Istri Sambung

Istri Sambung
IS243. Aca dominan


__ADS_3

"Tak usah dikunci, anak-anak udah tidur juga, Ma." Aku mendengar suara pintu kamarku dibuka dan ditutup kembali.


"Wow, memang mau ngapain sama mama?"


Aku kaget setengah mati, sampai-sampai rasa kantukku buyar seketika.


"Novi???" Aku langsung bangkit dan menatapnya bingung.


"He'em, kenapa?" Ia menutup pintu kamar dan berjalan ke arahku.


"Kau perlu apa, Nov?" Aku menyempatkan diri untuk melirik ke arah jam dinding. Pukul sepuluh malam dan istriku belum masuk ke kamarku? Apa ia tertidur bersama empat anak-anak?


"Kita cuma perlu ngobrol kok." Ia tersenyum begitu indah.


Antara Aca tertidur, atau memang ia masih menunggu anak-anak tertidur? Bagaimana jika ia datang, dengan kehadiran Novi di kamarku?


"Besok aja, aku ngantuk." Aku mundur dua langkah.


Pakaiannya begitu seksi, satu set gaun malam yang berwarna menyala. Ia tahu, bahwa aku menyukai wanita bergaun malam dengan warna menyala.


"Oh ya? Bukannya nunggu Aca datang?" Kedua tangannya terulur dan mendarat di dadaku.


"Kau tak perlu ikut campur, Nov! Kan aku udah peringatkan kau!" Aku membuang wajahku untuk tidak memperdulikannya.


"Siapa yang ikut campur? Aku kan cuma nanya aja." Ia terkekeh geli seorang diri.


"Tak lucu, Nov! Lepasin! Keluar dari kamar aku! Aku nunggu seseorang, bukan nunggu kau." Aku sengaja berkata kasar, agar Novi tersinggung dan bertekad untuk tidak menggangguku lagi.


"Pengen zina lagi ya? Kangen ya sentuhan perempuan? Apa dulu pernah berpikir, bagaimana jadi aku yang tiap malam dandan seksi tapi suami tak melirik?" Sudah kuduga, jika ia akan menarik masa lalu.


Aku meliriknya sekilas. Sialnya, netra kami bertabrakan. Aku segera membuang wajahku ke arah lain, untuk menghindari hal-hal, yang semestinya memang tidak terjadi.


"Kau tau kondisi aku masa itu, Nov. Hal-hal yang udah kau ketahui, harusnya tak perlu kau mintakan keterangan lagi. Kalau aku lagi tak ada kendala pun, kau sampai kewalahan sendiri nandingin aku. Lagian, udah aku bilang berulang kali kan? Aku udah bilang, kalau aku sembuh dari awal pun, kau tak akan begitu inginnya dapat sentuhan aku. Kau tau separah itu aku, masa kita ada di Sabang. Kau sampai panik kan? Karena aku pun tak bisa kontrol diri aku sendiri. Jadi tolong, mengerti dan stop bahas-bahas yang begini lagi. Kita udah bukan suami istri, pembahasan itu udah bukan wilayah kita lagi, Nov. Kita udah selesai, kegiatan kita udah selesai, aktivitas kita udah selesai, aturan-aturan kita udah tak berlaku, harapan kita tak akan pernah terwujud dengan kita, impian dan cita-cita kita udah tak bermakna lagi. Tak ada yang perlu kau harapkan dari kita, kita benar-benar udah selesai. Carilah pengganti aku, aku merasa tak mampu untuk imamin kau. Carilah yang terbaik dan yang seimbang dengan pikiran dan aturan kau. Satu lagi, carilah yang tak punya anak dari orang lain." Begitu banyak wejangan untuknya dariku, semoga ia bisa memahami bahwa kami sudah tinggal kenangan saja.


"Memang sekarang udah sembuh kah? Kok ngomongnya begitu?" tanyanya lirih, dengan napas yang sengaja dihembuskan ke wajahku.


Nah, harusnya seperti ini saat masih berstatus suami istri. Aku curiga, jika Novi lebih suka dengan tantangan ketimbang hal-hal yang halal untuknya.

__ADS_1


Ya, kami menikah ia tidak selera. Aku menduda, ia malah berselera. Aku dan dirinya suami istri, malah ia tergoda dengan bang Ken.


Jemarinya menarik kerah piyama tidurku. "Apa aku begitu tak menarik kah? Sampai kambuh begitu lama?"


Aku mencoba melepaskan tangannya dengan cara menahan lengan bawahnya. "Aku baru ditinggal Kin, itu wajar. Aku butuh waktu dan butuh proses." Traumanya maksudku.


