Istri Sambung

Istri Sambung
IS41. Caera


__ADS_3

"Masa, Mah?" aku tersenyum kaku, karena berlagak pura-pura tidak tahu.


"Ya. Makanya Mamah penjarakan dia. Kalau memang perempuannya bener, dia bakal bertahan. Coba sok perempuannya gimana ditinggal setahun sama Ghavi?"


Oh, jadi ini maksud mamah memenjarakan anaknya sendiri?


"Selain kedudukan Tika istri sah, Tika juga tak aneh-aneh tuh. Tika malah jualan baju online, bahkan minta Mamah untuk bantu promosi. Karena apa coba? Karena tiap bulannya, biar cukup untuk kebutuhan anak-anak Ghavi." lanjut mamah kemudian.


Ibuku ini sedikit ekstrim memang. Tapi percayalah, kami pasti dibantu sampai di titik tertinggi kami. Yang penting, kami tetap memperlakukannya sebagai ibu dengan semestinya. Karena anak laki-laki, sampai kapanpun tetap milik ibunya.


"Istri simpanannya udah nikah lagi." timpalku dengan membuat kopi untuk diriku sendiri.


"Mamah bahkan tau tiga bulan setelah Ghavi dipenjara, kalau perempuan itu udah lama nikah. Untuk sekarang, yang penting Ghavi baik-baik aja dulu sama istrinya. Masalah nanti gimana biaya makan, biaya token. Paling dia utang sama kau, sama ke Cendol."


Aku tertawa geli, mendengar nama ejekan menantu mamah yang paling heboh dengan drama 'Kumenangis' itu. Ia dan kakakku dulu, menduduki peringkat ekonomi paling rendah. Sekarang, lebih dari sepuluh usaha di genggaman tangannya. Ia pemilik tahta tertinggi saat ini.


Maka tak heran, jika berkunjung malah ditawari hutang. Karena bang Givan sendiri pernah mengatakannya padaku. Jika adik atau saudara berkunjung ke rumah, itu artinya mereka tengah kesusahan dan butuh bantuan.


Sebenarnya, kami tidak demikian juga. Tapi, memang tidak salah juga. Namun, kami tidak tersinggung. Karena mulut kakakku itu, sedikit tajam seperti mulut mamahku yang paling cantik dan pandai ini.


"Mah…. Ra ini loh. Aku ngantuk betul."


Panjang umur. Dasar, menantu tidak sopan. Ia sudah berteriak lepas saja.


"Sekalian buang aja, Canda!" mamah meninggalkan dapur.


Aku kembali duduk di meja makan, dengan menikmati kopiku.


Canda tidak akan berani seperti ini, jika ada suaminya. Bang Givan cukup galak, apalagi jika Canda terang-terangan meminta bantuan mamah.


Satu hal yang membuat mamah begitu menyayangi menantu yang penuh drama itu. Karena hidupnya tak beruntung seperti orang-orang. Sejak dari SD, ia sudah hidup di lingkungan pesantren. Hanya saat ia menikah dan diboyong ke rumah ini, ia baru merasakan kasih sayang keluarga secara lengkap.


Kalian bisa membaca kelanjutan cerita tentang Canda, pada novel Canda Pagi Dinanti. Novel terpanjang, dengan banyak drama batin.


"Astaghfirullah…." bibirku sampai terkena kopi panas.


Niat hati hanya ingin meniup, tetapi malah bibir menempel ke gelas. Gara-gara si Tuyul masuk hanya menggunakan diapers.


"Assalamualaikum apa gimana, Ra! Papa kaget loh." aku memperhatikannya yang berlari ke arah lemari pendingin.


Ia menoleh ke arahku. Lalu ia berlari ke arahku, dengan membiarkan pintu lemari pendingin tetap terbuka.


"Tutup pintunya dulu, Ra! Nenek ngamuk loh." aku hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Yayah nana?" matanya teduh seperti Canda, hanya saja berbanding terbalik dengan tingkahnya.

__ADS_1


"Tak tau lah, Ra. Masa nanya yayah ke Papa? Tanya ke biyung sana!" aku kembali meniup kopiku.


Namun, tangannya malah memukul pahaku.


"Yayah nana?!!!" suaranya membentak meninggi.


Dasar, Tuyul!


"Kerja!" aku sampai menggeram menjawabnya.


"entut, entut yayah." ia menghentakkan kakinya ke lantai berulang kali, "Yayah nana?" tangisnya lepas, dengan ia berputar di tempat.


Dia kira di padang subur ala Bollywood?


Aku hanya bisa garuk-garuk kepala, melihat anak ini. Sawan apa Caera ini? Sampai wajah alimnya, bisa menjadi kamuflase.


"Papa!!!!!!" ia menjerit nyaring.


Tuli sebelah bisa-bisa. Aku mengusap-usap telingaku, yang sampai berdengung karena mendengar teriakannya ini.


"Apa, Ra?" aku mengatur suaraku begitu lembut. Sampai puding s*su pun kalah lembutnya.


