Istri Sambung

Istri Sambung
IS79. Numpang makan


__ADS_3

"Carilah nang balu, jangan cari nang bujang. Marganya nang bujang, balum lihai di ranjang." Senandung tersebut, menyambutku yang baru sampai di teras rumah bang Givan.


"Tau ah!" Itu seperti suara perempuan yang tengah ngambek.


Tapi itu bukan suara Canda. Aku hafal suara Canda.


Tawa laki-laki yang sepertinya bukan satu orang, menggema dari ruang tamu tersebut. Aku semakin cepat untuk melangkah, karena penasaran dengan tamu di jam sembilan malam ini.


Aku meninggalkan anak-anak yang sudah pulas di kamarku. Aku memilih untuk keluar untuk menanyakan tentang perusahaan, daripada berdebat dengan Novi. Aku ingin pekerjaanku sedikit beres dulu.


Ria duduk di samping kakak iparnya, dengan bergelayut manja di lengan kakak iparnya. Sedangkan di seberang sofa, ada laki-laki dari kampung sini. Yang setahuku, dia adalah duda beranak satu.


Aku tersenyum ramah, saat memasuki ruang tamu bang Givan. Kemudian, aku memilih langsung duduk di sofa single.


"Napa Abang kaitu?" tanya Ria terdengar manja.


"Ikam hudah kagatalan ah?" Bang Givan melirik ke adik iparnya yang bergelayut di lengannya itu.


"Nah kada kaitu, tapi mun kada manarima lamaran nintu pamali. kaina Ulun bisa kada payu-payu" Ria makin menyembunyikan wajahnya di lengan abang iparnya itu.


Masalahnya, ini bahasa apa? Aku tidak mengerti.


"Kaina Ulun bapandir dahulu. Lakasi Ikam masuk ka halam hulu!" Bang Givan melepaskan pelukan tangan Ria di lengannya.


"Inggih, Bang ai." Ria meninggalkan ruang tamu ini dengan sopan.


"Saya tak paham, tadi kalian ngomong apa." ujar laki-laki yang seumuran denganku, bernama Fahri itu.


"Nanti ada translatenya." tutur bang Givan, dengan terkekeh kecil.


"Ya maksud hati sih, minta baik-baik. Karena aku paham, Abang pasti keberatan kalau aku langsung bilang ke Ria. Apalagi, sampai macarin Ria tanpa izin Abang." ujar Fahri ramah.


"Iya, Aku hargai niat baiknya. Tapi, jarak usia kalian terlampau jauh. Ria juga masih kek anak-anak, masih HP terus, egonya masih gede. Keknya, Ria belum pantas berumah tangga gitu. Tapi nih, nanti aku sampaikan ke ibu mertuaku. Aku juga nanti diskusikan sama Ria, kalau memang Rianya setuju gitu. Kau nanti ke sini lagi aja, untuk memastikan gimananya. Memang rencana langsung nikah, atau gimana?" ungkap bang Givan lembut.


Aku hanya diam mendengarkan dan memperhatikan saja. Bukan niat menguping, tapi karena aku pun memiliki kepentingan dengan bang Givan.


"Rencana sih langsung nikah, Bang. Kasian kan sama anak gitu, biar dia ada temannya. Karena sama neneknya itu, ribut aja Bang." Fahri tertawa malu.


Aku dan bang Givan menyambungkan tawa, karena tahu bagaimana seorang cucu dengan neneknya. Anak-anakku pun ribut saja, apalagi Key. Key jagonya adu mulut dengan neneknya, sifat cerewet mamah dan Key sama saja.


"Masalahnya, Ria sama ponakan aja ribut aja. Aku kerja bawa anak itu, bukannya anak aku dijaga. Tapi malah dibuat nangis terus, diisengi terus." Bang Givan bercerita, sambil geleng-geleng kepala.


Fahri terkekeh kecil, "Belum bisa momong gitu ya, Bang?" tukasnya kemudian.

__ADS_1


Bang Givan mengangguk, "Kalau bawa dia, malah kek menambah jumlah anak." ucapannya cukup mendeskripsikan bagaimana merepotkannya Ria.


"Ya udah, aku pamit dulu. Nanti lusa aku balik ke sini ya, Bang?" Ia bangkit dari duduknya, kemudian berjabat tangan dengan bang Givan dan aku.


"Iya, iya. Nanti diobrolkan dulu sama mertua ya, RI?" sahut bang Givan dengan berjalan mengantar Fahri ke depan.


Aku memilih untuk bersandar menikmati sedikit kenyamanan ini. Perutku kosong, aku lapar, tapi aku kaku hati. Terasa sesak, hingga menelan air putih saja terasa sulit.


"Kenapa kau?" Aku mendapat tepukan di bahuku.


"Capek, Bang " Aku mengulas senyum.


"Baru segitu beban kau, Far. Belum kek aku, enam anak orang aku biayai juga. Heran aku, istri-istri almarhum itu tak nikah-nikah." Bang Givan duduk di tempatnya lagi.


Sepertinya, itu adalah anak almarhum operator alat berat yang mengalami kecelakaan kerja yang dibuat oleh ibunya Jasmine.


"Aku kan sendirian, Bang." Aku memperhatikannya, yang malah rebahan di atas sofa panjang itu.


