Istri Sambung

Istri Sambung
IS118. Pilunya anak-anak


__ADS_3

"Nanti coba aku tengah-tengahi, Pah. Aku mau minta saran, Pah. Aku kan sekarang lagi pengobatan, Pah. Tapi belum ada hasil. Papah punya saran tabib tak buat aku?" Aku sebenarnya ragu-ragu untuk sharing tentang ini. Masalahnya, aku malu.


"Pengobatan apa?" Pandangan papah menjurus ke semua tempat, beliau tengah memperhatikan sekitarnya.


"Yang kek dulu, Pah." Aku malu untuk mengatakannya.


"DE? Kau masih mengidap itu? Kau belum pernah berhubungan sama Novi?" Papah langsung menyorotiku.


"Eummm, udah. Tapi susah bangun." Sebenarnya, ini bukanlah hal yang harus diumbar.


Tapi, aku menginginkan saran yang tepat.


"Tak pernah olahraga lagi ya?"


Aku memicingkan mataku, apa hubungannya dengan olahraga?


"Memang ngaruh?" tanyaku kemudian.


"Kalau aktivitas laki-laki itu, biasanya kuncinya olahraga. Aktivitas fisik gitu lah. Papah dulu pun sama, pas baru nikah sama mamah." Aku tidak percaya dengan pangkuan beliau. Jadi, masalahku ini karena garis keturunan kah?


"Tapi…. Papah bukan susah bangun. Papah tak tahan lama, sampai nyobain obat kuat oles gitu. Malu lah intinya, apalagi pengantin baru. Awalnya itu, mamah ngamuk, seharian minim komunikasi. Tapi, dimintalah untuk olahraga rutin. Terus, dikasih jamu-jamuan gitu. Ninggalin obat kuat, terus fokus olahraga sama jamu aja," lanjut beliau kemudian.


Aku menghela nafasku. "Lain, Pah. Aku kuat lama, tapi sulit bangun," jujur dengan suara menurun.


Sama saja memalukannya menurutku.


"Papah belum tau tempat tabibnya. Tapi nanti Papah cari informasinya." Papah mengusap-usap punggungku.


Aku mengangguk. "Ya, Pah. Makasih." Aku mencoba tersenyum.


Apa aku bisa menghamili istriku sendiri?


Terdengar isakan seseorang, membuat kami saling memandang sebelum akhirnya mencari sumber suara.


"Hei…. Kenapa, Tik?" Papah berjalan cepat menuju pagar rumah.


Papah langsung mengambil alih anak laki-laki yang Tika gendong.


Tika menggeleng berulang, ia menyeka air matanya kasar. Reflek aku merangkulnya, kemudian membawanya masuk ke dalam rumah.


"Kenapa nih?" Mamah berlari cepat dan memeluk Tika.


"Aksa sama Papa yuk?" Aku membawa anak sulung Tika dengan laki-laki lain.


Aksa menggeleng, ia tetap bergelayut di leher kakeknya. Usianya sudah sembilan tahun kalau tidak salah. Ia tumbuh normal, hanya saja kurang bersosialisasi dengan sekitarnya.


"Aku berantem sama Ghavi, Mah. Aku diminta pergi."


Mamah langsung terlihat murka.

__ADS_1


"Stay di sini. Mamah tau siapa yang harus pergi," cetus mamah membuatku merinding.


"Tapi, keluar talak kifayah itu, Dek." Papah terlihat bingung.


"Cerai, ya cerai sekalian." Mamah membawa Tika masuk ke dalam.


Aku mengalihkan pandanganku pada Novi dan Giska, mereka pun terlihat bingung.


"Kakek…. Ini apa? Kok cus-cus gitu."


Aku menoleh pada anak laki-laki yang baru masuk ke dalam ruangan ini.


"Astaghfirullah…." Papah menurunkan Aksa, beliau langsung menepis binatang yang berada di tangan kanan cucunya.


"Ya ampun, Fandi…." Giska langsung meraung heboh.


"Ulat bulu kau pegang! Bodohnya kau, Fandi!!!" Papah berganti menggendong cucu dari anak perempuannya itu, kemudian membawa masuk ke dalam.


"Fandi…. Kau tak pernah belajar kah, Nak? Abang kau polos juga, tak sebegitu bodohnya." Giska bergegas menyusul anaknya.


Pasti mereka akan mengobati tangan Fandi. Ada apa dengan Adi's Bird Family ini?


"Dibuang itu ulatnya, Bang." Novi menunjuk ulat yang sudah mengeluarkan cairan hijaunya.


Bisa-bisanya anak itu menggenggam ulat bulu sebesar ini? Apa ia tidak merinding?


"Tante, Meme mana?"


Saat aku masuk kembali ke rumah, Aksa sudah berada di sisi Novi.


Apa Ghavi tidak berpikir, bagaimana nasib kelima anaknya? Dua anak saja, aku memikirkannya sampai stress setengah mati. Apalagi lima.


