Istri Sambung

Istri Sambung
IS74. Menunggu di lobi


__ADS_3

"Suami aku lebih dari kau."


Hah?


Aku melongo saja, mendengar jawabannya yang terdengar kasar dan merendahkanku.


Sejak kapan mulut Canda seperti ini?


Apa terbawa mulut suaminya? Atau terbawa mulut ibu mertuanya juga?


Atau, bawaan bayi dalam kandungan?


"Kau serius, Canda?" aku ingin mengecohnya.


Canda mengedikan bahunya, "Untuk sekarang." kemudian ia tertawa lepas.


Aku pun terbawa tawanya. Selera humornya cukup baik sekarang.


"Aku kira kau serius." aku kembali menikmati makanan yang ditraktir olehnya ini.


"Aku memang tak pernah pengen selingkuh. Dulu sama kau, waktu sama bang Daeng pun, memang tak ada niat selingkuh. Tapi aku dulu kan, memang kek dimanfaatkan sama siapa aja. Termasuk kau." ia menatapku tajam.


Wow, beraninya ia sekarang.


"Kau diajarkan kah sama suami kau untuk jadi seperti ini?" aku berpikir ia diajari bang Givan.


"Tak, mas Givan tak pernah ajari aku untuk jadi orang lain. Tapi aku selalu belajar, dari setiap pengalaman yang ia beri. Aku pun belajar, dari kejadian yang menimpaku dulu." jawabannya terdengar santai.


Aku mengangguk, "Nanti sampaikan ke suami kau ya? Kalau aku udah dapatkan kesepakatan yang dia minta." aku menarik tujuanku untuk bertemu dengan suaminya ini.


"Ya nanti ikut ke kamar aja. Ngomong sendiri aja." itu pilihan yang buruk menurutku.


"Kau punya saran untuk aku dan Novi, atau anak-anak?" aku banyak bertanya, karena aku dan Canda pasti jarang memiliki waktu untuk mengobrol.


"Bilang mamah, bahwa Kal begitu. Kasih dia ke neneknya aja, karena aku tak bisa bantu didik. Aku cepet gila ngadepin anak-anak, mereka yang tak bisa, aku yang stress. Kek sekarang ini, makanya lebih milih ikut mas Givan kerja."


Aih, aku kira mereka berlibur.


"Kau tak berlibur, suami kau juga?" aku semakin bingung.


"Bang Givan ada kerjasama sama Fira. Biar aman, aku ikut. Sekalian liburan juga, biar anak-anak tak tertekan. Kadang masuk ke hati omongan anak-anak tuh. Biyung, aku stress ngadepin biyung." Canda menirukan nada suara anak kecil, "Dikiranya aku tak gila ngadepin mereka apa?!" ia seperti menggerutu.


"Memang masalah apa?" tanyaku kemudian.

__ADS_1


Dengan anak-anak saja, Canda masuk ke hati.


Huft, perempuan.


"Ya ada aja lah. Kalau dikasih tau tak nurut tuh, kek Kal aja ngomongnya gini coba. Aku tuh pusing ngadepin biyung." Canda menirukan suara Kal yang ngambek.


Aku kira permasalahan besar.


"Namanya juga anak-anak, Canda." aku berpikir Canda terlalu sensitif. Mungkin karena kehamilannya. Tapi memang dari dulu, Canda memang sudah sensitif.


"Ya aku tak mau gitu loh dibilang begitu. Aku berisik begini-begitu, kasih perintah tuh. Karena mau anak-anak itu melakukan hal yang benar. Kata mas Givan, kasih contoh coba. Lah, aku bukan kasih contoh aja. Aku malah ngajak juga. Tapi dasar anak-anaknya aja, yang memang pengen betul diserahkan ke neneknya."


Aku pikir, itu hanya kekesalan seorang ibu pada anaknya saja.


"Diwajarin aja, Canda. Karena tak semua anak-anak itu tau kondisi orang tuanya." aku bingung jika memberi wejangan pada wanita.


Karena Kin pun, sejak dulu selalu menganggap nasehatku tidak lebih baik dari pemikirannya sendiri. Apalagi, saat dirinya mengandung Kaf.


Huft, itu adalah masa gila-gilanya diriku menjadi seorang suami. Aku hampir menyerah menjadi suaminya.


"Tapi kalau cerita ke mamah, mamah bilang anak-anaknya tak begitu kok."


Makan bakso sebesar ini tidak berasa, karena sambil mengobrol.


"Ya jangan nanya ke mamah, kau ingat diri kau sendiri waktu kecil gimana ke orang tua kau. Kalau anak-anak mamah, kita disetting untuk mengerti dan mengalah ke mamah. Surga di telapak kakinya, ridhonya ridho illahi, terus apalagi tuh. Intinya, ditanamkan itu melulu. Jadi kita tumbuh itu, ya meratukan mamah dan membabakbelur papah."


