Istri Sambung

Istri Sambung
IS216. Serius bercampur gurauan


__ADS_3

"Ya, Mak Cek," sahut kak Aca dengan menoleh ke arah mamah.


"Ghifar minta kawin sama kau tuh, kaunya mau kah?" Meluncurnya kalimat itu dari mulut mamah, kak Aca langsung menoleh ke arahku.


"Mau, Mak Cek." Jawabannya begitu mantap.


Mamah terkekeh geli. "Tak ada kandidat lain kah?"


Kenapa ya mamah menanyakan hal ini?


"Ada sih, Mak Cek. Bujang, yang rumahnya depan jalan besar itu."


Jujur, aku melongo saja mendengar penuturan kak Aca. Di depan suaminya, ia membahas kandidat lain yang akan menjadi suaminya.


"Kenapa tak sama dia? Mak Cek aja dulu pilih yang bujang." Mamah bertopang dagu, dengan memperhatikan kak Aca dengan seksama.


Aku pura-pura memperhatikan anak-anak, padahal telingaku fokus mendengarkan obrolan mereka.


"Kalau menurut aku ya, Mak Cek. Bujang ini, dia tak paham situasi kalau aku ini memang udah ada anak satu. Pasti kan, waktu untuk kita bersama ini ya adanya kalau anak tidur. Apalagi, riwayat aku ini melahirkan normal. Aku takutnya dibilang begini, Mak Cek. Kok rasanya beda, k*ndor. Kalau yang duda kan, mungkin mereka paham alasan terbesar aku punya luka jahit di inti kan? Mereka pun pasti mengalami sendiri, rasanya punya istri yang melahirkan normal. Selain dari segi pengertian juga, dari segi keuangan. Ghifar lebih menunjang, daripada anaknya pak Durokhim itu. Dia baru lulus S2, dia baru mulai terjun ke dunia kerja yang sebenarnya. Sedangkan kan, Ghifar udah jelas ada pegangan usaha. Rumah, kendaraan, bahkan anak pun dia ada gitu, Mak Cek."


Aku yang melongo saja, dengan mamah terbahak begitu lepas.

__ADS_1


"Tapi dia punya DE juga." Tawa mamah tiba-tiba hilang begitu saja.


Kak Aca memamerkan senyum. "Ghifar udah pernah bilang itu kok, Mak Cek."


Mungkin mamah menginginkan agar kak Aca mundur teratur. Tapi itu jelas tidak mungkin, karena ia sudah aku persunting.


"Novi aja, pilih pisah. Dia pernah ada bilang, kalau hal dewasa itu sebulan sekali pun tak nentu. Mungkin salah satunya itu, yang bikin mereka benar-benar tak bisa dipertahankan." Mamah sepertinya tengah mengumbar aibku agar kak Aca meninggalkanku.


Semoga kak Aca tak keceplosan.


Kak Aca hanya diam, dengan manggut-manggut.


"Udah pernah?" Mamah tengah mengecoh. Namun, kak Aca pun cukup cerdas. Dia langsung menggeleng cepat.


"Ya karena udah terlanjur cocok, Mak Cek. Ghifar mau sama aku, aku pun mau sama dia. Masalah DE, kan nanti pas nikah bisa stimulasi penyembuhan juga. Kalau tak salah dengar, aku pernah baca cerita sahabat nabi yang kena DE juga. Dia malah lebih parah, karena tak ada ser gitu ke perempuan. Nikah cerai, karena perempuan tak dibegitukan. Sampai akhirnya ada perempuan siapa gitu, dia bilang aku tinggi dan berpinggul besar, rupa kek dia adalah idaman semua laki-laki. Bukan aku tengah sombong, atau menggambarkan diri aku sendiri seperti dirinya. Tapi si sahabat nabi itu, akhirnya menikah dan punya keturunan dengan perempuan yang bilang begitu tuh. Aku sih ngambil dari cara perempuan itu yakin dan percaya diri, keknya hal itu cukup menunjang, biar perempuan itu menarik di mata laki-lakinya. Masalah tubuh, itu bisa work out lah. Kan gitu, Mak Cek?" Kak Aca rapi sekali dalam menjawab.


Mamah manggut-manggut. "Kenapa bisa dibilang cocok?"


Aku pura-pura sibuk bermain ponsel. Padahal, aku tengah menscroll sosial media yang tidak aku simak sama sekali.


"Karena obrolannya nyambung, Mak Cek. Aku mikirnya gini, Mak Cek. Kelak nanti kita udah tua, punya Ghifar udah tak bisa dipakai lagi, aku pun udah tak ada tenaga lagi untuk WOT, pasti kan kegiatan masa tua kami itu cuma mengobrol dan minum teh."

__ADS_1


Ada WOT segala, ya ampun. Aku sampai menahan tertawa geli, mendengar penjelasan kak Aca.


