Istri Sambung

Istri Sambung
IS211. Meja makan sarapan


__ADS_3

[Eummm, tak usah ikut saran itu deh. Oke, kita bakal ke Cirebon. Tapi tidak untuk Papa bantu usaha Givan di sana. Bukan karena aku iri, karena nanti Givan tambah sukses. Tapi, aku tak mau LDR. Sampai rela jauh dari mak cek gini, biar frekuensi bertemu kita lebih sering. Eh, malah Papa mau pergi ke Cirebon. Ya jangan dong, aku tak mau ditinggal, apalagi kalau lama. Nanti kita ke Cirebon, untuk minta restu baik-baik.] Tulis kak Aca, setelah aku menunggu beberapa saat.


Yah, saran dari papah ditolak. Ya sudah, aku tidak perlu mengatakannya pada bang Givan. Biar saja bang Givan yang bekerja sendiri di Cirebon, dengan aku yang tetap di sini.


[Ya udah deh, kapan kita ke Cirebon?]


Aku sudah menguap lebar. Plongnya, ketika ada pengeluaran setelah sekian lama. Seperti beban berat itu diangkat seketika. Tapi aku yakin, rasa candu pasti datang setelah tiga sampai seminggu kedepan. Sekarang giliran aku, yang harus sering-sering beralasan pada mamah.


Eh, atau aku benahi rumah saja dan pulang ke rumah. Agar mamah tidak begitu mengawasik, agar aku tidak mencari alasan lagi.


[Nanti ngobrol dulu sama Canda, soalnya Ra tak mungkin aku bawa begitu jauh.] Benar juga kata kak Aca. Apalagi, jika tanpa izin. Malah kak Aca disangka telah menculik Ra lagi.


[Oke, deh. Tidur yuk? Udah ringan betul ini badan.] Aku seperti chatting dengan pacarku, padahal ini istriku.


[Yuk, lain kali coba nginep ya? Kita belum pernah tidur bareng.] Tidur dalam artian sebenarnya sepertinya.


[Siap.]


Setelah itu tidak ada balasan lagi. Aku langsung mencharger ponselku, lewat alat yang sudah tertanam di nakas. Setelah itu, aku langsung terlelap dalam keadaan junub. Biar esok pagi saja, aku mensucikan diri.


"Suami kau mana, Cendol?" tanyaku, ketika kami tengah menyantap sarapan.


"Kakak Ipar, Far!!!" Penegasan mamah tidak main-main.


Aku terkekeh kecil. "Iya, Mah."


"Masih tidur, baru pulang setengah enam pagi tadi. Ada apa memang?" Canda sibuk membuatkan bekal untuk anak-anaknya.


Mereka di rumah masing-masing pasti makan juga, tapi itu sepertinya bekal untuk jam istirahat.


"Jadi kah mau terbang ke Cirebon gantikan abang kau?" tanya papah, dengan memberiku setoples kerupuk udang.


"Ngapain Ghifar ke Cirebon, Bang?" tanya orang Cirebon asli ini, pada papahku. Siapa lagi kalau bukan mamah.

__ADS_1


Ya, aku hanya keturunan Aceh saja. Hanya papah yang orang Aceh, mamah bukan asli Aceh. Namun, karena lama di sini. Logat dan bahasanya pun sudah begitu kental seperti masyarakat sini.


"Eummm…." Sepertinya papah tengah memilih jawaban yang tidak membuat mamah curiga. "Mau belajar ngolah pupuk katanya, Dek. Pas awal kan gitu, dia bisa belajar dari Givan," lanjutnya kemudian.


Mamah manggut-manggut. "Makanya nanti anak-anak kau ajarkan, suruh sekolah yang benar. Biar siap di dunia bisnis dan kewirausahaan. Punya basic lah gitu, untuk jadi wirausaha."


Mamah tidak makan, mamah tengah menyeruput teh hangat saja. Sepertinya, beliau tidak cocok dengan masakannya sendiri. Seperti itulah mamahku, sendirinya yang memasak, sendirinya juga yang enggan untuk makan.


"Belajar tuh jangan sama mas Givan, perintahnya aja nanti yang kuat," celetuk Canda tiba-tiba.


"Iya, ayah tuh nyuruh-nyuruh aja. Hafalan niat sholat qobliyah dan ba'diyah. Hafalan Al-Baqarah ayat satu sampai sepuluh. Cari hukum bacaan surah Al-Baqarah dari ayat satu sampai sepuluh. Heran aku, hafalan gitu-gitu itu fungsinya apa? Biar apa hafalan segitu banyaknya? Besar nanti memang kalau hafal itu nanti jadi apa?"