"Kau tau, Far? Aku tak pernah ngerasain dapat perintah dari orang tua sejak kecil. Jadi jangan pernah tanya, gimana aku ke orang tua aku dulu. Aku punya orang tua tuh, ya sejak nikah. Dapat perintah, dapat petuah, dapat amarahnya juga, ya dari rumah orang tua kau." nada suaranya tiba-tiba sendu.


Serba salah jika dihadapkan dengan perempuan hamil. Aku trauma berhadapan dengan perempuan hamil, karena sejak Kin hamil Kaf, ia mulai tak terkendali.


Aku tidak mampu menyahuti, karena pasti sulit untuk Canda merasakan jadi anak-anak yang terus mendapat perintah. Aku pernah merasakan itu dan rasanya memang tidak mengenakan. Ditambah lagi, kakakku yang selalu tidak sabaran. Adik-adik yang selalu lambat bergerak, membuatku pusing sendiri.


Alhasil, papah lagi yang dimarahi mamah.


Aku jadi teringat kisah yang pernah kita lalui saat kecil.


"Udah belum makannya. Ayo ke kamar kau, barangkali suami kau udah bangun." aku telah menyelesaikan makanan gratis ini.


Canda mengangguk. Ia berbenah sejenak, sebelum aku mengekorinya. Aku adik iparnya, aku lebih pantas di belakangnya daripada di sampingnya.


Mungkin aku banyak menunduk, hingga sapaan perempuan membuatku tersentak kaget.


"Far…. Ada di sini juga?"

__ADS_1


Aku memandangnya dengan senyum kaku. Fira ada di sini, di hotel tempat Canda dan bang Givan menginap.


Penampilannya, jauh lebih menarik ketimbang dulu. Ya memang dia dewasa, terlihat dewasa dan matang. Karena memang usianya jauh di atasku. Mungkin sekitar beda empat atau lima tahun, ia seumuran bang Givan.


"Ya." aku canggung menanggapinya.


"Udah buat janji dari tadi. Suami kau tak ada kabar sih, Canda. Aku nunggu di lobi, udah ada lima belas menit." Fira memandang jam tangannya.


Ia adalah ibunya Key. Mantan pacar bang Givan dan juga mantan pacarku. Bang Givan meninggalkan Fira, ketika Fira mengandung anaknya.


Sebrengsek itu kakakku, tapi tidak begitu tega dengan Canda. Perempuanku yang direbutnya ini, yang kini masih menjadi istrinya.


"Tidur keknya. Biar aku bangunkan." Canda melirik jam dinding yang terpajang di lobi ini.


Istri orang penting. Ia tidak menggunakan jam tangan, tidak juga perhiasan.


Apa yang ia kenakan?


Daster buatan konveksinya sendiri, dengan merek dagang mamahku. Dipadukan dengan sandal jepit karet, yang ia beli sesaat setelah baru keluar bandara. Dengan dompet koin berlabel toko emas di daerahku.


Kaki Canda tiba-tiba bengkak, saat baru turun dari pesawat. Tentu itu membuat kami semua panik, lalu mencari rumah sakit terdekat sebelum singgah untuk makan. Canda memang ratunya drama. Ada saja kejadian yang tidak terduga, di setiap gerak langkahnya.


"Ya udah aku tunggu sini ya? Aku cari aman, daripada diamuk anak kau itu." Fira berjalan ke sofa yang berada di sudut ruangan.


Fira seperti wanita karier pada umumnya. Penampilannya cukup menunjang, dipadukan dengan sepatu hak tingginya itu.


Entah berapa kali ia berganti laki-laki. Pernah menikah juga, ia tidak lama memilih untuk sendiri lagi.


Ia pun pernah tinggal satu atap denganku, saat mengandung Key. Kami pernah hidup bersama di Bali, tanpa ikatan yang jelas.


"Sini, Far. Kau temenin aku di sini. Kau mau perlu sama abang kau juga kan?" Fira berbalik badan, setelah melangkah cukup jauh.


Aku mengangguk, kemudian segera menghampirinya. Dengan Canda yang melangkah ke arah lift, kemudian ia menghilang di sana.


"Gimana usaha kau, Far? Lama ya tak pernah ngobrol lagi." aku dan Fira duduk berhadapan.


"Lagi goyah, jadi ngikut perintah bos Givan aja." jawabku dengan tersenyum lebar.


Fira manggut-manggut, "Denger kabar, katanya Kin wafat ya tahun lalu? Terus kau ikut sama abang kau gini, anak-anak kau sama siapa?"


Apa kabar aku menikah kembali pun tidak didengar olehnya?


Atau ia memang sedang memancingku?

__ADS_1


Ya memancing untuk berkata jujur, atau menyembunyikan Novi dari kebenaran.


...****************...


__ADS_2