"Ish, kau benar sih, Ca. Jangankan nunggu tua ya? Seumuran Mak Cek pun, ya frekuensinya udah ngurangin. Udah menopause lah, udah tak ada hormon untuk ke arah itu. Tapi ya tetap dilakukan, karena dibangkitkan."


Kak Aca mengobrol dengan mamah menyambung, tanpa terlihat tegang karena mamah terus menarik tentang kami. Ia pun, tidak sama sekali terlihat tegang atau berkeringat.


"Nah itulah, aku mikirnya nanti kita tua ini gimana. Apalagi, nanti itu pasti aku yang bakal tua duluan. Masalah anak kan, aku bukan orang lain juga. Jangankan sama anak orang, aku ngerasanya, anak orang jatuh pun, aku pasti tolongin. Apalagi anak suami aku, yang jelas nanti bakal serumah sama aku dan manggil aku mama. Kekeluargaan pasti tercipta dengan sendirinya gitu, Mak Cek. Yang penting kan, kita ada cara mendekatkan diri dan membuat anak-anak tidak risih dengan kehadiran kita. Kek Nahda gitu, karena sering diajak ngobrol Ghifar, diajak jajan bareng anak-anak yang lain, kan dia jadi dekat juga sama Ghifar. Kal dan Kaf pun, bisa aja lebih aku dekatkan. Cuma kan aku mikir di sini, Mak Cek aja agak berat sama aku. Khawatirnya, masa anak-anak untuk condong ke aku, Mak Cek larang kami untuk bersama. Udah ayah di sana begitu kan? Masa, Mak Cek di sini tega juga?"


Licik juga ini perempuan. Tutur katanya bisa saja.


"Macam gini aja, Ca. Misal Nahda mau main ke Canda, tapi Canda bilang 'sana pulang'. Nah, apa kau tak marah? Apa kau tak tersinggung? Simpelnya gitu aja, Ca. Mak Cek apa dimulainya aja, bisa mudah dan bisa sulit."


Oh, iya. Aku mengerti contoh sederhana yang mamah sebutkan.


"Tapi Mak Cek udah nampak kek aku ini, jangan gitu sama Ghifar. Itu Ghifarnya belum aja aku pelet, Mak Cek." Kak Aca mencampuri dengan gurauan, menjadi obrolan yang cukup serius ini tidak begitu nyesek ke hati.


"Hanya memperingati aja, biar kau tau kalau anak Mak Cek ini itu ya begitu. Kan kau belum tau juga kan, kenapa Kin bisa kena sindrom? Kau pun tak paham kan, alasan terbesar Ghifar cerai sama Novi kemarin?" Kak Aca langsung mengangguk, ketika mamah menanyakan tentang hal itu.


"Kau pun dengar kan, ayah kau bilang Ghifar main tangan ke istri, jadi Kin bisa gila? Novi kabur, karena Ghifar pun main tangan juga. Kau tak tanya Ghifar, kau pun tak tau jawaban yang sebenarnya. Pas kau ditanya ayah kau, kau cuma bisa geleng-geleng aja. Kalau kau tau kan, mungkin sedikit kau bisa meyakinkan ayah kau, bahwa Ghifar tidak demikian. Kenapa kau main langsung suka-suka dan mau-mau aja, padahal Ghifar tidak terlalu terbuka sama kau?"


Kak Aca melirikku sekilas. "Karena dia keturunan Mak Cek. Givan yang bangs*t aja, aku percaya kan? Apalagi keturunan dari pak cek Adi. Mungkin memang mereka bisa jatuh tangan, tapi saat mereka berkelahi, bukan ke istrinya. Ghava yang galak aja, aku tak pernah dengar cerita Winda ngadu karena Ghava KDRT."

__ADS_1


"Nah, itu. Kalau ayah kau, tak setuju kau sama Givan, ya Mak Cek bisa paham. Karena kelakuan Givan, yang lebih condong kek ayah kandungnya. Terus, ayah kau tau itu dari Givan kecil. Bukan tentang dia ba*****nnya, tapi dia tau tentang Givan yang bakal lebih berat ke ibunya. Pikirnya, khawatir kau dinomorduakan, ketimbang dengan Mak Cek. Tapi, nyatanya istrinya yang modelan Canda aja, cukup buat Givan menyamaratakan kasih sayangnya dengan Mak Cek atau ke istrinya. Bahkan Candanya ini, ya yang apa-apa harus bagi dengan Mak Cek, harus bagi dengan ibunya juga. Nah, ini Ghifar loh? Putranya si Adi, yang berantem sama istri aja nangis dan bisa pingsan, tapi seolah disamaratakan kek Givan yang ba*****n. Kalau ayah kau bisa larang kau sama anak Mak Cek, ya Mak Cek pun bisa nahan Ghifar biar tak sama kau. Kuncinya di ayah kau aja, Ca. Tugas kau…….


...****************...


__ADS_2