
Beberapa hari kemudian.
Ghifar tengah bergantian menciumi pucuk kepala anaknya. Kal dan Kaf terus tertawa, dengan memeluk dada lebar ayahnya.
"Bayi Kaf…." Kal meledek adiknya kembali.
Kal baru tahu bahwa adiknya mendapat kemalangan. Tiga hari Kaf di rumah sakit, selama itu tidak ada yang bercerita tentang keadaan Kaf pada kakaknya.
Kal sampai shock, saat adiknya pulang. Dengan keadaan kaki yang tidak bisa berjalan. Kaf selalu digendong oleh ayahnya.
Lukanya tidak seberapa. Hanya saja, luka jahit itu membuat anak enam tahun itu ketakutan untuk berjalan. Kaf selalu mengatakan, bahwa kakinya nyeri.
"Aku seneng, Papa nanti kasih aku mama. Biar aku tak kejatuhan mangkuk panas lagi." Kaf berbicara dengan nada riang gembira.
Hal itu membuat senyum Kal sirna seketika. Ia memahami, apa maksud di balik ucapan adiknya itu.
"Mama aku tetep mama Kin. Kan nama kita kembar, Kin, Kal, Kaf." Kal mencoba tidak termakan ucapan adiknya. Ia hanya mencoba mengingatkan adiknya, akan ibunya yang selalu mendidik dan menjaganya dengan baik itu.
Ghifar mengusap kepala Kal, "Mama buat sambung tanggung jawab mama Kin, Kak. Kak Kal udah pandai main, tak ingat adiknya sendiri di rumah. Waktu Kak Kal main ke rumah Aniq, setelah pulang sekolah itu. Adek Kaf kecelakaan di dapur, darahnya banyak sekali. Papa pas pulang, sampai ngeri sendiri liat darah Adek Kaf banyak kali." Ghifar mencoba menjelaskan secara perlahan pada putri sulungnya.
"Iya loh, Kak. Aku sampai mau mati." tambah Kaf dengan menyentuh tangan kakaknya.
"Ish, tak boleh ngomong jelek ah!" ujar Ghifar, dengan mengusap punggung Kaf.
Mesti ia tahu kematian adalah kepastian. Tapi ia tidak siap ditinggal oleh orang-orang tersayangnya.
"Aku tak mau mama baru, Pah. Pasti galak kan? Mama kandung aja galak, apalagi mama baru." nada suara Kal menurun.
__ADS_1
Ghifar sedikit tergelitik mendengar ucapan anaknya, "Memang siapa yang tak galak? Semua akan galak, kalau Kal nakal." Ghifar tersenyum samar, dengan memandang wajah anaknya yang bersedih itu.
"Biyung tak galak, aku nakal tak dimarahin."
Tawa Ghifar lepas, mendengar penilaian anaknya tentang mantan pacarnya yang menjadi istri kakaknya tersebut.
"Mana bisa biyung marah, biyung bisanya nangis. Nanti biyung lapor ke ayah, terus…." Ghifar sengaja menggantungkan kalimatnya.
"Terus ayah tegur." sambung Kaf cepat, "Terus Kak Kal dimarahin ayah." tawa renyah Kaf langsung dilepasliarkan.
Kal mengangguk samar, "Jangan kek biyung juga deh. Takutnya, laporannya dilebih-lebihkan. Kek Hadi tuh, Pa. Kalau lapor ke manda tuh, suka dilebihkan." Kal menjeda kalimatnya dengan mengusap bulu dagu ayahnya, "Aku pernah tak sengaja bikin Hadi jatuh. Eh, dia lapor ke manda katanya didorong aku. Terus diseruduk hingga terlempar ke Tapak Tuan."
Ghifar cekikikan mendengar cerita anaknya itu. Ia pun mengetahui tabiat Hadi, yang melapor suka dilebihkan.
"Nanti kek mana, kalau mama baru aku kek Hadi? Aku nakal sedikit, nanti cerita ke Papanya nakalnya banyak."
Wajah Ghifar langsung kaku. Benar menurut Kal, bagaimana kalau ia mendapat ibu sambung yang seperti itu.
"Papa tambahkan CCTV ya? Nanti Papa minta yang pasang buat konekin ke HP Papa, biar Papa kerja bisa cek kalian di rumah. Gimana?" Ghifar menaik turunkan alisnya.
Kal bangkit, ia bersila dengan memandang wajah ayahnya begitu lekat.
