
"Abang kok ngomongnya gitu? Pasti bisa pulang lah, kemarin masuk ya tujuh belas juta, yang katanya untuk biaya perbaikan jalan lahir yang dilalui suami sah."
Aku bergidikan, jika mamah sudah mengeluarkan kata-kata yang meruncing seperti ini.
Ghavi menoleh pada ibunya itu. Aku pun cukup terhenyak, mengenai mamah yang tahu tentang uang pinjaman senilai tujuh belas juta tersebut.
Sepertinya, tahu dari menantu yang menjadi anak angkatnya itu. Karena bang Givan jarang ember, jika tidak didesak.
"Kau baliklah, Fat!" pintu Ghavi, dengan memandang wajah ayu perempuan yang merusak segalanya.
Kalau boleh jujur, Fatma tidak seberapa cantiknya. Cantikan Novi, yang jelas memiliki darah Turki. Cantik umum saja, cantik karena modal begitu. Karena jika cantik dari sananya, ya seperti Canda. Teduh dan tidak lancip dagunya.
"Bang…. Aku hancur, rumah tangga aku berantakan." Fatma menangis pilu dengan menutupi wajahnya.
"Kau pun hancurin aku juga, Fat." Ghavi hanya bisa tertunduk lemah.
Sayang sekali Tika tidak melihat adegan ini.
Aku melambaikan tanganku pada Novi. Novi pun mengangguk, kemudian langsung menghampiriku. Biar aku menarik Novi, agar nama kami tidak terseret ke dalam permasalahan Ghavi.
"Kenapa, Bang?" Novi terlihat keheranan, ketika aku merangkulnya ke rumah.
"Makan, siapin." Aku memamerkan senyum andalanku.
Biasanya pun aku memang mengambil sendiri, Novi tidak terbiasa melayani piring makananku. Memang agak lain, jika perempuannya berbeda. Mungkin seperti ini, sensasi yang Ghavi rasakan.
"Ohh, aku masak olahan masakan Turki gitu. Cobain ya?"
Sungguh, sebenarnya aku tidak suka masakan asing. Ketika di Brasil pun, aku tak pernah makan makanan olahan sana. Ketika mamah atau Kin tidak masak, aku lebih memilih makan dengan abon sapi yang tersedia di swalayan saja. Itu pun, yang produk ekspor dari Indonesia.
"Boleh, jangan banyak-banyak dulu." Aku membayangkan rasanya saja sudah kenyang.
"Kofte, steak daging ayam dengan rempah khusus." Makanan tersebut dihidangkan di atas piringku.
Aku manggut-manggut, melihat penampakan makanan tersebut. Tidak terlalu buruk, hanya lidahku saja yang memang asing dengan cita rasanya. Makan nasi goreng seafood saja, aku baru pertama kalinya menyantap dengan Canda.
"Makasih ya?" Aku tersenyum lebar pada Novi.
"Sama-sama…. Menurut kalender, aku lagi masa subur. Abang jangan capek-capek ya, cuma dua hari nih masa subur aku," ucapnya random.
__ADS_1
Kenapa aku bilang random? Karena aku tengah makan, tetapi pembahasannya di luar meja makan ini.
Apa itu kode? Oke, aku mengerti inginnya.
"Oke, tapi abis makan aku mau ke papah dulu. Barangkali, ada rekomendasi tabib. Mau sharing dulu gitu kan sama tabibnya, biar malam nanti bisa gacor. Bulan depan bisa positif hamil." Mungkin harapanku cukup tinggi.
Novi mengangguk. "Tadi pun mamah bilang, buat aku bawa jamu rebus yang ada di meja dapur, pas aku anterin hasil masakan aku. Tapi keburu ada ribut-ribut, pulangnya diajak Abang, jadi belum sempat ambil," terang Novi kemudian.
Apa papah bercerita pada mamah, tentang aku yang seperti ini? Duh, aku jadi malu sekali.
"Tadi jam sembilan, Chandra dianterin pulang sama gurunya. Itu aku lagi nyapu teras, dari jauh nampak Chandra dibonceng motor sama ibu-ibu berpakaian guru. Karena penasaran, aku datanglah ke rumahnya Chandra. Kirain itu anak sakit, atau bagaimana. Ternyata…. Dia berantem. Emosinya tak bisa terkontrol, jadi diantar pulang sama gurunya," ujarnya dengan menaburkan lada bubuk di atas laukku itu.
Cukup tercengang mendengar mafia susu kotak berkelahi. Anak itu bahkan cengeng sejak kecil, masa iya bisa berkelahi?
"Kata gurunya, masalahnya apa?" Aku menyimak cerita Novi.
"Chandra jajan katanya, gorengan sama risoles isi sayur begitu. Nah, sama temennya itu dikasih saos. Iseng tuh temennya. Ternyata, itu fatal buat Chandra. Dia langsung ngamuk dan jotosin temannya."
Hah? Hanya karena saos saja? Yang benar ini?
"Kak Devi langsung lapor ke ayahnya. Video call masa itu juga, pas ada gurunya, Chandranya juga ada di situ. Coba Bang, apa kata bang Givan?" Novi memancingku untuk memberi pertanyaan.
