
"Maaf ya sebelumnya? Untuk ngobrol sama relasi bisnis begitu, sebenarnya bukan bagian dari pekerjaanku. Tapi untuk relasi besar, ya biasanya memang aku ikut serta. Apalagi kalau ada rapat gabungan sesama relasi, aku pasti usahakan hadir." Aku berpikir, sepertinya ada kekeliruan dalam tugas pekerjaan ini. Entah Ria atau Dewi, yang salah menyusun skedul untuk pekerjaanku.
"Ya dia pun bisnis besar, cabangnya hampir ada di setiap perempatan besar. Kek perempatan kampus sana, atau yang jalan arah kota sana." Farida tidak menggunakan bahasa baku lagi.
"Ya udah, lihat nanti aja. Sekarang aku sibuk, aku perlu waktu untuk selesaikan tugas-tugas aku." Aku menunjuk beberapa tumpukan dokumen ini.
Sebenarnya, tidak semuanya harus mendapat stempel dan tanda tangan. Banyak di antara dokumen tersebut, hanya perlu dibaca, dipahami, disimak, dimengerti dan diberi ceklis saja.
"Oke. Aku pamit dulu ya?" Farida tersenyum manis dan melangkah pergi.
Professionalnya tubuh itu. Aduh, mumet sudah karena malah ingin. Pulang pun, Aca sedang tidak boleh diajak untuk berhubungan.
Aku memilih untuk berjalan-jalan sebentar, mencoba mengalihkan pikiranku. Tepatnya, kakiku malah melangkah ke arah ruangan Ria.
Seperti biasanya, aku langsung masuk tanpa mengetuk. Sayangnya, aku mendapat pemandangan yang membuatku bertambah ingin pulang dan bermesraan dengan istriku.
Ria tengah dipeluk dari belakang, oleh seorang laki-laki yang usianya cukup matang.
Siapa dia?
"Dek…." Aku sudah terlanjur berada di ambang pintu.
Ria buru-buru melepaskan tangan laki-laki itu yang bertengger di perutnya. Ia memamerkan senyum kudanya, terlihat ia malu padaku.
"Abang…," sapanya padaku.
"Kerjaan udah rampung, Dek?" Aku masuk dan menutup pintu ruangannya.
"Belum, Bang. Tapi nanti aku ambil lembur buat selesaikan." Ria bergelayut di lenganku, ia mengajakku berjalan melewati sofa dan sepertinya menuju ke laki-lakinya.
"Gaji kau besar, kau ambil lembur terus," sahutku mendengar penuturan Ria.
Jika memang lembur karena jadwal yang tinggi, karyawanku mendapat upah lembur.
"Kenalin, Bang. Ini Keith Malik, dari Singapore. Ngomong pakai bahasa Inggris ya, Bang?"
Wah, rumit-rumit.
__ADS_1
"Jangan lebay deh, Dek. Asli Sulawesi aku, Bang." Keith mengajakku berjabat tangan.
"Namanya keren." Aku menjabat tangannya yang terulur.
"Ibu Singapore, Bang. Ayah asli Palu," terangnya ramah.
Sepertinya, inilah calon mantu bu Ummu selanjutnya. Tak dapat bang Lendra yang Sulawesi asli, kini dapat Keith yang turunan Sulawesi.
Parasnya manis, tidak tampan seperti bang Givan juga. Berkulit sawo matang, dengan tubuh tinggi sekali, seperti bule Eropa. Mungkin, tingginya sekitar seratus delapan puluh sentimeter. Sedangkan Ria, mungkin sekitar enam puluh delapan. Ria jauh lebih tinggi ketimbang Canda yang menjadi kakaknya, Canda hanya seratus lima puluh sentimeter.
Keith berwajah tegas, tapi terlihat orangnya ramah dan asyik. Ia sedikit mirip dengan Fedi Nuril, hanya saja badannya lebih atletis dan tingginya bukan wajarnya orang Indonesia.
"Ini adiknya bang Givan ya?" tanyanya kemudian.
"Abang tau bang Givan tak punya kakak, pasti lah dia adiknya." Ria berjalan ke kursinya dan geleng-geleng kepala.
Lihatlah, tumpukan dokumen di sana sama banyaknya dengan tugasku di mejaku. Yang artinya, kepusingan tentang dokumen ini masih terjadi dalam beberapa hari. Karena beberapa berkas dari Ria, akan masuk untuk padaku. Tidak semuanya, tapi pasti ada saja.
"Ya iya, Abang kan tak salah ngomong." Ia bergerak mengambil bungkus rokok di meja Ria.
Aku berjalan ke arah kursi yang berada di depan meja Ria, kemudian aku duduk santai di sana.
"Kan aku yang kangen, bukan ibu."
Hm, benar juga.
Keith hanya terkekeh, ia setengah duduk dengan bersandar di meja Ria yang sama besarnya dengan meja kerja milikku. Percayalah, meja ini penuh dengan dokumen di kala menjelang pergantian tahun seperti ini.
