Istri Sambung

Istri Sambung
IS186. Ditunggu di teras


__ADS_3

Ingin sekalian tak pulang pun, feelingku sudah tak enak. Nyata kan, papah menunggu kami di teras rumah dengan wajah garangnya.


Maafkan aku, teungku haji. Khilaf yang kelepasan, karena hidangannya enak malam ini.


"Pah…." Aku mencoba tersenyum dengan melangkah ke arahnya.


Aku melirik kak Aca sekilas. Terlihat, ia pun seperti canggung untuk melangkah menghampiri papah.


Ini jam dua belas malam, papah tidak pernah begadang karena istrinya mengomel. Namun, kali ini beliau begadang dengan secangkir tehnya.


"Mau bulan berapa?" tanya beliau dengan menatap kami bergantian.


Aku menoleh ke arah kak Aca, kemudian memandang papah kembali. "Apanya, Pah?" Aku duduk di lantai di samping kanan papah, sedangkan kak Aca langsung duduk di samping kiriku.


Jelas kami tegang di sini. Khususnya aku, karena aku takut ketahuan sudah berbuat mesum.


"Nikahnya. Dari turun mobil, gerakan kau udah aneh di sini. Kalau kau tak takut, tak mungkin saking lempar pandang terus berat melangkah begitu. Berarti memang kau salah di sini." Papah memperhatikanku tajam tanpa berkedip.


"Aku ngerasa salahnya, karena diminta pulang jam sepuluh. Tapi, kita jam dua belas baru sampai." Kak Aca menjelaskan sembari tertunduk.


Pandai juga ia menjawab.


Lihat aku, aku hanya bisa diam dan hampir jujur di sini.


"Ya udah kau masuk kamar depan sana. Anak-anak udah dikeloni mak cek kau." Papah menunjuk ke kamar tamu yang sebelumnya ditempati oleh kak Aca.


Aku disidang di sini. Tak ada yang berarti lagi, karena sudah pasti aku akan terpojokkan dan jujur.


"Aku juga mau tidur ya, Pah?" Aku hendak mengikuti langkah kak Aca yang sudah menutup pintu utama.

__ADS_1


"Udah tidur kan? Udah nidurin kan? Masih pengen tidur." Papah meluruskan kedua kakinya.


Aku yakin papah hanya menebak saja, papah tidak tahu pasti. Aku tidak boleh terlihat mencurigakan di sini.


"Tadi nyari angkringan agak jauh, Pah." Aku menunjuk arah selatan, di mana pusat kota berada.


"Terus kehujanan, rambutnya sampai basah."


Bodohnya aku. Hufttt, aku akan memaki diriku sendiri di kamar nanti. Kenapa juga aku langsung mandi junub di hotel? Bukan esok pagi saja.


"Tak begitu, Pah. Aku singgah sebentar di mushola pom bensin buat sholat isya."


Betul tidak ya alasanku?


Papah manggut-manggut. "Sholat wajib sampai enam waktu ya? Isya sampai dobel ya? Biar dikata anak sholeh kah?"


Aduh, aku lupa juga sudah sholat Isya berjamaah di masjid bersama papah. Akan beralasan apalagi ya aku?


"Sekalian mandi pun tak apa. Terserah kau beralasan, Papah tak minat untuk nanya langsung." Urat sewotnya terlihat jelas, aku sungkan untuk jujur karena takut suara papah langsung lantang saja di malam hari begini.


"Tak, Pah." Aku benar-benar terpojokkan.


"Papah tanya sekali lagi, mau bulan berapa?" Papah menyoroti wajahku lagi. Jelas, aku lebih memilih untuk menunduk.


"Enam bulan lagi, Pah." Aku menjawab dengan memperhatikan untuk melihat lantai saja.


"Oke, sembari persiapkan. Tolong, jangan sering ketemu Aca."


Ini yang sulit. Apalagi, aku sudah kecanduan.

__ADS_1


"Memang enam bulan itu nunggu apa?" lanjut papah kemudian.


Sebenarnya tidak menunggu apa-apa. Hanya saja, dari status duda lalu aku menikah lagi lebih cepat dan lebih dulu dari Novi ini. Kan pasti masyarakat berpendapat bahwa aku yang salah, bahwa aku yang memiliki perempuan lain sehingga menceraikan Novi dan menikah kembali lebih cepat.


Lebih tepatnya, aku takut dihakimi saja. Terlebih lagi, aku masih belum mengenal kak Aca lebih jauh. Tentang seluk beluk dan sifat aslinya, kebiasaan dan tingkah lakunya di belakangku.


