
"Black Mamba katanya tak pernah bangun, istri kau masih perawan aja sampai sekarang. Kau pun kaku sama dia, kek tak punya ga*rah ke perempuan. Dia juga ada bilang, tentang kau yang berat ke anak daripada dia. Jangan pilih kasih, setidaknya kau netral gitu. Agak tegas lah sama anak, kalau tak bisa galak kek mas Givan." Canda sampai menjeda kalimatnya beberapa kali.
Aku langsung melamun, karena mendengar ucapan Canda. Yang pertama, aku malu karena permasalahan rumah tanggaku didengar orang lain. Yang kedua, aku sedikit kecewa lantaran Novi tidak menutupi aibku.
Aku pun beberapa kali sering seperti itu pada Kin. Kin tidak pernah mengatakan pada siapapun. Bahkan, ia sampai kesal sendiri karena aku menolaknya lantaran alasan tersebut. Kin mau capek, asalkan aku menurut untuk diberi stimulasi terus.
"Tuh, kan? Malah ngelamun. Kan aku udah hindari buat jawab dari tadi, Far. Kau terus nanya aja. Jadi bete sendiri kan?" Canda menepuk bahuku.
Aku menoleh sekilas padanya, kemudian aku meluruskan pandanganku ke depan. Ternyata ini alasan Canda begitu berbelit, saat aku menanyakan hal itu. Ia tahu, bahwa aku akan menanggapi dengan sikap seperti ini.
"Tapi tenang aja, aku udah kasih tau ke Novi. Aku bilang, kalau Ghifar begitu tuh perempuannya mesti aktif, tak bisa kalau perempuannya pasif kek aku begini. Jadi aku minta Novi nurut aja, misal ada kegiatan seksual yang harus Novi penuhi. Jangankan kek kau ya? Kek mas Givan aja, dia itu banyak maunya di ranjang. Aku buktikan sendiri, masa aku selalu nolak dulu. Timbal balik ke servis yang dia kasih ke aku itu, tidak lebih baik daripada apa yang dia dapat dari aku. Belum lagi, khawatir malah cari kepuasan di luar." Canda menjadikan dirinya sendiri sebagai contoh.
Aku mengerti, karena ia pernah mengalami posisi itu. Meski beda kasusnya, tidak sepertiku yang permasalahan ada di pusakaku.
"Tapi kau dulu pasif, aku bisa bereaksi. Aku pun tak paham, kenapa aku begini. Udah coba praktekkan yang Kin lakuin dulu ke aku pun, rasanya itu beda gitu. Paham, bahwa Novi ini tak punya ilmu basic begituan. Tapi entahlah, aku tak tau jalan keluarnya. Memang bulan depan ada rencana buat berobat, tapi aku pun tak bisa jamin bisa sembuh. Karena pengobatannya itu stimulasi, bukan obat-obatan khusus." Aku tidak sedang mengumbar aib untuk mendapatkan belas kasih.
"Keknya, suasana hati kau dipertanyakan juga deh Far. Ini sih lagi ngomong kosong aja, bukan lagi berharap terulang kembali. Nah, sebelum balik ke ranjang kan. Kita ini ada bergurau dulu, curhat dulu, ketawa-ketawa dulu. Intinya, suasana hati kau itu lagi baik. Makanya, mungkin bisa bereaksi meski tidak keras. Aku sih tak tau pasti ya, aku bukan kau soalnya. Tapi mas Givan pun begitu. Bukan tak bisa keras, tapi kalau suasana hatinya lagi tak bagus itu nampak jelas. Dari problem sulit keluar, kadang timbulnya tak enak. Pernah juga, malah dia menuhin kebutuhan aku dengan mata terpejam terus. Karena dia marah sama aku, sebelum berhubungan itu. Dari hati, malah efeknya ke pusaka dan sikapnya pas di ranjang itu." Canda menggerakkan jarinya, saat berbicara dan menjelaskan itu.
Apa ia sudah pandai sekarang?
"Apa kau pun ada bilang, tentang aku yang minta kau tetap ada di jangkauan mata aku?" Aku berfirasat, jika wanitaku tahu akan hal ini. Sudah pasti mereka paham, tentang spesialnya Canda untukku.
Canda seperti berpikir, lalu ia menggeleng.
"Tapi bang Daeng dan mas Givan tau itu." Canda menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Yang terpenting, kau tak usah bagi tau akan hal itu. Udah aja, toh kita pun tahu batasan. Terus kau ada bilang apalagi ke Novi?" Aku memberinya satu wejangan itu, agar Canda tidak ember lagi.
