
"Kau tak tau memang ke mana kau, Kakak Ipar?" tanyaku mengarah pada Canda.
"Aku ngajar ngaji, Novi di rumah sama Mas Givan," sahut Canda dengan menunjuk ke arah luar.
"Kau tak takut suami kau mesum sama Novi?" Aku hanya mengisengi Canda.
"Sekalipun memang ada mesum, aku pasti bakal bilang." Bang Givan menyahutinya begitu enteng.
"Aku bahkan tau daftar nama perempuan yang dinodainya."
Mataku membulat dengan mulut membentuk huruf O. Aku tidak menyangka, hubungan mereka sudah berada di titik saling terbuka dal segala hal. Meskipun itu adalah masa lalu.
"Cuma tentang Ai yang bikin aku pusing tak jelas. Semoga dia tak muncul di season 2 novel aku nanti." Canda murung dengan menempelkan pipinya pada lengan suaminya.
"Si Demplon, Bang?" Aku terkekeh sengaja mengisengi Canda.
"Bahan c*li kau sama adik-adik kau itu sih." Bang Givan memutar bola matanya malas.
Kami pernah membahas lekuk tubuh dan tekstur perempuan yang dimaksud. Memang langsung mumet di kepala, apalagi aku yang tidak bisa merasakan pelepasan.
"Tidur gih, Canda! Kaki kau bengkak gini, besok ke dokter lagi." Bang Givan menyentuh paha istrinya yang terlapisi baju daster panjang itu.
"Kin juga pernah begitu, waktu hamil Kaf," tambahku kemudian.
__ADS_1
Bang Givan menoleh ke arahku, "He'em, orang hamil banyak yang begini. Canda tuh ada aja. Hidupnya berkecukupan, malah setiap hamil ada aja masalahnya. Dulu kekurangan, alhamdulilah mulus mujur terus. Yang sekarang bikin panik aja, segala kesetrum." Bang Givan membenahi anak rambut Canda yang keluar dari kerudungnya.
"Gih tidur." Bang Givan membantu Canda bangun, dengan menyangga lengan Canda.
"Ya, Mas. Mau main HP dulu, awas Ra ya?" Canda melangkah meninggalkan ruang tamu.
"Ya." Bang Givan menyangga punggungnya dengan bantal sofa. Lalu, ia mendorong punggungnya ke belakang.
"Kalau ada Kin sih minta resep obat. Sebulan ini tuh sering sakit punggung, reda kalau minum Neuro*ion Biru aja," ujarnya di sela aktivitasnya itu.
"Dipijat aja, Bang," saranku kemudian.
Ia manggut-manggut. Kami diam sejenak, pikiranku bercabang ke mana-mana. Karena bang Givan pun, seperti ragu-ragu untuk mengatakan sesuatu padaku.
"Aku tak enak ngomongnya, Far." Ia menyugar rambutnya ke belakang.
"Apa…. Abang kau sama Canda, mesti keluar dari kampung ini?"
Aku langsung mengerutkan keningku, mendengar ucapannya tersebut. Apa hubungannya denganku dan Novi, dengan mereka keluar dari kampung ini?
"Kenapa memang?" tanyaku kemudian.
"Novi ada cerita, tentang kau yang bilang ke Novi kalau Canda harus ada di jangkauan mata kau. Kau adalah orang pertama, yang bakal bantu Canda kalau kesusahan. Kau pun bakal nentang istri kau, kalau berani ganggu niat kau untuk kehidupan Canda. Kau pun tak mau Canda kesakitan atau kenapa-kenapa." Bang Givan mengatakannya dengan amat perlahan dan terpotong beberapa kali.
__ADS_1
Aku mencoba rileks. Aku tidak boleh ketahuan, karena hubungan baikku dengan mereka pasti menjadi taruhan.
Aku terkekeh kecil, "Siapa orangnya yang mau, kalau saudara kita kesakitan atau dapat kemalangan? Hal wajar aja lah, Bang. Saling membantu. Novi cuma cemburu, gara-gara aku ngeduluin Canda ke rumah sakit. Daripada antar dia ke pasar. Kan menurut aku, kasusnya ini lebih penting Canda. Karena darurat gitu kan? Dua nyawa jadi taruhan. Masalahnya cuma itu, tapi Novi perbesar dan ungkit-ungkit yang udah-udah. Jangan telan mentah-mentah lah, Bang!" ungkapku dengan memamerkan senyum.
