
Setelah sarapan Brian bersiap untuk berangkat kerja, namun kali ini Sandra meminta untuk membawanya.
"Mas, aku ingin ikut, aku bosan di rumah, biarkan aku menemani mas kerja ya." ucap Sandra memohon.
"Tidak sayang, kamu di rumah aja, hari ini mas sangat sibuk." tolak Brian sambil mengusap pipi istrinya.
"Kalau gitu, aku kan duduk di depan pintu dari mas berangkat sampai pulang, aku tak akan pergi." jawab sandar sambil cemberut saat mendapat Penolakan.
"Jangan mengancam aku sayang," Brian menarik nafas, "baiklah boleh ikut, tapi hanya kali ini saja tidak untuk besok-besok oke." Brian pun menyerah dan berfikir mungkin istrinya benar-benar bosan tinggal di rumah.
"Baiklah, kali ini aja. Tunggu ya mas aku ambil tas dulu, jangan di tinggal." Sandra bergegas mengambil tasnya di kamar dengan semangat, sedangkan Brian menunggunya sambil menyelesaikan sarapan yang belum habis.
Sandra sangat bahagia setelah beberapa waktu, tak bisa keluar dan sekarang dirinya mendapat kesempatan untuk menghirup udara segar di luar.
Selama di perjalanan Brian sibuk dengan ponselnya dan sedangkan Sandra sibuk melihat tempat-tempat yang asing baginya. Salam ini sandara tinggal di kota A sedangkan saat ini Sandra harus ikut suaminya tinggal di kota E yang merupakan kota tempat tinggal Brian dan ada induk perusahaan yang dimiliki suaminya.
"Mas, sebenarnya kantor mas dimana sih, kok rasanya jauh sekali. Atau akunya saja yang gak pernah ke kota ini?" Tanya Sandra tanpa menoleh ke Brian.
"Nanti juga kamu tahu," jawab singkat Brian membuat Sandra menoleh pada suaminya.
"Mas, bisa lihat aku gak?" Sandra memegang kedua pipi Brian dan dibuatnya menatap dirinya. Brian pun segera menghentikan jemarinya di ponsel dan segera meletakkannya lalu menatap istrinya yang kesal.
"Mas sekarang berubah, gak seperti dulu lagi, apa mas udah gak sayang lagi sama Aku. Aku gak mau di acuhkan. Aku ini istri mas bukan musuh mas." ucap Sandra yang begitu sensitif dan maunya selalu di perhatikan suaminya.
Brian meraih pundak Sandra dan langsung menariknya dalam dekap, " Aku sangat mencintaimu, tapi jangan tekan aku untuk menunjukkan sikap ku setiap detik, bisa kan aku di kasih kebebasan sedikit saja selain memperhatikan istriku yang sangat manja selama hamil ini."
"Tapi aku gak suka di cuekin, mas."
Belum sempat Brian menjawab akhirnya mereka sampai di kantor, tempat yang belum pernah Sandra ketahui tentang bisnis suaminya selain hotel.
"Ini tempat kerja mas?" tanya Sandra dan Brian mengangguk.
__ADS_1
Sandra berjalan menggandeng tangan Brian dan ikut masuk ke kantor. Cukup besar dan luas, aktivitas pun terlihat super sibuk.
"Kamu tunggu di sini sampai mas selesai, jangan ganggu, mas banyak pekerjaan yang harus mas selesaikan." jelas Brian.
Seharian Sandra memperhatikan suaminya memang sangat sibuk, membuat Sandra merasa bersalah menaruh curiga dengan suaminya.
Setelah jam kantor selesai, Sandra kira akan pulang karena dia sudah merasa bosan dan ternyata tidak.
"Pergi kemana lagi kita mas, kok gak pulang?"
"Biar kamu jera, dan gak mau ikut lagi mas kerja. Mas tahu kamu curiga kan dengan pekerjaan mas."
Sandra menunduk karena sudah menjadi istri yang tak mempercayai suaminya.
Brian membawa Sandra ke salah satu klub malam yang di kelolanya yang tak di ketahui Sandra sebelumnya.
