Istri Sambung

Istri Sambung
IS290. Room chatting


__ADS_3

"Udah pulang, Pa?" Aca menyambutku dengan rambut yang tengah ia keringkan dengan handuk.


"Udah, bawa ke rumah aja kerjaannya." Aku paham, ini adalah perantara bang Givan mencoba memberiku jarak dengan Farida. Sedangkan dirinya di ruanganku jelas tak bakal khilaf dengan Farida, karena ia memiliki security kecil.


"Ya udah, mandi aja dulu gih. Nanti aku buatkan teh manis."


Aku mengangguk dan berjalan melewatinya. Aku langsung membersihkan diri, lalu sholat Ashar dan mengecek keadaan anak-anak terlebih dahulu. Setelahnya, untuk pertama kalinya aku bekerja dengan konsentrasi penuh di ruang kerjaku kembali.


Alhamdulillah, tidak ada kenangan yang membuat traumaku kambuh. Aku bisa konsentrasi penuh, tanpa gangguan suara anak-anak yang tengah bermain dan mengobrol.


Setelah selesai dengan beberapa tumpuk ini, aku mengambil kembali dokumen yang masih tersisa di mobil. Aku berhenti sejenak, ketika istirahat sholat dan makan saja.


Rampung, akhirnya. Aku segera berbenah, menyiapkan beberapa dokumen untuk esok. Kemudian, aku keluar dari ruang kerjaku dengan gelas teh yang sudah kosong.


Pemandangan yang persis seperti Kin tengah mengajari anak-anaknya. Di ruang keluarga, Aca tengah membantu anak-anakku memahami soal dengan buku paket dari sekolah mereka. Sedangkan Nahda, ia tengah mewarnai gambar dengan pensil warna yang aku kenali. Itu adalah pensil warna milik kakaknya, Kal.


"Ra mana, Ma?" tanyaku dengan duduk di sampingnya.


"Belum pulang kata Canda, masih di luar sama Givan," jawabnya dengan mengutak-atik ponselku.


Eh, ponselku?


"Masih ngambek tuh bang Givan." Aku mencoba mengintip isi layar ponselku.


Ia berada di dalam aplikasi chat dan tengah chatting dengan seseorang. Kenapa chatting menggunakan ponselku? Ponselnya sendiri ke mana? Aku bukanlah laki-laki yang selalu membawa-bawa ponsel, aku meletakkannya di kamar jika memang aku tidak memerlukannya.


Tapi sekarang ponselku berada di luar kamar, tentunya ponsel tersebut tidak berjalan sendiri. Aca membawa ponsel itu keluar dari tempat semula.


"Ma…. Coba cek, soal essay aku udah betul belum?" Kal memberikan buku tulisnya, kemudian menggaruk kepalanya.


Rambutnya ikal dan cukup panjang. Tidak ikal kriwil juga, tapi bergelombang begitu. Turunan rambut seperti ini, berasal dari papahku. Hampir semua anak, memiliki rambut bergelombang meski pendek. Beberapa cucu pun, memiliki rambut yang seperti itu.


Aca menyimpan ponselku di sisi lain, kemudian ia mengecek buku tulis milik Kal. Ia fokus sejenak, kemudian mengangguk.


"Udah betul ini, makanya Mama suruh baca dulu tuh biar bisa ngisinya." Aca mengembalikan buku tulis tersebut.

__ADS_1


"Iya, Ma. Lain kali, aku bakal dengar saran Mama." Kal menumpuk bukunya.


"Dicek jadwal pelajarannya, Kak. Udah sholat Isya di tempat biyung tadi kan?"


Aku tahu anak-anak sejak sebelum Maghrib sudah berada di Canda. Mereka akan diajarkan agama, mengaji dan beberapa petuah yang terangkum dalam hadits.


"Iya, udah. Aku sikat gigi, cuci tangan terus bobo. Aku masih mau bobo sama Mama, di kasur Papa. Nanti aku bobo sendiri, kalau adik bayi udah keluar. Nanti kan kasurnya ditempati adik bayi." Kal mengikat rambutnya asal.


Dua anakku, tidak ada yang mirip Kin. Dua-duanya mirip aku semua, hanya mata Kal yang besar dan lentik seperti Kin. Kaf malah cenderung sipit seperti mamah, tapi kulitnya cukup cerah seperti Kin. Kaf tidak berkulit sawo matang sepertiku dan Kal, kulitnya berwarna kuning langsat.


"Aku juga. Bareng Kak." Kaf langsung menaruh buku LKS-nya, kemudian berlari mengejar kakaknya.


"Hei, Kaf…." Aca mengangkat buku LKS milik Kaf yang ditempatkan di atas pangkuannya.


"Kurang satu pilihan gandanya, buru-buru aja." Tanpa berteriak memanggil Kaf, atau memaksa anak tersebut untuk menyelesaikannya. Aca langsung menyilang pilihan ganda yang menurutnya benar, kemudian ia membereskan alat tulis milik Kaf.


