Istri Sambung

Istri Sambung
IS130. Bangku di bawah pohon


__ADS_3

"Galak betul kau, Nak!"


Aku bisa melihat bang Ken yang mundur beberapa langkah dari tempat Chandra.


"Aku bukan galak, aku tak suka adik aku diganggu. Tak diganggu aja berisik, ini lagi berani ganggu!!" Chandra sampai ngotot-ngotot.


Tapi benar juga sih. Ra tak diganggu pun rewelnya tidak tertolong, apalagi jika diganggu.


Bang Ken tertawa lepas. "Pak Wa cuma say hay aja, adiknya cantik banget soalnya. Masa sapa aja tak boleh?" Bang Ken maju beberapa langkah, kembali mendekati Chandra yang membawa sapu lidi.


"Tak boleh pegang kepala! Tak sopan loh!!!" Chandra kembali membentak.


Bang Ken mengurungkan tindakannya. "Oke-oke, maaf." Bang Ken membentuk huruf O dengan jemarinya.


"Adeknya suruh cuci tangan dulu itu, Bang," seru papah, yang tengah menggulung selang air.


"Ayo, Dek." Chandra mendekati adiknya, kemudian merangkulnya menunju ke keran air.


Abang yang sayang adik dan tidak suka adiknya berisik.


"Ehh, ada di sini kau rupanya." Sapa bang Ken, ketika melihatku berjalan ke arahnya.


"Ya, Bang. Lagi nengok anak-anak." Aku langsung memeluknya sekilas dengan menepuk pundaknya.


Tidak berpelukan lebay seperti perempuan, tidak juga cipika-cipiki geli.


"Masih dua kah anak kau?" Bang Ken merangkulku.


"Ya, Bang. Dua dulu lah." Aku terkekeh kecil.


"Ra pulang dulu lah! Mau maghrib ini loh!" Chandra meneriaki adiknya yang masuk ke dalam rumah neneknya.


Chandra ternyata bisa mengemong adiknya juga.


"Anak Givan itu pasti. Alisnya udah nampak kek ayahnya." Bang Ken menunjuk Chandra yang berlari masuk ke dalam rumah, sepertinya ia akan memaksa Ra untuk pulang.


"Iya, dua anak tadi itu anaknya," sahutku dengan terkekeh.


"Kentara betul wajah tidak ramahnya."

__ADS_1


Papah sampai tertawa lepas. Sepertinya, papah mendengar juga ucapan bang Ken barusan.


"Cucu kesayangan loh dua itu tuh." Aku menunjuk arah pintu rumah.


Dari sini terlihat Chandra yang tengah menarik-narik tangan Ra.


"Padahal dari anak sambung." Bang Ken langsung menutup mulutnya.


Memang orangnya suka ceplas-ceplos.


"Kan kasusnya satu ibu." Papah menimpali dengan urat masam.


Iya juga, karena ibu lebih berkuasa. Ini menurutku.


"Sini coba!" Papah menepuk bangku panjang di bawah pohon mangga ini.


Aku dan bang Ken berjalan ke arah papah. Kami duduk, dengan mengapit posisi papah. Seperti di angkot perkotaan.


"Pah, Kaf jatuh di mana? Sikunya lecet," tanyaku membuka obrolan.


"Di ladang, pulang sekolah papah bawah ke ladang. Chandra belum balik soalnya, Zio ke dokter cek gigi, jadi dia tak ada kawan jantannya. Pengennya main sama yang jantan aja katanya. Yang betina, ya sama betina." Papah menegaskan kata jantan dan betina.


"Bunga pun sama, kalau ada temen kompleks laki-laki tuh. Didorongnya, disuruh pergi." Dari pernyataannya, bang Ken terlihat tengah merindu.


"Bunga sama siapa, Bang? Sama kau kah kak Riska?" ucapku sambil mengingat kembali mantan istri bang Ken.


Mantan istrinya itu adalah perempuan yang sama, saat Canda mengajak kami berlibur ke Bali. Riska Aprilia, wanita yang tidak kalah cantiknya dengan Kin selaku adik iparnya itu. Bang Ken putus nyambung dengan kak Riska itu, sudah lebih dari lima tahun. Terakhir saat putus itu, ketika aku dan bang Ken tinggal di Bali selama tiga tahun. Aku memulai usaha travel, dengan dirinya yang menjadi dokter praktek di sana.


Namun, ternyata para akhirnya mereka menikah juga. Mereka menikah, saat Kin tengah mengandung Kaf, anak keduaku.


"Sama Riska, dia belum nikah lagi. Tapi sulit betul nemuinnya, nanyain kabar anak pun susah. Kalau ke rumahnya, selalu tak ada orang. Entah ngumpet atau bagaimana, tapi tak pernah ditemui." Bang Ken terlihat murung.


