
"Kenapa? Orang cuma diminta tolong ambil air aja tuh." Aku menahan rasa pahit di mulutku.
"Oh, iya. Sebentar, aku ambil air dulu." Novi langsung melarikan diri.
Tak lama kemudian, Novi sudah kembali memberiku air putih. Setelah ini pun, aku pasti akan sering meminum rebusan.
"Pahit betul," aduku padanya.
"Sabar ya?" Novi mengusap-usap lenganku.
"Kalau tak demi kau, aku tak mau betul minum yang pahit-pahit begini." Aku menyandarkan punggungku, pada sofa ruang tamu ini.
"Serius demi aku?" Suaranya terdengar kegirangan, sembari memeluk tubuhku.
Aku meliriknya. "Iyalah, Novia. Terus buat siapa?" tanyaku kemudian.
Namun, tiba-tiba ia cemberut.
"Tadi dek, sekarang Novia. Ah Abang." Novi mencubit dadaku.
Eh, benarkah?
"Iya deh, adek kah?" Aku merangkulnya, kemudian mengusap-usap lengannya.
"Tapi lebih tua aku, jadi tak enak dengernya." Novi malah mengusap-usap dadaku.
Apa ini kode?
Karena siang tadi, ia memberitahukan bahwa ia tengah masa subur.
"Bentar ya? Abis minum satu gelas tadi, nanti airnya blubuk-blubuk." Aku tersenyum manis padanya.
Novi mengerutkan keningnya. "Memang apa hubungannya?"
Ia seolah-olah tidak tahu, atau memang mengujiku?
"Begini." Aku menggerakkan pinggulku.
__ADS_1
Eh, malahan Novi tertawa lepas dengan menepuk-nepuk pahaku. Absurd juga ini istriku.
"Kenapa? Hm?" Aku memutar posisiku, sehingga bisa berhadapan dengannya.
"Jangan buat aku malu." Novi malah menunduk, sehingga kepalanya mentok di perutku.
Tuh kan? Aku malah berpikiran jorok.
"Mending nunduk agak turun, Novia." Aku mengusap kepalanya.
Namun, Novi malah bergegas menegakan kepalanya.
"Nanti sih, Bang. Duh, aku malah deg-degan. Padahal, Abang yang minum jamu." Gemas sekali, jika melihatnya mengerucutkan bibir.
"Masa?" Aku mencolek part depannya.
Dada yang dicolek, tetapi matanya yang malah mekar.
"Ih, Abang tuh rese betul!" Novi menyilangkan tangannya di depan dadanya.
Aku tergelak lepas. Ehh, tidak tahunya. Canda tawa ini, sampai berganti dengan eluhan namaku yang diserukannya.
Aku tidak berharap cepat hamil, tapi aku berharap agar aku lekas harmonis dengan Novi. Tidak hanya itu, aku berharap kami bisa menjadi pasangan yang saling mencinta.
~
"Bang, pinjam uang."
Aku melirik cepat, pada Ghavi yang tiba-tiba duduk di teras rumahku. Aku menyeruput wedang jahe merah kiriman dari mamah, kemudian aku memperhatikan Ghavi dari samping.
"Tak ada, kalau buat perawatan haram." Sejujurnya, aku tidak mau ia memiliki hutang untuk perempuan lain.
"Tak, Bang. Buat beresin Tika, Tika minta diceraikan."
Hah?
"Mana boleh pinjam uang, buat perceraian. Abang yang pinjamkan, ikut sialnya aja." Ghavi ini bagaimana?
__ADS_1
"Jual apa kek, jangan pinjam. Abang pinjamkan, kalau buat usaha," lanjutku kemudian.
Ghavi terdiam. Ia seperti melamun, beban pikiran pasti begitu berat.
"Aku…. Udah habis-habisan, Bang. Udah aku jual-jualin, barang yang bisa aku jual di rumah itu. Buat makan kami sehari-hari, buat kebutuhan anak-anak." Ghavi memijat pelipisnya.
Pusing kan?
"Memang betul uang tujuh belas juta itu buat Fatma?" tanyaku memastikan.
Ghavi berhenti sejenak, dari kegiatannya memijat pelipisnya. Kemudian, ia melirikku sekilas dan memijat pelipisnya kembali.
"Bukan, buat dia lima juta aja. Buat urus perceraian dia, sama suaminya. Dua jutaan, untuk urus-urus pengajuan poligami secara hukum. Sisanya, aku bereskan ladang dan properti aku yang dipegang Fatma. Aku segel, aku buat surat kuasa. Jadi, meski atas nama Fatma. Tapi, Fatma tak bisa jual tanpa izin tertulis dari aku. Aku tak begitu bodoh, Bang. Aku iming-iming buat operasi kek yang Canda pernah itu, operasi keperawanan, kalau dia mau tandatangani surat kuasa atas nama aku. Mungkin, isi pesan aku disadap mamah. Aku kan tak komunikasi pakai WA, aku pakai email aja. Jadi mungkin, pas mamah masuk ke email aku, kan kebaca semua tuh. Aku kan tak punya kuota, jadi nyolong sinyal WiFi dari rumah mamah. Kalau kita ikut WiFi begitu kan, data kita kebaca semua."
