Istri Sambung

Istri Sambung
IS177. Teguran pada orang tua


__ADS_3

"Kak, awas Novi ya? Ati-ati aja, jangan diperpanjang juga kalau Novi ungkit-ungkit atau mempermasalahkan sesuatu." Aku langsung mengatakan tujuanku, ketika pintu rumah dibuka oleh kak Aca.


"Terus? Dengan kau ke sini itu, ya berarti nyiptain masalah. Aku paham memposisikan diri, meski kau tak minta juga. Teuku Ghifar, Anda childish sekali." Kak Aca menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hei, aku kasih tau lah!"


Kak Aca menutupi mulutnya, ia tengah mengusap."iya, Ghifar! Udah paham sendiri aku, tanpa kau ngasih tau juga. Aku paham sindirannya, tuduhannya, gerak-gerik dan sorot matanya. Udah sana balik!" Kak Aca mendorong dadaku.


Padahal ia tinggi besar, tapi tidak membuatku bergeser.


"Iya deh." Aku memilih pergi saja daripada ribut malam-malam begini.


Di tengah perjalanan pun, aku berpapasan dengan beberapa orang. Aku disapa dengan ramah, aku pun membalas sapaan para penduduk dengan ramah.


Tapi ternyata, keramahan mereka itu berujung pada aduan ke ketua RT setempat. Penduduk yang terlihat ramah, ternyata pandai bermuka dua.


Lihatlah, sekarang orang tuaku ditegur oleh ketua RT karena aku sering berkunjung ke rumah kak Aca. Padahal mereka tahu, aku dan kak Aca adalah sepupu. Tapi rupanya, mereka beranggapan bahwa skandal ada di dalam hubungan keluarga ini.


Papah yang baru mendingan dari kaku tengkuknya tersebut, kini kembali memijat tengkuknya. Mamah sedari tadi menatapku tajam, tanpa berkedip sedikitpun.


Sampai ketua RT itu pulang, helaan napas panjang itu lepas begitu saja. Aku akan bersiap mendapat amukan dan makian dari orang tuaku.


"Dari Aca di ibu Ummu, sampai pindah ke sana, tetap sih disamperin tiap jam. Pagi, siang, sore, malam. Udah lebih dari aturan minum obat. Tau, lagi menikmati masa duda. Tapi asal kau tau aja, kau duda ini belum resmi. Ditambah lagi, bukan kek gitu caranya dekati perempuan. Cukuplah seminggu sekali ngapelin, komunikasi bisa terjaga lewat chat atau telponan. Kau sih kek jaman dulu aja, di mana HP belum ada." Papah yang lebih dulu membuka suara.


"Kan aku main aja, Pah. Ngobrol, bantu dia gantiin jaga anak-anak." Aku tengah mengatakan yang sebenarnya, tapi mungkin terdengar seperti membela diri.


"Main kau bilang?!" Mamah geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Kecil sampai besar kurang kah main-main sama saudara kau?! Sampai-sampai udah duda begini, mainnya ke janda terus?" lanjut mamah cepat.


"Tak juga sih, kadang ke Ahya. Ahya lahiran pun, aku ikut nemenin dia di puskesmas." Aku menjawab lurus, karena memang seperti itulah aslinya.


"Tapi di mata orang itu jelek, Far. Papah yang cuma beberapa kali singgah ke rumah yang mamah kau tempati aja udah kena grebek. Kita hidup di kampung, di mana semua tetangga menjadi CCTV. Pandai-pandailah kau menempatkan diri, karena kita hidup ini kadang mengusik kenyamanan orang lain. Apalagi di kampung ini, Far. Agamanya kuat, kau harus paham bahwa kau bakal dapat hukuman tegas kalau kau tak ikut aturan kampung yang udah disepakati." Nada suara papah sudah naik satu oktaf.


"Tapi aku tak mesum, Pah."


Entah salahku di mana.


"Jangan bikin Papah tak enak hati sama warga sini, Far. Anak-anak Papah ada aja kasusnya, jangan bikin nambah malu untuk tinggal di daerah ini." Papah membuang wajahnya ke arah lain, dengan bersedekap tangan.


"Jadi mau Papah aku mesti gimana? Aku nurut aja kalau gitu." Tidak menyalahi aturan pun, aku dicap salah.