Karena jika main menikahi saja, khawatirnya baru ketahuan di belakang sifat jeleknya. Lalu aku proses pengadilan lagi, kan aku tak mau seperti itu.


"Biar saling memahami dulu, Pah. Biar dia tau gimana aku dan masa lalu aku, biar tak ungkit-ungkit lagi kek Novi. Takutnya, narik cerita yang udah-udah kek Novi. Canda lagi, Canda lagi, kan aku juga tak aneh-aneh sama Canda. Tapi hampir beberapa kali masalah, dia ungkit-ungkit tentang Canda." Bukan aku ingin membawa Canda dalam rumah tanggaku, atau membuat istri baruku memahami posisi Canda untukku.


Hanya saja, aku tak mau ia minder dan mulai mengungkit-ungkit Canda. Aku pun tak aneh-aneh, jika dilihat mata Canda sudah bahagia. Aku pun sebisa mungkin mengontrol keputusan dan hatiku, kala Canda menjanda dulu.


"Kau mau bilang apa ke Aca soal Canda? Kau masih cinta dia begitu? Atau, kau mau bilang kau harus hidup berdampingan di saat Canda bahagia maupun susah? Apa mungkin, kau mau ngasih tau kalau Canda tak tergantikan untuk kau?" Papah sudah berubah menjadi mamah.


"Bukan cinta juga, tapi Canda memang ada di hati. Gimana ya, Pah? Aku tuh ngerasanya bersalah terus, jadi aku pengen jadi dewa penolong nomor satu untuknya, karena mas itu aku pernah gagal menjaganya. Jangankan ia minta bantuan, dia sendirian aja tuh rasanya aku mau nemenin. Tapi jelas terpikirkan juga gimana perasaan istri aku, kalau aku dekati Canda terus." Ini tentang traumatisku.


Papah mengangguk dua kali. "Semua perempuan itu cemburuan, Far. Mereka sulit berdamai dengan masa lalu pasangannya, jika kau masih merespon baik begitu. Mamah bakal santai aja, kalau Papah tak respon mantan-mantan Papah yang jadi sahabatnya. Tapi beda ceritanya, kalau Papah ngerespon atau bahkan lebih lengket ke mereka daripada ke mamah kau. Jangan minta perempuan kau maklumi masa lalu kau, kalau respon kau masih penuh cinta aja. Tak bisa mereka tengok kita gurau renyah dengan mantan kita, sedangkan sama mereka kita dapat terus. Pikiran tentang kau masih cinta masa lalu kau, itu pasti ada di benak mereka kalau kau lebih asyik sama mantan kau ketimbang istri. Intinya…. Bagaimana respon kau aja. Kau masih haha-hehe ke Canda, ya kau jangan berharap rumah tangga kau tentram," ungkap papah, kemudian menyeruput tehnya yang sudah terlihat dingin. Karena tidak ada asp yang mengepul dari atas gelas tersebut.


"Aku santai aja ke Canda. Cuma bawaan Canda yang blak-blakan dan friendly itu, kan buat kita jadi kebawa suasana ketawa-ketawa bareng. Kalau sama Novi kemarin, dia sulit betul diajak bergurau. Kumat-kumatan tuh kek Kin." Aku jadi berpikir bahwa Novi pun mengidap sindrom othello juga. Tapi rasanya tidak, karena jika pengidap sindrom tersebut, ia pasti akan memenuhi hari-hariku dengan cintanya.


"Sama Aca gimana? Ngobrol asyik? Blak-blakan tak? Friendly tak?"


Aku memutar kembali kilas setiap kami bertemu. Blak-blakan, ini jelas. Bahkan hal yang berbau mesum pun, ia buka di obrolan kami.


Ngobrol asyik? Selalu bisa, hanya saja sering terhalang anak-anak yang merengek. Lalu friendly, kak Aca tidak terlihat cemburu atau menghakimi masa laluku.


Tapi ia ngambekan, tidak dituruti langsung tidak mau meladeni meski dalam chatting.


"Belum tau pasti, Pah. Tapi aku baru tau kalau dia ini mesum dan ngambekan."

__ADS_1


Ehh, aku langsung menepuk mulutku sendiri. Bisa-bisanya aku menjadi ember seperti Canda. Jika seperti ini, aku pasti ketahuan sudah mencicipi janda beranak satu itu.


...****************...


__ADS_2