Istri Sambung

Istri Sambung
IS42. Ghifar memutuskan


__ADS_3

Ceklek….


Tamu yang sama, datang di dua malam ini. Novi berkunjung kembali.


"Far…. Kau udah ngomong ke orang tua kau?" pertanyaan itu langsung meluncur, sebelum aku mempersiapkan dirinya untuk masuk.


Aku langsung menepuk jidatku sendiri. Aku lupa, malah tadi pagi membahas Ghavi dan heboh dengan Caera bersama mamah.


"Belum, Nov." aku tersenyum canggung.


Kami tidak bertemu di perusahaan. Novi banyak bekerja di luar kantor, sejak aku datang untuk bekerja.


Ia bahkan tidak tersenyum. Ia masuk ke dalam rumah, dengan menubruk bahu kananku.


Aku segera menutup pintu rumahku, karena khawatir ada yang melihat Novi masuk ke dalam rumah.


Aku berjalan ke arah sofa yang ia duduki. Kemudian, aku menghempaskan tubuhnya di sampingnya.


Namun, ia langsung menyandarkan kepalanya di bahuku. Tangannya melingkar ke lenganku, yang dibentuk setiap hari ini. Aku terbiasa olahraga setiap sholat subuh, karena hal itu sudah rutin aku lakukan sejak duduk di bangku SMP.


"Far…. Aku disumpahin Nando tak laku seumur hidup. Karena sore tadi, aku nganterin cincinnya." isakan kecil membuatku merinding.


Aku gampang iba masalahnya. Aku takut mengambil keputusan, ketika aku tengah iba.


Tetapi, aku langsung teringat ukiran K&G yang berada di dalam cincin Novi pemberian Nando.


Tanpa pikir panjang, aku langsung menarik tangannya yang masih memeluk lenganku. Tangannya muncul dari ketiakku, dengan aku langsung menatap tajam jemarinya.


Ke mana cincin Kinasya?


"Eh, aku ke Nando dulu ya? Aku mau beli cincin yang Nando kasih buat kau." aku langsung berdiri dari dudukku.


Tetapi, Novi menahanku. Ia menarik tanganku, sampai aku terduduk kembali.


"Cincin ini?" Novi menyibakkan kerudung di bagian lehernya.


Indahnya leher itu. Jenjang dengan tulang selangka yang menonjol pas, terlihat begitu seksi.


"Heh! Liat ke mana kau?!" Novi melambaikan tangannya di depan wajahku.


Aku mengedipkan mataku cepat. Lalu menelan ludahku.


"Kalung aku ini loh, Far. Kau liatnya ke mana sih?" Novi menunjukkan kalungnya.

__ADS_1


Aku menggeleng. Kemudian aku hanya menunduk, dengan mengacak-acak rambutku dan mengusap wajahku.


Aku ingin.


Aku berminat.


Aku tergoda.


Semoga saja, aku tidak mimisan kembali. Aku akan malu, dengan Novi yang akan mengetahui keadaanku. Aku tidak ingin Novi tahu, aku malu.


"Aku buat cincinnya sebagai bandul kalung aku, Far. Memang kenapa sih kau sampai mau belinya dari Nando?" tanya Novi, dengan mengusap punggungku.


Aku meliriknya sekilas, kemudian aku tertunduk kembali.


"Itu cincin Kin yang hilang. Bukan aku menolak untuk melupakan Kin, tapi aku pengen jaga semua yang udah ia tinggalkan. Karena Kin marah, kalau aku ambil baju sampai berantakan. Apalagi, kalau barang miliknya dihilangkan. Bisa-bisa Kin diamkan aku beberapa hari. Aku tak bisa didiamkan kek gitu, aku tak bisa sehari tanpa gurauan atau tanpa ngobrol." minatku hilang seketika, suasana hatiku berubah menjadi sendu.


"Jangankan Kin, aku pun pasti bakal marah. Kin juga manusia normal, di mana dia bisa marah kalau kerjaannya diberantakin lagi. Apalagi barangnya sampai dihilangkan."


Benar juga. Ini hal yang masuk akal, ini manusiawi.


Aku menoleh ke arah Novi, "Pokoknya, aku pengen cincin itu balik." aku menarik pembahasan awal tadi.


Tangan Novi masuk ke dalam hijab bagian belakangnya. Ia tersenyum ke arahku, begitu cantik dan indah senyum itu.


"Ini kan?" Novi menunjukkan cincin itu. Kemudian, ia memasukan kalungnya ke saku kemejanya yang berada di depan dadanya.


Aku mengangguk. Aku masih hafal cincin yang pernah pindah ke dalam tumis kangkung itu.


