Istri Sambung

Istri Sambung
IS305. Memperbaiki rezeki


__ADS_3

Ya Allah, Aca.


Ia merasakan tidak nyaman pada perutnya, ternyata posisi bayinya sudah turun kembali. Untungnya, kita langsung datang untuk cek up.


Menurut dokter, ini karena Aca sering naik turun tangga. Bisa juga karena aktivitasnya yang berat. Ditambah lagi karena rokok, membuat bayi itu beresiko akan lahir lebih dini. Semoga keduanya selamat, karena bayi kami masih begitu kecil. Berat badannya belum siap dilahirkan, masih begitu ringan dan kecil.


Selain harus libur berhubungan badan. Aca juga harus libur aktivitas, ia pun malah langsung meminta untuk pindah kamar untuk sementara. Sepertinya, kali ini ia benar-benar merasa khawatir pada keadaannya.


Kami kembali ke rumah, dengan beberapa saran dokter dan empat macam resep dari dokter. Aca banyak melamun, entah apa beban pikirannya kali ini.


"Kenapa, Ma?" Aku menggenggam tangannya.


"Ngerasanya capek betul, Pa. Pas bangun tidur tuh, badan rasanya kek kurang fit." Ia menggerakkan lehernya seperti melakukan peregangan.


"Pas bangun tidur kan Papa campuri itu. Kecapean gara-gara itu kah?" Sesuai keinginannya yang tidak ingin begadang.


Aku mengambil opsi mengajaknya berhubungan badan saat subuh menjelang. Menurutku, aku sudah pengertian dan memaklumi juga. Meskipun aku sudah menahan, nyatanya aku butuh juga. Apalagi, aku melakukan pun karena tahunya keadaan Aca sehat saja. Sekarang, punya batang lagi yang disalahkan.


"Tak tau, Pa."


Tidak tahunya perempuan adalah tahu, atau bisa disebut juga iya.


"Maaf ya? Kalau memang keadaannya lagi kurang enak badan, tak apa juga nolak. Aku ngerti kok, Ma." Aku tidak akan berpikiran bahwa ia bagaimana, karena aku tahu Aca pun butuh.


"Ya mungkin bedrest beberapa hari cukup, Pa." Ia mengusap-usap pahaku.

__ADS_1


"Ya semoga aja mendingan nantinya. Jadi, kita pindah kamar dulu kah?"


Aca mengangguk mengiyakan. Kemudian, ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Cosplay jadi Canda kedua dimulai. Ia langsung menunjuk beberapa pedagang pinggir jalan, katanya ia ingin mencicipinya makanannya.


Terus terang saja, ini adalah satu-satunya istri yang ngidam jajan seperti ini. Sebelumnya, tidak ada yang memintaku berhenti di jalan untuk membeli sesuatu.


Ternyata, seperti ini kah rasanya jadi bang Givan?


"Aku ikut turun kah, Pa?"


Aku langsung menggeleng. Ini pinggir jalan raya, aku malah khawatir ia berjalan sendirian di pinggiran seperti ini.


"Udah, aku aja." Aku mengingat daftar-daftar yang harus aku beli.


Ada empat macam makanan berat, yang dijual di empat gerobak dorong di tepian kiri jalanan ini. Lalu, di sebelah kanannya ada rujak dan cemilan lainnya. Aku pun harus menyebrang, untuk sampai ke sana.


Sudah banyak yang aku beli, aku kembali ke mobil dengan makanan seperti untuk berjualan. Karena apa? Karena aku menghitung jumlah kepala yang ada di sana.


Ia begitu excited, persis seperti Canda ketika melihat makanan yang diinginkannya. Aku berpikir, Aca sawan Canda sekarang. Karena sebelumnya, Aca tidak pernah seperti ini.


Di rumah pun ia akan libur segalanya. Pasti, posisinya sama seperti Canda. Yaitu rebahan, main ponsel, mengganggu suami, atau main ke mamah dan selamitan. Karena aku tahu, pasti akan seperti itu pekerjaan perempuan yang tidak memiliki aktivitas apapun. Seperti Canda contohnya. Meski mamah tidak akan marah, ketika anak dan menantunya selamitan padanya. Tapi benar kata bang Givan, kan kami yang jadi malu pada mamah jika istri kami selamitan padanya.