Biarpun abi Haris tampangnya biasa saja, bahkan berpostur kurang tinggi. Tapi, wajah bang Ken cenderung tante Sukma. Tinggi juga semampai denganku, karena tante Sukma yang memang cukup tinggi. Bisa dibilang, bang Ken cukup tampan. Dibandingkan kami semua, bang Ken urutan kedua soal tampan setelah bang Givan.


Tapi nyatanya pun, di antara kami semua. Pernah meninggalkan riwayat bercerai, atau ditinggal sepertiku.


"Orang ketiga ya?" Pertanyaan papah, sepertinya mengacu pada penyebab perceraian.


Bang Ken mengangguk. "Joji rilis lagu lah ini penyebabnya. Mantan juga, mantan masa SMP, Pah. Entahlah, mungkin akunya aja yang memang sulit move on."

__ADS_1


Hah?


Eh, oh iya. Aku memiliki sedikit clue untuk novel Canda. Tidak jauh berbeda, novel Canda pun sedikit mengambil dari lagunya Joji. Iya, yang viral di Tiktok itu. Di mana si laki-lakinya belum bisa melupakan mantan kekasihnya, meski raganya tengah bersama kekasih barunya. Tapi, di novel Canda hanya mirip. Entah benar-benar pure dari lagunya Joji ya. Kita tunggu kabar selanjutnya di sosial media author.


Jika penasaran, harap follow sosial media author. Karena kemungkinannya, novel tersebut akan pindah tempat. Baru kemungkinan saja, bukan kabar sebenarnya. Judulnya pun, sudah rilis di sosial media author.


"Kok penyebabnya Joji? Kenapa nyalahin orang?" Kulit hidung paling atas yang sejajar dengan ujung matanya sampai berlipat, jika papah tengah menatap dengan serius.


"Karena penyebab putus nyambungnya antara aku sama Riska dulu pun, ya karena mantan terus. Tapi pas Joji rilis lagu tentang mantan itu, si Riska mulai lagi nih ungkit-ungkit. Nah, posisinya pun aku juga lagi lancar chatting sama Aura. Aura ini, ya mantan aku masa SMP. Dia ditinggal suaminya, janda ditinggal mati. Dia ada anak dua, perempuan semua. Jadi ya, kek pas betul timingnya. Riska langsung proses aja, mentang-mentang dirinya sekarang udah punya usaha sendiri, udah tak butuh nafkah dari aku. Tau begitu kejadiannya, sungkan betul aku kasih istri modal, biar aja dia bergantung ke aku. Punya pendapatan sendiri itu, malah menggampangkan suami. Aku ada deket sama mantan yang posisinya aku belum bisa lupain dia juga, aku tak berniat buat ninggalin Riska, ataupun nikahin si Aura juga," ungkapnya dengan mengisyaratkan tangannya ke sana ke mari.


Jujur aku tidak percaya, bahwa sekelas bang Ken pun tidak mampu melupakan mantan kekasih. Padahal, masuknya itu hanya cinta monyet.


"Sekarang kau mau nikah sama?" Papah begitu serius menatap bang Ken.


"Sama Aura," jawabnya lurus sekali dengan ceritanya, "Tapi, abi sama umi mulai. Hanya gara-gara, tak berhijab. Yang lebih bikin umi enggan kasih restu, karena si Aura ini sedikit tomboi." Bang Ken membuang nafas panjangnya.


"Dia suka laki-laki atau perempuan, Bang?" timpalku dengan menyobek tidak karuan, daun mangga yang jatuh di atas kakiku.


"Menurut ilmu yang aku punya, dia suka laki-laki. Cuma kan, aku dulu kan pelaku nih. Jadi, dia punya trauma hal itu. Dia itu, kek tak mau menunjukkan sisi feminimnya, biar tak jadi korban lagi."


Pemerkosaan lagi?


Anak SMP?


Kenapa perempuan selalu menjadi korban?


Tapi, bang Ken pun menjadi korban karena rasa ingin tahunya. Aku yakin, bang Ken hanya penasaran saja. Bukan benar-benar ingin merenggut dari Aura itu.


"Soalnya nih, dulu itu dia feminim betul. Rambut panjang lurus, pakai jepit rambut, atau bandana. Sejak putus sama aku, aku nampak lah perubahannya. Dia tak pernah punya rambut panjang, hoddie terus, celana gembyong terus, kaos longgar. Kek menyamarkan auratnya, yang menonjol dari dirinya gitu," lanjutnya kemudian.


"Gila……


...****************...


Ig : anissah_31


fb : Anissah


Dengan foto profil yang sama seperti di profil Noveltoon ini.

__ADS_1


__ADS_2