"Aku bilang mesti tegas ngurus anak kau, karena kau terlalu lembut. Kek aku gini, aku terlalu lembut dan baperan ngurus anak-anak. Tapi mas Givan kan sosok yang galak dan tegas. Yang terpenting, selama Novi tak keterlaluan ya biarkan aja. Kek aku, aku biarkan Ceysa dimarahin ayahnya kalau memang Ceysa salah dan butuh arahan. Aku biarkan Chandra dipelototi ayahnya, kalau sikapnya kurang sreg di hati orang tua. Tegur atau marah, saat tak ada pihak lain. Misal marahin Kal, Kaf ini jangan sampai tau. Misal kau dan Novi berantem gara-gara anak-anak pun, mereka jangan sampai dengar itu. Karena nanti mereka pasti nyimpulin persepsi sendiri. Diusahakan juga, Novi harus lebih dari Kin. Karena apa? Karena kemarin anak-anak kau tak kekurangan kasih sayang dari Kin. Beda sama Key dan Zio, mereka kurang kasih sayang dari ibu kandungnya, makanya mereka bisa dekat dengan aku." Canda berkata, dengan menepuk-nepuk lenganku beberapa kali.
Kenapa ucapannya sekarang masuk di akal?
"Kau ada bilang lain?" Aku masih mencurigainya. Karena, Novi banyak perubahan setelah aku tinggalkan tiga minggu di Bali. Jika bang Givan dan Canda, ia hanya lima harian di Bali. Jadi, otomatis Novi kurang lebih dua mingguan banyak berbincang dengan Canda.
"Ya, tentang Oyo itu." Suaranya menurun dramatis.
Sudah kuduga. Karena Novi pernah menyindirku tentang hal ini.
"Kau bilang apa aja?" tanyaku dengan menopang daguku dengan tumpuan stir mobil.
"Awalnya aku tak cerita, tapi Novi sehari nanya ada tiga kalinya. Mana kan berulang itu, setiap hari ada seminggu sih. Sampai akhirnya, aku ceritakan aja udah." Canda melirik dengan ekspresi tidak enak hati.
"Aku ambil mie ayamnya dulu." Aku keluar dari dalam mobil.
Aku khawatir Novi memiliki hubungan yang tidak baik dengan Canda. Padahal sebelumnya, mereka seperti BESTie. Karena, Novi pernah tinggal bersama mereka di rumah bang Givan itu.
Setelah mengantar Canda sampai depan pintu rumahnya, aku kembali ke rumah dan menitipkan Canda pada kak Ifa. Aku was-was, jika Canda sudah seperti itu. Aku takut dia kesakitan atau mendapat kemalangan, lalu tidak ada yang tahu.
"Boleh aku main, Ma?" Suara itu menarik perhatianku, yang baru saja membuka pintu utama.
"Kerjain PR dulu ya? Nanti boleh main." Novi mengusap-usap punggung Kaf.
__ADS_1
"Apa boleh nanti aja?" Kaf masih berada di dekat Novi, yang tengah jongkok di bawah tangga.
Tengah apa mereka?
"Mending kerjain PR dulu. Baru deh main, soalnya kalau malam pasti ngantuk." Novi keluar dari bawah tangga dengan menggandeng Kaf.
Ia hanya melirikku, kemudian ia membawa Kaf naik ke lantai dua.
Huft, positif sudah ngambeknya. Masa iya jurus-jurus membujuk Kin dulu, harus aku keluarkan lagi untuk Novi?
Aku memilih untuk ke kamar mandi dulu, lalu menilik halaman belakang. Jemuran sudah rapi, plastik sampah pun sudah diikat. Saat melewati laundry room, beberapa pakaian sudah bertumpuk rapi di rak yang tersedia. Sepertinya sudah disetrika dan dipisahkan juga. Karena terlihat dari jauh, beberapa susunan pakaian yang berbeda.
Rajin juga Novi. Namun, jika ada aku di rumah. Ya waktu sebulan di rumah bersama-sama itu, Novi terlihat manja dan sering memintaku membantunya. Bukan aku keberatan akan hal itu. Tapi kenapa berbanding terbalik, jika di rumah sedang tidak ada suami. Ia terlihat strong dan mandiri.
Hmm, aku malah teringat Kin yang kuat mengangkat galon sendiri dan memindahkan karung beras sendiri. Beginikah rasanya belum sukses move on? Tapi rasanya tidak mungkin juga aku bisa melupakan Kin, dengan dua anak yang begitu aku sayangi itu. Kin tetap memiliki tempat sendiri di hatiku.
Aku berpikir untuk bermalas-malasan di kamar saja. Karena pinggangku cukup lelah, karena mengemudi tadi.
Wajah Novi terlihat masam tanpa senyum, saat aku melewatinya yang tengah membantu Kaf mengerjakan PR di ruang keluarga kami. Mau bertegur sapa pun bagaimana, aku takut terpancing emosi di depan Kaf.
Mau membujuk pun bagaimana, karena ada Kaf di sini juga. Mungkin nanti saja, pikirku. Saat Kaf sudah keluar rumah untuk main.
Sialnya, aku malah terpejam sejenak. Sampai suara bantingan pintu mengembalikan kesadaran mataku.
Brughhhhh….
__ADS_1
...****************...