"Lah, memang Abang dibantu orang lain? Abang kau juga sendirian kali." Bang Givan malah menguap lebar, "Belum lagi bantuin kerjaan kau." lanjutnya kemudian.


"Eh, keluar aja yuk? Ngopi, nongkrong. Biar agak seger dikit." Bang Givan buru-buru bangkit dan hendak beranjak.


"Di sini aja lah, Bang." Usulku cepat, agar bang Givan berbalik ke sofanya kembali.


Perutku kosong. Aku terakhir makan itu di pesawat, sembilan jam yang lalu.


"Buat kau aja, Bang. Aku tak usah buat, perut aku kosong." tolakku halus, karena aku anti minum kopi dalam keadaan perut kosong.


"Loh?" Bang Givan menyatukan alisnya.


"Kenapa, Bang?" Aku ikut bingungnya.


Bang Givan menggeleng, lalu ia melangkah masuk ke dalam ruangan lain. Aku ditinggalkannya sendiri di ruang tamunya. Padahal aku ingin bercerita tentang pekerjaanku di sana dan mantan pacarnya itu, ibu kandungnya Key. Belum lagi aku ingin bertanya perihal informasi perusahaanku. Biar esok aku bekerja, aku sudah tahu hal-hal apa saja yang harus aku kerjakan.


Namun, Canda muncul dengan kain jarik yang menutupi kepalanya. Tetapi tetap saja, tangan mulusnya mengintip di balik kain jarik tersebut. Canda menggunakan daster tanpa lengan, dengan kain jarik seribu motif itu.


Aduh, kakak ipar games. Aku ingin menggigit lengan seputih kapas itu.


"Makan nih, Far." Ia menaruh nampan yang ia bawa di atas meja ruang tamu.


Aku melirik ke arah nampan tersebut, "Makasih, Canda." ucapku kemudian.


Ada sayuran mentah, seperti ketimun utuh dan kol yang sudah dikuliti satu persatu. Ada juga ayam tangkap dan juga sambal.

__ADS_1


"Mas Givan di belakang, lagi ambil nasinya. Aku tinggal ya?" Canda berbalik badan dan melangkah pergi kembali.


Aku tiba-tiba ingin, karena melihat part belakangnya yang melambai-lambai. Canda menggoda iman sekali, padahal tengah hamil. Berdosakah aku, karena ingin rasanya mengambil mantan kekasihku kembali? Tapi suaminya amat baik padaku. Aku takut disantet nantinya.


"Ayo kita makan. Nanti ngopinya, biar Ria yang buat." Bang Givan muncul dengan wadah penanak nasi dan segelas air dalam teko.


"Ra, anak Yayah. Mana tadi gelas yang Yayah minta." Seru bang Givan, dengan menurunkan barang bawaannya di atas meja.


"Ya, Yayah. La atang." Suara centil itu semakin mendekat.


"Piring yang warna hijau sama kuning itu, Ra. Yayah susah bawa tadi. Tolong ya ambilkan?" Bang Givan langsung menyambut gelas plastik yang anaknya bawa.


"Ya, Yayah." Anak berdiapers itu lari kembali ke dalam.


Anak usia dua tahun lebih bisa diberi perintah?


Hingga tidak butuh waktu lama, kami makan bertiga di ruang tamu ini. Seperti pendorong n*fsu makan, Ra mood booster untukku di sini.


Kadang ia bisa menyebalkan, kadang ia bisa menggemaskan seperti ibunya. Kadang juga bisa berubah galak seperti ayah. Aku jadi ingin memiliki anak perempuan lagi.


"Yayah, La di pinto." Ra turun dari sofa.


"Jangan di luar sendirian ya? Di pintu aja ya?" tutur ayahnya, setelah menelan makanannya lebih dulu.


Aku memutar leherku, memperhatikan Ra yang menggerogoti kepala ayam sembari bersandar di daun pintu tersebut. Ra sudah seperti satpam.


"Makan banyak-banyak, kek waktu sama Fira. Kau di sana makan lahap sama dia, di sini kau makan sampai ke Abang kau dulu. Tak boleh gitu lah sama istri, kasian Novi." Bang Givan memotong ujung ketimun dengan giginya.


Perasaan Fira tidak mengunggah foto bersama kami. Eh, tidak tahu juga. Tapi aku tidak berfoto bersamanya saat makan bersama di kamar itu. Apa Fira mengadu pada bang Givan? Apa Fira juga menceritakan ketidaksengajaan saat di kamar tersebut?


Jika sampai ke telinga Novi bagaimana? Pasti pikirannya bercabang. Pasti ia mengira aku selingkuh di sana.


...****************...


Carilah nang balu, jangan cari nang bujang. Marganya nang bujang, balum lihai di ranjang : Carilah yang janda, jangan cari yang perawan. Karena yang perawan, belum lihai di ranjang.


Napa Abang kaitu : Kenapa Abang begitu.


Ikam hudah kagatalan ah : Kamu udah gatal kah.


Nah kada kaitu, tapi mun kada manarima lamaran nintu pamali. kaina Ulun bisa kada payu-payu : Ya bukan gitu, tapi kan menolak lamaran itu keramat. Nanti aku bisa gak laku-laku.


Kaina Ulun bapandir dahulu. Lakasi Ikam masuk ka halam hulu : Biar Abang ngobrol dulu. Sana kau masuk ke dalam dulu.

__ADS_1


Inggih, Bang ai : Iya, Bang.


__ADS_2