Istri Sambung

Istri Sambung
IS59. Bertolak kembali


__ADS_3

"Aku maafkan, asal kita cari jalan keluarnya. Kita harus ikhtiar, Bang." Novi menatapku dengan genggaman tangan yang masih menyatu.


"Aku malu, Nov. Aku baru mau menjalani pemeriksaan waktu dulu, tapi urung karena prosesnya harus ada istri. Sekarang ada istri pun, aku tetap malu karena pasti dokternya mikir aku tak berfungsi buat istri aku." aku sudah patah semangat jika untuk berobat.


"Asal kau tau aja, Nov. Kau tetap bakal diminta kasih stimulasi, dengan arahan dari dokter itu. Tak ada dokter aja, kau tak mau. Apalagi ada dokter, pasti kau tambah sungkan." aku masih teringat pesan dokter pada cerita Belenggu Delapan Saudara.


"Masa? Memang tak bisa pakai obat?"


"Kau kira aku demam, yang bisa diredakan dengan Parasetamol?" aku menurunkan kakiku dari ranjang.


Lelah sekali, aku merasa tulangku begitu lemas setelah mimisan. Rasa panas yang memuncak di kepala, tiba-tiba langsung didinginkan di air es.


"Abang ini tak semangat buat sembuh."


Heh?


Malah ia yang meninggalkanku ke ruangan lain.


Apa aku terlihat tidak semangat untuk sembuh?


Aku merasa tidak juga, Novi saja yang salah tanggap.


Novi sepertinya bukan orang yang gampang percaya, jika tanpa bukti yang nyata.


Apa sebaiknya, aku memintanya menemaniku ke dokter khusus terapis keluhanku ini? Dengan dokter tersebut menjelaskan sendiri padaku dan Novi, mungkin akan membuat Novi percaya.


Tapi bagaimana dengan biaya pemeriksaannya? Itu bukan nilai yang sedikit. Sedangkan aku adalah pekerja di perusahaanku sendiri.


Baiknya aku membicarakan usahaku nanti dengan bang Givan, agar ia bisa menyarankan step untuk usahaku. Karena travel pun terlihat tidak berkembang, malah banyak mobil yang dijual karena rusak. Aku harus memikirkan ini semua. Agar biaya pendidikan anak-anak aman, biaya hidup aman, biaya perawatan Novi aman dan juga biaya pengobatanku aman.


Ya, mulai hari ini aku harus ada perubahan lebih baik untuk kedepannya. Aku sekarang memiliki istri, yang jenisnya tidak sama seperti Kin. Aku harus mengarahkannya lebih keras, agar ia tidak berpikir bahwa aku tidak bersikap baik padanya.


Tepatnya, aku hanya memberikan Novi tempat untuk berlibur. Karena, aku lebih banyak beristirahat di villa. Jika aku masih dekat dengan Tika, aku ingin memintanya membuatku ramuan Bali saja. Sayangnya, Tika dan aku berstatus ipar sekarang. Ada jarak, yang membuat kami menjadi kurang akrab. Ada perasaan yang harus dijaga.


"Serius, kita pulang lebih cepat?" tanya Novi, saat kami sudah berada di mobil kembali.

__ADS_1


Aku mengangguk, "Mau tak mau, Nov. Biar aku ada istirahatnya, sebelum mulai rutinitas." aku mulai menginjak pedal gas perlahan.


"Masih sakit kah? Biar aku yang nyetir ya?"


Aku menggeleng, "Aku mampu, Nov. Biar kalau aku capek, aku bisa istirahat dulu."


Namun, saat melewati cabang kedai kopi keluarga kami. Aku teringat, akan ayahnya Novi yang memiliki banyak cabang kedai kopi.


"Nov, kau tak megang salah satu kedai punya ayah kau?" tanyaku kemudian.


Aku hanya ingin tahu, bukan meminta bagian.


Novi menoleh ke arahku, "Diambil alih sama pak wa. Eh, papah Adi."


Benarkah?


"Buat jaminan makan kau tiap hari kah?"


Tapi aku merasa, orang tuaku bukan orang yang menuntut masalah makanan dan tempat tinggal. Kak Aca dan anaknya saja, masih berada di rumah mamah.


Aku tidak suka dengan kuku berwarna itu.


"Kau tak sholat, Nov?" aku ingat, jika kutek dilarang dibawa sholat.


Novi menunjukkan kukunya, "Ini peel off, bisa dikopek." Novi melepaskan satu warna di kukunya.


Alhamdulillah, setidaknya ia tidak menambahkan dosa untukku karena tidak sholat.


Aku meraih tangannya, menggenggamnya dan memberinya senyum manis.


"Yang rajin ya sholatnya." ucapku kemudian.


"Kalau sholat, aku memang sholat wajib. Tapi sunah, seumur-umur tak pernah kecuali pas teraweh."


Ternyata, masalah agama Kin dan Novi memiliki kesamaan. Bahkan, dulu Kin tidak terbiasa sholat lima waktu. Aku tidak menyalahkan keimanannya, karena ia tumbuh di lingkungan yang agamanya tidak begitu kuat. Mungkin juga, karena didikan orang tuanya yang tidak begitu mengedepankan ilmu agama.

__ADS_1


Itu masing-masing perorangan, aku tidak menyalahkan mereka.


"Perawatan kau apa aja?" aku mengendarai mobil cenderung pelan, karena sembari mengobrol.


"Tergantung kebutuhan sih. Memang kenapa, Bang? Kulit aku kasar ya?"


Aku tidak ingin membuatnya tersinggung. Tapi jika untuk tekstur dada, Novi lebih menang dari Kin. Namun, jika untuk pemandangan wajah. Ya Kin terlihat lebih licin. Mungkin karena Novi berani mendempul wajahnya, membuatnya terlihat kurang natural menurutku.


"Skincare rutin apa aja? Apa ada yang habis?" tanyaku kemudian.


"Biasa sih. Facial wash, toner, serum wajah, serum mata, serum bibir, krim wajah, sunscreen, face mist. Terus riasan wajah. Cushion, blush on, concelar, contur, highlighter, eye shadow, eye brow pensil, eye liner, maskara, glitter, lipstik, terus macam-macam lip cream lainnya. Mau belikan semua kah?"


Aku jadi bingung sendiri. Kenapa Novi bisa hafal sebanyak itu?


"Belum lagi masker wajah, mata, mulut. Belum hair care, body care gitu."


Wah, ternyata masih banyak lagi ya?


"Apa tak ribet, Nov? Aku belikan dulu, daily skincare aja ya? Pewarna wajah, aku kurang suka liat kau pakai. Memang cantik, tapi lebih suka kau nampak fresh dengan skincare aja. Sama nanti, aku pilihkan sensitive care ya?" aku menoleh sekilas padanya dengan menyunggingkan senyum.


"Eummm…. Punya aku bau ya?" Novi terlihat memasang senyum kaku.


"Tak bau juga. Tapi perlu dijaga juga." ini adalah hal yang sering Kin ucapkan.


"Tapi aku kan, belum diapa-apain."


Iya juga sih.


"Tak apa."


"Apa biar bau khas daerah sensitive aku, sama baunya kek Kin?"


Aku langsung menepi. Pembicaraan ini, cukup memancing unek-unekku.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2