
"Sebenarnya, aku tuh ngerasa kek nasehati diri sendiri. Aku sampai pasang selang*angan karena udah kecanduan Papa, yang secara tidak langsung pun buat ayah susah di akhirat." Ia terkekeh malu, dengan menutupi wajahnya.
"Udah sholat tobat kan?"
Sialnya, ia malah menggeleng.
"Caranya gimana, Pa?"
Sepertinya, agama istriku sedikit kurang. Aku harus mengajarkan akan hal ini, karena aku pun di akhirat akan dituntut masalah agama istriku.
"Nanti diajari di rumah." Aku menarik tangannya yang menutupi wajahnya.
Tangannya sudah turun. "Aku tak paham cara gantikan sholat, sama sholat sunah yang sebelum sholat wajib itu juga."
Luar biasa. Aku curiga bahwa ia tidak pernah melakukannya.
"Iya, nanti diajarin." Aku mengusap punggung tangannya sekilas.
Untuk urusan rokok, sudah mulai mengurangi. Aca merokok, hanya ketika setelah selesai makan saja. Karena makannya sering, ya merokoknya diulang berkali-kali. Ya tapi ia tidak merokok di waktu senggangnya, ia menggunakan waktu senggangnya untuk membantu bu Tami mengurus rumah dan pakaian. Diam-diam aku memperhatikan, diam-diam pun aku membantunya. Seperti tugas-tugasku sebelumnya, yang menjadi suami Kin atau Novi.
Aca wanita modern, yang tahu bahwa Islam hanya berkerudung dan menunaikan sholat juga. Bahkan, ia puasa di awal saja. Ia bercerita, bahwa ia selalu makan ketika di luar rumah, jika di rumah ia puasa. Ia tidak tahu aja, jika melakukan hal itu di provinsi ini ia bisa mendapatkan hukuman. Warung-warung yang buka di siang hari bulan puasa pun, akan diberi sanksi tegas di sini. Jangankan orang-orang yang datang ke warung yang buka di siang hari itu untuk membeli makanan.
Aku pernah tidak puasa di sini, nyatanya malah membuat kelaparan tidak karuan. Mending puasa sekalian, karena menahan lapar pun mendapat ganjaran baik yang setimpal. Aca satu dua seperti bang Givan, bedanya bang Givan terang-terangan. Aku teringat ketika kami belum menikah dan masih berkumpul di satu atap. Bang Givan ikut sahur, tapi bangun tidur pagi pun ia berpuasa. Sampai berbusa mulut papah, karena memarahi bang Givan yang selalu seperti itu setiap tahunnya.
Meskipun gagah dan atletis, ia memiliki sakit lambung seperti mamah. Ia tidak bisa telat makan, ia tidak bisa menahan lapar. Hanya satu anak itu yang menurutku begitu menguji kesabaran papah, mereka sering beradu mulut dengan bang Givan yang sedikit berani pada papah. Semoga istriku tidak benar-benar serupa dengan bang Givan, hanya karena ia pernah dicampuri oleh bang Givan.
Belanjaan yang lebih banyak dari sebelumnya. Karena Aca menghitung kebutuhan anak-anak juga. Semoga rezekiku terus berlimpah, karena belanja bulanan saja sudah sampai lima belas juta. Seperti mengadakan syukuran di rumah, tapi nyatanya itu hanya stok dan keperluan kami di rumah.
__ADS_1
"Pah, begituannya kalau bangun subuh aja ya? Aku kok banyak ngantuk." Aca menggelayutiku yang tengah menemani Kal mengerjakan PR matematikanya.
Sedangkan, kedua adiknya sudah tertidur. Kal selalu frustasi di awal, ketika diminta untuk mengerjakan tugas matematika. Ditambah lagi, Aca tidak mengerti dengan rumus matematika. Ia mengatakan, dirinya adalah guru bahasa Indonesia. Ia tidak mengerti, jika dihadapkan dengan soal matematika. Padahal, ia hanya sarjana pendidikan. Tidak mengacu pada pelajaran, tapi sudah menyerah di awal melihat soal matematika anak SD.
"Siang tuh, Kal. Sama Hadi, sama Zio." Aku memperhatikan Kal yang tengah menyalin soalnya yang aku kerjakan di bagian belakang bukunya.
Ia sudah benar-benar frustasi, dengan keringat dingin dan air mata menyerahnya. Kal tadi aku ajak membantu menghitung, dengan aku yang merumuskannya.
