dengan selang infus di tangannya.
"Sudah bangun sayang?" tanya Brian mendekati Istrinya.
Sandra langsung menyentuh wajah Brian yang memar, "Mas wajahmu memar, apa kamu baik-baik saja?" tanya Sandra yang tampak kuatir.
"Aku gak papa, jangan pikirkan aku baik-baik saja, yang perlu di kuatirkan sekarang kesehatanmu dan juga si kecil." jawab Brian dengan tenang.
"Mas apa kamu percaya padaku? aku tidak mengenalnya dan dia yang memaksaku. Aku tidak ada hubungan apapun dengannya." Sandra mencoba menjelaskan, ia takut jika suaminya salah paham.
"Aku tau, dan yang dia maksud itu saudaramu bukan kamu. Aku sudah tau semuanya, hanya saja aku ingin dia mengakuinya sendiri didepan ku agar aku bisa segera menyingkirkan."
"Apa kamu ingin membunuhnya? jangan jadi pembunuh mas, aku tidak ingin masa menjadi pembunuh, ingat mas sebentar lagi kita akan punya anak, jangan menodai anak kita dengan darah di tangan mas."
Brian hanya mengukir senyum sampai istrinya selesai menceramahi dirinya.
"Sudah selesai? kalau sudah lebih baik istirahat, dan jangan menasehati aku lagi. aku tau apa yang harus aku lakukan. Kamu hanya tinggal duduk manis dan menjaga kandungan mu dan jangan nyeleweng dari perintah ku." Brian pun dengan lembut mengusap pucuk rambut istrinya.
__ADS_1
To be continued ☺️☺️☺️