"Kalau gitu, perbanyak aja CCTV dari sekarang tanpa mama sambung."
Ghifar mengklaim bahwa anaknya ini cerdas. Sayang saja, nilai pelajaran anaknya itu jelek karena kurang arahan.
Tangan Ghifar terulur, untuk mengusap pipi anaknya itu.
__ADS_1
"Bukan masalah kalian lagi ngapain di rumah, yang bikin Papa was-was dan kepikiran buat kasih mama sambung. Tapi, siapa yang jagain kalian di rumah kalau Papa kerja? Kalau Papa tak kerja, nanti Kal tak bisa sekolah. Dari jam sepuluh pagi, Adek Kaf itu sendirian di rumah. Jam dua belas kurang, Adek Kaf lapar. Kak Kal belum pulang, jadi Adek Kaf ambil makanan sendiri. Di situ Adek Kaf kecelakaan, tak ada yang tau. Coba Kak Kal bayangkan, kasian kan Adek Kaf? Mana tak ada yang nolong. Setelah sepuluh menit nangis, baru datang umi Winda yang susah masuk ke pintu. Ami Winda pencet bel pintu beberapa kali, muter-muter cari jendela buka. Itu pun umi Winda sampai dikejar Adib dan Asya, sambil nangis. Adib sama Asya takut ditinggal umi Winda. Terus umi Winda muter ke halaman belakang, masuk lah umi Winda dari pintu belakang yang langsung ke dapur. Nolongin Adek Kaf, anak umi Winda si Asya sampai jatuh-jatuh." Ghifar menceritakan kejadian saat itu, berharap agar Kal memiliki sedikit rasa iba akan posisi adiknya saat itu.
"Papa tau dari mana?" Kal merebahkan tubuhnya kembali di samping ayahnya.
Tangannya terulur, memeluk dada ayahnya. Ia merasa nyaman, menghirup aroma ketiak ayahnya itu.
"Pas Adek Kaf dirawat di rumah sakit. Papa pulang dulu, karena Papa mikirin Kak Kal yang belum pulang sekolah. Eh kata biyungnya, Kak Kal udah lagi bobo siang sama kak Key. Jadi Papa pulang ke rumah, terus beresin beling dan darah Adek Kaf. Terus istirahat bentar, sambil cek CCTV." Ghifar melirik pada objek yang sedari tadi menjadi topik pembicaraan itu.
Senyumnya terukir, melihat anak bungsunya sudah terlelap saat ia banyak berbicara seperti ini. Kaf seperti tengah mendengar cerita dongeng sebelum tidur. Ia pulas dengan keringat yang sudah membanjiri dahinya.
"Ya udah deh, Papa boleh cari mama sambung. Tapi, mama sambungnya yang baik dan cantik."
Ghifar melirik ke arah anaknya, tangannya merapikan anak rambut anaknya yang ikal gantung itu.
"Yang baik dan cantik kek siapa, Kal?" Ghifar ingin mendengar kandidat yang menarik perhatian anaknya.
Sebenarnya, Ghifar masih ragu untuk ini. Apalagi, ia tahu dengan kondisi pusaka turunannya. Ia sedang dalam fase trauma kembali, di mana pusakanya itu tidak berfungsi dengan semestinya.
Ia tidak mungkin menzalimi istrinya nanti. Mau tidak mau, ia harus memberikan nafkah batin juga untuk istrinya kelak. Ghifar akui, itu pasti berat untuknya. Rasa kesetiaannya pada mendiang istrinya, pasti dipertaruhkan saat malam itu terjadi.
Namun, ia sadar kehidupannya terus berlanjut. Kehidupannya tak mungkin terhenti, sepeninggal mendiang Kinasya. Tapi ia khawatir menyakiti perasaan mendiang istrinya, yang mungkin tahu bagaimana suasana di rumah yang mereka bangun dengan suka cita itu.
Batin Ghifar bentrok, meski ia akan tetap mengambil opsi ini. Ia akan tetap mencarikan ibu sambung untuk anaknya dan ia akan tetap mencarikan istri sambung untuk dirinya.
Untuk masalah Ghifar menerima atau tidak. Ghifar akan pikirkan dan mencoba menerima hal itu. Karena hanya ini, keputusan terbaik untuk anaknya.
"Kek……
__ADS_1
...****************...
Seperti Author kah yang Kak Kal mau 😀