
"Aduh, Abang! Sakit," rengek Novi, ketika ia baru membuka matanya.
Benarkah ia kesakitan?
"Periksa kah? Yuk?" Aku membelai wajahnya dengan khawatir.
"Tak mau lah, malu!" Novi menyembunyikan wajahnya di lenganku.
"Padahal tadi pakai pelumas cukup banyak. Tau sendiri kan? Sampai kek main hujan-hujanan." Aku melepaskannya, kemudian beralih untuk melihat ke bagian bawahnya.
Aku ingin menilik tempat yang katanya sakit itu.
"Jangan dimakan lagi!" mohonnya dengan menangis kecil.
"Iya tak." Aku melihat lipatannya.
Kasihan sekali, begitu memerah karena tertabrak-tabrak. Menyedihkan lagi, malah ada lecet di pintu masuknya.
"Apa ya salepnya? Aku lupa." Aku menutup kembali selimut yang menutupi tubuh Novi.
Aku mengingat nama salep yang biasa digunakan oleh Kin dulu. Apa ya kira-kira? Aku tak pernah tahu menahu, Kin pun memakainya sendiri.
"Aku tak tau." Novi memeluk bantal yang tadi menjadi tempat kepalaku.
"Tanya bang Givan aja deh." Aku meraih ponselku.
Tanpa pikir panjang, aku langsung melangsungkan panggilan telepon pada suaminya Canda itu. Dia biasanya tahu segalanya, dalam bidang apapun ia tahu.
"Ya, Far? Kenapa?" Suara grasak-grusuk terdengar mengganggu telingaku.
"Mas…. Mas tuh tak sayang!"
Malah suara Canda yang terdengar jelas. Apa mereka tengah berkelahi?
"Kalau tak sayang, aku tinggalkan kau di kota orang kek Fira. Lancangnya mulut kau! Dah tuh, istirahat! Capek tuh tak usah kerjakan, jangan segala nyuruh aku. Tinggalin, udah!"
Aku sampai tersentak kaget. Suaranya begitu lepas, debu yang menempel pada speaker pun sepertinya berterbangan.
"Aku ganti suami aja sekalian!"
Heh? Aku melongo mendengar ucapan Canda.
"Tak ada yang mau sama kau selain aku, tau tak?! Tak ada yang sanggup ladenin kau, selain aku. Tak ada yang sabar sama kau, selain aku. Cari sana kalau dapat yang lebih segala-galanya! Tapi jangan harap kau masih hidup!" Deru nafasnya terdengar ngos-ngosan sampai di telingaku. "Kupenggal juga kepala dua-duanya!" lanjutnya kemudian.
Aku yang malah memegangi leherku. Mundur alon-alon adalah jalan terbaik, daripada Kal dan Kaf harus menjadi anak yatim.
"Brughhhhh…."
"Kenapa, Far?" Setelah bantingan pintu, aku mendengar suara kakakku lagi.
"Salep buat punya perempuan lecet itu apa?" tanyaku langsung.
Aku tak ingin memperpanjang obrolan, karena bang Givan tengah mengamuk di sana.
"Jangan dipakai dulu, Far. Bentar, aku cari dulu salepnya."
"Ya, Bang." Aku mendengarkan kembali beberapa pintu dibuka dan ditutup.
"Kumenangis…. Membayangkan. Betapa kejamnya dirimu atas diriku. Ck…. Cengeng!"
__ADS_1
Apa bang Givan tengah meledek istrinya?
Kenapa aku tidak sampai hati meledek perempuan yang tengah menangis? Sedangkan bang Givan, malah kebalikannya.
"Mana salep buat lecet itu, Cendol?" Bang Givan bertanya begitu enteng, seolah mereka tidak sedang bertengkar tadinya.
"Tak tau! Jangan ngajak aku ngomong." Suara Canda terdengar bergetar.
Ia benar-benar tengah menangis.
"Ya ampun, Cendol! Kau capek, kau nangis! Coba bayangkan jadi aku? Kerja loh aku bawa anak, kadang bawa juga ibunya anak aku. Jangan terlalu membatin lah. Kadang kau ini luka bagi orang lain. Jangan terlalu merasa paling tersakiti," ungkap bang Givan lembut dan cukup jauh, sepertinya ia menjauhkan ponselnya.
Aku mendengar seperti suara laci yang ditarik. Bang Givan tengah mencari keberadaan salepnya sepertinya.
"Untuk bagian luka luar aja, octadin gel. Octanilin gel bisa juga. Kalau di dalam sih sembuh sendiri, atau ke dokter aja. Nanti dikasih obat yang untuk diminum. Lagian sejak kapan kau buas betul, Far?" jawab bang Givan yang berakhir membuatku malu.
"Lost control, Bang." Ketika aku cepat berdiri, malah koyak seperti ini.
