Istri Sambung

Istri Sambung
IS137. Bioskop Medan


__ADS_3

"Pernah pakai KB kah?" tanya Ghavi kemudian.


Novi menggeleng, wajahnya langsung murung. Ia iri mendengar kabar kehamilan Tika, yang baru ditiduri dua kali saja oleh Ghavi. Sedangkan dirinya yang rutin seminggu sekali sampai dua kali, belum juga mendapat kabar kehamilan.


"Sabar ajalah. Aku hamili pun, karena dalam misi ingin rujuk. Mungkin Yang Kuasa merestui inginku, karena niat baik untuk memperbaiki rumah tanggaku juga." Ghavi berpikir positif, dengan tindakan salahnya.


"Rezeki namanya itu, Nov. Rezeki orang itu masing-masing. Ada yang cepat dikasih anak, ada yang ekonominya stabil, ada juga yang diujinya ekonomi. Ada yang tentang ipar dan mertua, ada juga yang diujinya tentang watak pasangan. Mungkin kita belum dikasih kepercayaan itu, sabar aja." Aku mengusap-usap lengannya.


Dulu, aku belum menginginkan untuk Kin hamil. Karena Kin belum lepas dari rokoknya, malah diberi kepercayaan untuk memiliki anak. Was-was luar biasa, saat istri mengandung tetapi tetap meminta jatah rokok.


"Betul, Bang. Aku pinjam, Bang. Kurang modalnya, sama buat pegangan besok." Ghavi cengengesan.


"Buat usaha apa kau kemarin?" Aku melanjutkan memakan isi piringku yang tinggal berapa suap lagi.


"Pupuk, Bang. Ambil dari kawan-kawan lama, tangan pertama lah. Terus jual ke papah, ke Zuhdi, ke mangge, ke orang-orang sini juga, dengan harga langganan mereka. Tapi labanya, aku gunakan untuk memperbanyak stok dan kasih ke mamah untuk biaya makan anak-anak dan Tika. Aku ingat mendiang Noy, yang perusahaannya jadi distributor sukses di Singapore itu. Berhubung belum punya modal besar, aku jangkau aja ke keluarga sendiri dulu. Sebenarnya sih labanya tipis, karena papah kan beli dalam jumlah banyak, otomatis lebih murah. Sepuluh karung, aku ambil lima ribu pun tak tentu juga. Pikir aku, yang penting ini duit bisa mutar dulu aja. Lagipula, papah tak hutang juga beli pupuknya. Tak kek kau, setor kalau panen aja," sindir Ghavi dengan melirikku.


Aku tertawa lepas, kemudian meredanya langsung karena dilirik oleh Novi.


"Tapi aku bayar pupuk setiap bulannya kok," timpal Novi cepat.


"Kan macam-macam, Kak. Ada yang untuk tanahnya, batang, atau hama. Yang dia bayar tiap bulan itu, ya buat batang biasanya. Karena kalau tiap kali panen, pasti lonjakannya besar betul." Ghavi pun memiliki ladang, jadi pasti ia mengerti.


"Papah sih lagi peremajaan juga ladangnya, ya butuh banyak pupuk," tambahku dengan menyelesaikan suapan terakhir ini.


Alhamdulillah, akhirnya selesai dan kenyang juga.


"Betul, makanya aku mikir udahlah pupuk aja. Sampai habis pupuk di langganan papah itu, bukan main kan, lima puluh hektar peremajaan. Aku ambil di kabupaten sebelah, untungnya kawan aku mau antar barang juga. Jadi beli dalam jumlah banyak, bisa diantar ke tempat tujuan juga. Jadi aku tak keluar biaya, untuk bayar akomodasinya."


"Berarti kau ini kek calo gitu ya?" ujar Novi dengan menunjuk Ghavi.


"Ya bisa jadi. Pokoknya kek gitu cara kerjanya." Ghavi menggulirkan pandangannya ke arahku. "Tiga puluh juta lagi, Bang. Biar genap lima puluh," ungkapnya serius.


"Kok aku tak tau, kalau Ghavi pinjam uang ke Abang?" Novi mengerutkan keningnya.


Harusnya tak ia katakan di depan Ghavi.

__ADS_1


"Aku nanti balikin juga, Kakak Ipar. Kau tenang aja." Jika tidak punya uang, memang sesensitiv itu.


"Iya ngerti, Vi. Cuma suami aku aja yang mulutnya alot, tak pernah cerita. Nanti, bisa-bisa nikah lagi tak ada ngomong dia." Novi tersenyum kecut.