Loh? Aku dibuat melongo saja mendengar ucapan Kaf.


Ada apa dengan anak itu?


"Sama Biyung pun, Kaf. Dulu sekolah ini belajar shorof itu untuk apa? Kan tinggal di Indonesia, bahasanya pun bahasa Indonesia. Tapi malah diajari tatanan untuk berkomunikasi dengan bahasa Arab." Canda duduk di dekat Kaf, lalu ia mulai mengambil sarapannya.


"Akhirnya, Biyung belajar lah. Jadi kan paham, bisa mengartikan isi Al-Qur'an. Misal kelak berhaji pun, kan udah paham tulisan Arab di sana atau komunikasi sama orang sana. Biyung tak akan ngasih tau, untuk apa Kaf bisa itu. Tapi kelak nanti pun, Kaf bakal paham sendiri. Kaf perlu besar aja, jangan terlalu banyak mikir, nanti pun Kaf bakal nemuin jawabannya sendiri." Canda menjelaskan dengan senyum ramahnya.


Penyampaian yang ramah masuk ke telinga anak-anak. Tapi aku yakin, dalam diri Kaf ia semakin penasaran. Secara tidak langsung, ia akan terus belajar untuk mencari jawabannya sendiri.


"Oh, Biyung tak cuma hafal Al-Qur'an ya?" Itu adalah pertanyaan dari Kal.


Canda mengangguk. "Biyung juga paham isinya, maknanya, tapi memang harus belajar lagi untuk mengamalkannya."


Sejenis Canda saja, ia belum bisa mengamalkan. Apalagi, jenis fakir ilmu dan pendosa sepertiku.


"Terus, Biyung dapat reward apa?"


Karena jika melakukan dengan baik, Kal selalu dapat reward dari Kin. Sekarang, anak itu begitu terpaku pada reward untuk mencapai sesuatu.


"Banyak dong. Medali, piagam, penghargaan, gelar juga. Kalau penghafal Al-Qur'an itu, gelarnya Hafizah Qur'an untuk perempuan. Hafidz Qur'an untuk laki-laki."

__ADS_1


"Wah, aku jadi pengen punya gelar kek Biyung." Raut wajahnya terlihat begitu excited.


"Bisa, nanti masuk pesantren ya?"


Kal langsung manggut-manggut saja, ia seolah tidak membayangkan bagaimana hidup di dalam tembok pesantren.


"Jadi kau ke sana, Far?" Canda melirikku, sebelum akhirnya ia memakan suapannya sendiri.


"Serius kau?" Mamah sampai terlihat tidak percaya.


Aku menggeleng. "Kerjaan lagi banyak, Mah. Nanti aku mau balik ke rumah aja, soalnya sambil selesaikan pekerjaan. Kalau di sini, takut ganggu waktu istirahat kalian." Pasti sekarang aku terlihat tengah beralasan.


"Oh, ya udah. Nanti sarapan tinggal ke sini aja, kek biasanya tuh. Ingat, jangan buru-buru nikah lagi. Jadikan penyesalan karena pernah terburu-buru." Yang dimaksud adalah, ketika aku meminang Novi kemarin.


Yes, sudah mengantongi izin dari mamah.


"Jadi kau nanya mas Givan, memangnya mau bahas apa?"


Tentu rahasia dan tidak aku buka di sini. Bersama papah pun, aku harus mencari waktu lagi untuk mengobrol. Karena aku terang-terangan menolak saran darinya. Bukan aku juga yang menolak, tapi kak Aca yang keberatan.


"Ada, deh. Kepo!" Aku memonyongkan bibirku.


Hampir-hampir, Canda ingin mencomot mulutku. Namun, segera ditepis oleh mamah. Alasannya mungkin karena kami ipar lagi.


Aku berencana malam ini akan menginap, lalu kembali ketika waktu subuh tiba. Agar paginya, aku bisa sarapan di sini. Aku berencana untuk memakai motor saja, agar bisa dimasukkan dan disembunyikan di dalam rumah.


"Mau minta restu sama pakdhe Arif ya? Si ayahnya kak Aca itu ya? Makanya mau ikut mas Givan ke Cirebon." Canda menyudutkanku dengan mengarahkan telunjuknya padaku.


Secara tidak langsung, Canda membuka kecurigaan untuk mamah. Mulutnya tetap saja ember, harus diberi wejangan lebih dulu.


"Far…." Pandangan mamah begitu menelisik.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2