Namun, aku tiba-tiba teringat dengan Canda. Bagaimana ia nanti menghidupi anaknya, ketika tidak bersama bang Givan kembali?


"Nov, aku ke Ghavi ya?" Aku menunjuk rumah Ghavi.


Novi mengangguk. "Tapi jangan ikut campur terlalu jauh ya, Bang?" pesannya dengan raut khawatir.


"Ya, Nov. Aku mau mastiin anak-anak aja." Karena ini yang ada di pikiranku.


Aku selalu memikirkan bagaimana anak-anak, jika orang tuanya tengah kacau seperti ini. Pasti mental mereka terguncang juga.


"Mau ke mana, Bro?" tanyaku, saat melihat Chandra melintas di depanku.


"Ngasih jajanan ke Ra, tadi dia tak ikut pasar malam. Aku belikan telur gulung, sama makaroni jagung manis." Chandra menunjukkan plastik yang ia tenteng. Cukup banyak juga bawaannya.


"Siapa yang belikan? Siapa aja yang ikut?" tanyaku kemudian.


"Akulah, aku abangnya. Para jantan aja. Aku, Zio, Kaf, tapi dianter kak Devi." Aku terkekeh mendengar pemilihan katanya.

__ADS_1


"Belinya banyak?" Aku mengambil alih plastik tersebut, lalu menilik di dalamnya.


"Banyak, tiga ribuan sepuluh. Semuanya serba sepuluh, entah buat siapa aja. Tapi lebih baik lebih, daripada rebutan jajanan."


Chandra cukup bijak juga. Ia tumbuh menjadi anak yang garang menurutku, padahal kecilnya ia baperan. Entah karena didikan ayahnya, yang selalu meninggalkannya di TK sejak seminggu bersekolah. Entah karena ia menjadi sulung, dari banyak adiknya. Ya memang Key yang sulung, tapi aku melihat Chandra yang lebih memimpin. Key sulung di keluarga kecil bang Givan, tapi Chandra menjadi sulung dari keturunan Canda.


"Sini, Pa! Aku mau antar dulu, nanti keburu maghrib. Aku mesti ngaji di masjid, karena biyung dibawa bos tambang lagi." Ia melanjutkan langkahnya tanpa beban.


Sedangkan aku, malah terkekeh seorang diri di pinggir jalan begini. Sudah bagaikan orang gila, tertawa-tawa sendirian.


Aku melangkah kembali ke rumah Ghavi. Kantor miliknya, yang berada di samping rumahnya pun terlihat begitu sepi. Seperti bangunan yang tidak terurus, jendelanya pun sampai berdebu tebal.


Tangisan anak-anak begitu memekakkan telinga. Aku segera bergegas, untuk masuk ke rumah berpagar tinggi tersebut. Aku khawatir dengan empat anak yang berada di sana. Bagaimana dengan mereka dan nasibnya?


"Run…. Ata…." Aku langsung memeluk dua anak perempuan yang menangis di depan pintu ini.


Pilu sekali menjadi mereka.


"Ada Papa, Nak. Jangan nangis." Aku mengusap air mata keduanya, kemudian menggendongnya di tangan kanan dan kiriku.


"Vi…." Aku masuk ke dalam rumah yang penuh dengan mainan anak-anak ini.


Bayangkan saja, lima orang anak dengan jarak umur yang dekat. Haduh, aku tidak bisa membayangkan stresnya jadi Tika. Kin jika marah pada anaknya pun, aku yang gila mendengar drama tangis mereka.


Ghavi hanya duduk saja di sofa ruang tamunya. Ia berpangku tangan, dengan mata yang amat merah. Kulit cerahnya, menunjukkan bahwa ia adalah keturunan Adi's Bird yang mirip dengan mamahku. Hanya dia dan Gibran, keturunan mamah dari papah yang warna kulitnya cerah. Jika bang Givan, jangan diragukan lagi. Ia fotocopy mamah, bahkan sifat jeleknya pun menempel.


"Meme…." Tangis lain berada di sudut ruangan lain.


Itu adalah suara tangis anak laki-laki.


"Vi…. Mereka bisa stress." Aku mengayunkan langkah kakiku, menuju ke dua anak kembar identik tersebut.


Ghofar dan Ghafur.


"Papa…." Dua anak itu langsung memeluk kakiku.


Bagaimana caranya aku menggendong dan menenangkan mereka?


Apa aku melemparnya dengan ketapel?


"Jalan ya? Papa gendong Runa sama Ata." Aku menunduk untuk bisa melihat mereka.


Dua anak kembar itu mengangguk, kemudian melangkah di samping kiri dan kananku.


"Mau ke mana, Bang? Mereka anak aku."


Oh, jadi maksudnya Aksa bukan anaknya? Lebih mending bang Givan, yang bahkan mengasuh Jasmine juga. Padahal jelas, ibunya Jasmine dipenjarakan olehnya. Ayahnya Jasmine pun, mantan suami istrinya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2