Tebakanku benar. Sudah dua hari, Aca melaksanakan rutinitas sebagai Canda. Apalagi sekarang ada seorang pengasuh, yang membantu mengurus anak-anak.


Mungkin aku egois, tapi aku ingin anakku dibesarkan oleh istriku sendiri. Tangan istriku, bukan hanya didikan istriku saja. Ini sih, Aca seperti Canda yang hanya pandai memerintah.

__ADS_1


Duh, jangan sampai sawan Canda ini berlangsung lama. Bisa-bisa, aku semakin ingin menangis rasanya.


"Kenapa kau?!" Bang Givan menaruhkan beberapa dokumen di depanku dengan kasar.


Aku bertopang dagu dengan mendongak menatapnya yang berada di depan meja kerjaku. "Aca sawan Canda. Aku pusing, aku yang mendadak risih ke istri sendiri. Setiap aku di rumah, aku diciumi dan dipegang-pegang kek apa aja. Suka sih suka, senang sih senang, tapi aktivitas aku terganggu jadinya."


Eh, dia malah tertawa lepas.


"Kau kemarin nungguin istri aku kan? Nah, copyannya kau punya sendiri." Bang Givan menghempaskan alas duduknya di kursi yang berada di depan mejaku.


"Tak! Tau begini, udah aku minta Aca yang asli aja."


Tawanya semakin menggema.


Kok kesal aku mendengar tawanya?


"Rese ya kau, Bang!" Aku menunjuk dirinya.


"Aku dapat nasehat dari Canda. Tentang jika suami memegang tangan istri, ada ganjarannya. Banyak deh dalilnya, aku tak hafal. Yang aku tau, aku biarkan Canda buat risih aku, diganti dengan keberhasilan usaha yang selalu berujung sukses. Rezeki yang berlipat ganda. Semua usaha lancar dan harapan aku tercapai semua dengan perlahan. Jadi apapun itu, kuncinya ada di istri."


Luar biasa jika memang seperti itu.


"Coba kau sabar, ikhlas dan pasrah aja kalau dibuat risih istri. Aku sih kuncinya itu aja, Far. Tarik napas berulang, ngatur napas berulang. Jangan dijadikan beban, nikmati aja sentuhan halal itu. Istri aku kalau usap-usap, kadang sampai ke paha dalam. Itu tuh tak ada tujuannya, memang tangannya tuh iseng. Aku pernah tanya juga, kalau memang dia itu tak pernah ada niat buat aku terbangkitkan. Jadi ya, mereka itu tak ada tujuannya gitu tuh. Memang dasarnya mau nyentuh aja. Tak tahan-tahan betul godaan tangannya, ya aku tarik ke ranjang. Aku malah sering berpikir, bahwa Canda ini saking cintanya sama aku. Jadi kan, hati aku mekar juga tuh karena sentuhannya. Jadinya ikhlas, tak gondok dengan Canda buat risih tuh. Masalah perempuan ngerengek, manja, itu wajar aja. Karena mereka istri kita, mereka mau manja ke siapa lagi kalau bukan ke suaminya. Mau manja ke orang tua, nanti orang tua bakal berpikir bahwa Canda ini tidak lagi baik-baik aja sama kita. Begitu loh, Far. Ketimbang risih-risih seberapa, orang istri sendiri, yang kasih kita keturunan. Daripada dibuat risih sama biduan yang minta saweran, udah uang keluar, bukan untuk kewajiban kita, bukan untuk anak kita, bukan untuk shodaqoh juga. Ya kan? Mending istri sendiri gitu kan?"


Logikaku diajak bermain, ketika mengobrol bersama bang Givan. Ucapannya selalu seolah benar, dengan pemahaman yang cukup mudah dimengerti otak.

__ADS_1


"Tinggal pasrah aja, Far. Terus kau lihat rejeki kau kedepannya. Senangkan hatinya, penuhi keinginannya, senangkan perutnya, penuhi kebutuhan batinnya. Kau sanggupi, kehidupan dan rejeki kau langsung diperbaiki sepanjang." Ia tersenyum lebar dan menaikturunkan alisnya.


...****************...


__ADS_2