Brian sudah di tunggu oleh beberapa klien yang sudah mengatur janji untuk bertemu di club. Brian melingkarkan tangan kirinya ke pinggang Sandra dan membawanya masuk dan langsung menunggu di salah satu ruang yang sudah di siapkan.
Brian masih harus menunggu, rekan bisnisnya yang belum datang.
Sandra menyandarkan tubuhnya di pundak Brian dan Brian mengusap pucuk rambut Sandra yang terurai sepinggang.
"Mas, aku bosan disini. Kapan kita pulang aku mau tidur." rengek Sandra yang mulai lelah seharian membuntuti suaminya dan tak mendapat hasil yang mencurigakan.
"Apa besok mau ikut lagi? kalau mau akan mas ajak tiap hari."
"Gak. Sandra janji gak akan ikut atau mencurigai mas lagi. Lagian perut Sandra makin hari makin besar lihat ini baru usia empat bulan sudah seperti tujuh bulan." Sandra mengarahkan tangan kanannya untuk memegang perutnya.
"Mas baru sadar kalau si kembar sudah berusia empat bulan, maafkan papa sayang papa akhir-akhir ini gak terlalu memperdulikan kamu, Jangan nakal di sana dan jangan bertengkar, nanti mamamu kesakitan."
Sandra meminum jus yang sudah di siapkan untuknya dan tak lama setelah minum kepalanya tiba-tiba pusing dan matanya sangat berat untuk dibuka.
__ADS_1
"Mas Sandra ngantuk pengen tidur." Sandra pun memposisikan tubuhnya di sofa dan menggunakan paha Brian sebagai bantalan. sebelum tertidur pulas.
Brian hanya mengusap-usap pucuk rambut Sandra dan sesekali meneguk alkohol
Tak lama klien yang di tunggu Brian satu persatu datang dan berjumlah lima orang termasuk Raka yang turut serta.
"Halo Brian, apa kabar. Akhirnya kita bisa bertemu lagi setelah terakhir kalinya kamu datang ke pestaku." Sapa Raka.
"Kamu lihat sendiri kan, aku sibuk dengan istriku, lihatlah untuk bertemu kalian saja dia ikut serta." jelas Brian membuat mereka tertawa.
"Mungkin takut, kamu di ambil orang makanya di buntutin, tapi wajar sih pria tampan seperti kamu harus di awasi biar gak cari perempuan lain." Saut salah satu dari mereka.
"Kamu benar, pria seperti Brian ini sangat langka, masih muda tapi sudah sukses. Wajar kalau istrinya takut di ambil orang." timpal yang lain. Membuat Brian jadi bahan tertawaan.
Raka yang posisi duduknya di sebelah Sandra, sesekali melirik wajah Sandra yang terlihat tidur dengan nyenyak.
"Apa dia bahagia?" tanya Raka membuat Brian menghentikan tawanya lalu menatap Raka yang tengah memperhatikan Sandra.
"Apa maksudmu bertanya seperti itu? Tentu saja dia sangat bahagia, setelah aku hampir kehilangan dia, aku sudah janji pada diriku sendiri akan selalu membahas dia sepanjang waktu." Jelas Brain.
"Oh, maafkan aku . Aku hanya bertanya saja." Raka pun segera mengalihkan pandangannya ke yang lain.
'Aku akan mencari waktu untuk bertemu dengannya, aku tidak yakin dia bahagia. Bukankah dia janji padaku hanya aku yang dia cintai. Apa karena dia amnesia hingga lupa pada janjinya. Aku harus bisa membuatnya kembali mengingat dengan hubungan yang sudah terjalin sangat intim' gumam Raka.
Setelah Pertemuan yang berlangsung sampai tengah malam. Satu persatu pun pamit pulang dulu hingga menyisakan Brian dan Raka.
"Sepertinya kamu juga harus pulang, kasian Sabrina yang terlihat sangat lelah." ucap Raka.
"Kamu benar, aku harus membawanya pulang segera. kalau begitu aku pulang dulu jika kamu masih ingin bersenang-senang, lanjutkan saja." Brian pun segera mengangkat tubuh Sandra dan membawanya pulang.
To Be Continued ☺️☺️☺️☺️
__ADS_1