
"Memang kuat bau peternakannya, Far?" tanya pakdhe, ketika aku mengatakan bahwa aku ingin ikut dirinya ke peternakan.
"Kuat, Pakdhe. Sebelas dua belas, bau macam-macam keringat orang bercampur Stella jeruk." Aku terkekeh, teringat ketika menjadi supir travel di Bali.
"Kok Stella jeruk?" Pakdhe Arif mengeluarkan motor matic dari dalam rumahnya.
"Iya, dulu aku jadi supir travel di Bali. Waktu merantau sama bang Ken, lepas kasus Canda selesai dan dia nikah sama bang Givan itu." Teringat akan masa-masa itu, aku malah melamun suram.
"Supir? Yang bener yang mana? Aca bilang, kamu pengusaha travel?" Rupanya anak sulung itu bercerita pada ayahnya.
Aku mengangguk. "Kan merintis dulu, Pakdhe. Aku tak bisa langsung jadi bos, aku jadi tukang angkat bagasi dulu malah sebelum jadi supir." Pekerjaan utama itulah, yang aku lakukan di Bali setelah diajak oleh tetangga kost kami di Bali.
"Ah, yang bener kamu pernah merintis? Bukannya, cuma lanjuti warisan orang tua aja ya?"
Meledek kah rupanya?
"Iya, aku merintis dari bawah. Sampai berakhir jadi bujang, aku punya sekitar seratus lima puluh mobil travel. Sekarang, udah ada lima ratusan mobil di sana. Ada yang khusus medan yang curam, ada yang khusus pariwisata aja." Tidak semua tempat di Bali itu beraspal rapi. Jika mengantar orang-orang yang akan mendaki gunung, ya mobil sekelas Pajero yang harus turun tangan mengantarkan mereka karena medan yang berlumpur dan berbatu.
"Kok Pakdhe baru tau ya?" Pakdhe tengah mengatur gas motornya yang tengah dipanasi tersebut.
"Ya mungkin karena aku tak pernah berkunjung juga." Aku mengusap tengkukku dan tersenyum malu. Jika libur bekerja, Kin mengurungku dalam kamar. Tidak bersilaturahmi apalagi berkunjung pada saudara yang menyeberang pulau.
"Bener hasil usaha tenaga kamu sendiri, Far? Bukan warisan mamah kamu, atau papah kamu?" Dahi pakdhe sampai berkerut. Rupanya, begitu aneh ya jika aku bisa memiliki usaha sendiri.
__ADS_1
"Basic aku, malah lebih nyaman kerja di jalanan begitu, Pakdhe. Kalau tak ingat orang tua udah pada tua, mungkin aku balik lagi ke Bali. Cuma aku pikir, anak-anak tak siap jadi minoritas di tengah kota. Di Aceh, mereka jadi mayoritas yang memiliki hukum sendiri kan begitu? Pasti kaget mereka, untuk menyelesaikan diri jadi minoritas." Apalagi kehidupan yang cukup bebas di sana, karena pengaruh budaya barat. Bukan penduduk aslinya, penduduk aslinya begitu religius dan memiliki keteguhan dalam agamanya. Terbukti dari Tika yang berakhir mualaf demi suami, tapi Yoka tetap beragama Hindu di Bali.
"Betul, Far. Apalagi Aca, taruh ditempat yang bebas begitu. Udah tuh, keknya rambut berubah jadi kembang gula lagi." Pakdhe menurunkan standar tengah motornya, kemudian mengajakku naik ke bangku belakang.
Mungkin menurut pakdhe, rambut berwarna adalah perempuan yang kurang baik. Pakdhe tidak tahu saja, jika keluargaku rata-rata tidak memiliki warna rambut yang hitam, padahal kerudung tidak pernah lepas. Canda pun termasuknya, ia bukan lagi Canda yang memiliki rambut hitam bergelombang.
Tidak ada larangan dalam Islam, untuk merubah warna rambut. Yang ditentang malah tidak boleh mewarnai rambut, dengan warna asli rambut tersebut. Misalkan warna aslinya hitam, ya kita tidak boleh mewarnainya dengan warna hitam.
Apalagi jika pakdhe tahu, jika anak sulungnya yang sudah memiliki anak itu merokok. Pasti, ia malah berpikir setelah jadi janda Aca malah rusak. Padahal kan, sejak dulunya memang sudah seperti itu.