Masalah lagi.


"Nikah lagi ngapain bilang-bilang? Masa iya ngacauin rumah tangga sendiri, minta izin segala." Jadi begini pola pikir Ghavi bisa sampai ia memiliki istri siri tanpa sepengetahuan Tika.


"Nanti sih suami aku jangan main sama kau lah, Vi! Nanti malah ketularan nikah ngumpet-ngumpet lagi." Wajah tidak bersahabat Novi tidak bisa disamarkan.


Ghavi tertawa lepas. "Setelah ini pun aku tak bakal ulangi, udah pengalaman." Entah bersungguh-sungguh atau hanya di mulut saja.


"Bentar ya aku ambil HP dulu." Aku beranjak dari tempatku.


Setelah mengirimkan uang padanya, Ghavi langsung pamit. Aku jadi memikirkan bagaimana caranya Tika mengurus anak, ketika dirinya mengandung kembali seperti ini. Bagaimana juga rumah tangganya, setelah ada masalah seperti ini. Maksudku, cara Ghavi memperbaiki rumah tangganya agar ia memiliki banyak waktu dengan istrinya.


"Bang…. Lain kali tuh bilang coba kalau minjemin uang. Abang tuh kek tak nganggap aku." Novi menatapku dengan wajah cemberut.


"Iya, maaf ya?" Aku mendekatinya yang berada di tengah ranjang.


"Jangan diulangi!" Novi menarikku untuk lebih dekat.


"Ke mana?" Novi mengusap-usap tanganku yang hinggap di atas perutnya.


"Ke Medan yuk? Nonton bioskop," usulku kemudian.


Namun, Novi malah tergelak lepas.


"Jauh-jauh ke Medan, cuma buat nonton bioskop." Tawanya begitu renyah.


"Ya memang kenapa? Nginep di sana, di Oyo. Ngemall, belanja-belanja, club, wisata di sana juga." Aku manaik turunkan alisku.


"Tak mabuk aja loyo, apalagi nanti mabuk," ledek Novi.


Aku tergelak lepas. "Mati suri nanti." Tawa kami membaur.

__ADS_1


Hingga sampailah esok siangnya, kamu sudah berada di Medan.


Ayo kita berburu Oyo dengan fasilitas terbaik dan terjangkau.


Setelah mendapatkan kamar hotel, kami beristirahat satu jam. Sebelum akhirnya, kita langsung memperdebatkan tentang film yang akan kita tonton di bioskop.


"Logat Abang beda di sini." Novi berbisik dengan terkekeh geli, saat kami memasuki area mall.


"Logat kau pun aneh." Aku meledeknya kembali.


"Aku penasaran sama pasar yang viral harga kaos lima ribuan itu, Bang. Wadah dada juga, katanya obral lima ribuan. Kaki lima gitu, di pinggir jalan. Tapi sampai padat pembeli betul." Kami mulai mengelilingi mall ini sebelum akhirnya masuk ke area bioskop.


"Kenapa?" Aku menariknya, yang tiba-tiba mogok melangkah.


"Kita balik aja deh." Aku membaca raut takut di wajah Novi.


Kenapa dengannya?


"Aku pengen betul, terakhir nonton itu di Bali."


Kalian pasti sudah tahu kan, jika di provinsi Aceh tidak ada bioskop? Ya, sejak muda pun kami tidak terbiasa dengan bioskop juga. Hanya saja, kali ini aku begitu penasaran pada spoiler film tersebut yang berceceran di sosial media.


"Di bioskop lain aja."


Aku menoleh ke arah pintu kaca yang terbuka lebar itu. Dari sini pun terlihat begitu jelas aktivitas di dalam sana, karena disekat dengan kaca bening.


"Ada apa di bioskop itu?" Aku berpikir ia melihat setan di sana.


"Tak ada apa-apa."


Kecurigaanku menjurus ke arah lain.


Aku menahan tangannya. "Jujur! Ada apa?" Aku memperhatikan matanya yang sering melirik ke dalam bioskop.


"Udahlah, Bang. Tak perlu tau. Lebih baik ikut saran aku aja, ayo kita ke tempat lain." Novi masih berusaha membawa tubuhku untuk bergerak ke arah lain.

__ADS_1


"Jujur, ada apa?! Aku tak suka ya kau tiba-tiba begini." Aku mendelik tajam padanya.


...****************...


__ADS_2