Namanya juga anak-anak. Aku jadi teringat dengan Novi yang begitu tegas menerapkan kedisiplinan pada anak-anak. Bukannya menurut, mereka malah takut.


"Mama, sama kak Kal." Nahda mewek, ketika ia ditinggal sendirian oleh kakak-kakaknya.


"Mama buat susu…," seruan itu bukan dari satu suara saja.


"Iya, bentar." Aca melanjutkan pekerjaannya dahulu untuk membereskan peralatan mereka.


Kal yang diminta untuk melihat jadwal pelajaran, malah terhanyut bersama adiknya dan meninggalkan tas dan alat tulisnya. Kaf pun, tanpa membereskan ia main kabur saja. Aku turun tangan untuk membantu pensil warna yang berantakan itu, kemudian mengumpulkan beberapa buku tulis milik anak-anak.


Air mineral dan gelas khusus susu, sudah tersedia di kamar. Ya gunanya, agar tidak usah naik turun tangga di tengah malam.


"Aku tinggal dulu, Pa. Mau ngelonin anak-anak." Aca memberikan ponselku.


Aku mengangguk dan menerima ponselku. Layarnya masih menyala, dengan masih berada di room chat seseorang.


Kontak bernama Farida, mau tidak mau kusimpan untuk keperluan bisnis. Yang mengejutkan di sini, Aca bertukar pesan dengan Farida. Tidak sampai di sini saja, Aca berpura-pura menjadi diriku dalam pesan tersebut.


Aku langsung menscroll ke paling atas, untuk melihat siapa kali yang mengirimkan pesan. Rupanya, Farida orangnya.

__ADS_1


[Hm, waktu kita jadi terganggu.]


Aku berpikir dan mengingat kejadian saat di ruanganku tadi. Apa maksudnya bang Givan dan Ra adalah pengganggu? Menurutku, mereka adalah penyelamat.


Eh, tunggu dulu. Tadi Aca biasa saja kan? Ia tidak marah padaku kan?


[Iya, maaf.] Ini adalah balasan dari kontakku, yang berarti Aca yang membalasnya.


Farida sadar tidak, bahwa ia bertukar pesan dengan istri dari laki-laki yang ia sukai?


[Kita atur waktu besok, aku bakal ngenalin lagi ke beberapa teman aku yang bergerak di dunia bisnis coffee shop juga.]


Agresif juga ini perempuan menyerang.


[Oh, bisa. Tapi aku bawa istri nanti.] Aca terlihat masih kontrol dalam susunan kalimatnya.


[Loh? Kenapa ajak istri? Apa dia pun punya posisi di perusahaan Pak Ghifar?] Ini adalah balasan dari Farida.


[Tak juga, tapi dia jantung rumahku. Suasana rumah tak bakal hidup, kalau tau suaminya sering mendatangi perempuan lain.] Aku sudah mencium tanda-tanda Aca akan mengeluarkan kata-kata mutiaranya.


[Kan tadi aku yang datang.]


Oh, Aca seperti tengah menjebak Farida untuk mengetahui kronologis pertemuan kami tadi.


[Iya, lain kali tak usah datangi aku lagi di luar pekerjaan. Aku beristri dan kelemahan aku adalah perempuan penggoda.] Aca seperti tengah mengatai Farida secara tidak langsung.


[Kok begitu? Pak Ghifar kan tau, kalau kita sama-sama tertarik. Aku tak keberatan membesarkan anak-anak Pak Ghifar, aku juga pasti sabar nunggu Pak Ghifar beres dengan istrinya.]


Idih, gila. Aku merasa heran, dengan perempuan beretika itu. Kok bisa ia seperti itu? Ia seperti bukan Farida dengan wibawanya menggantikan ayahnya yang tengah sakit.


[Kau tak tau perjuangan istriku untuk bisa satu rumah sama aku, itu tak mudah. Sedangkan, kau cuma perempuan baru yang belum aku kenal secara dalam. Kau perempuan terhormat, jaga marwah kau. Kau cantik, aku tak pernah berpikir bahwa kau tak laku. Tapi kenapa, kau sampai berusaha untuk bisa bersama suami orang? Apa kau tak takut dengan hukum?] Aca sepertinya mulai memanas di sini.


[Pak Ghifar pun menikah di bawah tangan, jadi untuk apa aku takut dengan pernikahan yang tidak memiliki kekuatan hukum? Apa aku mau dilaporkan polisi dengan tuduhan tidur dengan pria beristri? Dalam status KTP saja, Pak Ghifar ini masih menduda. Jadi, resiko apa yang aku takuti. Masalahnya ini pun atas dasar kita sama-sama tertarik, bukan karena aku tak laku atau menggoda Pak Ghifar lebih dulu. Pak Ghifar paham kan perbedaannya?]


Aku yang membaca saja sudah merasa tegang. Aduh, pasti Aca mengamuk padaku setelah anak-anak tertidur.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2