Aku menikmati sapuan angin alami, dalam perjalanan menggunakan motor menuju ke peternakan puyuh milik pakdhe Arif. Yang sedikit membuatku seram di sini adalah, peternakannya bersebelahan dengan pemakaman umum. Sedangkan peternakan milik mamah, sebelah kiri dari pintu masuk tol Cipali. Letaknya memang jauh dari rumah warga, tapi aku tidak mengerti kenapa warga masih saja protes.
Mungkin ketahanan semua orang berbeda-beda, aku benar-benar langsung pusing jika bau peternakan seperti ini. Tidak hanya peternakan puyuh, peternakan sapi, kambing atau ayam pun, ya aku tetap tidak tahan dengan baunya.
Sepertinya dalam ujian peternakan ini, aku tetap gagal. Sampai menggunakan masker dan juga minyak aromaterapi, aku tetap saja pusing dan mual.
"Gimana, Pa?" tanya istriku, ketika motor mulai melaju dengan aku dibonceng padanya.
"Kalau dapat bagian peternakan pun, keknya aku jual. Aku tak bisa turun tangan sendiri, apalagi cek ke lapangan begini. Tak tahan betul sama baunya."
Eh, ia malah tertawa renyah ketika aku mengadu dan mengeluh.
"Anak mak cek Dinda itu, disetel siap disegala macam bidang usaha. Masa, dikasih peternakan malah dijual?" Ia melirikku dari spion kiri motor ini.
__ADS_1
"Kan Mama anaknya Adinda, aku anaknya Adi," sanggahku kemudian.
Ia tertawa terus, sampai akhirnya mengantarku ke rumah nenekku. Aku tidak sendiri di sini, aku tinggal dengan pakdhe Afan dan istrinya. Tapi, terang saja. Mereka sibuk sendiri-sendiri. Budhe Siti Nasiah, istrinya pakdhe Afan itu memiliki warung sembako yang cukup besar dan terpisah dari rumah. Semalam aku pulang pukul sepuluh malam saja, budhe Siti belum pulang dari warungnya.
Lalu pakdhe Afan pun mengelola penggilingan padi dan bengkel motor warisan kakekku, jadi pagi-pagi saat aku pergi pun ia ikut pergi. Rumah benar-benar dalam keadaan kosong melompong di sini.
"Nahda tak diajak sih, Ma?" Aku turun dari motor dan mendahului untuk masuk ke rumah. Aku ingin mencuci wajahku lebih dulu, agar lebih fresh.
"Nanti tak bisa anu."
Samar, aku mendengar sahutan tersebut. Karena aku berada di kamar mandi, yang terletak di bagian belakang rumah.
Benarkah ia ingin dianu lagi? Padahal, baru semalam tadi kami libur. Malam kemarin, kami kenyang-kenyangan nganu di kamar hotel.
"Ma???" Aku mencari keberadaannya, karena di ruang tamu ini tidak ada dirinya. Tapi motornya, masih berada di depan rumah. Pintu rumah pun, masih terbuka lebar.
"Di kamar depan, Pa."
Sial, ia malah menghidangkan dirinya. Kan aku tidak bisa menolak.
Kamar depan adalah kamar yang kami tempati. Kamar depan tidak ditempati oleh pakdhe Afan dan istrinya, karena terganggu dengan air terjun buatan yang persis berada di dalam kamar ini. Ini adalah kamar milik mamah Dinda dulunya, tentunya kamar setelah ia menjadi janda. Karena rumah orang tuanya ini direhab total, setelah mamah bisa mencari uang sendiri dengan kebebasannya. Katanya juga, kamar depan dulunya terletak di ruang tamu. Sedangkan ruang tamu ini, dulunya berada di kamar milik mamah.
"Ayo sih, Pa. Sebentar aja, karena besok belum tentu bisa. Orang luar tak bakal curiga deh, orang sini anti ada hubungan antara anak kakak dan anak adik. Jadi mereka tak mungkin berpikir, kalau kita memiliki hubungan apalagi menikah."
__ADS_1
Indahnya kamar ini, dengan kak Aca yang sudah terlihat seperti salad buah di tengah kasur tanpa ranjang tersebut.
...****************...