"Kalian pacaran?" Aku memperhatikan Keith dan Ria secara bergantian.
"Tak, Bang. Dia pekerja bang Givan, bang Givan tak mau kalau cuma pekerja. Bang Givan mau laki-laki yang keberhasilannya di atasnya." Ria transparan seperti ini di depan laki-lakinya. Apa Keith tidak tersinggung?
"Sedangkan yang lebih sukses darinya kan tua-tua," tambah Keith dengan nada bergurau.
"Masih dua puluh empat tahun juga Ria ini, mungkin pikirnya nanti kali. Kalau belum diizinkan tuh ya ada aja alasannya. Sabar aja, mungkin tahun depan." Aku mencoba menenangkan dua manusia yang tengah mabuk cinta itu.
Keith hanya manggut-manggut, kemudian ia berjalan ke arah sofa. Aku memutar kursiku, merasa penasaran dengan bungkusan kotak yang begitu tertutup rapi dengan kain hitam itu.
__ADS_1
"Ini karya aku nih, Bang. Lukisan wajah John Lennon." Keith membuka kain tersebut dan menunjukkan padaku.
Aku tidak bisa menilai itu bagus, karena aku bukan penyuka seni. Aku suka bentuk tubuh perempuan. Pir, gitar spanyol, bahkan ukulele seperti Canda pun sering menjadi khayalanku.
"Abang mau?" Keith menawariku.
"Kasih dia perempuan. Bang Givan, bang Ghifar, abang-abang yang lain di sini tak suka seni dalam bentuk apapun. Padahal, ibu mereka penulis."
Aku tertawa keras, mendengar penuturan Ria yang begitu benar itu. Aku rasa, memang semua laki-laki suka dengan bentuk tubuh perempuan.
"Buat aku aja, gratis kan?" Ria menyambut lukisan itu, dengan senyum merekah.
"Kek yang paham seni aja." Keith membogem pelan dahi Ria.
Yang tingginya seratus tujuh puluh lima seperti bang Givan saja, konon katanya begitu panjang itunya. Apalagi jika setinggi Keith, bodohnya lagi aku malah memikirkan ukuran anunya. Padahal aku laki-laki.
"Aku pajang di sini." Ria memasang lukisan tersebut, menutupi kalender gantung yang memiliki gambar beberapa sudut perusahaanku.
"Hotel terdekat di mana ya, Bang?" Keith menikmati rokoknya kembali dengan berjalan ke arah jendela yang bisa dibuka dengan fungsi geser.
"Ada penginapan sederhana di belakang rumah orang tua aku, punya mamah aku. Berapa hari di sini?" Tanyaku basa-basi.
Dia butuh hotel untuk dirinya, atau untuk mereka berdua? Aku curiga, karena Keith dan Ria malah saling lempar pandang.
"Tiga harian, Bang. Aku sekalian terangin laporan tahunan perusahaannya bang Lendra yang di Singapore, aku yang megang di sana."
Oh, Keith orang kepercayaan bang Givan.
"Ohh, iya. Dia di sini lagi sibuk aja soalnya, toko materialnya udah berubah jadi grosiran material soalnya. Pembelian perbiji pun dilayani, tapi harganya udah kek grosiran tuh. Udah disetting murah semua, karena pembelian dalam jumlah partai besar." Aku hanya sedikit bercerita dalam obrolan.
"Ada pun laki-laki yang begitu ya, Bang? Maksudnya, sukses di satu usaha aja gitu. Tak harus semua usaha punya dan dia jadi penguasa, sulit dapatkan laki-laki kek gitu." Sepertinya, Keith membahas tentang tolak ukur yang bang Givan berikan.
"Kau tenang aja, yang penting kau masih sama-sama sama Ria aja. Itu tuh cuma alasan aja, karena Ria masih terlalu kecil untuk menjalani hubungan menurut dia. Dulu pernah ada yang lamar Ria pun, langsung ditolak dengan alasan Ria masih anak-anak. Apalagi yang lamar duda, jadi kek mudah aja alasannya. Ria sama keponakannya aja ribut aja, tak bisa ngemong, apalagi sama anaknya dudanya katanya. Selesai, duda itu tak berani untuk minta Ria lagi." Aku pikir bang Givan ya memang seperti yang aku ceritakan itu, ia tidak benar-benar menolak laki-laki untuk adik iparnya. Tapi, ia merasa Ria belum siap.
Aku bisa melihat wajah sendu Keith. Ia seperti menaruh harapan besar pada Ria, mungkin di samping karena ia sudah siap dan usianya matang. Jika dilihat dari wajahnya dan tubuhnya, ya Keith seperti laki-laki yang sudah matang dan siap berumah tangga.
"Nah itu juga, Bang. Rianya juga…." Keith melirik Ria.
__ADS_1
...****************...