Istri Sambung

Istri Sambung
IS33. Terus terang


__ADS_3

...Maaf ya kakak-kakak, aku kurang mampu nih bawa POV 3. Masih tahap belajar untuk POV 3 itu, karena pernah bawa POV 3 tuh ceritanya kurang dapat feel-nya. Kali ini, aku balik bawakan POV 1 ya 😁🙏 Kalau feel-nya kurang ngena juga, nanti coba aku campur aja kali ya ☺️ Mohon maaf, Author amatiran soalnya kak 😅🙏...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


POV Ghifar


Novi menghempaskan tanganku untuk kesekian kalinya. Sombong juga ini perawan matang, aku malah berfirasat sepertinya Novi tidak menyukai laki-laki.


"Jangan berpikir mau ngawinin aku tanpa konfirmasi, Far! Udah seminggu ini kau mepet terus. Kau kira, aku bakal kesengsem kah sama kau?!" Novi sampai menunjuk-nunjuk dadaku.


Aku menarik nafas lebih banyak, sebelum mengeluarkan kata-kata mutiara untuknya.


"Asal kau tau ya, Nov! Kau bakal jadi ma sambungnya anak-anak aku. Baik-baik lah kau sama calon suamimu ini." aku pun berbalik menunjuk dadanya. Namun, Novi langsung menyimpangkan tangannya di depan dadanya, ini cukup menggelikan untukku.


Huh, dia kira aku tak bisa melakukan hal yang sama kah?


Matanya bulat sempurna, sampai terlihat menyeramkan. Matanya sudah bulat dan besar, ditambah melotot-melotot seperti itu. Aku khawatir bola matanya menggelinding ke lantai.


"Jadi itu alasan di balik kau pepet aku terus?" Novi malah menanyakan lagi.


Bodoh sekali perawan matang ini. Padahal tadi aku sudah memberinya penjelasan. Malah bertanya lagi.


"Iya lah. Malam-malam kau buat aku repot, buat nyari kau. Mana dapat tonjok lagi." sahutku cepat.


Novi geleng-geleng kepala, "Yang nonjok kau itu Nando, bukan aku! Bisanya aku yang dapat hukuman buat jadi ma sambung anak-anak kau?! Sana lah minta Nando tanggung jawab." Novi bersedekap tangan dengan membuang arah pandangannya ke arah lain.


"Malam itu pun, Nando yang ajak aku keluar. Bukan inisiatif aku sendiri." lanjutnya kemudian.


"Ck…. Yang penting aku udah ngasih tau nih ya, bahwa aku deketin kau karena mau jadikan kau ma sambung. Aku udah konfirmasikan nih ya? Kalau tak mau, aku bersyukur kali atas penolakan kau. Karena aku pun, tak tega anak-anak aku dijaga ma sambung galak kek kau." aku menurunkan nada suaraku, terdengar seperti menggerutu.


Namun, tiba-tiba daun telingaku ditarik olehnya.


"Ish…. Apa sih?!" aku tidak berteriak heboh, karena memang tidak sakit.


"Berarti itu bukan keinginan kau sendiri? Kalau memang kau tak mau, kau tak usah susah-susah pendekatan sama aku kek gini." rupanya Novi menangkap makna di balik kalimatku tadi.

__ADS_1


"Aku memang tak mau. Ini atas dasar usulan orang tua aku. Lagi pun, Kaf narik nama kau pas aku tanya dia."


Ya, sejak malam itu. Kaf tinggal di rumah mamah, karena keadaan kakinya yang masih luka. Teman-teman dan guru dari sekolah TK-nya pun, datang ke rumah untuk menjenguk Kaf. Hingga sampai hari ini, Kaf masih tinggal di rumah mamah. Tentu saja, ia sering berkomunikasi dan berinteraksi dengan Novi. Karena, Novi juga tinggal di rumah itu.


Sedangkan aku memilih untuk tidur di rumah. Beberapa kali pun, aku membawa Kal untuk tidur di rumah bersamaku.


Bang Givan paling tidak suka rumahku kosong. Sudah ada jejak orang yang bunuh diri, ditambah kosong, katanya sekalian saja dirobohkan. Tetapi, sejak Kinasya tiada sampai saat ini. Aku tinggal baik-baik saja di rumah itu, tidak pernah ada penampakan seperti para saudaraku ceritakan.


Novi mendengus keras, ia malah duduk di kursi kerjaku. Tangannya masih bersedekap, dengan raut wajah yang serius.


Entah apa isi pemikirannya, Novi sampai terlihat begitu serius seperti itu.


"Ya udah, disegerakan."


Hah?


Apa dia bilang?