"Mereka sama bang Chandra, Pa. Bang Chandranya bilang malam nanti, dia abis les komputer soalnya. Aku lupa, Papa. Aku tak ke sana, aku pun yakin sekarang mereka udah tidur."
Keringatnya sampai seperti makan sambal. Kalian tahu, ilmu untuk menyikapi anak yang tidak suka matematika adalah tidak memaksanya. Karena pasti, anak tersebut condong ke pelajaran lain. Maka dari itu, ia harus diperdalam di bagian bidang yang ia suka. Seperti Kal, ia cenderung suka dengan pengajaran yang condong ke arah sains. Ya, aku sering memberinya beberapa buku untuk usianya memperdalam ilmu sainsnya. Karena di suatu bidang yang mereka gemari, mereka akan melakukannya dengan senang hati. Jika aku tekan ia tentang matematika, ia akan melakukannya secara tidak ikhlas dan berat hati. Mungkin saja pun, Kal selalu membolos jika dipaksa untuk les matematika.
"Kalau Mama tak cek, Kak Kal pun keknya lupa," timpal Aca kemudian.
"Iya, Mama. Aku tak mau belajar ini, pusing kepala aku." Kal mengusap air mata kekesalan karena ketidakberhasilannya dengan punggung tangannya.
"Iya nanti cari sekolah yang tak ada matematikanya," celetukku kemudian.
"Ada, di MTS. Malah, semuanya diperdalam ilmu agamanya. Nanti lulus SMA, Kak Kal fokus sekolah dokter ya? Agama punya, tinggal raih titel deh. Wujudin mimpi mama Kin, yang pengen punya rumah sakit sendiri." Aku mengusap kepala anak sulungku.
Aku tidak akan melarangnya meraih cita-citanya. Semoga nanti suaminya pun mendukungnya, atau satu profesi dengannya.
"Tanya dong, mau jadi dokter atau guru," ujar Aca kemudian.
"Jadi guru, nanti repot kaya Mama." Kal melirik Aca dengan mata Kin menyipit.
"Kenapa sih tak lanjut ngajar, Ma?" tanyaku kemudian.
__ADS_1
Aku tidak tahu pasti alasannya tidak bekerja menjadi guru saat menjanda. Ia malah datang ke Aceh, dengan alibi liburan. Kemudian, ia bekerja menjadi pembungkus paket jualannya Canda.
"Tak seberapa." Aca menutupi wajahnya.
Jika kesabaran, aku yakin ia cukup sabar menghadapi anak-anak. Rupanya, hal lain yang menjadi alasan terbesarnya.
"Ya tulus sih tulus, tapi biaya hidup aku cukup mahal. Belum lagi dengan adanya Nahda, mesti diapers terus waktu kecil itu. Ya tak cukup gitu, Pa," aku Aca perlahan.
Iya, iya. Aku mengerti. Belum lagi Aca masih baru, ia belum menjadi PNS.
"Jadi dokter juga gitu kah, Ma?" Kal seperti tertarik mendengar obrolan ini.
"Tak, dokter bisa buka praktek. Penghasilannya lebih lumayan ketimbang guru. Tapi, Papa Kal harus kuat dana juga. Karena Kal mesti punya banyak sertifikat pendukung dan juga pendidikan lainnya. Kalau Kal mau kek ayah Ken, Kal mesti sekolah lagi. Jadi dokter UGD itu pun, yang kalau baru masuk rumah sakit itu loh, yang orang-orang pada panik itu. Nah, itu harus punya banyak sertifikat juga," terang Aca perlahan.
Wawasannya sepertinya cukup luas. Aku tahu akan hal itu, karena Kin bercerita.
"Apa aku harus pintar matematika juga?"
Anak polos. Sayangnya mamanya menyebalkan, ia malah tertawa lepas mendengar ucapan Kal. Satu dua seperti Canda dia ini.
"Tak juga, tapi keknya ada rumusnya sendiri," jawab Aca kemudian.
"Bang Ghifar."
Aku celingukan. Eh, rupanya bu Tami.
"Iya, Bu." Aku bangkit dari sofa dan berjalan menghampiri bu Tami yang berdiri di dekat tangga.
__ADS_1
"Itu, disuruh panggilkan Bang Ghifar sama bang Givan. Katanya itu, anterin ke rumah sakit. Soalnya…..
...****************...