Padahal Ghavi paham teorinya, tapi kenapa ia tidak mengamankan dirinya sendiri? Ya, aku pikir dia akan aman. Jika tidak mengambil sinyal WiFi dari rumah mamah, ia akan selamat dari kasusnya dengan Fatma. Tapi, mungkin karena keadaannya yang tak memiliki kuota juga.
Sana-sini, mungkin memang sudah takdirnya.
"Serius mau ceraikan istri kau? Di awal, kau minta sama Abang baik-baik. Kau mau tuntun agamanya, mau bimbing dia, mau bahagiakan dia. Tapi, endingnya pun kau buat Abang kecewa. Janganlah begitu langsung cerai begitu, diusahakan dulu lah. Poligami kau pun salah, karena alasannya kurang tepat. Poligami itu diperbolehkan, kalau misal istri kau punya keterbatasan. Contohnya, tak bisa jalan gitu. Jadi, aktivitasnya di rumah itu sulit. Dia pun, kurang dalam ngurus kau. Nah, bolehlah kau poligami." Ini menurut ustad yang mengajariku mengaji.
"Aku mau rujuk, tapi Tika tak mau. Kasusnya begini katanya, otomatis aku bakal ngulangin. Padahal, seumur-umur pun aku baru sekali begini. Jejak pacaran aja, aku tak ada. Sekalinya ada jejak selingkuh, Tika tak mau toleransi betul, Tika tak mau maafkan aku. Aku udah tak punya cara lagi bujuk dia, Tika udah ketularan teganya mamah. Sampai aku bilang, liat anak-anak kita, Tik. Tika tak mau mikirin anak-anak. Kata dia, ya udah pegang sana empat anak kau. Aku pegang, satu anak aku. Aku mesti gimana kedepannya? Aku pun mikir untuk anak-anak aku nanti. Cari pengasuh, aku tak punya biaya buat gaji mereka. Ke mamah, mamah tak mau. Kata mamah, mamah cuma mau bantu ngurus, bukan ngurus setiap hari. Kal sama Kaf pun, ibu sambungnya ngurusin, meski Kal di sini aja katanya. Aku tak mungkin kerja sambil bawa anak, kek bang Givan gitu. Kerjaan aku tak ringan, tak bisa sambil ngawasin anak. Aku pasti tak bisa gerak, kalau empat anak aku harus aku handle sendiri." Ghavi sampai memeluk lututnya sendiri.
"Wanita tak akan pergi, sekalipun laki-lakinya ekonominya down betul. Tapi, kalau kasusnya udah cinta ke perempuan lain. Pilihannya hanya pergi." Aku pernah mendengar istilah ini beberapa kali.
"Ada, kak Kin buktinya lebih milih bertahan. Aku pengen perempuan yang cinta betul ke aku."
Lancang mulutnya.
Aku menepuk pundaknya dengan terkekeh kecil. "Kau mau yang kek Kin? Kau tak akan punya cela, buat poligami karena syahwat. Kau tak akan bisa keluyuran, tanpa CCTV yang dia percaya. Kau tak ada kesempatan, buat chatting sama yang lain. Kau tak bisa nongkrong sama temen, kau tak bisa keluar rumah tanpa alasan jelas. Kalau perempuannya bukan Canda, Kin tak bakal kasih izin itu. Dia paham, aku gimana ke Canda. Dia juga tau, gimana caranya agar aku nurut terus ke dia. Dia paham, aku tak mungkin bisa ngumbar syahwatku. Dia ngerti, kalau cuma dia yang berkali lipat lebih bisa muasin aku. Dia pengen aku bahagia, dengan dia pun bahagia. Kebahagiaan Kin, adalah aku. Kebahagiaan aku, adalah Canda. Yang jelas, dia pun tau dirinya jelas lebih menonjol dibandingkan Canda. Bukan membandingkan juga, tapi di pikirannya pasti begitu tuh tuh. Dia pun tak mau tau, khilaf apa yang aku lakuin ke Canda. Dia tak mau nyakitin dirinya sendiri. Dia cuma ingin, aku tetap bisa jadi suaminya, memperlakukan dia dengan baik, membalas senyumnya, menuruti inginnya. Yang terpenting, dia tak mau ditinggalkan dengan alasan apapun." Kin tidak pernah terbuka tentang isi kepalanya, ia hanya paham mengamuk dan mengancam.
Tapi, aku sedikit mengerti dirinya. Dari pillow talk yang kami lakukan, sebelum akhirnya berakhir ke se*s.
"Oh, jadi gitu?"
Aku menoleh ke arah pintu.
Hmm, hari sial tidak ada di kalender.
__ADS_1
...****************...