
"Kram lagi, Kakak Ipar?" sapaku, ketika kian mendekat ke tempat mereka.
"Ya, Far. Tadi khawatir tak ada pergerakan. Ayahnya datang, udah loncat-loncat aja dia di perut. Dikiranya tak sakit apa ya?" Canda mengusap-usap perut besarnya.
Aku terkekeh sewajarnya, "Keknya, bakal kek Ra lagi." Sebenarnya aku sedikit bahagia melihat bang Givan yang selalu diekori dengan anak gadisnya yang galak itu.
Aku cukup paham tabiat kakakku. Ia adalah laki-laki yang cepat bosan, meski setahuku ia sudah berubah sejak menikah. Tapi siapa tahu, rasa bosannya mengundang minatnya ke perempuan lain.
"Ya Canda bahagia, kalau anaknya kek Ra lagi." Bang Givan melirik istrinya, dengan menahan senyumnya.
Apa karena kakakku lebih tampan dariku, sehingga Canda terpaku dengan sosok galak dan tegas itu?
Tapi saat awal, Canda yang mendekatiku dulu. Berarti jelas, saat itu aku lebih menarik di matanya.
"Bahagia apanya? Sekali dekat sama ayahnya, langsung kena tabok. Iyung nana tuh, Yayah La!" Canda menirukan ucapan anaknya.
Aku tertawa geli, lalu duduk di teras rumah Canda ini. Aku mengedarkan pandanganku, untuk melihat keberadaan putra bungsuku.
"Kaf mana ya, Bang?" tanyaku, dengan melirik kembali pada pasangan halal tersebut.
Canda masih bolak-balik saja, dengan bang Givan yang mengikutinya dan mengipasi wajah Canda.
"Di Jasmine, Far. Di belakang sana, sama Ceysa juga." Canda menunjuk arah rumah anak dari mantan suaminya itu.
Mereka tidak tinggal bersama di pondok biyung ini. Tapi, ada pintu penghubung untuk ke halaman rumah mereka yang dipagar beton juga.
"Anteng kah di sana?" Aku sebenarnya tidak tahu ingin ke mana. Mencari Kaf, hanya alasan reflek saja ketika pamit pada Ra.
"Anteng kalau Kaf sih. Kaf antengnya sama Jasmine, Ceysa ya BESTie Hadi. Sisanya sih pro, main sama siapa aja." Aku baru tahu hari ini, jika Kaf anteng bermain bersama Jasmine.
"Duduklah kau! Scroll-scroll Tiktok kek apa!" Itu adalah suara bang Givan.
Aku enggan menoleh, karena rasanya aneh. Tidak cemburu juga, karena aku tahu mereka suami istri. Tapi entahlah, aku tidak bisa menggambarkan perasaan tersebut.
"Mas mau ke mana sih? Aku pengen ikut Mas, pegangan Mas." Canda merengek bagaikan bayi.
"Ya ampun, Canda. Masmu di sini, sama Ghifar. Kau masuk, istirahat. Aku mau ngasih tau rekapan ke Ghifar." Bang Givan langsung berpindah ke sisi kiriku.
"Mas ikut…." Rengekan itu malah membuatku gemas.
__ADS_1
"Rehat, Canda!" Suara bang Givan sudah naik satu oktaf.
Sungguh, tidak sukanya begini. Aku tidak suka bang Givan membentaknya. Tapi, Canda seolah santai saja.
Ia malah duduk di samping suaminya, lalu bergelayut pada lengan suaminya yang tidak mengenakkan kaos itu. Kami bagaikan duduk di dalam angkot perkotaan.
"Aku tak bebas, kalau ngobrol ada kau. Kau aja minta aku pergi, kalau lagi gosip sama ipar-ipar kau." Bang Givan mengempit leher Canda.
Anehnya, Canda malah terkekeh geli.
"Boleh aku main aja?" Mereka masih bermesraan, yang malah membuatku iri.
Aku tidak bisa seperti itu dengan Kin dan juga Novi.
"Ke mamah sana! Anak kau ke sana, barangkali belok ke tempat lain." Nada suara dan pemilihan kata yang dilontarkan bang Givan tidak ada lembutnya sama sekali.
Tapi, Canda malah betah.
"Ada kok di sana, tadi Ra nyapa juga." Aku menimpali obrolan mereka.