"Jangan ngapelin Aca terus, jangan main ke rumah dia terus. Seminggu sekali sewajarnya, di depan rumah aja. Ngapain sih setiap main itu, mesti masuk-masuk ke rumah? Kau nyari apa di rumah itu?" Ini persis seperti aduan ketua RT. Aku masuk ke dalam rumah dalam waktu yang lama, aku pun selalu bertandang tanpa tahu waktu. Sampai-sampai, murka sudah kedua orang tuaku ini.


"Ya udah nikah, biar aman. Biar tak ada teguran begini-begini! Dikiranya tak malu kah, Far?!" Papah sampai menggebrak meja ruang tamu ini.


Susah dipadamkan jika seperti ini.


"Ghifar belum beres, Bang." Mamah langsung merangkul suaminya, kemudian mengusap-usap dada suaminya.


"Siri kek apa. Acanya juga udah beres, kau pun tak bakal lari dari tanggung jawab."


Aku yakin, jika aku memulai dengan pernikahan siri. Maka, Novi langsung mengajakku berperang di pengadilan.


Untuk nikah siri, di kampung ini memang sering dilakukan. Bahkan tiga bulan sebelum prosesi menikah resmi, beberapa penduduk sering menikah siri lebih dulu. Jadi ketika mereka menikah resmi, akad ulang hanya sebatas untuk pelengkap dalam kamera. Sebenarnya, mereka sudah pengesahan di pengadilan agama.

__ADS_1


Prosesi nikah siri dilakukan, karena biasanya para calon pengantin sudah sering bertemu untuk mengurus pernikahan resmi. Khawatirnya, terjadi khilaf sebelum sah menjadi suami istri. Belum lagi beberapa foto bersama yang terlihat mesra, otomatis membangkitkan minat masing-masing pihak. Intinya, untuk menghindari perzinahan.


Ahya pun menjalani prosesi itu. Ia mengatakan, tetap tinggal lain atap meski sudah menikah siri. Hanya saja, opsi itu diambil karena menghindari perzinahan.


Namun, ada kasusnya juga menikah siri tapi akhirnya tidak melangsungkan pernikahan resmi. Ada juga yang tidak mengadakan resepsi, hanya pengesahan di pengadilan agama. Beda-beda rencana orang, meski satu tujuan untuk berumah tangga.


"Jangan ngasih saran, yang bikin kita tambah repot sendiri. Ghifar ini bukan Givan, bukan macam Ghavi yang berani bertindak sendiri juga. Dia disuapin ya mangap, tak disuapi ya tak mungkin makan sendiri juga. Apalagi Ghifar belum resmi, sidangnya pagi tadi diundur sampai bulan depan."


Benar sekali, Novi benar melakukannya. Ada saja alasannya, hingga sidang tidak dihadiri salah satu pihak, yaitu pihak Novi sendiri. Kuasa hukumnya pun, tidak bisa mewakilkannya.


Novi begitu licik.


"Pengen tenang, Dek. Setelah itu akan terserah dia mau nginap atau tak di rumah Aca, kita udah tak mikirin teguran dari orang-orang lagi."


"Mungkin Abang berpikir, dengan Ghifar menikah itu beban kita berkurang. Tak bakal begitu, Bang. Masih ada Novi yang main cerdas di sini, dia terus ngelunjak dikasih kuasa hukum itu. Dengan Ghifar nikahin Aca, nantinya malah Aca yang dibuat menderita sama Novi. Lebih baik Novi dituntaskan dulu, barulah silahkan Ghifar menikah lagi juga." Mamah memandangku sekilas, kemudian ia fokus pada suaminya yang berada di sampingnya.


Papah memikirkan nama baiknya, mamah memikirkan resikonya. Aku yang tak memikirkan apa-apa di sini. Menurutku, biarlah mengalir dengan sendirinya saja.


"Mah, kita ajukan cerai tanpa sidang aja sih. Kata Canda, bisa proses lewat kawannya bang Lendra itu." Bukan apa-apa, masalahnya ini sudah hampir setahun tapi tak ada kemajuan.


Rumah tangga menggantung terus karena proses cerai yang berkepanjangan.


"Cerai tanpa sidang itu, merugikan pihak perempuan. Pikir Mamah sih, mamah pakai proses secara hukum, biar Novi dapat hak-haknya. Mamah kasian ke Novi, Far. Tapi rupanya, Novinya minta lambung, ginjal, empedu dan usus juga. Dia tak cukup diberi hati aja tuh."


Sebaik ini ibuku. Tapi bahkan, keponakannya sendiri malah memanfaatkan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2