Secuil kenanganku dulu. Kin menghilangkan cincin pernikahan dariku itu, padahal dirinya seharian ada di rumah. Hingga pada saat aku makan, cincin itu berada di hasil masakannya. Tepatnya, berada di dalam tumis kangkung yang hendak masuk ke mulutku.


"Kalau gitu, aku pindahkan ke sini ya?" Novi tersenyum lebar dengan menggunakan cincin itu di jari manis tangan kanannya.


"Eh, di jari apa biasanya Kin pakai?" matanya bulat, dengan memperhatikan jemarinya sendiri.


Aku membalas senyumnya sekedarnya, "Aku belum nikahin kau. Baiknya di jari manis tangan kiri dulu. Di jari manis tangan kanan, ini untuk cincin pernikahan." ucapku sembari mencabut cincin itu di jari manis tangan kanannya. Kemudian, aku memindahkannya di jari manis tangan kirinya.


"Far…. Aku terharu. Jangan bilang ini jawabannya? Janji nikahin aku? Aku kepikiran terus makian Nando." ia malah memelukku dengan suara bergetar.


Apa secara tidak langsung, aku mengiyakannya?


Aku mengusap-usap punggungnya, "Insya Allah jadi. Nanti tak akan ada lagi, yang bakal ejekin kau perawan tua. Nanti Nando tak akan berani maki, atau nyumpahin kau lagi." aku membalas pelukannya begitu erat.


Isakannya masih terdengar. Bahkan, sepertinya bajuku basah karena air matanya.

__ADS_1


Apa yang Novi rasakan sekarang?


"Ucapan kau dari hati tak sih, Far?" wajahnya mendongak, pandangan kami bertemu.


"Yaaaa…. Mau gimana lagi?" aku mengedikan bahuku.


Novi melepaskan pelukannya, kemudian ia menghujamiku dengan cubit di perutku. Aku tergelak begitu lepas, melihat wajah kesalnya.


"Aku nanya serius, Far!" Novi menyudahi kegiatan pembalasannya, kemudian ia membenahi hijabnya dan meniupkan ujung hijabnya.


Ia sering sekali meniup hijabnya sendiri. Entah di kantor, atau di rumah seperti ini.


"Iya, aku nanya orang tua juga. Aku sih insya Allah. Cuma mungkin bisa gagal, kalau orang tua aku keberatan dengan pilihan aku. Mungkin aja, dia mau menantu yang bisa akrobat kek Kin." aku cekikikan saat mengatakannya.


"Akrobat gimana maksud kau? Perasaan, Kin tak aneh-aneh." Novi menautkan alisnya.


Hufttt, aku gemas ingin menggosok-gosok wajahnya. Jemariku sudah gatal, ingin mengunyel-ngunyel pipinya.


"O*alnya mantap."


Sejurus kemudian, Novi melongo dengan mata yang melebar.


Aku tertawa lepas, dengan menempatkan satu bantal di atas pangkuanku. Pasti Novi shock mendengar ucapanku barusan.


"Aku mana bisa." Novi menutupi wajahnya.


Hei? Kenapa ia mengatakan hal itu? Dengan dia berani merem*as pusakaku masa itu, aku berpikir Novi sudah familiar dengan barang laki-laki.


"Santai aja, Nov. Gih pulang, aku mau istirahat." aku menyandarkan punggungku pada sofa.


Aku menguap lebar, dengan langsung aku tutupi dengan punggung tanganku. Aku tidak biasa tidur malam, karena aku tidak pernah tidur siang. Ya meski bisa tertidur juga, jika sudah nyaman dengan bantal.


Tapi jika aku tidur siang, maka malam harinya aku selalu kesulitan tidur dan malah melamun nasibku ditinggal istri. Aku memang sudah bisa menerima keadaan, hanya saja aku kadang merasa kenapa nasibku bisa menduda di usia pernikahan yang belum lama. Ditambah lagi, tidak tega dengan anak-anak yang kehilangan ibunya di usia dini seperti ini.


"Far…. Boleh aku mesra-mesraan sedikit sama kau." tangan Novi menyelip di belakang punggungku. Kemudian, kepalanya bersandar di dadaku.


Jika sikap perempuan agresif seperti ini, aku malah teringat dengan Canda. Ia sering sekali mencari cara, agar bisa memegang-megang tubuhku. Heran juga masa itu, karena dia anak pesantren.


Jika Kinasya, lebih ke stimulasi. Mungkin, karena aku memiliki kelemahan saat itu. Jadi, ia membantuku untuk sembuh.


"Nov, aku alergi mesra-mesraan." masalahnya, aku takut mimisan.


Novi mendongak, ia meraba rahangku. Wajahnya lebih condong mendekat ke bagian leherku. Dengan jemarinya, yang kini membuat sensasi gila di leherku.

__ADS_1


...****************...


Novi suhu atau cupu ya? 🤔


__ADS_2