Aku jadi bingung dengan diriku sendiri.
Apa bercampur dengan amarahku tadi? Membuatku menggauli Novi cukup keras.
"Ya udah beli itu aja dulu di apotik, libur dulu." Aku mengerti apa yang harus aku liburkan.
Padahal aku tengah liburan. Hufttt, menyiksa diri sendiri namanya.
"Ya udah ya, Bang?"
"Ya, Far."
Aku memutuskan panggilan telepon, kemudian menaruhnya di nakas. Beralih, aku memperhatikan Novi kembali.
"Maaf ya, Nov?" Aku mencium kepalanya.
"Abang kenapa sih kesetanan gitu? Udah on fire aja, tak minta aku apa-apakan lagi."
Aku pun tak tau, kenapa aku sudah on fire duluan.
"Bersyukur dong? Kan aku pulih lebih cepat." Aku sekarang seperti saat bersama Kin. Ya seringnya seperti ini, aku on fire padahal tidak berniat untuk bermain.
"Iya alhamdulilah." Novi menarik leherku.
Cup….
Pipiku menjadi sasarannya.
"Jadi liburan kita gimana?" Aku mengusap part depannya yang tertutupi selimut.
Novi terkekeh geli. "Kan liburan, ya libur."
Padahal aku sedang tinggi-tingginya. Bagaimana jika sudah seperti ini? Aku sendiri pun tidak bisa mengontrolnya. Meski tahu Novi kesakitan pun, aku tetap ingin melakukan lagi.
"Lagi sih, Nov." Aku mengusap warisan turun temurun ini.
Tuh kan, sudah tegangan tinggi saja.
Aku merebahkan kepalaku, kemudian menatap murung plafon kamar. Aku tidak akan mereda, jika tidak disalurkan.
"Novia…." Aku menarik tangannya, kemudian aku taruh di atas warisan turun temurun ini.
__ADS_1
"Wow." Novi langsung mengusap-usap.
"Jadi gimana ini?" Ia menyangga kepalanya dengan posisi miring menghadapku.
"Lagi sih, Nov. Nanti baru periksa, gimana?" tawarku mencoba melobi.
"Jadi lecetnya sekalian gitu?" tanyanya yang langsung kuangguki.
Novi tertawa lepas. "Hmm, begini ya ternyata sifat asli suamiku? Baru tau aku, kalau Anda ini begini. Sekali ingin, tak boleh berhenti." Novi duduk, membuat selimutnya merosot sampai ke perutnya.
Pemandangan indah.
Aku langsung menariknya ke belakang, dengan dirinya bersandar di dadaku.
Begini kan enak.
"Bismillah, Allahumma jannib naassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa." aku meniupkan di atas kepalanya.
"Wah, seriusan aku dimakan lagi?" Novi mencoba melepaskan dirinya sendiri, sayangnya kalah tenaga denganku.
Aku akan memandikannya dengan pelumas, agar lecet itu tidak semakin bertambah parah.
~
Setelah dua hari berada di kota Medan, aku kembali dengan segudang oleh-oleh. Aku teringat tentang seluruh anggota keluargaku yang tidak lupa memberikan oleh-oleh padaku, ketika baru pulang dari bepergian.
"Aku pengen bawa anak-anak pulang, Bang. Masa Abang kerja tuh, aku bingung mau ngapain," ucapnya, ketika aku tengah mengeluarkan isi bagasiku.
"Karena tak punya HP ya?" ledekku padanya.
"Tak lah." Pasti Novi menyembunyikan jawaban yang sebenarnya.
"Repot juga bayar tagihan tak ada HP pribadi," lanjutan kalimatnya ini untuk menjelaskan semuanya.
"Kan kemarin pakai HP aku kan?" Aku duduk di sampingnya, setelah pekerjaan ini selesai.
"Ya, tetep aja tak enak. Abang aja yang urus bayaran, aku tau beres. Ribet."
Maksudnya bagaimana?
Novi membingungkan sekali.
Tadi membahas tentang ponsel, sekarang tentang uang pembayaran.
"Mau HP kah gimana sih?" Aku menopang rahangku.
"Memang mau ngasih? Memang diizinkan kalau aku beli HP? Uang aku sih cukup, cuma Abang izinkan tak?"
Jelas aku langsung menggeleng.
Novi menghela nafasnya, kemudian melirikku marah.
"Barengan aja HP-nya. Kemaren aja mantannya minta nomor HP kan? Kenapa tak kasih aja nomor Abang?" Aku merangkulnya.
"Ngapain kasih nomor suami ke mantan? Nanti suami aku yang direbutnya lagi." Novi bersandar pada bahuku.
"Kan mantannya laki-laki? Masa iya aku yang direbut? Kau lah yang nanti direbut." Aku menarik hidungnya.
"Ish, tak paham ya? Dia itu…..
__ADS_1
...****************...