Ceklek….


"Pa….."


Ah, sudahlah. Gantung saja aku di kusen pintu! Aku pasrahkan diriku hanya padamu, Ya Allah.


Gilanya lagi, Novi malah mempertahankan posisi salah ini. Kekagetan di wajah Aca, langsung berubah dengan senyum yang merekah.


"Waduh, jadi harus join kah? Yakin mau three***e?" Aca berjalan masuk setelah menutup pintu kembali.


"Astaghfirullah!!!" Novi langsung melepaskanku dan menutupi wajahnya sendiri.


Sungguh, ini seperti adegan film dewasa. Aku seperti celengan yang kekurangan uang koin, karena hanya mampu melongo saja.


Aca melewati Novi begitu saja. Ia mendorongku ke tembok dan mengunciku. Aku seperti orang bodoh, saat ia begitu beringas meraup bibirku.


Suara kancing baju yang bertaburan di lantai, menjadi bukti dari piyamaku yang dibuka paksa oleh wanita yang tengah berusaha memperdayaku.


"Sabar dong." Aku memundurkan kepala, kemudian tersenyum mesum pada wajah yang terlihat sedang begitu sangat marah ini.


"Dasar gila!!!" Aku melihat Novi yang berlari dari tempat yang tak jauh dari kami. Mungkin, ia berada tiga langkah di belakang Aca.


Brughhhh….


Bantingan pintu kamarku dilakukan oleh Novi yang terburu-buru menutup pintu kamarku.


"Kau tak sabar kah nunggu aku???" Rahangku ditekan oleh Aca.


"Iya, aku tak sabar. Kenapa tak cepat tidurkan anak-anak, Ma?" Awalnya aku berpikir untuk menjelaskan. Namun, akhirnya aku mengambil opsi untuk membakar kecemburuannya dulu.


Aku merasa dicintai, dengan serangannya dan sorot matanya.

__ADS_1


Dada lebarku diusap olehnya. Tetapi, saat tangannya semakin tinggi. Ia malah perlahan mencekik leherku. Tidak sampai aku kesulitan bernapas, karena jemarinya berpindah ke rahangku kembali.


"Lihat aku!!!" Wajahku di hadapan persis di wajahnya.


Amarah, kesan pertama yang aku lihat dari sorot matanya.


"Pelan, Sayang." Aku meringis, ketika jemarinya yang lain masuk ke dalam celanaku.


"Aku tak kurang apapun! Kau harus ingat itu!" Ia menepuk pipiku dua kali.


Mulutnya tidak halus dalam menyebutku.


Aku mengangguk dengan memperhatikan senyumanku. "Aku kekurangan dalam penyaluran. Harusnya, kau paham itu." Aku tidak benar-benar mengakuinya. Aku hanya ingin melihatnya begitu semangat melakukannya padaku.


"Oh begitu??! Makanya kau persilahkan dia untuk masuk dan menyentuh kerah piyama sialan tadi?" Ekspresi wajahnya benar-benar totalitas. Aku tahu, bahwa ia benar-benar marah padaku.


Aku mengangguk berulang. "Turunkan kepala kau! Aku janjikan perempuan lain tak kupersilahkan masuk lagi."


Tanpa dua kali perintah, Aca langsung melakukannya. Senyumku selebar samudera, dengan kusatukan rambutnya seperti ekor kuda. Ia cukup lama berjongkok di depanku.


Kami melakukan hal ini dengan cukup kasar. Bahkan, Aca dominan di atasku. Ia tak mengizinkan, agar aku menjadi jantan di malam hari ini. Ia yang jantannya, karena tidak mau bertukar posisi.


"Lepasin, Ma." Aku mencoba mengangkat pinggulnya.


Sayangnya, ia malah menarik kedua tanganku dan ditempatkan di kanan dan kiri kepalaku. Kakinya mengunci pergerakan pahaku, sehingga aku tidak bisa menggulingkan tubuhnya. Gerakannya semakin cepat, seiring dengan datangnya puncak pelepasanku.


Wajahku mungkin merah padam sekarang, dengan berbarengan benih-benih cintaku tumpah ruah di dalamnya. Bukan aku lalai mencabutnya, tapi aku ditahan untuk tidak membuangnya di luar.


"Ma…. Kok begitu sih, Sayang?" Aku yakin, Aca pasti paham arah pertanyaanku.


Kami sama-sama masih mengatur napas kami, dengan tubuhnya yang membebani tubuhku.


"Aku pernah bilang kan?"


Apa memang? Aku lupa ia pernah berkata apa?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2