Ia menaikkan kedua tangannya, lalu membuangnya ke bawah.


"Yayah nana?"


"Nih, sini pakai baju. Kau ini, Ra! Kau itu anak perempuan. Mandi kau sejak subuh, pakai baju udah kek nyicil mahar. Lama betul, lari kau ke sana ke mari. Pakai baju dulu nih." mamah muncul, dengan merentangkan baju milik gadis kecil yang banyak tingkah ini.


"Yayan ilang." tangis Ra terdengar begitu palsu.


"Cari sama Papa. Sana cari yayah! Biyung kau udah nyerah ngurus kau. Sampai kurus dia, ngeladenin kau terus." mamah berjongkok dengan memakaikan Ra pakaian.


Aku membuang pandanganku, saat Ra memandangku dengan mata yang berkaca-kaca.


Tangannya menyentuh punggung tanganku, yang berada di tepian meja makan ini.


"Papa, yi yayah yuk?" lembutnya suara penuh harap itu.


Dasar, Givan kecil.


Galaknya bang Givan menempel ke si Ra, dengan wajah teduh Canda yang turun ke si Tuyul ini. Ra bisa diledek dengan sebutan tuyul. Karena anak ini sering berdiapers saja, mana larinya begitu cepat.


"Pegang dulu, Far." mamah menaikan tubuh Ra ke pangkuanku.


"Canda sampai pucat pasi, mandi keringat dingin dia. Mana perutnya cembung lagi. Tak tega Mamah liatnya." mamah kembali ke depan kompor.

__ADS_1


"Apa nini?" Ra menunjuk kopi arabika milikku.


"Kopi pait. Mau?" aku melongok wajahnya dari samping kanan.


Ra menggeleng, "Es kim, jajan embu." telunjuk yang basah karena air liur itu, menunjuk ke arah Utara.


Ia memanggil neneknya dari ibunya, dengan sebutan ibu. Hanya saja, Ra masih cedal. Ibu menjadi embu.


"Yuk?" Ra menoel-noel daguku.


Tahta cucu tercantik, jatuh pada Caera ini. Dulunya hanya Key, cucu yang paling cantik. Namun, ternyata Caera terlahir amat cantik. Karena tidak dipungkiri juga, ayahnya tampan, dengan ibunya cantik dengan wajah teduh.


Bisa kalian bayangkan, perpaduan yang sempurna ini.


Aku menoleh ke arah mamah, "Mah, aku mau kerja." aku menunggu jawaban beliau.


"Sampai Mamah selesai masak aja. Satu jam lagi deh, Far. Tak enak, di rumah ada Aca. Semalam anaknya nangis aja sampai jam dua, makanya mereka masih tidur sekarang. Mamah mau masak enak dan banyak, itung-itung nyambut Aca sama anaknya." mamah berbicara tanpa menoleh padaku sedikitpun.


Mamah terlihat benar-benar repot.


"Ya udah deh, aku bawa ke kantor aja." siang nanti juga aku akan pulang, pikirku.


"Ya udah, nanti kunci aja pintu ruangan kau. Biarin dia akrobat sendirian. Asal jangan kasih pulpen atau barang yang ujungnya tajam aja. Takut nusuk, pas dia jatuh." mamah berjalan ke arahku.


Mamah membantu Ra minum, dengan gelas yang mamah bawa.


"Yayah nana, Nek?"


Ayah lagi yang ia tanyakan?


Aku segera bangkit, dengan menggendong tubuhnya.


"Iya ini cari yayah." aku mencium pipinya sekilas.


"Ihh." Ra memegangi pipinya, "Papa bayang!" ia menepuk mulutku.


Aku terkekeh geli. Mendapat reaksi gadis kecil ini. Ia memintaku membayar, hanya karena aku menciumnya.


"Iya, nanti dibayar pakai es krim." aku membawanya keluar dari dapur.


Benar-benar kasihan melihat fisik Canda. Wajah lelah, lemas dan pucatnya begitu kentara. Padahal, segala kebutuhannya terjamin. Hanya saja satu ini, Ra ini yang tidak bisa ia buang ke mana-mana. Canda terlalu lemah, untuk menghadapi anaknya yang hiperaktif ini. Ra bukan tandingan ibu lemah seperti Canda.


Sepertinya bang Givan memiliki pekerjaan penting, sampai ia tidak mengajak Ra. Karena setiap hari aku melihat kebiasaan bang Givan, ia selalu membawa tas kerja dan juga tas bayi milik Ra. Ia membawa anaknya yang satu ini, untuk bekerja bersamanya.


Sedikit bersyukurnya di sini. Bang Givan cukup pengertian, memperlakukan salah satu wanita yang selalu aku jaga. Meski watak, sifat dan karakter bang Givan tidak berubah. Ia tetap galak, suka membentak dan gampang emosi. Tapi sekarang ia kalah, jika Canda mulai drama 'Kumenangis'.

__ADS_1


...****************...


Dimomol episode Ra yang nanya yayah terus 😂


__ADS_2