"Tuh, sana. Bawa uangnya, barangkali pengen jajan. Tapi jangan jauh-jauh tuh, Canda! Ke ma Nilam paling jauh. Jangan main ke Giska atau ke tante Shasha." Bang Givan membantu istrinya bangkit dari duduknya.
"Iya, Mas. Tadi pun papah ke sini, tapi pulang lagi. Cuma nanya aja." Canda berjalan masuk ke dalam rumah.
"Katanya tak ngasih tau orang-orang, kok papah nanya sih gimana?" Bang Givan masih berdiri dengan memperhatikan Canda yang masuk ke dalam rumah.
"Aku yang ngasih tau, Bang. Aku tadi nganterin Novi ke rumah mamah, terus keceplosan itu." Aku yang menjawab pertanyaan itu.
Bang Givan menoleh ke arahku, kemudian duduk kembali di tempatnya.
"Novi sakit kah gimana? Biasanya pun bisa main sendiri tanpa dianterin." Ia mengipasi wajahnya dengan kipas tradisional dari anyaman itu.
"Ada sedikit masalah, Bang. Biar di mamah dulu, biar dapat nasehat juga. Aku pun, nanti pulang ke sana buat tidur." Aku memilih opsi ini saja. Karena jika lama aku meninggalkan, malah komunikasi kami lebih buruk.
Aku akan tetap pulang ke mamah, dengan mencoba mendekatkan diri dengan Novi. Intinya, aku ingin terkontrol dengan orang tua dahulu.
Bang Givan mengangguk, "Menurut agama sih, kau yang pergi dan istri tetap di rumah. Tapi niat kau biar terkontrol orang tua, ya udah tak apa. Yang penting rumah nanti diurus juga, Far. Jangan sampai kosong, nanti tambah serem." Bang Givan bergidikan.
Aku terkekeh, "Bang, agama kau cukup bagus. Tapi kenapa kau begitu ya, Bang?" Aku memperhatikan wajahnya dari samping.
__ADS_1
Bang Givan menoleh ke arahku dengan wajah yang kaku, "Begitu gimana? Masa muda? Itu tergantung keimanan aja kali. Udah beristri sih, aku ikut pedoman agama juga." Keluarga kami semua memiliki salah satu sifat yang sama, yaitu mudah tersinggung.
Aku hanya manggut-manggut saja, dengan memperhatikan pintu rumah anak-anak yang tertutup itu. Namun, suaranya terdengar begitu heboh.
"Mas, minta uang." Suara manja itu, datang dari arah belakang.
"Delapan ratus kemarin habis kah?" Bang Givan bangkit, lalu melangkah ke belakang.
"Iya, Mas. Tadi periksa empat ratus sama obat, beli mie ayam dua ratus ribu, kemarin ada belanja sayur banyak juga."
Aku tidak menoleh ke belakang, aku hanya mendengarkan dialognya saja.
"Tak ambil uang jaga-jaga yang di lemari? Kalau buat urgent tuh, ambil uang itu. Jangan pakai uang pegangan kau, Canda."
"Ya, Mas. Panik aku, bawa uang yang ada di dompet aja."
"Nih, pegang dulu segini. Aku belum narik uang."
"Iya, Mas. Cium dulu, aku ke mamah ya?"
Kenapa harus ada permintaan seperti itu? Istri-istriku tidak pernah meminta untuk dicium. Buat iri saja!
Terdengar bunyi khas, saat bibir beradu dengan pipi chubby khas perempuan hamil. Aku seperti mengontrak di dunia ini.
"Pakai payung, Canda." Bang Givan duduk kembali di sisi kiriku.
"Tak hujan, Mas. Segini panasnya tuh." Canda turun dari teras rumah, kemudian memakai sandalnya.
"Ya justru karena panas itu. Tak apa kah panas?" Lebay sekali bang Givan ini.
"Tak apa. Aku lewat sini, biar langsung ke depan rumah mamah." Canda berjalan ke arah pintu samping.
"Mata kau ke bawah, Cendol! Awas kesandung tuh!" Mengingatkan, tetapi tidak ada lembutnya.
Canda pun terlihat begitu kesengsem dengan laki-lakinya yang seperti ini.
Kadang aku curiga, bahwa Canda tidak memiliki akal. Dia korban, tapi dia yang nampak bahagia sekarang. Aku yang menyaksikan, malah trauma sampai sekarang.
"Nih, Abang kasih tau satu fakta. Maksudnya baik, untuk kau dan keluarga kau di masa depan. Jadi gini……
__ADS_1
...****************...