"Luka apa aja? Berapa biaya berobatnya? Nanti saya ganti, sebagai permintaan maaf. Minta kontaknya orang tuanya juga, saya mau ngomong langsung. Gitu, Bang." Novi menjeda kalimatnya. "Anaknya itu, tak dimarahin. Sampai gurunya pulang, masih video call. Aku masih di situ juga, bang Givan cuma diem aja mantengin wajah seram anaknya yang masih pengen ngamuk itu. Terus bilang, cuci muka terus main HP. Eh, aku melongo aja. Kok bisa-bisanya dia gak marah anaknya berantem? Padahal kan, dia ini galak. Jadi bingung gitu sama didikan dia. Padahal aku tegas pun, dia yang ajarkan," ungkap Novi dengan berpangku tangan.
Oh, jadi bang Givan dalang ketegasan Novi?
"Karena anaknya lagi ngamuk, kalau dia tak bisa dinginkan anaknya, atau dia malah ngamuk lebih hebat ke anaknya. Anaknya pasti berpikir, bahwa orang tuanya itu bukan tempat nyaman untuk dia. Nanti malah dia bisa jadi lebih dekat dengan orang lain, yang bisa dinginkan amarahnya dia. Paling nanti setelah Chandra tak ngamuk, bang Givan berani nasehatin." Ini pandanganku, tentang sikap yang bang Givan ambil.
"Tapi gemes betul loh, Bang. Sampai temennya itu, patah giginya, bibirnya sobek juga."
Aku yang malah heran, karena Chandra bisa marah. Padahal, aku yang mengurusnya sejak kecil itu, paham akan Chandra yang cengeng.
"Terus ada cerita apalagi?" Aku menyuapkan sesendok makanan ke mulut Novi.
Novi menerima dan mengunyahnya. "Ceritanya, Kal minta pakaiannya lebih banyak di sana. Aku bilang, sebagian aja, Kal bakal bobo di sini lagi. Tapi dia pengen ikut nenek katanya. Coba Abang nanti tanyakan anak gadis kita itu."
Tapi aku melihat seperti Kal tertekan di sana. Masa iya Kal betah di sana?
Aku mengangguk dan segera menyelesaikan makananku. Tidak butuh waktu lama, aku sudah berada di rumah mamah dengan kehebohan anak-anak Ghavi.
__ADS_1
Orang tua lagi yang direpotkan kan?
"Tika mana, Mah?" tanyaku dengan menghempaskan alas dudukku di sofa ruang tamu ini.
"Di kamar Ghavi dulu. Ada Ghavinya juga, entah lagi drama apalagi. Tapi mamah udah ada bilang, jangan campur dulu. Ucapin lafal rujuk di depan saksi dulu, biar rumah tangganya sah lagi." Mamah tengah menyuapi cucu-cucunya dengan nasi yang mirip tumpeng.
"Yang ini nih, Nek. Ini punya siapa?" Kal muncul dengan menunjukkan boneka Barbie.
"Ohh, itu kan punya Kal waktu kecil. Dari gudang bawah tangga kan?" Mamah menyuapi Kal juga.
Kal mengangguk. "Iya, aku ambil dari sana." Kal duduk di samping neneknya.
"Kal tak main?" tanyaku dengan memperhatikan putri kecilku yang terpapar rokok sejak dalam kandungan tersebut.
Untungnya, ia sehat wal'afiat sampai sekarang.
"Tak, Pa. Dzuhur, suruh bobo dulu sama Neneknya. Nanti setengah dua, aku diantar kakek sekolah madrasah. Aku udah madrasah dari kemarin, Pa."
Madrasah adalah sekolah setelah dzuhur, dengan mempelajari segala ilmu pengetahuan tentang Islam. Aku pun madrasah saat kecil, tapi tetap saja masa sudah besar ilmunya ikut luntur. Entah apa masalah hidupku.
"Berapa biaya masuknya, Mah?" Aku memandang wajah mamahku yang menolak tua itu.
Yuni Shara versi Kenawat Redelong.
"Tiga ratus lima puluh, sama seragam batiknya. Dua anak itu, tujuh ratus. Sejuta lah, sama pakaian hitam putihnya. Tapi udah ajalah, yang penting kau tambahkan aja uang saku mereka untuk madrasah juga. Kaf juga madrasah, sekelas sama Zio sama Hadi. Loncat kelas, cuma entah bisa tak pelajarannya. Anak-anak kau itu, kenapa tak dimadrasahkan sejak dini? Ikut umum ajalah, lagian belajarnya cuma satu jam aja kok."
Iya ya? Kenapa tidak madrasah sejak dulu? Eh, tapi jika dilihat dari waktunya. Mereka masuk madrasah itu, harusnya dari awal Kin tiada. Aku yang tidak memasukkan mereka sesuai pendidikan umum, karena aku terlalu meratapi ditinggal Kin dulu.
"Madrasah enak tak, Kal?" Aku menepuk tempat di sebelahku.
Kal berpindah tempat ke sebelahku, dengan mulut yang masih penuh dengan makanan pokok.
Kal mengangguk. "Enak, ada perosotan juga. Cuma doa terus, panjang betul doanya." Kal hanya tidak terbiasa saja.
"Tak apa, nanti Kal jadi pintar. Enak tak tinggal sama Nenek?" Aku melirik mamah sekilas.
Aku mengalami sendiri dari kecil diurus mamah. Cukup keras, dengan hukuman yang tegas. Khawatirnya, Kal malah tertekan dengan aturan dan perintah dari mamah.
...****************...
__ADS_1