Bang Givan manggut-manggut, "Tapi kalau dipikir kembali, yang Novi bilang itu betul. Kau kek belum bisa ikhlas gitu, kek belum move on. Soalnya Abang juga masih ingat, kau adalah orang pertama yang bantu Canda pergi dari rumah. Waktu kejadian Nadya itu. Terus, kau bawa balik Chandra yang entah di bawa ke mana sama ibunya. Dengan begitu, otomatis Canda akan kembali untuk ambil anak. Karena di pikiran Canda masa itu, aku adalah ayah yang buruk untuk Chandra. Meskipun dia tau, ada kau yang ngurus Chandra. Tapi kan, kasarnya ini kau orang lain, kau tak ada hak dan kewajiban penuh, karena Chandra masih punya orang tua lengkap. Lepas itu, kejadian yang pulang dari Brasil itu. Keluarga bilang, Ghifar lagi nenangin diri. Tapi, kau hubungi Abang kalau kau bakal pulang sama Canda. Laki-laki dan perempuan, yang mungkin nginap di satu tempat. Ini Abang udah nebak bakal gimana. Nyata kan? Canda hamil, terus kau dikira ayah dari kandungan Canda. Terus fakta baru mengejutkan, Canda punya suami ternyata. Entah Canda, Kin, atau siapa gitu pernah ada bilang. Dia bilang, kau mau jadikan Canda istri kedua. Lepas dari kejadian itu semua, masa Canda sakit keras karena jualan seblak. Kau itu selalu ada, dengan alasan nganter makanan untuk Canda. Ditambah lagi, istri kau sendiri yang buatkan." Bang Givan menjentikkan jarinya, "Ah iya, Kin sendiri yang bilang. Karena dia dokter, kau minta dia untuk bantu Canda biar cepat pulih. Itu aku nanya langsung ke Kin lewat telepon. Karena aku chat sama Canda, dia ada bilang kalau Kin yang ngurus makanan dia. Ditambah, keluhan Novi dengan air matanya. Menurut Abang, ini ada benarnya kalau dilihat dari bukti yang Abang sebutkan tadi. Masuk akal tak? Iya dong, masuk akal menurut Abang sih." Sorot matanya mengintimidasi.
Yang awalnya aku rileks dan masih bisa menyamarkan dengan senyum. Kini, aku seperti tersudutkan dengan bukti yang nyata.
Pantas saja bang Givan mampu mengemban sepuluh usaha besar, meski ada beberapa yang atas nama anaknya. Ternyata, cara berpikirnya begitu luas dan mendalam.
"Cuma kebetulan aja, Bang." Aku mengusap keringat ketegangan ini.
"Ck…." Bang Givan menggeser posisi duduknya, kemudian memutar lehernya ke kiri dan kanan.
"Kau hanya perlu ngaku dan jujur. Terus kita cari jalan keluarnya sama-sama. Karena bukan hanya rumah tangga kau yang dipertaruhkan, aku pun tak enak hati karena Novi pasti jadi benci sama Canda. Yang jadi Candanya sih, enjoy aja dia, yang penting uang megang dan kuota ada." Alisnya menyatu dan terlihat menyeramkan.
Bang Givan seperti menahan amarahnya. Bagaimana aku akan jujur, dengan ekspresinya yang begitu? Leherku pasti akan ditebas olehnya.
"Yang udah, ya udah aja, Bang. Toh, kita pun udah punya keluarga sendiri-sendiri. Aku bilang gitu ke Novi, karena aku tak suka dipojokkan terus tentang kejadian khilafku ke Canda dulu." Aku tetap lebih memilih untuk menyimpan kebenarannya saja.
"Sekarang gini deh, Far. Misalkan, andaikata, bilamana, rasa kau itu masih nyata untuk Canda. Coba, bagaimana dengan rumah tangga kau? Hidup kau? Kebahagiaan kau? Masa depan kau? Kau tak mungkin terus hidup dalam harapan dan angan-angan kau terus, Far. Kasian Novi, anak-anak kau. Yang utama, kasian sama diri kau sendiri. Ini pun udah terlalu lama dibiarkan. Yang Abang kira ini cuma firasat, ternyata memang benar seperti itu. Abang tak takut akan rumah tangga Abang dan Canda yang hancur gara-gara kau. Jujur, menurut Abang itu mustahil untuk sekarang. Karena dari pandangan Canda pun, kehidupannya ya tentang dia dan keluarga kecilnya. Tak bermaksud buat kau iri. Tapi lihat perempuan yang kau kunci di hati kau ini, dia udah bisa atur kehidupan dan kebahagiaannya sendiri. Masa, kau masih ada di masa lalu aja dengan kenangan kalian? Yang kasian sama badan sendiri, kalau kau memang tak memikirkan bagaimana kebahagiaan anak istri kau. Maksud Abang sih baik, ayo cari jalan keluarnya. Kalau memang dengan Canda jauh dari mata kau, itu cukup mampu bikin kau hapus rasa itu, ya Abang bakal lakuin. Tapi nanti, setelah Canda lepas bersalin. Sekarang Abang masih tunggu jawaban dan pengakuan dari mulut kau. Gimana sebenarnya?" Bang Givan berbicara dengan suara yang cenderung pelan. Mungkin, agar Canda tidak mendengarnya.
Aku memejamkan mataku sejenak, kemudian memijat dahiku sendiri.
__ADS_1
...****************...
Novel Ghifar itu lebih dari 1000 kata. Ada yang 1300, 1400 juga pernah. ini 1200 lebih nih, tapi keknya masih nanggung aja 🤔 Di mana ya letak kesalahannya 🙄