Aku berjalan ke arahnya, lalu duduk di meja dengan sebelah kaki yang menggantung. Fokusku terarah pada wajah Turki tersebut. Novi seperti bukan orang Indonesia.


Aku berprasangka demikian, karena Novi kemarin memiliki kekasih. Bisa saja kan, ia sudah hamil tapi Nando tidak mau menikahinya. Sampai-sampai saat aku mengatakannya, Novi langsung memintaku menyegerakannya.


"Kau mau nikahin aku kan? Ya udah, cepat! Fungi aku jalin hubungan sama laki-laki kemarin itu, karena aku pengen dinikahi." Novi berani memandang wajahku.


Ia sampai mendongak, karena wajah kita tidak sejajar dengannya.


"Aku tak mau, kalau kau udah hamil. Bukan karena ada anak orang lain di antara anak-anak aku. Tapi, terus terang lebih baik. Karena nanti, prosesi pernikahan kita pun secara syariat agama. Kalau memang kau udah mengandung." maksudku, di situ nanti Novi akan diberi penjelasan bahwa anaknya tidak bisa bin atau binti aku. Ia harus ikut nashab ibunya.


Novi membuang nafasnya perlahan, ia menoleh sekeliling ruangan ini. Yang jelas hanya ada kami berdua.


"Aku terus terang aja, Far." Novi kembali memandang wajahku.


Dengan cepat aku angguki, agar ia melanjutkan ceritanya.


"Dua hari yang lalu, Nando datang ke rumah. Bapak kau kasih syarat, kek biasa nikahin seorang anak perempuan. Tapi…." Novi malah tidak melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


"Tapi apa, Nov?"


Aku pikir, itu kabar baik karena Nando mau datang ke rumah. Tapi kenapa, Novi malah menginginkanku untuk menyegerakannya?


"Tapi ma kau minta pernikahannya private. Padahal, Nando udah setuju syarat-syarat yang tak masuk akal itu. Untuk kepastian harinya, Nando minta tahun depan. Aku keberatan, karena terlalu lama. Aku langsung milih buat nolak lamaran dia, aku tak mau nunggu selama itu. Aku sekarang udah tiga puluh dua, tahun depan udah tiga puluh tiga. Tiga puluh enam tuh, perempuan udah tak disarankan untuk hamil. Otak kau sampai tak, untuk pahami pikiran aku?"


Aku bukan Canda, pasti lah aku mengerti.


"Kenapa sih pernikahannya harus private? Kan masih ada waktu juga untuk hamil, Nov. Misal kau nikah tahun depan, usia tiga puluh tiga. Usia tiga puluh lima itu kau udah punya anak satu. Kalau kau tak kosong, maksudnya langsung hamil gitu." aku sampai mengukir pena di udara untuk menjelaskannya.


"Itu syukur-syukur kalau aku langsung hamil. Kehamilan itu rejeki, Far. Tak semua perempuan bisa langsung hamil, setelah menikah."


Dengan ucapannya demikian, malah membuatku ingin mundur. Karena jelas, aku tak mungkin bisa menghamilinya.


Sekalipun kelak kami suami istri. Mungkin, saat itu aku baru akan belajar mencintai dan memanusiakan dirinya seperti layaknya istriku. Aku tak bisa langsung menidurinya, apalagi karena kondisi Black Mamba yang seperti ini.


"Kau betul, Nov." aku jadi frustasi karena memikirkan keadaanku sendiri.


"Kalau jadi menikah." Novi malah menggenggam tanganku, "Aku minta kasih izin aku untuk undang teman-teman aku, Far. Aku tak mau pernikahan private." matanya terlihat penuh harapan.


Aku jadi tidak tega. Matanya seperti mata Upin Ipin, ketika mereka meminta ikut ke kebun durian bersama tok Dalang.


Aku mengedikan bahuku, "Kalau aku sih, ya bakal kasih izin. Pernikahan pun, bakal ada resepsi meski sederhana. Aku tau, kalau kau baru menikah pertama kalinya. Pernikahan kau, pasti berkesan untuk kau."


Eh, kenapa aku tiba-tiba teringat akan pernikahanku?


Pernikahanku dulu juga private. Bukan karena adanya dangdutan, di kota Serambi Mekah ini. Itu sih, karena papah yang sudah niat. Tapi, karena status Kinasya dulu yang merupakan anak di luar pernikahan.


Pernikahan private itu, semata-mata untuk melindungi nama baiknya keluarga. Juga agar, Kinasya tidak malu dengan lingkungannya. Ya, karena hanya keluarga yang tahu.


Apa pernikahan private untuk Novi juga, karena alasan yang sama?


...****************...


Karena apa hayo alasannya? 🧐

__ADS_1


__ADS_2